Indonesia-Swiss Rintis Kerja Sama Jurnalisme

Blog Single

London (ANTARA News) - Indonesia dan Swiss pererat kerja sama  ekonomi dan perdagangan, menjalin dialog antarkerukunan umat beragama, konsisten dalam penyelesaian negosiasi antara EFTA serta merintis kerja sama di bidang jurnalisme antara kedua negara.

Semangat kebersamaan itu diutarakan Dubes RI, Djoko Susilo dan Presiden Konfederasi Swiss, Doris Leuthard usai penyerahan surat kepercayaannya sebagai Dubes RI untuk Konfederasi Swiss, di Federal Palace, Bern, ujar Pensosbud KBRI Bern, Rizka Desinta kepada koresponden ANTARA News di London, Rabu.


Dalam diskusi informal usai penyerahan surat kepercayaan, Dubes Djoko Susilo menyampaikan salam hangat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Presiden Doris Leuthard dan Federal Chancellor Corina Casanova.

Dubes RI juga mengutarakan beberapa hal, diantaranya mengenai rencana kunjungan Presiden Leuthard ke Indonesia pada Juli 2010.

Rencana kunjungan yang hanya berselang waktu yang tidak terlalu lama dengan kunjungan sebelumnya, merupakan isyarat keseriusan Swiss untuk meningkatkan hubungan dan kerja sama antara kedua negara, ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Swiss Micheline Calmy-Rey telah melakukan kunjungan ke Indonesia pada Februari 2007.

Menanggapi rencana kunjungan Presiden Leuthard pertengahan tahun ini, Dubes mengusulkan kemungkinan berkunjung ke pesantren di Jawa Timur, untuk melihat kehidupan komunitas Islam dan berkontribusi dalam menjaga kerukunan hidup di Indonesia.

Dubes RI berharap, dalam kunjungannya Presiden Leuthard dapat  menyertakan jurnalis Swiss yang tidak saja meliput kunjungan Presiden, tetapi juga mengamati secara langsung kehidupan muslim moderat di Indonesia.

Ide itu disambut dengan antusias oleh Presiden Leuthard dan Chancellor Casanova.

Presiden Leuthard mengemukanya referendum pelarangan pembangunan minaret di Swiss, November tahun lalu merupakan salah satu alasan Swiss yang ingin melihat kehidupan masyarakat Indonesia yang hidup berdampingan secara rukun di tengah berbagai kemajemukan budaya, etnis dan agama.

Sebagai salah satu pilar demokrasi, Dubes Djoko Susilo yang mantan wartawan percaya bahwa pers yang bebas dan bertanggung jawab merupakan salah satu unsur penting membina kehidupan demokrasi di suatu negara.

"Indonesia dan Swiss, sebagai dua negara yang demokratis, banyak memiliki kesamaan pandangan, khususnya dalam bidang HAM dan pluralisme," tutur Presiden Leuthard.

Dubes RI mengatakan, di masa mendatang, Indonesia dapat menimba ilmu dari Swiss sebagai negara demokrasi yang lebih dahulu mapan, khususnya di bidang HAM.

Sebelum bertugas sebagai Dubes, Djoko Susilo merupakan wartawan senior di harian Jawa Pos dan pernah ditugaskan sebagai koresponden luar negeri di Washington, D.C. dan London.

 

Djoko Susilo juga pernah menjadi anggota DPR-RI Komisi I yang membidangi pertahanan dan keamanan, hubungan luar negeri dan informatika selama dua periode, sejak 1999 hingga 2009.

Selain untuk Konfederasi Swiss, Dubes Djoko Susilo juga diakreditasikan untuk Keharyapatihan Liechtenstein.

 

Menurut rencana, Duta Besar akan menyerahkan Surat Kepercayaannya kepada Pangeran Alois pada 12 Mei 2010 di Kastil Vaduz, Liechtenstein. (*)

Berita Terkait: