Denpom Surakarta Limpahkan Berkas Penganiayaan Wartawan

Blog Single
Solo (ANTARA News) - Detasemen Polisi Militer (Denpom) IV/4 Surakarta, melimpahkan berkas perkara kasus penganiayaan terhadap wartawan yang melibatkan mantan Komandan Komando Distrik Militer 0727 Karangnyar, Letnan Kolonel Lilik Sutikna, ke Oditur Militer Tinggi (Odmilti).

Dandenpom IV/4 Surakarta Letkol CPM Wisnu Wardono, di Solo, Rabu, mengatakan berkas kasus penganiayaan yang dilakukan tersangka Letnan Kolonel Lilik Sutikna, sudah dilimpahkan ke Odmilti di Jakarta, awal Oktober ini.

Menurut dia, berkas tersebut telah dilengkapi dengan keterangan lima saksi, termasuk dari unsur wartawan kasus penganiayaan yang dilakukan oleh Lilik Sutikno, terhadap wartawan Solo Pos Triyono (30) di Markas Kodim Karanganyar, pada 1 September 2010.

Pada perkara tersebut, kata Dandenpom, mantan Dandim tersebut dijerat sesuai Pasal 351 junto 352 KUHP tentang Tindak Pidana Penganiayaan.

Dia mengatakan yang bersangkutan kini menjadi Perwira Menengah (Pamen) Kodam IV/Diponegoro dan akan menjalani proses persidangan setelah Otmilti menyerahkan berkas perkaranya ke Pengadilan Militer.

"Kami hanya selaku penyidik dalam kasus itu. Kami sudah menyelesaikan tugasnya. Mudah-mudahan berkas dinyatakan lengkap sehingga proses persidangan segera digelar," kata Dandenpom.

Menyinggung sanksi yang akan diterima mantan Dandim tersebut, dia mengatakan, hal itu tergantung hasil persidangan nanti, pihaknya hanya selaku penyidik dan bukan wewenangnya.

Menurut dia, dalam aturan militer jika seorang anggota TNI terlibat kasus pidana dan divonis di atas tiga bulan penjara, biasanya dapat diberhentikan dengan tidak hormat.

Namun, lanjut dia, hal tersebut tergantung hasil dari persidangan dan pimpinan selaku atasan yang menghukum.  Hal itu, tentunya dapat dinilai dari tingkat kesalahannya.

Mantan Danndim Karangnyar, Letnan Kolonel Lilik Sutikna, belum lama ini dilaporkan ke Denpom Surakarta, akibat memukul wartawan Solopos, Triyono (30). Akibat pemukulan itu, korban terluka pada mata dan hidungnya. Selain itu, Dandim pun dilaporkan mengancam korban, jika kejadian itu diberitakan di media massa.

Menurut Triyono, peristiwa itu terjadi di ruang kerja Dandim Karangayar pada 1 September 2010. Dia sebelumnya dihubungi oleh salah seorang intel Kodim untuk menghadap komandannya.

Korban bersama wartawan lainnya yang bertugas di Karanganyar meliput pemasangan rambu lalu lintas di depan markas Kodim, dan dipanggil anggota Kodim untuk masuk ke markas.

Menurut korban, di dalam ruangan Dandim tersebut tangan kirinya ditarik, dan dipukuli sekitar lima kali di bagian muka. Dirinya saat itu belum tahu kenapa Dandim memukuli.

Namun, kata korban, pemukulan itu kemungkinan berkaitan dengan berita Solopos, bahwa Kodim diduga terlibat dalam kasus aliran dana korupsi Griya Lawu Asri (GLA).

(*)

Berita Terkait: