Prabangsa Masih Bernapas Saat Diceburkan ke Laut

Blog Single
Denpasar (Kompas) - Sidang pembunuhan wartawan Radar Bali (Grup Jawa Pos), AA Narendra Prabangsa, dengan terdakwa utama Nyoman Susrama, Selasa (1/12), dilanjutkan dengan mendengar keterangan dari saksi ahli, dokter forensik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, dr IB Putu Alit DFM SpF, di Pengadilan Negeri Denpasar. Alit memastikan Prabangsa diceburkan ke laut dalam kondisi masih bernapas setelah mendapat pukulan benda tumpul yang berat di kepala bagian atas.
 

Adapun saksi lainnya, Dewa Sumbawa, yang juga tersangka kasus serupa, kemarin mencabut berita acara pemeriksaan polisi di depan sidang dengan terdakwa Nyoman Susrama. Namun, majelis hakim secara terbuka menyatakan, kesaksian Sumbawa tidak bisa dipercaya karena berbeda-beda dan tidak jelas.


Hasil otopsi menunjukkan, di dalam tenggorokan dan lambung Prabangsa ada pasir laut. Jenazahnya diperkirakan terapung sekitar tiga sampai empat hari sebelum ditemukan di kawasan Karangasem, 16 Februari 2009.

 

”Kami menemukan delapan patah tulang dan terbanyak di bagian kepala. Luka terparah di kepala bagian atas agak ke depan. Kami bisa memastikan ter-kena pukulan benda tumpul yang berat. Namun, kami tidak bisa menyimpulkan apakah kayu, atau balok, besi, dan lainnya,” kata Alit.


Sumbawa selama ini mengaku mengenal Susrama karena yang bersangkutan adalah majikannya. Ia bekerja sebagai sopir.

 

Saat dugaan pembunuhan dilakukan, 11 Februari 2009, kata Sumbawa, dia tidak berada di rumah Susrama di Bangli. Saat itu ia bertugas mengirim surat ke Komisi Pemilihan Umum Bangli, Panitia Pengawas Pemilu Bangli, dan Kepolisian Resor Bangli terkait pencalonan Susrama sebagai anggota DPRD Bangli pada Pemilu Legislatif 2009.

 

Prabangsa ditemukan tewas mengambang di Pantai Bias Tugel, Desa Padang Bai, Karangasem, Bali, 16 Februari 2009. Saat ditemukan nelayan, kondisinya sangat mengenaskan.

 

Dalam perkara ini, ada sembilan terdakwa yang diajukan ke pengadilan. Mereka adalah Nyoman Susrama, Nyoman Wiradnyana, Komang Gede, Komang Gede Wardana, Made AdnyanaNarbawa, Wayan Suecita, Dewa Mulya Antara, Marsudi, dan Dariyatno. (AYS)

Berita Terkait: