Kemerdekaan Pers Perkuat Ketahanan Nasional

Blog Single

 Sample Image

Drs.  H.  Tarman  Azzam 

 

Jakarta (ANTARA News) - Penerima penghargaan tertinggi dari komunitas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) "Pena Emas", Tarman Azzam, mengatakan bahwa kemerdekaan pers yang profesional dan dijamin oleh konstitusi dapat memperkuat ketahanan nasional di Indonesia.

 

Saat menyampaikan orasinya di Jakarta, Selasa, Tarman mengemukakan, untuk menciptakan negara yang lebih maju dan kuat, maka pers harus memperoleh kemerdekaannya dan melaksanakan kemerdekaan itu untuk yang terbaik bagi bangsa dan negara.


Namun, katanya, kondisi saat ini, meski konstitusi Indonesia menjamin kemerdekaan pers, nyatanya belum sepenuhnya terwujud karena pers masih rawan terhadap banyak ancaman seperti masih adanya aturan hukum yang tidak berpihak pada wartawan.

 

Padahal, lanjut dia, hanya dalam negara yang berdemokrasi, pers menjadi transformator kemajuan dan memperbesar partisipasi publik dalam mengokohkan ketahanan nasional.

"Yang harus dihindari adalah menggunakan 'power surplus' pers secara semena-mena, karena berbahaya dan merusak ketahanan nasional," kata Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu.

Namun, Tarman mengingatkan, pers dapat menjadi penyumbang terwujudnya ketahanan nasional, asalkan pers melewati proses perbaikan dalam dirinya sendiri. Pers, lanjut dia, harus membenahi diri dan memperbaiki mutu kebebasan yang dimiliki.

"Jika pers tidak rela membenahi diri pasti muncul sikap antipati atas kebebasan pers. Akan terjadi kontraproduktif bagi pers karena bisa timbul arus balik pers dibenahi pihak luar," ujarnya.

Untuk itu, lanjut dia, hal mendesak yang harus dilakukan saat ini adalah penguatan jaminan konstitusi atas kebebasan pers. Selain harus berpihak pada rakyat, menghormati hukum dan etika profesi serta nilai-nilai nasional, pers dituntut untuk konsisten melakukan kontrol internal dan siap untuk dikontrol oleh publik.

Pers juga wajib menegakkan prinsip universal kebebasan pers dan melaksanakan standardisasi kompetensi, organisasi, dan media massa.

"Pers telah berupaya untuk membenahi diri, misalnya dengan meratifikasi perusahaan pers untuk menghormati supremasi hukum, taat etika profesi, perlindungan dan peningkatan kesejahteraan wartawan," katanya dalam orasinya sebagai penerima penghargaan "Pena Emas" yang dihadiri oleh insan pers.  

Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan insan pers untuk selalu membela kepentingan nasional dengan berpihak pada rakyat dan negara, bukan menghambakan diri pada pemerintah.

Tarman terpilih sebagai penerima anugerah "Pena Emas" pada 2010 bersama dengan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin. Tarman mendapatkan penghargaan tertinggi ini karena kiprahnya di PWI.

Selama menjadi Ketua PWI, Tarman telah membangun pers nasional dan berjasa luar biasa terutama untuk konsolidasi organisasi PWI pascareformasi.

Sejak 1976 hingga 2010, terdapat 31 penerima anugerah "Pena Emas", yang umumnya tidak berasal dari komunitas pers seperti para gubernur.

Dari 31 penerima penghargaan tersebut, hanya ada tiga nama yang berasal dari PWI yaitu Ketua PWI Pertama Sumanang pada 1976, Ketua Pembina PWI Pusat Rosihan Anwar pada 1979, dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Tarman Azzam pada 2010. (*)

 

Sample Image
Ketua Umum PWI Pusat, H. Margiono, menyerahkan sertifikat Pena Emas kepada
Drs. H. Tarman Azzam, yang juga Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat.

 

Berita Terkait: