Daftar Nama Pemenang Adinegoro 2019-HPN 2020 Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Blog Single

1. Kategori Cetak

Nama               : Stefanus Teguh Edi Pramono

Tim                  : Devi Ernis - AnditaRahma - RaymundusRikang

Media              : Majalah Tempo

Judul               : Hanya Api Semata Api

Terbit               : 23-09-2019

AlasanJuri       : Tahun ini 82 karya cukup baik. Tulisan/karya yang disajikan merupakan hasil garapan yang serius. Komprehesif dan bertanggungjawab. Mengupas topik dibalik kasus pada saat peristiwa /masalah yang terjadi. Topikya jelas. impackya jelas. (Ujar Marah Sakti Siregar).

Ada peninkatan dalam karya peyajian, sayangnya tidak ada pendatang baru. Yang baru niat ikut tapi isiya belum memenuhi krietria. Jadi saya harapkan ada seleksi awal.(UjarDr. Artini).

Hanya Api Semata Api (Terbit Edisi 23 September 2019-06B)

Topik yang diangkat oleh penulis begitu kuat karena digarap di tengah bencana asap yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di wilayah Kalimantan dan Sumatera, terkhusus wilayah Riau. (9)

Angle berita dilakukan secara sistematis dan mendalam dengan berbagai sudut pandan yang komprehensif dan terstruktur. Gambaran yang yang begitu jelas kerusakan lingkungan yang berdampak serius terhadap manusia dan benatang dilindugi, bahkan hingga merengut nyawa. Pola pengarapan begitu rigit dan kuat dengan sisi fenomena dan fakta-fakta lapangan yang kuat  (10)

Impact menimbulkan polemik pro kontra dari dalam maupun luar negeri. Bahkan Indonesia dianggap sebagai eksportir asap. Laporan itu tidak saja membuat geger semua pihak karena runtutan masalah yang digarap menunjukkan angka kerugian yang tidak kecil secara materi maupun nonmateri (psikis). Laporan ini diyakini menjadi referensi bagi banyak pihak tidak saja para pengiat lingkungan, tetapi juga negara dan dunia usaha. Laporan ini juga mendorong kementerian terkait melangkah lebih jauh dengan menganjar beberapa perusahaan dan perorangan yang diduga melakukan pembakaran secara pidana maupun perdata (9)

Upaya yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari emapt jurnalis ini begitu luar biasa. Mereka melakukan koordinasi dan kerja sama pola liputan yang baik dengan tenaga dan upaya yang tidak kecil untuk bisa mendapatkan lapaoran erinci dan komprehensif dari lapangan, sumber langsung maupun data sekunder (10)

Desain Komunikasi Visual kuat dan menarik baik secara foto lay out, mapun infografis (9). BANU ASTONO

 

2. Kategori Siber

Nama               : Muhammad Amin

Tim                  : M Akhwan - Defizal - Evan Gunanzar

Media              : Riaupos.co

Judul               : Bom Waktu di Lahan Gambut

Terbit               : 22-10-2019

AlasanJuri       :Secara umum, materi karya yang masuk lebih bagus Tuntas da lebih indepht membahas sampai ke akar masalahnya. Pesa2 yang mau disampaikan mereka melalui karya-karyanya cukup tajam baik yang tersirat da tersurat. Mulai dari sibernya hingga media tool yag digunakan. Ini suatu pegembangan antar platform teks dan video, foto yang disajikan. Jadi betul-betul pengedukasian da pemanfaata teknologi pemberitaan yang sudah terlihat.Ini pers yang memenuhi inclusive. Jadi saya kira konfergensi ini bisa dijalankan. Hanya saja karyanya lebih padat dan bisa dengan mudah disebarkan ke medsos. Tapi saya senang dengan pendatang baru yang kuat seperti Kumpara, dll. (UjarPutut Tri Husodo).

Jurnalistik itu masih hidup. Pertanyaannya ke depan, dikenal banyak orag atau tidak. Hingga bisa mengalahkan hoax2. Jadi, saya harapkan, ke depan bentuk2 jurnalistik jangan terlalu sederhana. Perl uterus di update penggunaan media atau tools2 dalam teknologi informasi terutama bagi wartawan muda hingga lebih modernis old style lagi, perlu jadi pelopor dalam jurnalistik siber ini.Saya mengharapkan penghargaan Adinegoro lebih banyak disosialisasikan ke masyarakat mumpung ada keberagaman genre jurnalistik yang lebih tajam. Baik itu feature, reportase keberagaman misalnya ivestigasi tidak bagus, kualifikasi tulisan bagus. Hingga ada persaingan yag ketat. Teknik juralistik siber agar merata secara maksimal.(UjarSeno GumiraAjidarma).

Sejak menjadi juri, tahun ini karya-karyanya lebih bagus. Saya juga agak kaget melihatnya. Karyanya banyak yang  unik-unik, tapi kuat dalam pemberitaannya. Penyajian tulisannya cukup bahkan eak dibaca. Juralism indephtya terasa sekali. Seperti berburu tanah itu terasa sekali. Beragam tapi naratif. Mugki karena tidak dibatasi tema jadi tidak memiliki kepentigan terselubung, tidak sensasional tapi meceritakan kepentingan masyarakat kebanyakan.  Saya harapkan penulisan menggunakan Bahasa Indonesia jurnalistik yang lebih baku, strukturnya hidup dan menggunakan tata Bahasa yang baik. Tidak perlu kaku, karena bagian dar logika yang benar tertuang. Sekarang ini sudah bagus, keberagaman topik perlu dipertahankan. Tidak perlu copas tapi mengakar. Lebih perinci lebih mandiri pada isu sendiri yang mengangkat/memiliki sense jurnalistik.(UjarAgusSudibyo).

 

3. Kategori Televisi

Nama               : Rahdhini Ikaningrum

Tim                  : HerryFitriadie - Iqbal Himawan - Johan Pahlevi

Media              : Metro TV

Judul               : Berebut Oksigen di Tambora

Terbit               : 09-10-2019

AlasanJuri       :

Topik :Pemilihan topik sangat tepat dan menarik. Merupakan topik/ masalah yang dihadapi oleh hampir seluruh kota kota besar baik secara Nasional maupun Regional hingga kawasan Asia Tenggara . Urbanisasi merupakan masalah besar bagi ibukota negara dan ibukota provinsi yang dihadapi Indonesia juga negara negara lain khususnya Asia Tenggara.Bahkan kepadatan penduduk di Tambora Jakarta ini 1 m2 per 4 orang , merupakan kawasan terpadat se Asia Tenggara.

Pesan :Dikemas dengan baik. Digarap sangat mendalam indepth bahkan lebih detail .  Penuturan / ungkapan reporter runut, data dan laporan dari lokasi sangat lengkap. Reporter nampak memahami masalah yang diliputnya, dapat menyampaikannya dengan jelas.Bahkan bisa membawa penonton merasa ikut berada di lokasi, ikut merasa sumpek, prihatin, merasakan berada di rumah rumah yang tidak layak huni. Dan tragisnya lokasa berada dekat dengan pusat pemerintahan .Pesan bisa secara kuat sampai kepada " penguasa" / pemerintah baik di pusat maupun ibukota provinsi sebagai input/ kritik agar lebih atensi terhadap daerah2 kumuh tersebut. Penyampaian sangat apik dan menarik. Didukung pemilihan nara sumber yang tepat  sehingga satu sama lain antara naskah dan sound bite ( nara sumber) senafas dan menyatu. Nara sumber betul betul orang yang mengalami kehidupan tersebut ( man on the street ) dengan penyampaian pesan yang tepat. Meskipun ada sedikit kekurangannya tidak ada narasumber dari pihak pemerintah untuk keseimbangan pesan yang disajikan.

Bahasa dan Visual :Sangat  komunikatif dan mudah dicerna oleh masyarakat semua golongan/ berbagai status sosial. mudah difahami dan dimengerti. Visual detil dari berbagai angle sehingga betul 2 mendukung data dan reportase / laporan reporternya. Semua visual menyampaikan pesan sangat kuat.

Komposisi dan kualitas gambar: Sangat menarik. Angle2 nya lengkap, variatif dan kreatif.Tata editing bagus. Kontinuitas terjaga denga baik. Atmosfir dan ilustrasi selaras dgn pesan yg disampaikan baik naskah maupun gambar.

Produser betul betul berusaha menampilkan hasil produksi yang prima. " Selamat mendapat yang terbaik ". (UjarImmasSunarya)

Topiknya sangat menarik karena memotret persoalan urban yg seringkali terlewat karena dianggap "biasa". Karya ini mampu mengungkap likaliku kehidupan kaum urban kelas bawah yg ada di Ibukota. (UjarRizaPrimadi).

 

4. KategoriRadio

Nama               :Marga Rahayu

Tim                  : Supriati - Metalianda - Kamal Anshori

Media              :LPP RRI Samarinda

Judul               : Lubang Tambang Pembawa Petaka

Tayang                        : 22-07-2019

AlasanJuri       :Secara umum, peserta Penghargaan Adinegoro dalam Kategori Jurnalistik Radio dengan format Indedth Reporting setiap tahun menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tidak ditetapkannya thema khusus dalam kompetisi tahun ini memberikan ruang yang lebih luas bagi peserta untuk mengangkat thema yang memiliki konteks lokal yang lebih kuat. Keberagaman materi yang dikirim oleh peserta menunjukkan betapa  banyaknya persoalan yang ada di suatu daerah dan bagaimana upaya pihak yang berkompeten menyelesaikannya.  Karya yang ditampilkan oleh peserta dari RRI Samarinda, “Lubang Tambang Pembawa Petaka” menampilkan unsur unsur indepth reporting yang sangat kntekstual. Persoalan lama yang menyangkut keselamatan rakyat khususnya anak-anak, menjadi sangat actual bila dikaitkan antara sumberdaya alam sebagai sumber kesejahteraan di satu sisi dan menjadi sumber petaka di sisi lain. Karya jurnalistik ini menjadi penggugah kesadaran publik( public awareness) dan pengingat yang berkompeten untuk adil dan tetap bertindak menjamin keselamatan rakyat. Tentu komprehensifitas dan harmonica  unsur-unsur produksi radio yang berbasis pada suara yaitu : voice: narasi , sounds : suara-suara pendukung atas realita, dan music adalah hal lain yang menjadikan karya yang tidak sekedar layak dan  penting untuk didengar, tapi juga memiliki impact yang kuat bagi publik. (UjarDwiHernuningsih).

Radio Features berdurasi 10 menit 3 detik yang digarap dengan formula indepth reporting ini, mengisahkan kematian 35 anak yang tenggelam di lubang-lubang tambang bekas galian batubara dalam rentang beberapa tahun. Pokok persoalannya menurut keluarga korban, -khususnya emak-emak yang menjadi subyek liputan-, banyak anak yang tewas, karena bertahun-tahun pemerintah daerah yang bertanggungjawab mengamankan lubang-lubang bekas tambang itu, dituding abai, lupa dan seakan-akan tidak peduli pada keselamatan warga.

Karya audio RRI Samarinda ini tampil komprehensif. Paparan kondisi 72% wilayah Kalimantan Timur (setara 12,7 juta hektar) yang beralih menjadi areal konsesi tambang dan kebun kelapa sawit, disajikan dengan tangkas, padat dan imajinatif. Karya ini menjelaskan juga dampak dari 1.404 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang terbit hampir di seluruh kabupaten-kota se Kaltim. Pemerintah pusat dilaporkan turut menerbitkan 20 izin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B). 

Paket siaran diawali dengan soundbite ratapan para emak yang kehilangan anak mereka karena tenggelam di lubang bekas tambang. Ambience arena peliputan serta suara para narasumber menjadi etalase keunggulan pemenang. Karya juga ditutup dengan ratapan dan gugatan para emak agar pemerintah daerah bersungguh-sungguh menghentikan kejadian tragis tersebut.

Kekuatan RRI Samarinda bukannya tanpa saingan. Setidaknya ia bersaing dengan 4 radio yang jadi nominator. Tetapi setelah juri berunding, -tanpa waktu lama-, ketiga Juri sepakat menobatkankan garapan tim RRI Samarinda sebagai pemenangnya. Kata juri, mereka paling handal mewujudkan kredibilitas konsep dan teknis, selain memperlihatkan keistimewaan karakter radio yang ‘melulu suara’. Turunan kredibilitas yang dimaksud diantaranya memenuhi syarat: pilihan sudut pandang (angle), nilai berita (news value) dan kebijakan pemberitaan (news judgement).

Tuntutan rumusan akurasi (accuracy) mampu dipaparkan melalui data dan peliputan reporter ke lapangan. Sedangkan keberimbangan (balance) juga terpenuhi dengan menghadirkan fakta dan suara narasumber: seperti keluarga korban, gubernur, wakil perusahaan tambang dan unsur lainnya. Maka terpenuhilah syarat cover both side. Tantangan jurnalistik lainnya adalah kejelasan informasi (clarity). Hanya dengan durasi 10 menit 3 detik, tim produksi piawai menghadirkan persoalan besar dalam kemasan yang efektif.

Pujiannya, “Lubang Tambang Pembawa Petaka” adalah karya jurnalisme radio yang kredibel. Karena berani menggugah ‘lupa’ para penentu dan pelaksana kebijakan pemerintah, atas peristiwa yang mustahil dilupakan keluarga 35 korban tenggelam.

Terkait dinamika kompetisi, Jumlah radio kontestan tahun ini memang menggembirakan. Meski belum dibarengi pemerataan mutunya. Tetapi yang terpenting, gairah kuantitas ini mampu menyemangati industri  radio. Utamanya radio yang sedang meneguhkan eksistensinya sebagai media suara, yang selalu ampuh di belantara media digital yang berpendar-pendar. ERROL JONATHANS

Kami sepakat bahwa karya jurnalistik radio berjudul “Lubang Tambang Pembawa Petaka” dari Tim Liputan RRI Samarinda Kalimantan Timur adalah pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro untuk kategori media radio tahun 2020.

Tema yang diangkat oleh laporan mendalam RRI Samarinda ini  berkaitan dengan kasus meninggalnya 35 anak di Kaliamantan Timur yang menjadi korban kelalaian perusahaan tambang dan pemerintah. Serangkaian kasus kematian yang terjadi sejak tahun 2011 ini menjadi  semacam “forgotten tragedy” atau tragedi yang terlupakan dan berlarut-larut.  Berlarut-larut karena hampir 700 lubang bekas galian tambang sampai kini belum direklamasi dan masih mungkin menelan korban jiwa lebih banyak lagi dan terlupakan karena kasus kematian 35 anak itu sampai kini belum ada penyelesaiannya secara hukum dan keluarga para korban masih terus mencari keadilan.

Laporan RRI Samarinda ini dengan berani mempertanyakan hal itu ke berbagai pihak terkait, termasuk Gubernur Propinsi Kaltim yang semestinya paling bertanggungjawab. Menarik juga bahwa laporan ini dilengkapi  wawancara dengan komisioner  KPK yang mengendus adanya kemungkinan tindakan kolusi dan korupsi dalam kasus ini.

Menurut penilaian saya, dengan laporan mendalam ini RRI Samarinda telah melaksanakan perannya sebagai lembaga penyiaran publik dengan baik. Dan saya berharap RRI Samarinda dan para wartawan lainnya terus memantau dan mengangkat berbagai kasus dan isu penting yang terlupakan tentang  bekas lubang galian tambang di Kalimantan dan di banyak tempat lainnya di Indonesia, sehingga bisa segera mendapat perhatian pemerintah dan dapat segera diselesaikan secara tuntas dan adil. Karena ratusan bahkan ribuan galian lubang bekas tambang yang ada di banyak tempat di Indonesia adalah ancaman serius bagi lingkungan hidup dan juga ancaman bagi  keselamatan dan nyawa banyak orang yang tidak bersalah, khususnya anak-anak.

Selain karya jurnalistik dari RRI Samarinda tentahg lubang bekas galian tambang, saya mencatat ada beberapa karya jurnalistik radio lainnya yang juga  patut diacungi jempol karena mengangkat isu yang penting dan relevan serta digarap dan dilaporkan secara menarik. Dari pulau Bangka ada laporan mendalam tentang kasus tambang timah ilegal yang berlarut2 dan mengancam lingkungan hidup di sana, dari Papua ada laporan tentang perlunya mengelola kawasan Wisata Raja Ampat secara lebih profesional sehingga terumbu karang yang jadi aset utama Raja Ampat tidak rusak oleh kegiatan wisata.  Dari RRI Manokwari juga ada laporan tentang ironi ketidaksiapan gudang BULOG  menampung   beras yang hasil panennya meningkat, padahal pemerintahlah yang dengan gencar mendorong petani memperluas penanaman padi.

Dari Sumatera Barat  ada laporan “human interest” yang “happy ending”  tentang perjuangan panjang dokter gigi disabel di kabupaten Solok yang akhirnya mendapat haknya diangkat menjadi aparat sipil negara.

Selamat kepada RRI Samarinda yang mendapat penghargaan Anugerah Jurnalistik Adonegoro tahun 2020. Dan selamat juga kepada PWI dan Panitia Anugerah Jurnalistik Adinegoro yang telah berhasil meningkatkan jumlah dan mutu karya jurnalistik yang ikut serta dalam Anugerah Jurnalistik Adinegoro tahun ini.

Senagai catatan akhir, untuk meningkatkan mutu karya jurnalistik radio yang ikut dalam Anugerah Jurnalistik Adinegoro, untuk selanjutnya  perlu dipertimbangkan hal-hal berikut: - Hanya bentuk laporan audio mendalam (in-depth radio report) yang bisa diikutsertakan. Live report, wawancara atau hard news tidak diikutsertakan tapi bisa menjadi bagian dari indepth report yang diikutsertakan; Durasi laporan dibatasi antara 5 sampai 10 menit; Naskah tertulis hendaknya dilampirkan juga. FransPadakdamon.

 

5. Kategori Foto

Nama               : Affan Adenensi Riza Fathoni

Media              : Harian Kompas

Judul               : Erupsi Gunung Anak Krakatau

Siar                  : 24-12-2018

AlasanJuri       :Satu foto telah terpilih , terseleksi dari beberapa peserta yang diterima oleh panitia penganugerahan Adinegoro 2019, adalah foto  Erupsi gunung Krakatau ,diambil dari udara , Foto tersebut  terbaik dari yg baik, fotographer yg mengabadikannya mendapatkan moment yg sangat tepat,  ketika pesawat yg mambawa dia melintas di atas erupsi gunung krakatau dengan kepulan asap keriting  (seperti brokoli) yg keluar dari magma gunung tersebut. Tentunya  dengan tingkat kesulitan yg tidak mudah utk bisa mengabadikannya moment tersebut dengan timing yang tepat , kerena bila terlambat sedikit saja akan beda hasilnya.  Keputusan si photographer untuk mendapat shot areal view ketika gunung krakatau erupsi  itu keputusan seorang jurnalis fotobyang cerdas yang mungkin tidak terpikir oleh fotografer lain yang mungkin hanya mengambil dari perairan sekitar gunung tersebut.

Harapan para juri foto smga akan banyak lagi para wartawan foto mengirimkan karya jurnalistiknya yang dahsyat  di penganugrahan Adinegoro tahun 2020. Karena Adinegoro adalah penghargaan karya  jurnalistik yg sangat bergensi di Indonesia. EnnyNuraheni.

Alhamdulillah dari sekian banyak pilihan karya foto peserta anugerah Adinegoro akhirnya terpilih salah satu karya foto terbaik sebagai pilihan dari kami para juri dengan hasil pertimbangan dan diskusi bersama. Foto pemenang Adinegoro memang layak mendapat anugerah karena pertama, peristiwa alam yang tak dapat diulang, dengan sudut pengambilan yang tepat atau momen pas yang tidak mungkin bisa ditiru atau dibuat-buat. Sehingga foto tersebut memang layak menjadi juara. (Melly Riana Sari)

Fotografi jurnalistik adalah mata bagi dunia. Darinya kita beroleh berita yang terhamparkan momentumnya secara visual. Bagi insan citra jurnalistik, adonan kecekatan dan kepekaan wajib menjadi potensi yang mekekat dan jiwa dan raganya. Imaji "Erupsi Gunung Anak Krakatau" yang dipetik Riza Fathoni (harian Kompas) dari udara adalah representasi semua itu. Dalam foto jurnalistik, fungsinya juga tak sekadar menyebarkan berita sahaja, dia juga harus mampu meninggalkan pesan bagi kita semua, bahwa dalam visual yang indah, terkandung peringatan perihal kewaspadaan, karena kita hidup di atas cincin api.Oscar Motuloh

 

6. Kategori Karikatur

Nama               : Djoko Susilo

Media              : Harian Suara Merdeka

Judul               : Anak-anak terlena oleh Gadget

Terbit               : 24-07-2019

AlasanJuri       :HARI ANAK NASIONAL.

Karikatur ini sangat menarik, tak sekedar tema Iven tahunan tentang hari anak nasional, tetapi topik yang diangkat permasalahannya yg menarik.Yaitu kegandrungannya generasi PAUD kepada masalah gatget (smart phone dan sebangsanya), yang bisa membuatnya menjadi seorang anak yang egois, antisosial , kepada sesamanya. Maka cukup cerdas juga si karikaturis-nya mengangkat per- masalahan pada topik kegandrungan anak anak PAUD pada dunia gatget pada tema Iven hari anak nasional. Topik di zaman internet sekarang ini, ada kalanya ortu ikut bersalah-( mungkin saja malah sengaja memberikan HP atau Gatget kepada anak anak usia dini, tanpa berpikir dampak buruknya). Nah satire dalam karikatur ini digambarkan cukup sederhana, komunikatif dan sangat menohok banget. Bagi anak anak PAUD  yang dari klas menengah ke atas, kecenderungan untuk pegang , main dan penggila HP itu nyata, sementara digambarkan ada satu anak (miskin, yang tidak punya HP) sedang membawa bola kaki untuk mencari teman bermain, tapi tak satupun ada untuk diajak main bola. Mereka yang anak anak dari klas menengah atas, tetap asyik Masyuk sibuk menggandrungi dan tertarik dengan Gatget. Disitulah tampak satir-nya. Tak ada kegiatan bermain bersosialisasi dengan kawan kawan seusianya, hanya karena pada gila Gatget. Sangat satire dan ironis.GatotEkoCahyono

Berita Terkait: