Polisi Panggil Empat Saksi Pemukulan Wartawan

Blog Single

Pontianak (ANTARA News) - Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, Selasa (4/4) akan memanggil empat orang saksi kunci terdiri dari mahasiswa dan alumni Fakultas Teknik yang diduga kuat terlibat kasus pemukulan wartawan saat meliput bentrokan antarmahasiswa.

 

Kepala Polda Kalbar Brigadir Jenderal (Pol) Erwin TPL Tobing saat berdialog dengan perwakilan wartawan Kalbar, Senin, mengatakan akan memanggil kembali tiga orang yang diduga pelaku serta mengetahui siapa pelaku pemukul wartawan. Serta sorang wartawan yang juga alumni Fakultas Teknik.


Mereka terdiri dari Dely wartawan Harian Berkat, Ridi dan Januar yang juga berstatus alumni dan Rahmat masih berstatus mahasiswa.

 

"Mereka akan kami panggil lagi, karena proses penyidikan masih perlu diperdalam lagi," kata Erwin.

Sementara, Dely wartawan Berkat salah satu alumni Teknik yang saat kejadian berhasil membawa keluar Muhammad Faisal, kontributor Metro TV yang sempat disandera sekitar dua jam oleh mahasiswa Teknik juga akan dipanggil.

Erwin menjelaskan, kalau Dely selalu beralasan enggan menjadi saksi karena keterikatan alumni, maka pada Selasa (6/4) akan dipanggil paksa.

Sementara itu, Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Pontianak, Muhlis Suhaeri menyatakan polisi sebenarnya sudah bisa menetapkan tersangka terhadap beberapa orang mahasiswa dan alumni Fakultas Teknik yang telah menjalani pemeriksaan beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, polisi bisa menetapkan salah satunya, Ridi, alumni Fakultas Teknik yang pada saat kejadian tertangkap kamera sedang berada di lokasi pembakaran Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM Fisipol) dalam ekpresi meluapkan kegembiraannya.

Apalagi menurut pengakuan korban pemukulan, Arif Nugroho, Ridi sempat mendatangi korban agar menghapus dokumen foto yang telah diambil. Ridi sudah dapat dikenakan Pasal 8 Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers.

"Karena yang bersangkutan telah menghalang-halangi dan mengancam wartawan saat melakukan tugas," katanya.

Menurut Muhlis, polisi dapat beritikad baik untuk menetapkan siapa tersangka dari belasan orang yang telah diperiksa itu.

Belasan mahasiswa telah menjalani pemeriksaan terhadap kasus perusakan, pembakaran dan pemukulan terhadap wartawan.

Kapolda membantah pihaknya belum berani menetapkan para tersangka.

"Kami bisa saja menetapkan salah satu tersangka bagi mahasiswa dan alumni Teknik yang telah diperiksa. Tatapi dikhawatirkan nanti mereka malah mencabut pengakuan itu di muka pengadilan kalau tidak didukung oleh bukti yang kuat," kata Erwin.

Ia berharap, saksi dan korban pemukulan dari pihak wartawan untuk menunjukkan saksi-saksi baru agar bisa mengungkap siap pelaku pemukulan sebenarnya.

Dalam pertemuan dengan belasan perwakilan wartawan Kalbar, Kapolda Kalbar, tetap berkomitmen untuk mengusut tuntas kasus pemukulan itu.

Sebelumnya, bangunan sekretariat BEM Fisipol Untan telah dibakar oleh sekelompok mahasiswa dari Fakultas Teknik, Jumat sore (12/3).

Sementara sehari sebelumnya, sekitar tiga mahasiswa Teknik mendatangi Sekretariat BEM Fisipol mencari salah seorang mahasiswa Fisipol atas nama Cahyo, namun tidak ditemukan.

Karena orang yang dicari tidak ada, tiga mahasiswa itu sempat menendang kursi yang ada di Sekretariat BEM Fisipol.

Kemudian sejumlah mahasiswa Fisipol melakukan aksi penyerangan balasan terkait dengan peristiwa Kamis (11/3) sore. Sejumlah mahasiswa Teknik dikabarkan diserang oleh mahasiswa dari Fisipol pada malam harinya.

Keesokan harinya, giliran mahasiswa dari Fakultas Teknik menyerang Fisipol, membakar bangunan sekretariat BEM dan merusak  motor mahasiswa yang parkir di halaman kampus Fisipol.

Saat kejadian itu, dua wartawan, yakni Arif Nugroho dari Harian Metro Pontianak dan Faisal dari Metro TV menjadi korban pemukulan oknum mahasiswa Teknik.

Berita Terkait: