Kehadiran Media Massa Sosial Jadi Tantangan Wartawan

Blog Single

Pasuruan (ANTARA News) -  Kehadiran masyarakat yang memanfaatkan media massa sosial, seperti blogfacebook dan twitter dapat menjadi tantangan sekaligus ancaman bagi keberadaan wartawan , baik wartawan media cetak, siaran (radio, televisi) maupun online, kata Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), Priyambodo RH.

 

"Karena itu, wartawan media massa harus selalu terus menerus meningkatkan kapasitas dan kemampuan untuk lebih profesional," kata Priyambodo, yang juga Ketua bidang Multimedia PWI Pusat, Sabtu.

 

Dalam lokakarya jurnalistik yang diselenggarakan LPDS bekerja sama dengan Mobil Cepu Limited (MCL) di Taman Dayu, Pasuruan, Jawa Timur, dia mengatakan, kehadiran media massa sosial dapat menjadi pesaing media massa tempat para wartawan bekerja.

 

Pada prinsipnya, ia mengemukakan, kemerdekaan pers merupakan hak publik yang dititipkan kepada masyarakat pers yang memiliki keahlian atau profesional melalui manajemen media massa dan penegakan kode etik jurnalistik. Hanya saja, masyarakat belakangan ini dapat memanfaatkan media massa sosial di Internet untuk lebih mengekspresikan keinginannya.


"Kalau wartawan tidak sungguh-sungguh dalam berkarya, sudah sewajarnya kalau kemudian posisinya diambil alih oleh media masa sosial," paparnya.

 

Sebagai contoh, semakin banyak anggota masyarakat yang memanfaatkan media massa sosial di Internet dengan menyampaikan informasi bergaya jurnalistik, dan sebagian dari mereka menyebut diri sebagai jurnalis warga.

 
Oleh karena itu pula, ia menjelaskan, standar kompetensi wartawan (SKW) yang disahkan Dewan Pers pada 27 Januari 2010 harus diterapkan, dan pada gilirannya pendapatan wartawan akan lebih layak. Setidak-tidaknya, ia menilai, pendapatan wartawan muda harus bisa di atas Upah Minimum Kabupaten (UMK), karena profesi wartawan merupakan pekerjaan intelektual yang memerlukan keterampilan khusus.

Namun, katanya, kalau dikaitkan dengan SKW, maka seharusnya diimbangi dengan kemampuan yang lebih profesional, karena wartawan dalam bekerja selain harus harus padat karya, juga harus padat ide, dan didukung manajemen media massa yang padat modal.

"Wartawan tidak boleh berhenti menulis dengan hanya memperhitungkan gaji," tutur wartawan ANTARA Multimedia Gateway di Kantor Berita ANTARA tersebut menambahkan.

Lokakarya jurnalistik LPDS dan MCL yang diikuti 35 wartawan dari Bojonegoro, Tuban, Blora, Jombang, Mojokerto dan Surabaya itu, berlangsung tanggal 16 hingga 18 April 2010. (*)

Berita Terkait: