Media Berhak Beritakan Kasus Judi

Blog Single

Jakarta (Republika Online - ROL) - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Komarudin Hidayat, menegaskan media massa berhak memberitakan pengungkapan kasus judi. Sebab media memiliki tanggung jawab pendidikan melalui pemberitaan, agar masyarakat tidak rusak karena judi.

''Media berhak memberitakan karena judi merusak masyarakat. Tugas media itu mendidik,'' katanya kepada Republika, di Jakarta, Jumat (7/5).


Menurut Komarudin, gugatan yang dilayangkan tersangka kasus judi, Raymond Teddy H, atas berita penggerebekan judi di Hotel Sultan, mestinya tak perlu terjadi. Bila merasa dirugikan oleh pemberitaan, kata Komarudin, mestinya tersangka melakukan klarifikasi, terutama kepada polisi.

Sebabnya, kata Komarudin, ketujuh media yang digugat Raymond karena memberitakan kasus judi, memperoleh berita penggerebekan itu dari sumber resmi kepolisian. ''Kalau memang dia merasa dirugikan, buat saja klarifikasi. Temui polisi,'' katanya.

Tujuh media yang digugat Raymond adalah Republika, Kompas, Suara Pembaharuan, Seputar Indonesia, Warta Kota, RCTI, Detik.com.

Menurut versi polisi, kasus yang membuat Raymond menjadi tersangka, bermula saat praktik perjudian di Kamar 296 Hotel Sultan terbongkar pada 24 Oktober 2008. Diketahui kemudian praktik judi tersebut sudah dilakukan setiap hari sejak Januari 2008.

Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Didiek Darmanto, adalah jenis Joker Karo, Joker Manado, dan Leng/Song. Ada tiga pihak yang diperkarakan, yaitu Anjar Rahmayanti dan kawan-kawan sebagai tersangka penyelenggara perjudian, Raymond Teddy sebagai tersangka karena turut serta menyelenggarakan perjudian, dan Andri Amin dan kawan-kawan sebagai peserta. Ketiga berkas tersebut disampaikan secara terpisah. Seluruh tersangka kecuali Raymond Teddy sudah divonis bersalah dan menjalani hukuman (Republika, 1/5).

Berkas Raymond pertama kali diserahkan Mabes Polri kepada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta pada November 2008. Kemudian, kejaksaan mengembalikan berkas untuk dilengkapi pada 1 Desember 2008. Berkas bolak-balik dari kejaksaan ke kepolisian hingga April 2010.

Komarudin meminta media memberikan dukungan kepada polisi agar serius mengungkap kasus judi itu. Ia berharap, penanganan kasus judi tidak menemui jalan buntu akibat adanya intervensi pihak tertentu. ''Jangan sampai ada yang menekan atasan polisi, lalu menekan polisi bawahan sehingga penanganan kasus judinya tidak selesai. Media harus mem-back up polisi,'' .

 

(bachrul ilmi, ed: harun
(-) http://koran.republika.co.id/koran/0/110630/Media_Berhak_Beritakan_Kasus_Judi)

Berita Terkait: