Polri: Wartawan Masuk Area Tertutup di Timika

Blog Single

Jakarta (ANTARA News) - Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Negara RI (Humas Polri), Irjen Pol Abubakar Nataprawira, menyatakan bahwa petugas Brigade Mobil (Brimob), Timika, Papua, melarang wartawan meliput pengamanan barang bukti berupa mortir karena telah masuk area tertutup.


"Saat petugas masuk ke gudang Detasemen B Brimob untuk mengamankan mortir, wartawan telah ada dalam ruangan padahal area gudang itu bersifat tertutup," katanya kepada wartawan di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, karena masuk area terbatas, petugas Brimob dari Detasemen D Timika meminta wartawan keluar.


Brimob itu lalu meminta wartawan untuk menghapus semua gambar yang telah diperoleh di gudang.
"Jadi, tidak ada Brimob yang menghapus rekaman tapi hanya permintaan saja. Yang  menghapus ya wartawan sendiri," katanya.


Wartawan datang ke gudang Detasemen B Brimob setelah mendengar bahwa mortir yang ditemukan di area Freeport akan dibawa ke tempat itu untuk diamankan.


Pekan lalu, tiga mortir meledak di Timika, dua kali di mil 38 dan mil 50 arah Freeport dan sekali di gardu listrik dekat bandara Timika. Satu mortir di mil 38 tidak meledak.


Polisi menduga, mortir itu telah  berusia tua dan bekas peninggalan Perang Dunia II.


Seseorang  memanaskan mortir dengan kompor tujuannya agar meledak.


Sementara itu, sekelompok wartawan yang menamakan Kamerawan Jurnalis Indonesia mengecam keras kasus pelucutan kamera wartawan oleh Brimob saat menjalankan tugas.


"Kami meminta Kapolri untuk menindak tegas oknum Brimob yang tidak profesional, melucuti kamera dan menghapus isi rekaman yang merupakan hasil karya jurnalistik," kata ketua Kamerawan Jurnalis Indonesia, Pipit Prahoro, dalam keterangan pers tertulis.


Ia meminta, agar semua aparat yang bertugas di lapangan untuk menghormati kamerawan dalam menjalankan tugas jurnalistik.


"Kami berharap peristiwa serupa tidak terjadi," katanya menambahkan. (*)

Berita Terkait: