Wartawan Harus Tumbuhkan Jurnalisme Damai di Masyarakat

Blog Single

Manado (ANTARA News) - Setiap wartawan di Indonesia harus mampu menumbuhkan jurnalisme damai ditengah masyarakat, tidak mendramatisir pemberitaan karena suatu peristiwa yang bisa saja bermuara pada konflik.


Demikian dikatakan Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Bidang Media Massa, Henry Subijakto, pada Forum Dialog Lembaga Media dalam Rangka Jurnalisme Damai, dihadiri kalangan pers, kalangan akademik hingga pemerhati jurnalistik, di Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Kamis (11/9).

Indonesia adalah negara multi kultur serta memiliki banyak agama dan partai politik, sewaktu-waktu menjadi sumber konflik horizontal akibat keberadaan jurnalistik Indonesia yang kebablasan terhadap pemberitaan, tanpa memperhatikan kode etik profesi.


 Wartawan yang banyak mengedepankan objektifitas dalam memuat berita, tentu tidak sekedar mengangkat suatu peristiwa menjadi sebuah konflik, melainkan mampu mencari solusi dari titik kesalahpahaman, sehingga masyarakat dituntun pada kedamaian.

 

Pers dituntut memberikan informasi edukasi bagi semua masyarakat, bukan hanya sekedar mengetahui cara membuat berita dengan rumus "Lima W"  (what, why, who, when, where) dan satu H (how), kata Subijakto, yang juga Ketua Dewan Pengawas Perum LKBN ANTARA.


Pemerintah pusat melalui Depkominfo mengharapkan kepada semua organisasi wartawan, seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalistik Independen (AJI), organisasi lainnya serta pemilik media massa, sering melakukan berbagai pendidikan dan pelatihan terhadap wartawan.

 

Wartawan dibekali dengan ilmu jurnalisme damai sebagai jurnalisme pembangunan, maka sangat perlu diberikan pelatihan, katanya menambahkan. (*)

Berita Terkait: