Pimpinan Media Massa Bicara Tentang Presiden 2009

Jakarta (ANTARA News) - Sejumlah pimpinan redaksi media massa nasional dan daerah, di Jakarta, Kamis (6/11), menyampaikan pandangan mereka terhadap calon presiden yang ideal untuk memimpin bangsa Indonesia ke depan.

 

Pandangan para pimpinan redaksi media massa cetak dan elektronik tersebut dilontarkan dalam diskusi bertema "Wartawan Bicara Presiden 2009" yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Inodnesia (PWI) Pusat di Auditorium Adhiyana, Wisma Antara.

 Acara yang dipandu presenter Andi F Noya itu berlangsung dalam suasana yang santai, penuh dengan canda dan humor segar seputar dunia politik di Tanah Air.

 

Dalam diskusi itu, Rosiana Silalahi (SCTV) menyampaikan kriteria seorang pemimpin ke depan antara lain harus berani mengambil keputusan, mampu menjaga para "pembantunya" agar menjalankan kebijakan sesuai arahan, mampu menjaga keindonesiaan, serta pluralisme dalam masyarakat.

 

Uni Lubis dari ANTV lebih menekankan perlunya seorang pemimpin memiliki kharisma dan kemampuan memimpin yang baik agar perintah yang disampaikan betul-betul dijalankan dengan baik oleh para pembantunya.

 

"Tetapi, syarat yang tidak kalah pentingnya adalah pemimpin yang sepi dari konflik kepentingan. Ini yang sulit dicari," katanya.

 

Sedangkan, Malela Mahargasari (Koran Tempo) mengatakan, media massa berperan untuk membangkitkan optimisme terhadap masyarakat untuk mendapatkan calon pemimpinnya.

 

Karenanya, informasi terhadap seorang capres seperti visi misi serta rekam jejaknya, harus disampaikan agar masyarakat mengetahui betul capres yang akan dipilihnya.

 

 Namun, ia memberi catatan agar presiden terpilih ke depan adalah tokoh yang benar-benar memberi ruang bagi kebebasan pers di Tanah Air.

 

Sementara itu, sejumlah pembicara seperti Endi Bayuni (Jakarta Post), Taufik Miharja (Kompas), Ikhwanul Kirom (Republika), dan Sururi Al Faruq (Koran Sindo) membandingkan pemilihan presiden di Indonesia dengan di Amerika Serikat (AS).

 

Endi berpendapat peran media massa sangat penting untuk memberi informasi seluas-luasnya kepada masyarakat terhadap calon presidennya.

 

Mayoritas masyarakat AS yang memilih Barack Obama, katanya, antara lain karena informasi yang gamblang yang disuguhkan media massa AS setelah media itu 'meneliti' sepak terjang Barack Obama.

 

Namun, Taufik Miharja mengingatkan apakah di Indonesia diperbolehkan media massa ikut "mendorong" salah satu capres, seperti halnya media massa di AS itu.

 

Pentingnya media massa menampilkan rekam jejak capres juga disampaikan Putra Nababan yang berbicara mewakili PWI Pusat.

 

"Perspektif masyarakat harus dibuka. Masyarakat harus tahu rekam jejak capres yang akan dipilihnya itu seperti apa. Media massa harus menampilkan rekam jejak itu sekarang, jangan ditunda lagi," katanya.

 

Selain itu, ia menilai capres sejak sekarang mestinya juga menyebut siapa-siapa saja yang akan menjadi pembantunya jika ia terpilih.

 

Sejumlah pimpinan redaksi lainnya yang hadir dan menyampaikan pendapatnya antara lain Ray Wijaya (TPI), Rohman Budiyanto (Jawa Pos), Makroen Sanjaya (Metro TV), Ratna (Rakyat Merdeka), Kristanto Hartadi (Sinar Harapan), Saiful Hadi (LKBN ANTARA), dan Ahmad Jauhar (Bisnis Indonesia).

 

Acara itu dihadiri pula oleh Ketua Umum PWI Pusat Margiono beserta jajaran pengurus PWI serta sejumlah pengurus partai politik.

 

Di sela acara tersebut, PWI Pusat juga meluncurkan laman (situs) PWI dengan alamat www.pwi.or.id. yang antara lain berisi berita-berita aktual sejumlah media massa, sejarah PWI, masalah kewartawanan, serta suara publik. (*)

Berita Terkait: