Wartawan Perlu Pelihara Optimisme Publik

Blog Single
Bali (ANTARA News) - Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam), Djoko Suyanto, berharap wartawan dengan kekuasaan besar yang dilindungi oleh kemerdekaan pers dapat menjadi bagian produktif dari perubahan dengan memelihara optimisme, serta kepercayaan publik pada pembangunan.

"Dalam konteks Indonesia yang sedang mengalami transformasi secara fundamental di hampir semua lapangan kehidupan, sangatlah penting bagi para jurnalis untuk senantiasa memelihara optimisme dan kepercayaan umum akan kemajuan di kalangan publik," kata Menko Polhukam dalam pidatonya saat menjadi pembicara kunci dalam Lokakarya Wartawan: Akuntabilitas Media dalam Situasi Krisis, yang merupakan rangkaian Forum Demokrasi Bali (BDF) III di Bali, Rabu.

Ia berharap para wartawan  sejauh mungkin mampu menjaga agar semua aspek pemberitaan yang ditampilkan tidak berakhir dengan ungkapan penuh amarah dan kebencian di tengah-tengah meluasnya masalah dan beratnya tantangan serta tetap harus menghormati, mempromosikan, dan membela pluralisme dan multikulturalisme.

"Para wartawan, memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa tidak ada satu kata atau ekspresi simbolik lainnya dalam setiap pemberitaannya yang mengandung atau memiliki insinuasi yang dapat memicu permusuhan dan atau kebencian berdasarkan perbedaan etnis, ras, agama, kepercayaan, gender, dan atau beragam denominasi sosial dan kultural lainnya," ujarnya.

Menurut Djoko, wartawan memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan arah dan perkembangan sebuah peradaban.

Apalagi, media massa di Indonesia khususnya telah berkembang melewati sejarah yang amat panjang dan berliku. Sejak reformasi di tahun 1998, media massa di negeri ini menjadi salah satu institusi yang paling segera mendapat manfaat dari tersedianya kebebasan.

"Ini adalah sebuah profesi yang sangat mulia karena di dalamnya terdapat keahlian, tanggung jawab, dan kehormatan yang melekat dalam profesi itu. Penekanan ini sangat penting agar para jurnalis dapat menggunakan kepercayaan yang diberikan kepada publik dengan penuh hormat dan tanggung jawab," katanya.

Ia menilai, dalam banyak hal, baik-buruknya perkembangan sebuah negeri, sesungguhnya ditentukan oleh cara wartawan memotret apa yang terjadi di sekelilingnya.

"Sebuah peristiwa yang sama dapat menghasilkan 1.000 potret dengan sudut yang berbeda. Semuanya menghasilkan potret diri tentang realitas yang ada. Namun, apa yang dipilih oleh jurnalis untuk diberitakan itulah yang kemudian dibaca, ditonton, dan kemudian dimengerti sebagai realitas yang nyata di depan publik," katanya.

Pada kesempatan itu Menko Polhukam juga menegaskan kembali komitmen pemerintah menjaga kebebasan pers karena lima alasan yaitu, untuk menjaga kebebasan berpendapat dan berekspresi warga negara, memastikan publik memiliki informasi yang memadai tentang bagaimana kekuasaan di tiga cabang pemerintahan --legislatif, eksekutif, dan judisial-- dijalankan.

Kemudian , menjamin tersedianya ruang publik yang sangat penting bagi terjadinya pertukaran di antara berbagai ide, aspirasi, dan kepentingan yang berkembang dalam masyarakat, menyediakan akses kepada publik untuk secara aktif terlibat dalam proses perumusan kebijakan publik dan memberi penguatan pada gagasan pengawasan kekuasaan pada umumnya, dan keseimbangan di antara pilar-pilar demokrasi pada khususnya.

Ia juga menyoroti mengenai bagaimana pemberitaan media massa dalam bentuk apa pun dapat diakses seketika (real time) hampir di segala penjuru dunia dengan segala konsekuensi baik maupun buruknya.  (*)

Berita Terkait: