Kelompok Pers Salahkan Militer dan Pemrotes Thailand

Blog Single
Bangkok (ANTARA News/AFP) - Militer Thailand dan para pemrotes "Baju Merah" membiarkan media dalam "bahaya pembunuhan" dalam aksi protes di jalan-jalan di Bangkok yang menewaskan dua wartawan, kata satu kelompok pers bebas.

Militer tidak bertindak untuk melindungi para anggota media, kata kelompok Wartawan Tanpa Perbatasan (RWB) dalam sebuah laporan yang dikeluarkan Kamis.

Juru foto lepas Italia Fabio Polenghi dan juru kamera Jepang Hiroyuki Muramoto dari kantor berita Thomson Reuters termasuk di antara 90 orang yang tewas ketika protes-protes anti pemerintah  berubah menjadi pertumpahan darah April dan Mei.

Kelompok itu mengatakan beberapa saksi mata dan korban yang diwawancarainya yakin para wartawan jadi sasaran dalam aksi kekerasan itu yang juga mencederai 10 anggota pers itu.

"Beberapa cerita mereka jelas menunjukkan bahwa tentara Thailand menempatkan para warga sipil , termasuk wartawan berada dalam bahaya pembunuhan dan tidak menghormati peraturan yang berlaku," katanya.

"Mereka tidak berusaha mencegah wartawan meliput kejadian-kejadian itu, tetapi peraturan yang berlaku dan ketidak profesionalisme pihak serdadu yang menimbulkan insiden-insiden serius  yang seharusnya dapat dihindari," tambah kelompok itu.

Laporannya yang berjudul "Thailand: Licence to Kill" juga menemukan bahwa anggota-anggota Baju Merah yang bersenjata" dengan sengaja membiarkan wartawan-wartawan Thailand dan asing  berada dalam bahaya pembunuhan".

Kelompok itu menyerukan para pemimpin Baju Merah harus bertanggung jawab atas aksi kekerasan terhadap pers, serta pasukan yang menembaki para anggota media yang memakai identitas, dihukum.

Laporan itu menyerukan hasil-hasil penyelidikan kematian Muramoto dan Polenghi segera diumumkan ke publik.

Laporan itu juga mendesak pihak berwenang Thailand memberikan ganti rugi uang  kepada wartawan yang cedera dalam aksi kekerasan itu, beberapa di antara mereka  kabarnya mengalami cedera tetap "yang mereka katakan tidak akan pernah sembuh penuh".

Kelompok-kelompok media juga mendesak diperbaiki pelatihan keamanan bagi wartawan dan menjamin orang yang bekerja dalam situasi berbahaya  memiliki perlengkapan yang pantas  seperti rompi anti peluru dan helm.

Sebagian besar mereka yang tewas adalah warga sipil, sementara hampir 1.900 orang cedera dalam serangkaian bentrokan yang dipicu oleh unjuk rasa  yang berakhir dengan satu tindakan keras militer pada 19 Mei 2010. (*)

Berita Terkait: