Wartawan Prancis Tersandera di Afghanisyan

Blog Single
Paris  (ANTARA News/AFP/Reuters) - Prancis dalam dua pekan belakangan menerima bukti bahwa dua wartawan tersanderanya di Afghanistan masih hidup dan sehat, kata kepala penasihat Presiden Nicolas Sarkozy, Minggu.

"Saya memiliki dua berita baik. Pertama, kami punya bukti kehidupa dalam belasan hari belakangan dan, kedua, kami tahu bahwa mereka berada sehat," kata Claude Gueant kepada radio Europe 1.

"Ramadhan menunda perundingan, yang tampak berjalan baik, tapi mereka memulai lagi beberapa hari mendatang," tambahnya, mengacu pada bulan suci Islam, yang berlangsung di Afghanistan.
Herve Ghesquiere dan Stephane Taponier, pewarta dan kamerawan televisi negara France 3, diculik pada 29 Desember tahun lalu di propinsi Kapisa province, bersama warga Afghanistan sopir dan juru bahasa mereka.

Mereka dalam perjalanan tanpa pengawalan tentara di daerah baratlaut Kabul, yang dikenal sebagai kubu pejuang menentang pemerintah, seperti, Taliban, dan yang dironda pasukan Prancis NATO.

Pada April, Taliban menuntut pembebasan tahanan sebagai penukar kedua wartawan itu dan melansir video berisi keduanya mengatakan penculiknya akan membunuh mereka jika syarat syarat mereka tak dipenuhi.

Sarkozy pada tengah Juli menjanjikan tentaranya terus berjuang untuk memastikan perdamaian di Afghanistan, tempat sejumlah tentara itu tewas dalam memerangi Taliban.

"Tentara Prancis akan melakukan tugasnya dalam mengabdi perdamaian bersama sekutu dan teman kami, di mana pun kami berada," katanya pada televisi France 2, setelah menemui pasukan pada parade tahunan tentara pada hari libur kebangsaan Prancis.

Jajak pendapat diterbitkan di suratkabar sayap kiri "L`Humanite" pada Rabu menyatakan kurang dari tiga dari 10 orang Prancis mendukung keterlibatan berkelanjutan Prancis dalam perang Afghanistan.

Sarkozy pada Januari menjelaskan bahwa negaranya tidak akan mengirimkan pasukan tempur tambahan ke Afghanistan, namun menambah petugas bukan tempur guna melatih pasukan keamanan Afghanistan.

Prancis adalah penyumbang keempat terbesar tentara dari negara Barat dalam membantu pemerintah Afghanistan memerangi perlawanan pimpinan Taliban, setelah Amerika Serikat, Inggris dan Jerman.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan perlawanan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan Amerika Serikat pada 2001, karena menolak menyerahkan pemimpin Alqaida Osama bin Ladin, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah negara adidaya itu, yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Sejumlah 47 tentara Prancis tewas dalam kemelut Afghanistan.

Sebagian besar dari 3.500 tentara Perancis di Afghanistan ditempatkan di kabupaten sekitar Kabul.

Mereka merupakan bagian dari pasukan asing pimpinan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO dalam bertempur dengan Taliban.

Sejumlah 2.061 tentara asing tewas di Afghanistan sejak serbuan pimpinan Amerika Serikat untuk menumbangkan pemerintah Taliban pada akhir 2001.

Dari jumlah itu, korban di kalangan tentara Amerika Serikat tercatat paling banyak, dengan 1.270 orang, diikuti Inggris dengan 332, Kanada (152), Prancis (47), Jerman (43), Denmark (36), Spanyol (30), Italia (27), Belanda (24), dan sisanya dari negara lain.

Peningkatan jumlah korban tewas menjadi berita buruk bagi Washington dan sekutunya, yang pemilihnya semakin putus asa oleh korban dalam perang di tempat jauh itu, yang tampak berkepanjangan dan tak berujung. (*)

Berita Terkait: