Kelompok Bersenjata Bebaskan Wartawan Nigeria

Blog Single
Onitsha, Nigeria  (ANTARA News/Reuters) - Kelompok bersenjata di wilayah minyak Nigeria tenggara membebaskan empat wartawan setempat dan sopirnya tanpa cedera pada Minggu, setelah hampir sepekan menyekap mereka.

Penculik itu menyergap iringan mobil pembawa wartawan tersebut di negara bagian Akwa Ibom, Nigeria selatan, pada Senin saat mendekati Aba, ibu kota Abia, negara bagian tetangganya.


 
"Karena tekanan dari berbagai arah, penculik harus membebaskan kami pada pagi ini," kata Wahab Oba, ketua cabang negara bagian Lagos Persatuan Wartawan Nigeria, kepada wartawan sesaat sesudah dibebaskan.

Oba menyatakan tidak ada uang tebusan diberikan untuk pembebasan mereka. Kelompok bersenjata itu semula menuntut 250 juta naira (sekira Rp17 miliar).

Abia dan Akwa Ibom adalah negara bagian terpencil di Delta Niger, wilayah bergolak jantung minyak Nigeria.

Penculikan pekerja minyak asing dan orang terkemuka Nigeria umum terjadi di negara bagian utama penghasil minyak Rivers, Bayelsa dan Delta, tapi dalam serangan bulan belakangan, serangan lebih sering di daerah pinggiran wilayah itu, termasuk Akwa Ibom.

Delta Niger, kawasan penghasil minyak dan gas terbesar Afrika, menjadi lahan subur bagi penculikan warga asing.

Perusahaan asing, dari perminyakan hingga telekomunikasi, terpaksa menghabiskan jutaan dolar Amerika Serikat tiap tahun untuk keamanan karyawan mereka, karena ketinggian angka kejahatan di Delta Niger.

Beberapa pejabat keamanan menyatakan bekas penganut garis keras keras, yang bosan dengan pengampunan dari pemerintah dapat berada di belakang gelombang penculikan, perampokan dan pencurian minyak di negara itu.

Presiden Goodluck Jonathan mengutamakan menghidupkan kembali kegiatan pasca-ampunan bagi ribuan bekas anggota kelompok bersenjata, yang telah menyerahkan senjata pada tahun lalu dengan imbalan janji diberi gaji tetap, pendidikan dan kesempatan kerja.

Lebih dari 300 warga asing disandera di Delta Niger sejak 2006. Hampir semua korban penculikan itu bebas tanpa cedera setelah membayar uang tebusan.

Pada Juni 2009, Presiden Nigeria Umaru Yar`Adua melakukan upaya paling sungguh-sungguh untuk mengendalikan kerusuhan, yang membuat Nigeria gagal menghasilkan lebih dari duapertiga hasil minyaknya, sehingga negara itu rugi miliaran dolar Amerika Serikat (triliunan rupiah), dengan menawarkan ampunan tanpa syarat kepada gerilyawan.

Lebih dari 15.000 gerilyawan di daerah penghasil minyak Delta Niger dikabarkan menyerahkan senjata dan menerima ampunan tanpa syarat berdasarkan atas kegiatan tersebut.

Ampunan itu, yang diberlakukan sejak 6 Agustus hingga 4 Oktober 2009, bertujuan melucuti senjata pejuang, mendidik dan memulihkan pejuang dan penjahat di Delta Niger.

Sebagai bagian dari upaya itu, pemerintah pada tengah Juli membebaskan Henry Okah, pemimpin MEND (Gerakan Persamaan Delta Niger), setelah tuduhan terhadapnya dibatalkan.

MEND, kelompok bersenjata paling lengkap di antara sejumlah kelompok pemberontak di wilayah selatan itu, menyatakan melancarkan sejumlah serangan sejak pemerintah Nigeria menawarkan ampunan pada Juni 2009.

MEND bertanggung jawab atas serangkaian serangan terhadap perusahaan besar minyak, yang mencakup Shell, Chevron dan Agip.

Serangan itu membuyarkan harapan bahwa tawaran ampunan akan menciptakan masa tenang.

Delta Niger sejak 2006 dilanda kerusuhan oleh kelompok bersenjata, yang menyatakan berjuang untuk pembagian lebih besar dari kekayaan minyak di kawasan itu bagi penduduk setempat.

Kerusuhan itu menurunkan hasil minyak Nigeria menjadi 1,8 juta barel sehari dari 2,6 juta barel tiga setengah tahun lalu. (*)

Berita Terkait: