Halo Selebriti H. Rosihan Anwar

Blog Single

  Sample Image

  H. Rosihan Anwar

 

Jakarta (Cek&Ricek - C&R) - Pembaca yang budiman. Sejak 1 Januari 2010 sudah enam kali saya absen, tidak menulis kolom Halo Selebriti. Alasannya karena kurang sehat. Sekembali dari kunjungan jurnalistik ke Negeri Belanda akhir Desember 2009, kesehatan saya terganggu, menjalani CT Scan dan lain-lain prosedur, bolak-balik ke dokter.

 

Nah, setelah absen enam minggu, apa yang mau diceritakan kepada Anda. Tentu tentang HPN 2010 di Palembang dengan tema “Kemerdekaan Pers dari dan untuk Rakyat”. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memberikan sambutan sekaligus kuliah pada peresmian pendidikan wartawan yang dilaksanakan oleh pengurus PWI Pusat dengan kerja sama gubernur setempat berupa Sekolah Jurnalistik Indonesia menyampaikan kata-kata mutiara yang patut direnungkan oleh wartawan.


Presiden menilai saat ini pers memegang surplus kekuasaan. Karena itu, amat penting untuk memastikan kekuasaan media itu digunakan secara tepat dan konstruktif. Presiden mengatakan, kita tidak tahu apakah lima tahun mendatang takkan ada lagi krisis. Tetapi, kita harus selalu siap. Jadi, mari satukan energi bangsa. Bangun lingkungan dalam negeri yang kondusif, politik harus stabil, demokrasi harus jalan, situasi sosial baik, dan hukum ditegakkan. Presiden mengajak pers untuk terus mendukung pemberantasan korupsi di Tanah Air. Korupsi tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena akan sangat merugikan tidak hanya sekelompok orang tapi seluruh elemen bangsa. Presiden berharap, insan pers nasional dapat menggunakan kekuatannya dengan bijak dan turut berkontribusi dalam upaya menyukseskan kehidupan bangsa. Pers sekarang menjadi salah satu elemen yang powerful (sangat kuat) di Indonesia, demikian Presiden.

 

Karena saya dianggap sesepuh wartawan Indonesia berdasarkan usia, dan bukan lantaran prestasi dan karya, maka beberapa wartawan dari PWI daerah bertanya apakah benar ucapan Presiden SBY bahwa pers sekarang adalah powerful?

Saya jawab tidak. Apanya yang powerful? Tapi kalau Presiden yang bilang begitu, aku enjoy aja!

*****

Pelaksanaan HPN 2010 di Palembang 8-9 Februari saya nilai menyegarkan karena tampak tekad hendak memperbaiki mutu profesi wartawan Indonesia. Dalam kata-kata Atal S. Depari ketua panitia pelaksana: “Pencanangan Sekolah Jurnalistik Indonesia sebagai bagian penting membangun kehidupan wartawan profesional, berakhlak dan beretika serta ratifikasi perusahaan pers, pemberian penghargaan Pena Emas, Adinegoro, dan Press Card Number One.

Pengurus PWI Pusat yaitu Margiono Ketua Umum dan Henry Ch. Bangun Sekretaris Jenderal ternyata punya otak dan imajinasi subur, sehingga bukan main aneka ragamnya acara yang digelarnya. Konvensi nasional HPN dengan tema masa depan pers di Indonesia, masa depan perlindungan hukum dan kesejahteraan wartawan, masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia, merupakan topik-topik berat. Dan kalau narasumber berbicara dengan bantuan slides, penuh statistik dan dengan gaya perintah next dan next, tanpa menyinggung aspek roh atau soul dunia jurnalistik, maka pusinglah awak yang menyimaknya. Untung wartawan lapangan belum separah beraksi next and next itu. Maka, saya nikmati membaca buku Membuka Mata & Hati, Refleksi kepedulian wartawan PWI terhadap masalah sosial kemasyarakatan, editor Usman Yatim, penerbitan PWI. Isinya kumpulan tulisan PWI daerah mulai dari PWI NAD hingga PWI Papua. Walaupun baru baca dua tulisan, namun saya rekomendasikan agar dibaca oleh reporter on the ground atau wartawan lapangan sebagai contoh dan bahan perbandingan menulis berita dan feature.

Pemberian Kartu Pers Utama Nomor Satu kepada 64 orang wartawan adalah langkah yang baik dari komunitas wartawan untuk menghargai sesama rekannya, juga pemberian Pena Emas kepada Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin dan mantan Ketua Umum PWI Pusat Tarman Azzam berupa penghargaan pada jasa dan pengabdian kepada PWI dan pengembangan dunia kewartawanan di Tanah Air.

Tentu saya menyatakan terima kasih kepada PWI yang di HPN 2010 memberikan kepada saya dua penghargaan. Pertama, Kartu Pers Nomor Satu dengan citaat “sebagai bukti bahwa penerima adalah wartawan profesional dengan kompetensi dan integritas tinggi”. Kedua, Anugerah Tertinggi Spirit Jurnalisme, berdasarkan keputusan antara lain “diberikan kepada wartawan yang kinerja dan karya jurnalistiknya menjadi teladan dan memberikan inspirasi positif bagi wartawan lain pada khususnya, serta masyarakat pada umumnya”. Di sini saya juga minta maaf pada Presiden SBY dan pengurus PWI Pusat, tatkala nama saya dipanggil oleh MC untuk maju ke depan menerima Anugerah Tertinggi Spirit Jurnalisme saya tidak kelihatan dalam ruangan, karena kebetulan sedang berada di toilet, itulah kalau sudah lansia dan kebelet kencing. Akibatnya, tidak ada publikasi dan berita dalam media tentang Anugerah Tertinggi Spirit Jurnalisme tadi. Tapi, tidak mengapalah, karena Anugerah tersebut dalam kata-kata Marah Sakti Siregar disertai cash and carry atau dalam bahasa jurnalistik disertai “gizi”. Enjoy aja. Yes?

*****

Peluncuran dan diskusi buku Memoar Ang Yan Goan tokoh pers Tionghoa yang peduli pembangunan bangsa diselenggarakan oleh Yayasan Nabil diketuai oleh Drs. Eddie Lembong di Auditorium Perpustakaan Nasional 11 Februari 2010, dengan para pembahas Dr. Asvi Warman Adam (sisi sejarah), Dr. Yudi Latif (sisi kebangsaan) dan Bonnie Triyana (sisi pers/jurnalisme).

Siapa Ang Yan Goan? Ia lahir di Bandung, 1894, dan meninggal di Toronto, Kanada, 1984 dalam usia 90 tahun. Pada masa muda dia guru sekolah Tionghoa di Ciamis, Tasikmalaya, Bogor. Kemudian dia bergabung dengan surat kabar Sin Po di Jakarta yang menerbitkan edisi bahasa Melayu dan Tionghoa. Pada tahun 1930-an Sin Po memelopori istilah “Indonesia” untuk menggantikan istilah “Hindia Belanda”, dan warga Indonesia atau bangsa Indonesia untuk menggantikan istilah Inlander. Pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya W.R. Supratman bekerja sebagai koresponden Sin Po yang juga koran pertama memuat lirik lagu tersebut, setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Ang Yan Goan menjabat wakil pemimpin redaksi bersama Kwee Kek Beng, kemudian lebih bertugas sebagai pemimpin umum dan CEO Sin Po. Pada tahun 1960 Ang Yan Goan mengusulkan Karim D.P. menjadi Pemimpin Umum dan Pemred Sin Po yang disetujui oleh Presiden Soekarno yang kemudian mengubah nama Sin Po jadi Warta Bhakti. Akibat G-30-S/PKI Karim D.P. tamat perannya dan Ang Yan Goan pun demikian. Bulan Desember 1968 Ang dan istrinya meninggalkan Indonesia dan bergabung dengan anak sulungnya yang sudah ada di Kanada. Selain terkenal sebagai tokoh koran Sin Po, Ang Yan Goan juga ikut mendirikan Rumah Sakit Yang Seng Ie yang berganti nama RS Husada dan dalam Universitas Res Publica yang menjelma menjadi Universitas Trisakti.

Saya kenal Ang Yan Goan akhir 1945 dan awal 1946 ketika saya redaktur pertama harian Merdeka. Dia 28 tahun lebih tua dari saya waktu itu merupakan tokoh terkemuka dunia orang Tionghoa. Kesan saya, dia ramah tamah. Politiknya pro Kuomintang dalam cara dia meladeni Konjen pertama pemerintah Chiang Kai Sek datang ke Jakarta. Kemudian ketika terjadi perkisaran politik di Tiongkok dengan munculnya Kunchantang dipimpin oleh Mao Tse-tung, Ang juga aktif meladeni Dubes RRT pertama. Sikapnya begitu bisa saya pahami, apalagi setelah membaca memoarnya. Tidak usah diragukan bila dia berkata mendukung kemerdekaan Indonesia, karena memang itu sejalan dengan nasionalisme Tiongkoknya yang tertanam di kalbunya sejak jadi pelajar Sekolah Tionghoa dan kemudian belajar di Nanking.

 

Semangat belajar menambah ilmu dengan banyak membaca buku seperti yang diceritakannya dalam memoarnya adalah dalam tradisi Confucius, sehingga Ang berkembang menjadi cendekiawan. Dalam memoarnya saya baca dia meliput KMB (Konferensi Meja Bundar) Belanda Indonesia di Den Haag tahun 1949. Anehnya, saya yang juga meliput KMB tak pernah bertemu Ang. Tapi, saya pikir hal itu disebabkan Ang lebih banyak pergi ke museum melihat lukisan Rembrandt sebagaimana dituturkannya. Mungkin juga karena Kwee Bek Beng sudah ada di situ. Jadi, Ang Yan Goan enjoy aja. (*)

 

(Catatan H. Rosihan Anwar ini dikutip dari kolom Halo Selebriti di tabloid Cek&Ricek - C&R)

Berita Terkait: