Gaji wartawan daerah layak Rp. 2,7 juta, Jakarta Rp. 4,1 juta

Blog Single
JOGJA- ( Radar Jogja, 23 Okt. 2008 ).Gaji wartawan menjadi permasalahan krusial yang harus diperhatikan setiap perusahaan media. Jika tidak, akan mempengaruhi kinerja yang berakibat retaknya independensi dan idealisme wartawan dalam mengemas berita.

"Gaji yang tidak mencukupi akan menyulitkan wartawan untuk menghasilkan berita-berita yang berbobot," ujar Ketua Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) Jogja Bambang MBK saat berkunjung ke kantor redaksi Radar Jogja, kemarin.
Bambang mengatakan reward yang rendah menyebabkan diversity of content. Yakni keseragaman berita diantara banyak media. Penyebabnya, para wartawan saling bekerjasama dalam memburu berita.

"Jalan pragmatis itu terpaksa ditempuh sebagai konsekuensi terhadap reward yang diberikan perusahaan," ungkap Bambang.

Bambang didampingi sejumlah pengurus AJI lantas mengungkapkan rahasia umum mengenai 'amplop'. Pemberian 'amplop' dinilai melanggar kode etik jurnalistik.

"Jika demikian, bagaimana mungkin jurnalis dan media massa dapat menjalankan fungsinya sebagai pilar ke empat?" katanya.

AJI berpendapat wartawan sepantasnya mendapat upah layak, supaya tidak mudah tergoda dengan berbagai bentuk sogokan dari nara sumber.

Kesejahteraan sangat mempengaruhi kinerja wartawan. Kesejahteraan membantu menciptakan independensi wartawan dalam mencari berita dan fasilitas.

Berapa besarnya? AJI telah melakukan berbagai survei di lapangan melalui wawancara dengan para wartawan. Setelah dihitung, AJI menemukan angka sebesar Rp 2,7 juta lebih per bulan.

Perbedaan daerah mempengaruhi besaran gaji layak bagi wartawan. Di Jakarta, gaji wartawan sebesar Rp 4,1 juta. Wartawan yang bertugas di ibukota negara juga lebih membutuhkan laptop. Namun, wartawan di Jogja lebih memerlukan sepeda motor.

"Sepeda motor bisa dikredit selama 3 tahun. Sehingga tiap bulan dibutuhkan dan sekitar Rp 300 ribu," katanya.

AJI merincikan kebutuhan wartawan selama satu bulan. Antara lain, makanan dan minuman sebesar Rp 750 ribu, perumahan dan fasilitas sebesar Rp 242.667, kebutuhan sandang Rp 149 ribu dan ditambah aneka kebutuhan lainnya Rp 1,3 juta lebih.

Total kebutuhan Rp 2.480.439. Upah tersebut harus ditambah 10 persen dari total upah sebesar Rp 248.439 untuk tabungan. Sehingga totalnya mencapai Rp 2,7 juta lebih. (yog)

Berita Terkait: