Rosihan Anwar: Wartawan Harus Setia Pada Profesi

Sample Image Sample Image Sample Image

 

Cisarua (PWI News) - Wartawan senior H. Rosihan Anwar menegaskan, wartawan bisa jadi bukanlah pilihan utama seseorang dalam menentukan jalan hidupnya atau lantaran keterpaksaan dan kondisi situasional, namun jika sudah menjadi wartawan, maka dia harus setia kepada profesinya.

 

"Contohnya tidak usah jauh-jauh. Ya saya ini. Saya awalnya tidak pernah bermimpi mau jadi wartawan, tapi begitu saya memulai profesi ini, maka saya harus punya tanggungjawab moral dan menjaga integritas. Saya sampai sekarang masih tetap menulis, karena memang saya tidak bisa bekerja di bidang lainnya," ujarnya saat memberi pembekalan kepada 50 peserta Pelatihan untuk Pelatih Nasional PWI di Wisma DPR, Cisarua, Jawa Barat, Rabu.

 

 

Rosihan secara blak-blakan mengemukakan, "Saat muda dulu, saya sebenarnya lebih suka jadi ambtenaar supaya gajinya gede. Ambtenaar itu artinya pegawai negeri. Sori ya kalau saya gunakan bahasa Belanda, Perancis atas bahasa asing lainnya. Biar saya dianggap jago," ujarnya sambil tertawa, dan disambut tepuk tangan sekira 50 wartawan yang hadir.

 

Ia pun menyatakan, di awal dirinya memutuskan menjadi wartawan, saat itu telah mengenal wartawan nasionalis senior pada zamannya.

 

"Ada Parada Harahap dan Adam Malik yang cuma makan sekolah setingkat SD, itupun tidak lulus. Tapi, mereka otodidak dan bagus sebagai wartawan. Ada juga Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya, yang terkenal kritis, tapi sayang meninggal diusia muda, sebelum lagunya resmi jadi lagu kebangsaan," katanya.

 

Namun demikian, Rosihan mengemukakan, para wartawan sebelum dan di awal kemerdekaan negeri ini sangat terlihat setia kepada profesinya. "Mereka rata-rata hidupnya kere, tapi profesional dalam bekerja dan necis dalam penampilan. Wartawan zaman itu punya ciri khas bercelana dan berbaju puti, pakai suspender, rambut klimis, bahkan pakai jas, sekalipun semuanya dibeli dari bantuan teman-teman," ujarnya.

 

Ia mencontohkan, WR Supratman menurut cerita di kalangan wartawan saat itu sempat dibantu teman wartawan lainnya untuk mendapatkan jas seharga sekitar tujuh gulden Belanda. "Jadi, kalau sekarang ada yang bilang wartawan yang necis hanya yang bertugas disekretariat negara, maka kalah sama wartawan tempo dulu yang semuanya pakai jas," katanya.

 

Rosihan pun menambahkan, "Wartawan adalah profesi, yakni harus didasari pengetahuan dan keterampilan, sekalipun dulu otodidak dan sekarang harus berpendidikan resmi, lantas memiliki organisasi profesi yang didalamnya harus pula punya kode etik. Yang penting, wartawan harus punya integritas, kesetiaan pada profesi untuk membela rakyatnya, terutama rakyat yang dizalimi." (*)

 

Berita Terkait: