Dua Wartawan AS Diajukan ke Pengadilan Korut

Seoul  (ANTARA News/AFP) - Korea Utara Selasa (Korut) mengatakan, pihaknya akan mengajukan dua wartawati Amerika Serikat (AS) ke pengadilan untuk 'tindakan permusuhan'nya dan memasuki negara tersebut secara ilegal.

 

"Masuknya secara ilegal para wartawan AS itu ke DPRK  (Korea Utara) dan dugaan tindakan permusuhannya telah dibenarkan oleh fakta dan pengakuan-pengakuan mereka," kata Kantor Berita resmi Korea Utara (KCNA) dalam siarannya Selasa (31/3).


Kantor berita tersebut mengatakan, suatu badan yang berkompeten terus melakukan penyelidikan dan 'pada saat yang sama' melakukan persiapan untuk menyeret mereka ke pengadilan, berdasarkan tuduhan-tuduhan yang telah dikonfirmasikan.

 

Euna Lee, warga Amerika keturunan Korea, dan Laura Ling, warga Amerika keturunan China, ditangkap menjelang fajar 17 Maret di sepanjang Sungai Tunen yang berbatasan dengan China, saat sedang bertugas membuat laporan berita mengenai para pengungsi yang melarikan diri dari negara komunis garis keras itu.

Kantor berita itu mengatakan, sepasang wartawan itu, yang bekerja pada Current TV di Kalifornia, akan diizinkan mendapat akses konsuler dan akan diperlakukan sesuai dengan undang-undang internasional.

Namun, KCNAt tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai 'tindakan bermusuhan' atau menjelaskan kapan mereka diajukan ke pengadilan. Namun laporan-laporan media di Korea Selatan mengatakan, mereka akan diadili sebagai mata-mata.

Pengumuman mengenai mereka akan diajukan ke pengadilan muncul di tengah-tengah memuncaknya ketegangan-ketegangan di kawasan, berkaitan dengan rencana Pyongyang akan meluncurkan satelit komunikasi, yang mungkin dilakukan akhir pekan ini.

Washington dan negara-negara sekutunya mengatakan, peluncuran tersebut hanyalah kedok untuk uji coba peluncuran rudal jarak jauhnya, dan tindakan itu melanggar resolusi-resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

"AS terus membawa masalah ini melalui saluran-saluran diplomatik," kata seorang pejabat senior Gedung Putih, yang minta tidak disebut namanya.

"Kami telah melihat laporan singkat pers Korea Utara (mengenai pengadilan itu)," kata pejabat tersebut kepada AFP.

"Kami tidak memberikan prioritas lebih tinggi daripada perlindungan terhadap warga Amerika di luar negeri."

                        Peran Swedia

Departemen luar negeri mengatakan Senin pagi, bahwa pejabat utusan Swedia yang bertindak atas nama Washington, karena AS tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Korea Utara, telah mengunjungi para wartawati itu pada akhir pekan lalu.

"Seorang perwakilan dari kedutaan Swedia telah bertemu dengan kedua wartawati itu," kata jurubicara Gordon Duguid, tanpa memberikan rincian mengenai keadaan mereka.

Para pejabat AS mengatakan, hal itu untuk pertama kalinya bahwa Swedia memberikan akses konsuler kepada mereka.

Departemen luar negeri mengatakan, pekan lalu Korea Utara telah memberi jaminan kepada para pejabat AS, bahwa sepasang wartawati tersebut akan diperlukan dengan baik.

Harian Korea Selatan, JoongAng Ilbo, mengatakan bahwa kedua wartawan itu ditempatkan di satu wisma tamu dengan penjagaan keamanan ketat di luar kota Pyongyang, sehari setelah mereka ditangkap.

"Pemeriksaan tampaknya difokuskan pada apakah kedua wartawan itu melakukan tindakan mata-mata," kata suratkabar itu mengutip sumber intelijen Seoul.

Kim Yong-Hyun, seorang profesor pengkajian masalah Korea Utara di Universitas Dongguk mengatakan, Pyongyang tampaknya akan mencuatkan masalah ini sebelum peluncuran rudal.

Dia mengatakan kepada AFP bahwa tindakan terakhir terhadap wartawan, dan penahanan seorang warga Korea Selatan di suatu kawasan industri patungan, 'secara tidak langsung dipandang sebagai pesan yang meminta AS untuk mengakhiri keagresifannya dalam perundingan-perundingan.'

"Dengan dimulainya tuntutan resmi terhadap para wartawan itu, Korea Utara menyatakan maksudnya untuk menggunakan mereka untuk mengadakan perundingan dengan AS, setelah peluncuran rudal," kata Kim.

"Korea Utara akan membebaskan mereka kapan saja. Namun demikian, mereka mungkin akan memanfaatkan kedua wartawati itu sebagai sandera sungguhan untuk menghalangi tindakan menghakimi yang dilakukan oleh AS berkaitan dengan peluncuran roket atau rudal."

Dalam kasus terpisah, Korea Utara juga menahan seorang warga Korea Selatan di kawasan industri patungan Kaesong, di wilayah Korea Utara dekat perbatasan, karena tuduhan mengecam sistem politik Pyongyang serta mendorong para pekerja lokal untuk membelot.

Korea Utara di waktu lampau membebaskan beberapa warga Amerika yang ditahan, namun kemudian dilepaskan setelah adanya campur tangan diploamtik.

Pada tahun 1996, anggota Kongres AS, Bill Richardson melakukan perundingan bagi pembebasan seorang warga Amerika, Evan Hunziker, yang telah ditahan selama tiga bulan atas tuduhan melakukan tindakan mata-mata setelah berenang di Sungai Yalu.

Richardson, yang sekarang gubernur New Meksiko, pada 1994 juga membantu perundingan pembebasan seorang pilot helikopter AS yang ditembak jatuh setelah memasuki wilayah Korea Utara. (*)

Berita Terkait: