Kemenangan Pers dalam Kasus Raymond Jadi Tonggak Sejarah

Blog Single

Jakarta (REPUBLIKA.CO.ID) -Majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan akhirnya menolak gugatan perdata yang diajukan Raymond Teddy H terhadap harian Republika dan Detik.com. Keputusan hakim ini dinilai bisa menjadi tonggak sejarah gugatan terhadap media massa.

 

''Ini patut dijadikan tonggak sejarah,'' ujar kuasa hukum Republika dan Detik.com, Amir Syamsudin usai putusan persidangan, Senin (24/5).


Kedua media digugat lantaran memuat berita kasus perjudian yang diduga melibatkan Raymond. Kasus itu terjadi pada 2008 di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Kasus perjudian dengan tersangka Raymond masih bergulir di ranah hukum. Setelah sempat bolak-balik diproses dari kepolisian ke kejaksaan, kini kasusnya sudah diserahkan lagi ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Raymon juga menggugat media lain di pengadilan yang berbeda. Dia menggugat harian Seputar Indonesia di PN Jakarta Pusat, Suara Pembaruan (PN Jakarta Timur), dan Kompas, Warta Kota, dan RCTI (PN Jakarta Barat). Ketiga persidangan ini masih berlangsung.

''Putusan ini bisa jadi acuan dalam gugatan serupa yang mungkin muncul di masa depan," ujar Amir. ''Putusan ini sangat melegakan bagi media''. Menurut Amir, majelis hakim sangat bijaksana memutuskan kasus ini dengan mempertimbangkan dua undang-undang. ''Majelis hakim menggunakan UU Pers dan KUH Perdata untuk menangani kasus ini,'' katanya.

 

Selain itu, majelis hakim pun banyak mengungkapkan jika sengketa pers terjadi, maka mesti diselesaikan dengan mekanisme yang berlaku. Yaitu, dengan menggunakan hak jawab yang diberikan media.

 

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan memenangkan Republika dan Detik.com dalam gugatan perkara perdata Raymond Teddy H kepada media. Keputusan ini dibacakan pada Senin, (24/5). Persidangan itu dipimpin hakim ketua Haswandi dan hakim anggota Atha Thersia, dan Ahmad Salihin.

Majelis hakim memutuskan segala dalil yang diajukan penggugat dalam pokok materi tidak terbukti. "Dalam pokok perkara, gugatan dari pihak penggugat ditolak seluruhnya," kata Haswandi. Putusan ini pun disambut gemuruh tepuk tangan dari media yang ikut meliput persidangan.

Hakim ketua, Haswandi mengatakan, "Berita yang dibuat Republika dan Detik.com tidak terbukti berita bohong," katanya. Hal tersebut berdasarkan pemeriksaan para saksi fakta dan berdasarkan penjelasan dari Wadir I Bareskrim saat itu, yaitu Bachtiar Tambunan. Berita yang dimaksud dalam kasus ini adalah berita soal penggerebekan tersangka bandar judi di Hotel Sultan, Jakarta.

Munculnya nama Raymond, lanjut hakim, bukan dari pribadi atau opini wartawan. "Karya jurnalistik itu kebenaran narasumber," katanya. Ia menjelaskan berita tersebut tidak bertentangan dengan undang-undang, norma asusila, kepatutan, ketelitian, dan keakuratan. "Penggugat tidak bisa membuktikan dalilnya," ujar Haswandi.

Majelis hakim juga menegaskan seharusnya pihak penggugat bisa menggunakan hak jawab ketika merasa keberatan. "Jika tidak suka dengan pemberitaan, gunakan hak jawab". Namun, penggugat tidak menggunakan hak tersebut dan mengajukan gugatan perdata. Dalam persidangan, majelis hakim juga menghukum penggugat untuk membayar biaya perkara yang dikeluarkan dalam persidangan.

Sementara itu, kuasa hukum Raymond, Togar M Nero siap mengajukan banding. "Kami akan lakukan upaya hukum, kita akan banding," katanya saat ditemui usai persidangan. Sejak awal, kata Togar, pihaknya sudah keberatan atas saksi fakta yang diajukan oleh pihak tergugat. "Kedua saksi fakta yang dihadirkan itu kan karyawan dari tergugat di pengadilan yang lain," katanya.(*)

Berita Terkait: