Wartawan itu Malaikat Kecil

Blog Single

Palembang (Sriwijaya Post) -  Bagi Sumohadi Marsie, profesi wartawan sudah mendarah daging kareda digelutinya sejak tahun tujuh puluhan. Tak heran asam garam kerja di dunia jurnalistik itu sudah dirasakannya. Mulai dari gaji yang telat lantaran perusahaan tak punya uang untuk membayar, mencari berita dengan motor butut, hingga pengalaman meliput berbgai event internasional ke luar negeri.

 

Waktu di harian KAMI, memang soal gaji dan kesejahteraan menjadi sorotan karena kami mengalami masa-masa sulit. Perusahaan selalu mengutamakan membayar gaji wartawan yang sudah berkeluarga. Jadi saya yang masih bujangan terpaksa harus rela menahan lapar lantaran gaji selalu telat,” ungkap Sumohadi pada workshop Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)  mengembalikan Kejayaan Olah Raga Indonesia di hotel Swarna Dwipa, Sabtu (6/2).

 


Tetapi semua itu jutru semakin memotivasi dirinya untuk berkarya lebih baik. Mantan pemimpin redaksi harian Kompas itu pun meminta wartawan tetap menjunjung sikap netral dan tidak berpihak, meskipun secara pribadi telah mengalami kedekatan emosional.

Seorang wartawan harus sadar betul mengenai jati dirinya sebagai seorang jurnalis. Mereka memberitakan suatu hal untuk kepentingan publik. Artinya, mereka harus bisa menyaring berita yang layak diberitakan atau tidak, berita yang harus diberitakan dan tidak,” kata wartawan olahraga senior yang tampil dengan rambut kriwil sebahu.

Seorang wartawan harus memiliki intuisi, yakni rasio dan perasaan, yang sangat dibutuhkan untuk memilah pemberitaan yang dibuatnya. “Dalam suatu keadaan, bisa saja seorang wartawan olah raga mendapatkan seorang atlet berprestasi yang menjadi panutan kaum muda. Ternyata si atlet memiliki kebiasaan buruk seperti keluar malam untuk hura-hura, hingga narkoba. Apakah hal ini akan diberitakan oleh si wartawan. Maka, disinilah diperlukan intuisi dari wartawan tersebut,” urai

Sumo yang menjadi pengurus SIWO PWI Jaya (1973-1975), PWI Pusat (1994-1998).
Untuk itu, menurutnya, seorang wartawan harus memiliki sifat-sifat mulia yang sesuai dengan hati nurani manusia. “Hati nurani manusia tidak akan pernah salah, dan ini harus dimiliki oleh wartawan. Itulah saya sering menyebut wartawan sebagai litle angel atau seorang “malaikat kecil,” ucapnya.

Hati nurani ini menjadi pedoman dalam menulis berita yang dibutuhkan oleh masyarakat. Bahkan berita berita olah raga  dapat mengubah cara pandang bangsa. Karena olah raga adalah pembentukan karakter bangsa, dan penyampaiannya melalui media berita yang ditulis wartawan. Bukan hal yang mudah untuk menjadi wartawan olah raga sejati, karena membutuhkan proses yang panjang untuk mencapainya.

Yang sangat memprihatinkan saat ini kebiasaan dari wartawan yang dengan muda mengkloning (meng-copy paste, red) berita orang lain, sehingga berita yang disajikan sama, hanya data semata, dan tanpa mendapat kajian mendalam,” sesal Sumo yang menjadi wartawan olah raga harian umum KOMPAS sejak 1972-1984.

Oleh karena itu dia mengingatkan  agar para wartawan olahraga kembali ke akarnya. “Buatlah berita dengan mendalami hasil pengamatan di lapangan, bukan berdasarkan hasil di internet,” sarannya. (*)

Berita Terkait: