Wartawan RCTI Disandera Petugas Keamanan PLTA Ubrug

Blog Single
Sukabumi (ANTARA News) - Seorang wartawan Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), Wilda Topan, diduga disandera oleh oknum petugas keamanan Pembangkit Listrik Tenaga Air Ubrug, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa.

Informasi yang dihimpun ANTARA News, kejadian tersebut berawal saat wartawan tersebut akan meminta konfirmasi dari pihak PLTA Ubrug atas peristiwa tersetrum seorang pegawai PLTA Beni Rimbawan warga Kampung Cimanggu, Desa Jayanegara, Kecamatan Kalapanunggal-Kabupaten Sukabumi yang sedang mengecat tower di areal PLTA.
Usai meliput kondisi korban di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekarwangi, kontributor MNC untuk wilayah Sukabumi langsung meluncur ke lokasi kejadian tersetrumnya korban.

Saat akan meliput dan mengonfirmasi kejadian tersebut, wartawan ini mendapatkan perilaku yang kurang baik dari aparat keamanan PLTA Ubrug. Oknum petugas itu menghalangi mereka ketika akan meliput.

Bahkan, para petugas tersebut langsung menyerang Wilda dengan kata-kata yang kurang mengenakan. Selain itu, kartu liput atau kartu pers dan identitas miliknya pun diambil secara paksa oleh oknum petugas tersebut.

Selain itu, Wilda pun disandera pada saat akan pulang dan petugas tersebut juga mengambil kunci motor miliknya.

Selain petugas keamanan yang menyandera, ada beberapa oknum yang diduga preman ikut-ikutan menahan wartawan itu tanpa ada kejelasan lebih lanjut.

Kejadian itu berlangsung sekitar kurang lebih satu jam. Khawatir mendapatkan perilaku kasar dari para oknum petugas tersebut, wartawan pun meminta oknum itu melepaskan dirinya. Setelah bernegoisasi cukup lama, akhirnya wartawan RCTI diperbolehkan pulang.

Wilda Topan mengatakan, saat akan meliput lokasi kejadian tersetrumnya petugas PLTA, dirinya sempat meminta izin dahulu kepada para petugas keamanan setempat.

Namun, bukannya mendapatkan izin, dirinya malah mendapatkan perilaku kasar dari petugas dan sempat diancam selama kurang lebih satu jam.

"Saya tidak bisa pulang karena ditahan oleh para petugas dan kartu liput serta identitas saya diambil. Selain itu banyak preman yang menghampiri saya dan mengancam saya," kata Wilda kepada ANTARA, Selasa.

Karena tidak terima atas perilaku tersebut, pihaknya akan mengadukan kejadian ini kepada pihak kepolisian. Bahkan, kasus ini sudah dilaporkan kepada managemen MNC pusat.

"Saya tidak terima dengan kejadian ini. Masalahnya, sebelum melakukan peliputan saya sudah meminta izin dengan cara baik-baik," katanya menambahkan.

Sementara itu, Wakil Kepala Biro MNC Cabang Jawa Barat, Ilmi Hatta, mengatakan pihaknya masih menunggu laporan tertulis dan kronologis dari Wilda. "Setelah itu, kami akan melakukan tindakan ke depannya," kata Ilmi.

Di tempat terpisah, Sekretaris Sukabumi Journalist Forum (SJF) Toni Kamajaya menuturkan apa yang telah dilakukan oleh pknum petugas keamanan PLTA masuk kategori menghalangi tugas wartawan, atau melanggar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

"Seharusnya tindakan petugas keamanan tersebut, apalagi bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tidak seperti itu, dan dinilai melecehkan profesi wartawan," katanya menegaskan. (*)

Berita Terkait: