Walhi Region Sumatera Adakan Pelatihan Jurnalistik

Palembang (ANTARA) - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Region Sumatera mengakhiri tahun 2008 menggelar pelatihan jurnalistik bagi para aktivis lingkungan di wilayah Sumatera untuk membekali kemampuan praktis sebagai bekal mendorong kampanye penyadaran dan pelestarian lingkungan hidup secara lebih efektif di daerah masing-masing.

 

Manager Region Sumatera Eksekutif Nasional WALHI, Mukri Friatna, kepada ANTARA News Sumatera Selatan (Sumsel) pada pekan lalu menyebutkan, kegiatan Training Kampanye dan Pendokumentasian Visual bagi para aktivis lingkungan hidup di regional Sumatera itu, dipusatkan di Padang, Sumatera Barat, 27-29 Desember 2008.

 

"Bagi teman-teman aktivis lingkungan di Sumatera ini, bekal kemampuan teknis jurnalistik dan dokumentasi visual itu sangat penting untuk mendukung efektivitas kampanye melawan para perusak hutan, pencemar lingkungan dan musuh lingkungan hidup lainnya," kata Mukri, yang mantan Direktur Eksekutif WALHI daerah Lampung itu.

 

Menurut dia, kemampuan para aktivis lingkungan itu dalam mengemas informasi, data dan isu lingkungan hidup untuk disampaikan kepada publik melalui media massa, merupakan hal strategis yang juga harus dikuasai mereka.

 

"Harapannya, kampanye penyadaran dan pelestarian lingkungan hidup itu akan lebih efektif dan dapat segera menimbulkan pengaruh positif," ujar Mukri.

 

Dia menyebutkan, WALHI dalam rencana strategis (renstra) nasional tahun 2007 telah merumuskan tema kampanye dengan judul Restorasi Ekologi.

 

Pada Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) XI, April 2008 di Yogyakarta, WALHI telah melahirkan empat resolusi, di antaranya tentang Restorasi Kawasan Ekologi Genting.

 

Mukri menjelaskan, salah satu basis argumentasi mengapa harus restorasi ekologi, karena sumber-sumber kehidupan masyarakat baik di wilayah hutan maupun pesisir telah mengalami kerusakan berat.

 

Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, antara lain akibat masihnya adanya alih fungsi lahan khususnya untuk perkebunan skala besar, seperti perkebunan kelapa sawit yang akhir-akhir ini semakin marak di tanah air.


"Sebelumnya, pemberian Hak Pengusahaan Hutan telah mendominasi lebih awal laju deforestasi dan kerusakan lingkungan di Sumatera," katanya.

 

Oleh karena itu, ia mengemukakan, perlu upaya untuk menghambat laju kerusakan lingkungan, deforestasi, dan degradasi habitat, termasuk wilayah pesisir.

 

"Tapi ,semua itu tentu harus dibarengi dengan bentuk-bentuk restorasi untuk memperkecil jumlah kerusakan lingkungan yang telah terjadi," ujarnya..

 

Dia menegaskan bahwa Restorasi Ekologi merupakan jawaban yang ditawarkan WALHI dalam mengatasi masalah tersebut. 


"Kami di WALHI dengan dukungan jejaringnya, harus terus mengkampanyekan hal tersebut kepada masyarakat luas dan para pihak yang berkepentingan," ujar Mukri.

 

Dalam konteks advokasi, keberhasilan bisa diraih, di antaranya jika berhasil menjalankan kampanye yang juga bertumpu pada kemampauan dalam mengemas isu.

 

Tajam dan menarik tidaknya isu yang dikemas itu, juga sangat ditunjang oleh kemampuan menyajikan bahan bacaan, sehingga mampu memikat publik, dengan menampilkan bahan bacaan atau laporan yang harus bersifat ilmiah, argumentatif dan menyentuh permasalahan sebenarnya bagi kepentingan publik itu sendiri.

 

Selain diikuti para aktivis WALHI Region Sumatera, pelatihan jurnalistik yang menghadirkan para praktisi pers nasional itu, juga mengundang peserta dari para aktivis Sawit Watch Regional Sumatera.

 

"Tujuannya agar terbentuk kader-kader aktivis yang jago dalam kampaye dan bisa membantu kerja berat  WALHI maupun Sawit Watch, khususnya dalam mengusung kampanye Restorasi Ekologi dan penyelamatan lingkungan hidup secara umum," katanya.

 

Apalagi, Kongres Sawit Watch yang telah diselenggarakan pada 21-24 November 2008 di Bali, telah pula memandatkan sejumlah hal, di antaranya peningkatan kapasitas bagi anggota, sehingga untuk menjawab kebutuhan tersebut, WALHI dan Sawit Watch bekerjasama menggelar pelatihan jurnalistik untuk memperkuat kemampuan kampanye dan pendokumentasian visual bagi para aktivis lingkungan hidup itu.(*)

Berita Terkait: