Lembaga Wartawan Kristen Kecam Pembakaran Al Quran

Blog Single
Jakarta (ANTARA News) - Puluhan orang dari Lembaga Wartawan Kristen (Lemwaka) melakukan unjuk rasa mengecam rencana pembakaran Al Quran di Amerika Serikat, atas dasar kepedulian antarumat beragama.

"Aksi ini adalah keprihatinan kami atas rencana pembakaran Al Quran di AS pada 11 September yang direncanakan oleh pendeta Terry Jones dari Gereja Gainesville, Florida, AS," kata Bendahara Lemwaka, Binsar Sirait, di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, pembakaran kitab suci ini patut dihindari karena dapat memecah kesatuan umat beragama di dunia dan banyak umat beragama lain yang juga mengecam hal tersebut untuk menunjukkan solidaritas mereka terhadap umat muslim di seluruh dunia.
 
Menurut Binsar, hari pembakaran Al Quran yang berdekatan dengan Idul Fitri dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah baru seperti pada peristiwa kartun Nabi Muhammad SAW serta dapat memberikan kesan negatif bagi persahabatan Indonesia-AS.

Setelah situasi kondusif pasca konflik Poso dan Ambon, Lemwaka berharap semua pihak dapat menjaga kerukunan antarumat beragama di Tanah Air.

"Kami juga sudah mengikuti pertemuan dengan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Perwakilan Umat Budha di Indonesia (WALUBI), Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU) mengenai rencana pembakaran itu dan kami juga ingin ikut andil untuk langsung meminta kepada Kedutaan Besar AS dengan harapan mendapat perhatian lebih dari mereka," ujarnya.

Aksi damai yang diikuti 20-30 orang tersebut berjalan lancar dan singkat serta menegaskan bahwa seharusnya AS menunjukkan diri mereka sebagai negara yang demokratis, dan pemerintah AS diminta untuk bertindak lebih tegas mengenai rencana pembakaran tersebut.

Sebelumnya, PGI dan KWI telah menyumbangkan sekitar 500 Al Quran bagi para tahanan Warga Negara Indonesia di penjara Australia. Hal itu dilakukan sebagai rasa solidaritas umat beragama yang menentang rencana hari pembakaran Al Quran di AS.

Selain itu, Gerakan Peduli Pluralisme (GPP) juga mengutuk rencana hari pembakaran tersebut.

Menurut Ketua Bidang Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia, Slamet Effendy Yusuf, bahwa rencana pembakaran Al Quran sedunia tidak mencerminkan niat mayoritas umat Kristen, karena merupakan niat dari kelompok kecil masyarakat AS saja.

Selain itu kecaman juga datang dari para pengemuka agama baik Kristen, Yahudi serta Islam di AS.

Kardinal emeritus Keuskupan Katolik Roma Washington Theodore McCarrick dan Dr. Michael Kinnamon dari Dewan Nasional Gereja-Gereja AS juga menentang wacana mengenai hari pembakaran pada Sabtu, 11 September.

Mereka mengatakan bahwa hal itu akan melanggar kebebasan beragama yang ada di AS.

Selain itu, Presiden Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA), Dr. Ingrid Mattson menyarankan kepada kaum Muslimin di luar AS untuk tetap tenang dan tidak mengadakan aksi terhadap umat Kristen ataupun Yahudi atas rencana pembakaran tersebut.

Mattson juga menerangkan bahwa mereka tidak mewakili umat Kristen, Yahudi ataupun para ekstrimis Kristen di AS. (*)

Berita Terkait: