Dokter dan Wartawan Tertahan Masuk Gaza

Blog Single

Rafah (ANTARA News) - Bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan untuk rakyat Palestina yang kini masih menderita akibat serangan Israel, dipastikan telah bisa masuk ke Jalur Gaza, namun untuk tenaga medis, yakni dokter maupun wartawan, hingga kini masih tertahan di perbatasan Mesir-Palestina di Kota Rafah.

 

Andy Jauhari dari ANTARA News pada Minggu (11/1) melaporkan, konfirmasi telah masuknya bantuan obat-obatan ke Gaza itu disampaikan dr Jose Rizal Jurnalis, SpOT, relawan yang juga Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), yang sebelumnya tergabung dalam tim aju kemanusiaan dari Indonesia, dan hingga kini berada di perbatasan Rafah.

 

"Dokter dan wartawan sampai sekarang masih tertahan di Rafah, dan belum ada yang bisa masuk ke Jalur Gaza," katanya sambil menambahkan bahwa pada hari Sabtu (10/1) terlihat dengan jelas sekurangnya delapan pesawat tempur F-16 Israel terus bermanuver di perbatasan dan
berkeliling beberapa kali.

 

Di perbatasan, setelah tim aju kemanusiaan Indonesia yang bertugas membawa bantuan pemerintah dan rakyat Indonesia telah menyelesaikan tugasnya pada Jumat (9/1) malam waktu setempat, masih ada tiga dokter Indonesia yang berada di Rafah, yakni Jose Rizal Jurnalis, dr Indragiri, Sp.AN, dan dr Syarbini Abdul Muradz.

 

Jose Rizal Jurnalis mengatakan, alasan keamanan yang menjadi faktor utama, sehingga pemerintah Mesir sampai sekarang belum memberikan izin masuk untuk ke Rafah Palestina untuk selanjutnya ke Jalur Gaza.

 

"Apalagi, manuver pesawat tempur Israel di perbatasan Rafah ini hampir setiap waktu, sehingga dilihat sebagai situasi berbahaya dan kemudian belum mengizinkan tim medis dan juga wartawan untuk masuk ke Palestina," katanya.

 

Hanya saja, kata dia, sehari sebelumnya (10/1) ada dua hingga tiga dokter Norwegia yang diizinkan pemerintah Mesir untuk dapat masuk ke Palestina dari pintu Rafah, dan ada belasan dokter Mesir yang juga telah diperbolehkan masuk.

 

"Agar tidak terkesan diskriminatif, semestinya tim medis dari Indonesia juga diperbolehkan masuk, karena rakyat Palestina di Gaza sangat membutuhkan pertolongan, apalagi korban luka-luka kian bertambah," kata dokter spesialis bedah tulang, yang sudah berkali-kali menjadi relawan di daerah dan negara yang dilanda konflik, itu. (*)

Berita Terkait: