Rabu, 26 November 2014

R dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Rachman Arge (Makassar 1 Juli 1935). Tamatan Akademi Seni Drama Indonesia dan Sekolah Jurnalistik A. Gappa College di Makassar ini tahun 1959-1961 menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Syara, tahun 1966-1970 Pemimpin Harian Duta Masyarakat Edisi Sulsel, tahun 1970-1974 Pemimpin Redaksi Majalah Esensi, tahun 1975-1979 sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Intim,  tahun 1970 - 1972 Pemimpin Redaksi Harian Pembaharuan, dan Pemimpin Redaksi Pos Makassar tahun 1971. la juga mengisi kolom tetap di koran/majalah terbitan Sulsel maupun Jakarta.
Selama empat periode (1973-1992) Rachman Arge dipercaya sebagai Ketua PWI Sulsel, dan dalam dua periode ia juga menduduki jabatan sebagai Anggota Dewan Kehormatan PWI. Pada tahun 1993 Rachman Arge memperoleh Penghargaan Penegak Pers Pancasila dari PWI Pusat, dan tahun 1977 memperoleh penghargaan di bidang kebudayaan (teater) dari Pemerintah.
Menikah dengan Widarnasih pada tahun 1965, Rachman Arge, yang dikaruniai lima anak dan lima cucu ini pernah bermain dalam tujuh film layar lebar dan mendapat Piala Citra pada FFI 1990, serta piala khusus pada 1978. Penghargaan juga ia terima dari dari Japan Foundation sebagai kritikus film-film pilihan Jepang tahun 1981. Pada tahun 1990 Rachman Arge mewakili Indonesia pada Festival Film ASEAN di Manila.
Dalam dunia politik Rachman Arge pernah terpilih sebagai anggota DPRD Sulsel selama tiga periode 1977-1992, dan tahun 1992-1997 sebagai anggota DPR/MPR - RI. Tahun 2003 ia terpilih menjadi anggota Panitia Pengarah Kongres Kebudayaan Nasional. (Tim EPI/AM. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)


Radio Internet - Wacana radio internet menjadi perdebatan sengit dalam Seminar Salzburg dengan tajuk Mass Media in the Age of Globalization, di Austria 18 Oktober 2000 (Gong Etnik, 2001). Terhadap perkembangan yang “menggila” dalam konvergensi media radio konvensional dengan internet dan satelit, muncul pertanyaan kritis apakah “kematian frekuensi” (the death of frequency), yang mengiringi “kematian geografi” (the death of geography) akan terjadi? Bagaimana insan radio di Indonesia merespon perkembangan mutakhir itu?
Sebagai media komunikasi, radio mengalami perkembangan yang cukup pesat, dari perangkat keras (hardware) hingga perangkat lunak (software). Tuntutan visi pelayanan yang berorientasi pada “kepuasan maksimum”, merangsang kreativitas dan penemuan baru dari sisi teknologi siaran dan programming. Salah satu yang menjadi trend di awal millenium ini adalah konsep dan implementasi radio internet. Seirama dengan pertumbuhan teknologi multimedia –peningkatan akses/konsumsi terhadap internet, maka radio pun ambil bagian dalam kerangka memanjakan konsumen lama dan menggaet konsumen baru.
Radio internet, dalam berbagai literatur memiliki banyak sebutan, yaitu internet broadcasting, webcasting, radio online, dan sebagainya. Konsep utuh dari radio internet adalah radio yang segala olah siar (on air) dan pelayanannya (off air) seratus persen melalui internet. Mengacu pada definisi ini, maka sampai awal 2001 baru satu stasiun radio di Indonesia, yaitu RadioNet Mandiri Online, yang benar-benar bisa disebut radio internet. Pakar jaringan telekomunikasi Institut Teknologi Surabaya (ITS), Muchammad Solehudin, menyatakan teknologi siaran radio internet didasarkan pada teknologi pengkodean dan pengiriman internet streaming audio, dan seringkali ditambah juga dengan internet streaming video melalui situas web dari stasiun radio bersangkutan.
Berkembangnya radio internet, membuat konsumen lebih leluasa mendengar siaran radio tanpa terikat dengan batasan pemancar atau frekuensi. Persoalannya, karena akses bersifat streaming atau down load terlebih dulu, masih sering terjadi noises saat mengakses siaran langsung (on line broadcasting). Disarankan agar radio internet diakses bukan pada jam sibuk. Perangkat lunak yang bisa melayani adalah real player, media player, dan jet audio plus. Kebanyakan komputer menggunakan real player, yang diakses melalui Netscafe Versi 4,7. Untuk bisa mengakses radio internet diperlukan komputer berbasis multimedia, dengan kapasitas memori minimum 3 GB, memiliki sound card, speaker, atau earphone untuk mendengarkan, dan modem internal/eksternal berkekuatan 56 Kbps.
Bagaimana dengan masa depan radio internet? Di masa depan –atau mungkin kini sudah terjadi--, berkat kemajuan teknologi, konsumen tidak lagi harus berada di ruangan tertentu untuk menyimak radio internet. Dengan fasilitas satelit dan jaringan tanpa kabel (wireless), radio internet bisa didengar saat berkendaraan atau melalui telepon seluler, tanpa harus memiliki komputer.
Laporan iptek Kompas, Desember 2000, menyebutkan akan segera muncul sebuah produk baru radio internet Kerbango, http:/www.kerbango.com. Secara fisik bentuknya radio dan mempunyai fungsi radio biasa dengan gelombang AM/FM. Harganya sekitar Rp 2,7 juta, atau setara harga radio SONY World Receiver tercanggih di pasaran. Bedanya,  kalau disambung ke jaringan internet, Kerbango akan menjadi sebuah radio dengan kapasitas menerima sekitar 4.000 stasiun radio yang ada di dunia. Apakah ini pertanda awal terjadi death of frequency, yang berimbas pada banyak hal? Sebagai “pengendali teknologi”, pertanyaan ini tertuju pada kita semua.
Secara politis menarik untuk dicatat bahwa trend radio internet merupakan bagian penting dari semangat reformasi, baik itu reformasi perizinan maupun reformasi materi penyiaran informasi. Peningkatan tajam jumlah radio baru mau tidak mau merupakan ancaman terbatasnya kuota frekuensi, sehingga internet pun dilirik sebagai alternatif eksistensi kompetitor baru dan survivalitas pemain lama. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Jurnalistik Radio, Menata Profesionalisme Reporter dan Penyiar, Masduki, Penerbit LkiS, Yogyakarta, 2001).


Radio Ketimuran - Limabelas tahun sebelum RRI Surakarta lahir tahun 1945, di Kota Solo mengudara siaran Radio Ketimuran yang disebut PK2MN. Siaran radio yang diprakarsai Sri Paduka Mangkunegara VII tersebut, mengudara dari dalam Istana Mangkunegaran. Pelaksana siarannya adalah perkumpulan bernama Javaanse Kunstkring Mardi Raras Mangkunegara di bawah pimpinan Sri Paduka Mangkunegoro VII.
Pemancar Radio Ketimuran yang merupakan embrio RRI Surakarta, mempunyai jangkauan siaran yang masih sangat terbatas. Program acara siaran sebagian besar kesenian Jawa, berupa seni karawitan dari perkumpulan Javaanse Kunstkring yang disiarkan dari istana Mangkunegaran atau ketoprak dan wayang orang yang disiarkan dari Taman Partinituin di kawasan Balekambang.
Melihat perkembangan PK2MN kala itu, Sri Paduka Mangkunegoro VII meminta Javaanse Kunstkring mengupayakan pengadaan pemancar baru yang berkekuatan lebih besar. Dalam rapat tanggal 1 April 1933 yang dihadiri para tokoh Kota Solo, atas inisiatif Ir. Sarsito Mangunkusumo, disepakati untuk membeli pemancar baru, dan status Pemancar Radio Ketimuran ditingkatkan dan diubah namanya menjadi Solose Radio Vereniging (SRV) (Tim EPI/TS. Sumber: Sejarah RRI Surakarta)


Radio Republik Indonesia (RRI) - adalah Lembaga Penyiaran Publik milik Bangsa. Dengan disahkannya Undang Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, RRI saat ini berstatus Lembaga Penyiaran Publik. Pasal 14 Undang Undang Nomor 32/2002 menegaskan bahwa RRI adalah Lembaga Penyiaran Publik yang bersifat independen, netral, tidak komersial dan berfungsi melayani kebutuhan masyarakat. Sebagai Lembaga Penyiaran Publik, RRI terdiri dari Dewan Pengawas dan Dewan Direksi. Dewan Pengawas yang berjumlah 5 orang terdiri dari unsur publik, pemerintah dan RRI.
Dewan Pengawas yang merupakan wujud representasi dan supervisi publik memilih Dewan Direksi yang berjumlah 5 orang yang bertugas melaksanakan kebijakan penyiaran dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan penyiaran. Status sebagai Lembaga Penyiaran Publik juga ditegaskan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 11 dan 12 tahun 2005 yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Undang Undang Nomor 32/2002. Sebelum menjadi Lembaga Penyiaran Publik selama hampir 5 tahun sejak tahun 2000, RRI berstatus sebagai Perusahaan Jawatan (Perjan) yaitu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak mencari untung.
Dalam status Perusahaan Jawatan RRI telah menjalankan prinsip-prinsip radio publik yang independen. Perusahaan Jawatan dapat dikatakan sebagai status transisi dari Lembaga Penyiaran Pemerintah menuju Lembaga Penyiaran Publik pada masa reformasi. Perubahan RRI menjadi Lembaga Penyiaran Publik telah melampaui proses yang cukup panjang seiring semangat demokratisasi media yang berjalan seiring momentum reformasi. Sebelumnya, RRI adalah lembaga penyiaran pemerintah yang merupakan unit kerja Departemen Penerangan.
Fungsi RRI sebagai lembaga penyiaran publik tidak hanya memberikan informasi yang aktual, tepat dan terpercaya, namun juga memberikan nilai-nilai edukatif seperti memberikan porsi pada siaran pendidikan, baik secara instruksional seperti siaran sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah pertama (SMU) dan Universitas Terbuka, juga memberikan pendidikan kepada masyarakat seperti siaran pedesaan, siaran wanita, siaran nelayan dll. Tidak ketinggalan RRI juga menyajikan siaran yang menyajikan nilai seni dan budaya bangsa yang dikemas dalam sajian yang menarik. Hiburan musik dari manca negara pun tersaji apik dalam siaran RRI. Untuk itu pemerintah bertekad untuk menjadikan RRI sebagai lembaga penyiaran publik yang independen, netral, mandiri dan profesional dengan langkah-langkah sebagai berikut:  
1.  Melaksanakan kontrol sosial.  
2.  Mengembangkan jati diri dan budaya   bangsa.  
3.  Memberikan pelayanan informasi    pendidikan, dan hiburan kepada semua   lapisan masyarakat di seluruh Indonesia  
4.  Mendukung terwujudnya kerjasama dan   saling pengertian dengan negara-negara   sahabat khususnya dan dunia    internasional pada umumnya  
5.  Ikut mencerdaskan bangsa dan mendorong  terwujudnya masyarakat Informasi  
6. Meningkatkan kesadaran bermasyarakat,   berbangsa, dan bernegara yang demokratis  dan berkeadilan serta menjunjung tinggi   supremasi hukum dan HAM  
7.  Merekatkan persatuan dan kesatuan   bangsa
 
Jangkauan siaran RRI tidak saja di dalam negeri namun juga menembus sampai manca negara yang tersaji dalam Voice Of Indonesia (Siaran Luar Negeri RRI).
Radio Republik Indonesia secara resmi didirikan pada tanggal 11 September 1945, oleh para tokoh yang sebelumnya aktif mengoperasikan beberapa stasiun radio Jepang di 6 kota. Rapat utusan dari enam radio di rumah Adang Kadarusman, di Jalan Menteng Dalam Jakarta, menghasilkan keputusan mendirikan Radio Republik Indonesia dengan memilih Dokter Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum yang pertama.
Rapat tersebut juga menghasilkan suatu deklarasi yang terkenal dengan sebutan Piagam 11 September 1945, yang berisi 3 butir komitmen tugas dan fungsi RRI yang kemudian dikenal dengan “Tri Prasetya RRI”. Butir Tri Prasetya yang ketiga merefleksikan komitmen RRI untuk bersikap netral tidak memihak kepada salah satu aliran/keyakinan, partai atau golongan. Hal ini memberikan dorongan serta semangat kepada broadcaster RRI pada era Reformasi untuk menjadikan RRI sebagai lembaga penyiaran publik yang independen, netral dan mandiri serta senantiasa berorientasi kepada kepentingan masyarakat.
Likuidasi Departemen Penerangan oleh Pemerintah Presiden Abdurahman Wahid dijadikan momentum dari sebuah proses perubahan government owned radio ke arah Public Service Boradcasting dengan didasari Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2000, yang ditandatangani Presiden RI tanggal 7 Juni 2000. Pembenahan organisasi dan manajemen dilakukan seiring dengan upaya penyamaan visi (shared vision) di kalangan pegawai RRI yang berjumlah sekitar 8.500 orang yang semula berorientasi sebagai aparat pemerintah yang melaksanakan tugas-tugas, yang cenderung birokratis.
Dewasa ini RRI mempunyai 52 stasiun penyiaran dan stasiun penyiaran khusus yang ditujukan ke Luar Negeri. “Suara Indonesia”. Kecuali di Jakarta, RRI di daerah hampir seluruhnya menyelenggarakan siaran dalam 3 program yaitu Programa Daerah yang melayani segmen masyarakat yang luas sampai pedesaan, Programa Kota (Pro II) yang melayani masyarakat di perkotaan, dan Programa Berita dan Informasi (Pro III) yang menyajikan berita dan informasi (News Chanel) kepada masyarakat luas.
Di Stasiun Cabang Utama Jakarta terdapat 6 programa yaitu programa I untuk pendengar usia dewasa, Programa II untuk pendengar remaja dan pemuda, Programa III khusus berita dan informasi, Programa IV kebudayaan, Programa V untuk saluran pendidikan, dan Programa VI musik klasik dan bahasa asing. Sedangkan “Suara Indonesia” (Voice of Indonesia) menyelenggarakan siaran dalam 10 bahasa.
Guna merealisir perubahan status RRI menjadi lembaga penyiaran publik yang “Khas Indonesia”, RRI telah menjalin kerjasama pelatihan dan seminar mengenai prinsip dan aplikasi radio publik dengan Radio Swedia, IFES dan Internews. RRI juga sudah merintis pemanfaatan multimedia dengan membuka situs www.rri-online.com serta memanfaatkan sarana penyiaran teknologi digital dengan memanfaatkan satelit milik WorldSpace Corporation. Sebagai industri penyiaran , RRI memiliki kesempatan yang sama dengan media penyiaran lainnya mengapreasi semua kekuatan untuk memberikan yang terbaik bagi publik.
Keberadaannya sejantung dengan denyut kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Konon tiga minggu sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, yaitu tanggal 26 Juli - 14 Agustus 1945, para Angkasawan Radio yang bekerja di kantor berita Jepang Domei maupun yang bertugas di stasiun radio milik Dai Nippon (Hoso Kyoku), telah memonitor radio-radio luar negeri seperti BBC London, maupun VOA Amerika yang menyiarkan kekalahan tentara Jepang dengan dijatuhkannya bom atom di Hirosima dan Nagasaki.
Adalah Jusuf Ronodipuro yang menjadi pegawai Hoso Kyoku yang memberi tahu kepada Dr. Abdulrachman Saleh bahwa terhitung tanggal 18 Agustus 1945, radio penyiaran Jepang itu sudah tidak mengudara lagi. Tanpa direncanakan sebelumnya, tiba-tiba saja timbul niat Pak Karbol (nama julukan Abdulrachman Saleh) membuat radio pemancar sendiri yang akan ditempatkan di bagian Faal Sekolah Tabib Tinggi Jakarta (kemudian menjadi FKUI). Ahirnya kedua orang perintis Radio Republik Indonesia ini berhasil mengudarakan The Voice of Free Indonesia pada tanggal, 22 Agustus 1945. Pada tanggal 11 September 1945 malam hari, bertempat di rumah Adang Kadarusman, Pak Karbol memimpin rapat yang menandai berdirinya Radio Republik Indonesia. Saat itu ditetapkan Tri Prasetya RRI dan semboyan, Sekali di Udara Tetap di Udara.
Peserta rapat terdiri dari utusan daerah eks stasiun penyiaran Jepang dan Pak Karbol terpilih sebagai ketua. Belakangan oleh pemerintah berhasil dikuasai kembali gedung eks Hoso Kyoku dan difungsikan menjadi gedung stasiun penyiaran RRI Jakarta. Stasiun ini megudara terus sampai terjadinya Agresi Militer Belanda Pertama tanggal 21 Juli 1947. Sejak itu para pimpinan stasiun siaran Jakarta termasuk Jusuf Ronodipuro ditangkap Belanda. Gedung dan perangkat siarannya masih berfungsi, tetapi dipergunakan sebagai siaran Radio NICA Belanda. Sebagai siaran Nasional, RRI mengudara dari Yogyakarta dan sejumlah stasiun lainnya yang masih berada di bawah wilayah kekuasaan Republik Indonesia.
Jepang bertekuk lutut, dan seluruh jajahan Jepang diserahkan kepada pihak sekutu, termasuk Kepulauan Indonesia, beserta rakyat dan perangkat-perangkat peralatannya diantaranya termasuk alat penyiaran radio.
Atas dasar mempertahankan kemerdekaan yang diperoleh, maka pada tanggal 10 September 1945, para pegawai radio Hoso Kyoku berkumpul di Jakarta untuk merundingkan cara pengambil alihan radio Hoso Kyoku untuk dipersembahkan kepada bangsa Indonesia sebagai alat perjuangan.
Pertemuan tersebut tidak membawa hasil karena semua pemancar dan alat-alat penyiaran radio Hoso Kyoku sudah didaftar dan ditangani oleh sekutu (SEAC di Singapura).
Pertemuan berikutnya diselenggarakan di kediaman Adang Kadarusman di Menteng, dan tepat pukul 24.00 WIB rapat dibuka oleh Dr. Abdulrachman Saleh, adapun pertemuan tersebut dihadiri antara lain Adang Kadarusman, Sutoyo Surjodipuro, Jusuf Ronodipuro, Sukasmo, Syawal Mochtarudin, M.A. Tjatja (Jakarta), Sjakti Alamsyah, R.A. Darja dan Agus Marah Sutan (Bandung), R.M. Soemarmadi dan Sudomomarto (Yogyakarta), R. Maladi dan Sutardi Hardjolukito (Surakarta), Suhardi dan Harto (Semarang), dan Suhardjo (Purwokerto)
Pertemuan tersebut berakhir pagi pukul 06.00 WIB yang membuahkan beberapa keputusan, namun keputusan yang mendasar antara lain :
*  11 September 1945 ditetapkan sebagai Hari  berdirinya Radio Republik Indonesia.
*  Tri Prasetya RRI, sebagai jiwa dan sumpah  Pegawai RRI kepada Republik Indonesia   untuk menjaga RRI sebagai alat    perjuangan bangsa.
*  Organisasi semua radio tunduk kepada   komando pusat (diketuai Dr. Abdul    Rachman Saleh).
Pada perjuangan kemerdekaan jumlah siaran RRI bertambah 29 buah termasuk 8 stasiun yang telah ada (Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang) dan tersebar dibeberapa wilayah.
Namun, sebagai akibat dari Agresi Militer Belanda Pertama, jumlah RRI menyusut menjadi 10 studio diantaranya Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Kediri, Surabaya, Malang, Blitar, Magelang, Purwokerto dan Pekalongan menggabung di Wonosobo dan Pati. Untuk menghemat peralatan dan tenaga, Stasiun RRI Surabaya, Kediri, dan Malang akhirnya digabungkan menjadi satu dengan nama RRI Jawa Timur berkedudukan di Kediri, sedangkan Blitar dan Jombang dijadikan tempat stasiun relay. Demikian juga RRI Magelang, Purwokerto, Pekalongan disatukan dengan nama RRI Jawa Tengah berkedudukan di Magelang dengan stasiun relay di Wonosobo.
Sementara itu Stasiun Nasional RRI Jakarta yang beralamat di Jalan Medan Merdeka Barat 4 dan 5 pecah dua , karena yang berada di Merdeka Barat Nomor 4 digunakan oleh NICA dan digunakan untuk siaran Radio Resmi Indonesia (RRI) yang ditangani oleh Belanda, sedangkan Nomor 5 digunakan untuk siaran Radio Republik Indonesia (RRI) ditangani oleh bangsa Indonesia.
Terjadilah Perang Siaran Udara, satu sisi membawa kepentingan penjajah Belanda sementara satu sisi adalah perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan RI. Sampai menjelang 21 Juli 1947 dimana Gubernur Jenderal Van Mook akan mengadakan wawancara pers, para Angkasawan RRI telah menduga bahwa wawancara tersebut mengandung arti tertentu yang merugikan bangsa Indonesia dan ternyata dugaan itu benar.
Kepala Studio RRI Nasional Jakarta, Yusuf Ronodipuro tanggal 21 Juli 1947 sore masuk ke studio dan bermalam di sana guna menjaga kemungkinan terjadi sesuatu. Saat itu dalam acara Tanah Air Memanggil, penyiar RRI, Piet De Queljae menutup siarannya denga mengucap “Mudah-mudahan sampai berjumpa lagi, Sekali Merdeka Tetap Merdeka”.
Tepat jam 22.30 WIB disaksikan oleh wartawan-wartawan luar negeri Stanly Swinton dari AP, Arnold Bracman dari UP dan Frik Werner dari AFP, Tentara Belanda menyerbu Radio Republik Indonesia di Merdeka Barat No. 5 bersamaan dengan itu pula tentara kolonial Belanda melakukan agresi militer pertama.
Yusuf Ronodipuro yang saat itu berada di studio ditangkap dan sejak itu RRI Jakarta tidak mengudara, diganti dengan Radio Resmi Indonesia (RRI) milik Belanda.
Meskipun RRI Jakarta diduduki Belanda oleh pasukan NICA, namun RRI Yogyakarta yang pada saat itu Ibukota RI dipindah ke kota tersebut, tetap mengudara. Bahkan di Sumatra lahir studio RRI baru seperti di Kotaraja, Bukittinggi, Padang, Pekanbaru, dan radio-radio gelap lain yang kesemuanya mengumandangkan perjuangan bangsa Indonesia.
Saat Agresi Militer Belanda kedua, Belanda menyerang Yogyakarta secara tiba-tiba dimana perundingan sedang berjalan. Seluruh Angkasawan RRI yang juga pejuang menyingkir ke daerah-daerah pegunungan. Namun demikian semboyan SEKALI DI UDARA TETAP DI UDARA tetap berkumandang sampai Belanda dan dunia Internasional mengakui Kedaulatan Republik Indonesia tanggal 27 Desember 1949.
Pada tanggal 1 Agustus 1953 RRI ada di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Medang, Kotaraja, Padang, Bukittinggi, Palembang, Banjarmasin, Pontianak, Manado, Ambon dan Denpasar, ditambah dengan stasiun-stasiun yang berstatus relay dan juga menyelenggarakan siaran-siaran lokal di Cirebon, Jember, Madiun, dan Ternate.
Pada masa Pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru, RRI selalu dikonotasikan sebagai corong pemerintah. RRI selalu membuat klarifikasi maupun justifikasi setiap tindakan pemerintah serta kurang menampung aspirasi publik (kurang kritis). Itulah mengapa pada saat itu publik menganggap RRI sebagai corong pemerintah.
Pada masa Reformasi, RRI melakukan perubahan mendasar dengan memposisikan diri menjadi radio publik yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dengan tidak mengacuhkan kepentingan publik. (Tim EPI/KG. Sumber: Company Profile RRI/Buku 60 Tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang Muda Ambon - Lembaga Penyiaran Publik dengan status Cabang Muda ini telah mengudara sejak 22 Desember 1950. Kini setelah mengalami berbagai perubahan terkait dengan perkembangan keberadaan lembaga RRI era Perjan, RRI Ambon tetap eksis untuk menggelorakan semangat pembangunan guna mengisi kemerdekaan (Tim EPI/KG. Sumber: Humas RRI Ambon)


Radio Republik Indonesia Cabang Muda Banda Aceh - Lembaga Penyiaran Publik berstatus Cabang Muda ini dimulai pada masa penjajahan Belanda, yang ditangani oleh sebuah lembaga swasta yakni NIROM (Nederland Indische Radio Omroep Matchapay) hingga mendaratnya tentara Jepang di Indonesia tanggal 12 Maret 1942.
Namun, ketika menduduki Aceh, bala tentara Jepang pun membawa sebuah pemancar radio yang ditempatkan di Kutaradja (Banda Aceh). Beberapa kali pemancar tersebut dipindahkan dan terakhir ditempatkan di sebuah gedung yang sekarang menjadi gedung SMA 1 Banda Aceh, Jalan Prof. A. Majid Ibrahim I yang diberi nama Hosokyoku.
Setelah Jepang kalah dan proklamasi Kemerdekaan RI tersiar ke seluruh pelosok negeri, pemancar radio tersebut diambil alih oleh pekerja-pekerja pribumi yang bekerja pada radio Jepang saat itu, yakni di bawah pimpinan Said Ahmad Dahlan dan sejumlah rekannya, antara lain Teuku Raja Mahmud, M. Thayeb, Usman Hamzah dan Muhammad Bani. Mereka mengambil pemancar radio tersebut dan dipindahkan ke sebuah rumah di Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah, tepatnya di Balai Penerangan.
Beberapa bulan setelah mengudara, pada tanggal 1 Maret 1946 pemancar tersebut diserahkan kepada Pemerintah Aceh sebagai cikal bakal lahirnya RRI Banda Aceh yang diberi nama “RRI Kutaradja”. Siaran yang dirintis oleh Abdul Azis, Tuanku Machmud, Usman Hamzah, Muhammad Bani, Muhammad Thayeb, Nasruddin dan Ho Jak Tjan itu pertama kali mengudara tanggal 11 Maret 1946, pukul 18.30 WSU (Waktu Sumatera Utara) dengan gelombang pemancar 48 meter.
Selain RRI Kutaradja, pada masa itu juga sudah mengudara sebuah pemancar radio di bawah pimpinan pengawasan tentara RI, yakni Radio Gerilya Rimba Raya yang menyiarkan informasi dan berita-berita mengenai perjuangan rakyat Indonesia baik di dalam maupun luar negeri. Kekuatan pemancar ditingkatkan dari 25 Watt menjadi 100 Watt, dengan gelombang 33 meter.
Pada tanggal 9 April 1948 mereka berhasil merakit sebuah pemancar berkekuatan 350 Watt dengan gelombang 33,5 meter, yang ternyata dapat dipantau di beberapa daerah termasuk Bukittinggi.
RRI Kutaradja pernah memegang peranan penting dan menjadi pusat perhatian masyarakat ketika RRI Yogyakarta dan Bukittinggi tidak mengudara karena kedua kota tersebut diduduki Belanda pada agresi kedua. Pindahnya pusat pemerintahan RI ke Sumatera untuk menyiarkan instruksi dan warta berita baik untuk masyarakat Aceh maupun di daerah lainnya, serta melakukan propaganda ke luar negeri.
Ketika gempa dan tsunami yang sangat dahsyat menerjang Provinsi Aceh Darussalam pada penghujung tahun 2004 tepatnya tanggal 26 Desember 2004, RRI Banda Aceh mengalami kerusakan parah. Semua peralatan siaran seperti pemancar, gedung serta sarana dan prasarana lainnya rusak berat, bahkan ada yang hilang terbawa arus air. Duapuluh tiga karyawan-karyawati dan tenaga honorer terbaik yang selama ini merupakan tenaga-tenaga andalan hilang/meninggal dunia.
Pada hari kedua bencana, Kepala Perjan RRI Cabang Muda Banda Aceh, Drs. Sudarmi Dahlan Maulana, mengajak beberapa karyawan yang selamat untuk memindahkan siaran RRI Banda Aceh ke lokasi pemancar Indrapuri sekitar 24 km dari pusat kota. Atas kerja keras tersebut, pada tanggal 27 Desember 2004, pukul 20.00 WIB, RRI Banda Aceh berhasil mengudara dengan menggunakan pemancar FM 93,0 Mhz dan MW 1251 Khz.
Kemudian, dibantu oleh RRI Medan, yang meminjamkan 1 unit pemancar 1 KW frekuensi 97,7 Mhz, serta memberdayakan perangkat mobil unit OB Van yang juga terkena tsunami tetapi masih bisa dioperasikan, RRI Banda Aceh dapat terus mengudara.
Pada tahun 2005 RRI Banda Aceh memperoleh bantuan dari masyarakat Jepang untuk mengganti peralatan yang rusak termasuk rekonstruksi gedung. Tahun 2006 Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias juga membantu merehabilitasi bangunan studio maupun lokasi kompleks pemancar RRI di Indrapuri. Dengan adanya bantuan ini RRI Banda Aceh menjadi salah satu lembaga siaran yang memiliki fasilitas paling lengkap.
Kini RRI Banda Aceh memiliki tiga program siaran yakni Programa I dengan kekuatan pemancar 5 KW, yang mengudara pada frekuensi 97,7 Mhz pada pukul 05.00 hingga pukul 24.00 WIB. Programa II yang juga berkekuatan 5 KW mengudara pada frekuensi 88,6 Mhz pada pukul 08.00 hingga pukul 22.00, dan Programa III juga dengan kekuatan pemancar 5 KW mengudara pada frekuensi 92,6 Mhz nonstop (24 jam). Siaran ketiga programa ini diperkuat oleh 10 pemancar yang tersebar di daerah Subulussalam, Tapaktuan, Simeulu, Calang, Lamo, Beureunun, Jantho, Kutacene, dan Sabang.
RRI Banda Aceh sekarang dipimpin oleh Drs. Eddy Sukmana, SH, MM, MH, dibantu oleh 76 pegawai negeri sipil (PNS) dan 22 tenaga kontrak. Jadi selama 62 tahun kehadirannya, RRI Banda Aceh telah dipimpin oleh 14 pejabat yakni, Abdul Azis ( 1945-1960), Tuanku Machmud (1960-1967), Amiruddin Siahaan (1967-1972), Moh. Asnir Gus (1972-1978), Rinaldi (1978-1980), H. Helmi Toha, BA (1980-1985), Drs. HM Ali Birga (1985-1989), Drs. HM Amin Ali, SH (1989-1993), M. Yazid, BA (1993-1995), Drs. H. Sukri (1995-1997), H. Djasli Djosan, S. Sos (1997-1999), Mahdi Sjukri, BSc (1999-2002), Drs. H. Sudarmi Dahlan (2002-2005), Achmad Perambahan, S.Sos (2005-2007). (Tim EPI/KG, Sumber: Humas RRI Banda Aceh/Buku 60 Tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang Muda  Bandar Lampung - RRI Bandar Lampung berdiri tanggal 11 September 1966 dengan call sign RR Tanjung Karang. Mengacu kepada Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 2000, lembaga penyiaran publik (LPP) yang kini berstatus Cabang Muda ini berubah menjadi BUMN dengan status Perusahaan Jawatan (Perjan).
Saat ini RRI Cabang Muda Bandar Lampung, mencoba eksis dengan 3 programa, dengan kekuatan pemancar yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan akan berita, informasi ringan maupun hiburan. Hal ini didukung oleh penyiar-penyiar muda dan berbakat, terutama pada acara-acara  on air.
Khusus untuk acara unggulan RRI Cabang Muda Bandar Lampung mencoba menampilkan suatu format acara yang langsung melibatkan pendengar seperti halnya acara on air yang ternyata bisa memberikan kontribusi yang cukup untuk kantor cabang, selain karena animo masyarakat yang cukup besar terhadap acara tersebut. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang Madya Bandung - merupakan stasiun radio siaran paling tua di Indonesia. Lembaga Penyiaran Publik ini mengudara pertama kali ketika pada tanggal 2 Mei 1923, atas permintaan pemerintah Hindia Belanda, seorang ahli teknik bangsa Belanda bernama J.G. Prins  ditunjuk untuk membangun pemancar radio. Mereka memilih sebidang lokasi di kaki Gunung Malabar yang terletak di kawasan Bandung Selatan. Menara antenanya dibangun cukup tinggi, lebih tinggi dari Menara Eiffel, sehingga siarannya bisa ditangkap di Nederland dan beberapa negara lainnya.
Pemerintah Hindia Belanda saat itu merasa perlu membangun jaringan telekomunikasi jarak jauh dengan negara asalnya. Pemancar yang kemudian diberi nama De Bandoengsche Radio Vereeniging ini, yang kemudian lebih dikenal sebagai Radio Malabar, yang penggunaannya diresmikan tahun itu juga.
Selama beberapa tahun Radio Malabar menyelenggarakan siarannya sendiri. Baru pada tahun 1930 pemerintah Hindia Belanda secara resmi menyelenggarakan radio komunikasi yang berada di lingkungan Jawatan PTT (Post, Telefoon en Telegraaf), yakni NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroop Maatschappij). Di Bandung NIROM baru didirikan tahun 1934.
Atas usaha dua orang anggota Volksraad, Mr. Soetardjo Kartohadikoesoemo dan Ir. Sarsito Mangunkusumo, pada tanggal 29 Maret 1937 di Bandung diselenggarakan pertemuan antarradio siaran ketimuran. Di samping tuan rumah, pertemuan itu dihadiri pula oleh utusan dari Yogyakarta, Surabaya, Solo, dan Batavia. Para peserta kemudian sepakat mendirikan Perserikatan Perkoempoelan Radio Ketimoeran (PPRK) yang berkedudukan di Batavia dan Mr. Soetardjo Kartohadikoesoemo diangkat sebagai ketua. Tujuannya memajukan kesenian dan kebudayaan pribumi. Awalnya siaran-siaran yang diselenggarakan PPRK harus memperoleh izin dari pemerintah Hindia Belanda. Baru pada 30 Juli 1940 pemerintah mengijinkan PPRK menyelenggarakan siarannya sendiri.
Menjelang masuknya Jepang ke Indonesia, pemerintah Hindia Belanda menghancurkan semua peralatan radio siaran untuk mencegah agar tidak dimanfaatkan oleh pihak Jepang. Setelah Jepang masuk, semua siaran radio swasta ditutup. Pemerintah Jepang membentuk Hoso Kanri Kyoku, sebagai radio resmi, dan dimanfaatkan untuk alat propaganda. Cabangnya didirikan di beberapa tempat, antara lain di Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Semarang, Solo, Malang, dan Surabaya.
Demi kepentingan propaganda, pemerintah Jepang berusaha menyegel pesawat radio yang ada di masyarakat sehingga tidak bisa menangkap siaran lain. Namun beberapa pemuda pribumi yang mengetahui selukbeluk radio, termasuk mereka yang bekerja di radio pemerintah, tidak mematuhi aturan tersebut. Sehingga, meskipun harus secara sembunyi-sembunyi, mereka masih bisa mengikuti berita-berita dari luar, sehingga tahu bahwa di medan Perang Pasifik posisi Jepang makin terdesak.
Pada tanggal 14 Agustus 1945, dari siaran BBC mereka mendengar bom atom telah dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.
Sebetulnya, sejak 11 Agustus 1945 pemerintah Jepang telah memerintahkan agar radio pemerintah menghentikan siarannya. Tapi radio di Bandung tidak mematuhinya. Mereka baru berhenti siaran tanggal 15 Agustus 1945.
Kabar tentang rencana proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno dan Bung Hatta saat itu sudah menjadi rahasia umum. Para pemuda yang aktif di bidang radio merasa yakin bahwa berita tentang proklamasi tidak akan mungkin disiarkan oleh radio pemerintah yang ada di Jakarta karena sangat ketat dijaga oleh tentara Jepang. Namun di Bandung, dengan dukungan pemuda pejuang, radio siaran pemerintah berhasil dikuasai oleh pihak pribumi.
Dari Bandung, Sukiyun dan Mislan, keduanya pegawai radio pemerintah, diutus berangkat ke Jakarta. Tujuannya, mengambil  berita tentang pembacaan proklamasi yang kemudian dikirim ke Bandung melalui pesawat telepon, untuk disiarkan oleh pemancar radio yang ada di Bandung. Namun usaha itu gagal karena kabel telepon sudah diputus.
Beruntung, Kepala Siaran Radio Jakarta, Muin, memiliki salinan teks proklamasi. Hari itu juga teks itu dikirimkan ke Bandung. RA Darja, Kepala Siaran Radio Bandung, menerima teks tersebut jam 17.00 sore hari.
Ketika membuka acara siaran jam 19.00, RA Darja langsung menyatakan “Di sini Bandung, siaran Radio Republik Indonesia”. Di kemudian hari ia mengakui, kalimatnya itu diilhami oleh kebiasaan penyiar BBC London.
Teks proklamasi kemudian dibacakan, bukan hanya dalam bahasa Indonesia tapi juga dalam beberapa bahasa asing (Inggris, Belanda, Prancis, Cina, Urdu) dan dalam bahasa Sunda. Dibacakan bergantian oleh Sakti Alamsyah, R.A. Darja, Sam Amir, Odas Sumadilaga, Artati Marzuki, Harsono, Tike Supomo, Resmana Iljas, Mutirah, Irwat Idris, dan Mr. R.T. Djumhana Wiraatmadja yang saat itu sedang menjabat Kepala Jawatan Penerangan. Karena segalanya serba terbatas, pembacaan teks proklamasi tersebut hanya diiringi musik mars Colonel Bougie dan gamelan degung Sunda. Siaran itulah yang kemudian dipancarkan lewat pemancar yang ada di kaki Gunung Malabar yang berkekuatan 100 KW sehingga dapat ditangkap di luar negeri. Imron Rosyadi yang saat itu sedang berada di Baghdad, Irak, sebagai Ketua Perhimpunan Pemuda Indonesia (PPI), mengaku sempat terkejut ketika mendengar siaran radio yang menyapa dengan kalimat “Di sini Bandung, siaran Radio Republik Indonesia ....” Radio Bandunglah yang pertama-tama menyatakan sebagai Radio Republik Indonesia. Mikrofon yang dipergunakan untuk menyiarkan naskah proklamasi tersebut sekarang disimpan di Museum Penerangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Tidak lama setelah RRI terbentuk, pimpinan RRI di Jakarta meminta RRI Bandung agar menyelenggarakan siaran luar negeri. Dipilihnya RRI Bandung karena PTT yang ada di Bandung memiliki pemancar paling kuat. Seksi Siaran Luar Negeri mulai mengudara awal Nopember 1945. Sayang siarannya hanya berlangsung kurang dari satu bulan karena pada tanggal 25 November pihak Belanda yang masuk kembali ke Indonesia bersama pasukan Sekutu membumihanguskan RRI Bandung, Yogya dan Solo.
Setelah pemancar RRI Bandung di Tegallega dihancurkan, dilakukan upaya penyelamatan. Dan dengan perlengkapan seadanya RRI Bandung melakukan siaran dari Dayeuhkolot, kira-kira 2 km ke arah selatan Kota Bandung. Akan tetapi, karena alasan keamanan,  tidak lama kemudian pindah ke Majalaya, tempat RRI melangsungkan siaran dari salah satu pabrik tenun yang ada di kota kecil tersebut. Di sini pun hanya dua hari, lalu pindah ke Cicalengka, sebelum akhirnya mengikuti para gerilyawan, mengungsi ke Tasikmalaya, yang jaraknya 120 km dari kota Bandung. Di sini RRI Bandung mengubah namanya menjadi Radio Gerilya RRI Bandung.
Setelah Clash II, atas perintah Menteri Penerangan RI, RRI Bandung ikut hijrah ke Yogyakarta dan mengubah namanya menjadi Radio Perjuangan Jawa Barat, bertempat di Jalan Kepatihan. Sakti Alamsyah menjadi pimpinannya.
Ketika di Jawa Barat berkecamuk gangguan keamanan DI/TII Kartosuwirjo, RRI Bandung memainkan peran penting. Siarannya dalam bahasa Sunda antara lain diisi dengan karawitan yang lirik-liriknya dalam bahasa Sunda mengajak agar anggota gerombolan DI/TII yang ada di gunung-gunung segera kembali turun pulang ke kampungnya kembali dan berkumpul bersama keluarga yang sudah lama menunggu dan menanggung derita. Tidak sedikit anggota gerombolan yang menyerah pada TNI mengakui mereka turun karena sering menangis mendengar lagu-lagu dari radio. Salah satu lagu yang sering disiarkan oleh RRI Bandung saat itu adalah “Jemplang Karang” yang ditulis oleh Undang Odjoh dan ditembangkan oleh Euis Kartini.
RRI Bandung kembali menyelenggarakan siaran internasional saat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Ketika terjadi peristiwa G30S di Jakarta, RRI Bandung merelay berita tersebut dari RRI Jakarta pada pukul  06.00. Sesaat kemudian gedung RRI dijaga ketat oleh tentara dan polisi. Panglima Siliwangi saat itu, Ibrahim Adjie, datang ke studio dan melakukan pembicaraan dengan pimpinan studio. Pada masa Orde Baru RRI Bandung menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Departemen Penerangan.
Ketika unjuk rasa mahasiswa untuk menurunkan Soeharto dari kekuasaannya mencapai puncaknya, pada tanggal 6 September 1998, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Komite Mahasiswa Bandung (KM Bandung) mendatangi RRI Bandung dan bermaksud menguasainya. Mereka dihadang oleh pasukan keamanan yang sudah sejak pagi mengamankan RRI. Setelah beberapa lama akhirnya perwakilan mahasiswa diijinkan membacakan pernyataannya untuk disiarkan selama lima menit. Keesokan harinya, koran-koran di  Bandung memuat berita yang menyebutkan RRI Bandung dikuasai mahasiswa selama lima menit.
Setiap subuh RRI Bandung ditunggu ribuan pendengar kuliah subuh yang memberi pencerahan bagi umat dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Keberadaan RRI Bandung sampai saat ini tidak terlepas dari peran para RRI dan karyawan didukung masyarakat pendengar dan pemerintah, kelompok-kelompok profesi seperti seniman dan budayawan, olahragawan, dll.
Tercatat dalam sejarahnya RRI Bandung pernah dipimpin oleh Sakti Alamsyah (1945 -1949), Rd. Adang Kadarusman (1949 -1950), R. Suratno Wirjoatmodjo (1950-1953), Loetan SoetanTunaro (1953 -1960), Abdul Fatah Mardai (1960 -1970), RA. Darja (1970 -1972), Fajar Madradji Prawira (1972 -1977), RM. Hartako (1977-1983), Drs.Baskara (1983 - 1987), Drs. Beni Koesbani (1987 - 1992), Drs. Idrus Alkaf (1992 -1997), Drs. Tjutju Tjuarna Adikarya (1997 - 1999), Drs. Nasir Agun, MBA. (1999 -2001), Drs. Zulhaqqi Hafiz, MM (2001 -2004), Drs. Hasyim Ado (2004 - 2006), H. Bochri Rachman, SH (2006 - ........ ). (Tim EPI/Wid. Sumber: Lintasan Sejarah 60 tahun RRI Bandung/Buku 60 Tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang Madya  Banjarmasin - Lembaga penyiaran publik ini pertama kali mengudara pada tanggal 1 Juni 1950 dengan menggunakan pemancar berkekuatan 80 watt. Pada tahun 1951 stasiun radio yang mengudara dari Jalan Sudimara itu menerima bantuan pemancar berkekuatan 1 Kilowatt.
Tiga tahun kemudian RRI Banjarmasin menerima bantuan dari Perusahaan Jawatan RRI Pusat Jakarta berupa pemancar berkekuatan 10 Kilowatt. Pemancar ini kemudian ditempatkan di Jalan Guntung Payung, setelah selama sekian lama ditempatkan di lokasi yang sama dengan gedung studionya di Jalan  Sudimara, sekaligus memindahkan gedung studionya ke Jalan Ulin. Pada tahun 1958, gedung studio dipindahkan lagi ke pusat kota di Jalan Lambung Mangkurat I.
Dalam perjalanannya RRI Banjarmasin tercatat memiliki beberapa prestasi yang membanggakan antara lain mampu menyiarkan secara langsung kegiatan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional III. Sebelumnya lembaga penyiaran ini aktif menyebarkan informasi mengenai Dwikora dan Trikora kepada masyarakat di wilayah Banjarmasin khususnya dan Kalimantan umumnya.
Sebagai lembaga penyiaran yang berperan sangat vital bagi kelangsungan pembangunan bangsa ini, RRI Banjarmasin terus berusaha mengembangkan dirinya dengan menambah sarana maupun prasarana penyiaran. Pada tahun 1973 misalnya, lembaga penyiaran ini membangun gedung studio yang lebih representatif di Jalan Ulin, tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Bahkan pemancar pun dialihkan ke lokasi tersebut bersamaan dengan tibanya pemancar baru berkekuatan 20 Kilowatt, bantuan dari RRI  Pusat Jakarta.
Tahun 1977 RRI Banjarmasin membangun kompleks pemancar di Desa Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, dan ketika pembangunannya selesai setahun kemudian, semua peralatan pemancar dialihkan ke lokasi baru tersebut, bersamaan dengan pemasangan pemancar baru berkekuatan 50 Kilowatt.
Begitu juga halnya dengan gedung studionya. Karena dipandang sudah tidak memadai, gedung studio yang sebelumnya berada di Jalan Lambung Mangkurat I dipindahkan ke gedung baru berlantai 3, di Jalan Ahmad Yani. Selain memiliki ruang siaran berfasilitas lengkap dan modern, di gedung ini juga disiapkan sarana untuk tempat tinggal kepala stasiun dan kepala bidang.
Tahun 1985 RRI Banjarmasin mengalami musibah kebakaran di lantai 2 dan 3 gedung baru tersebut yang menghanguskan studio, ruangan penyiar, ruangan operator, diskotik, dan semua peralatan studio. Meski demikian RRI Banjarmasin tetap mengudara dengan menggunakan sarana sementara (OB Van) yang ditempatkan di lokasi pemancar di Sungai Tabuk.
Tahun 1987 gedung mulai direhabilitasi dan dapat dipergunakan kembali pada tahun 1990, dengan sejumlah peralatan yang lebih modern dan canggih.
Kini, lembaga penyiaran yang memiliki status sebagai Cabang Madya ini menjumpai penggemarnya melalui program PRO 1 yang mengudara pada frekuensi FM 97,6 KHz  dan MW 1134 MHz,  PRO 2 pada frekuensi FM 95,65 KHz, dan PRO 3 pada frekuensi FM 105,4 KHz,  dengan acara unggulan Interval Tiga Pagi, Senandung Malam, Dangdut Ria, Untaian Mutiara, Rindang Banjar, Bingkisan di Jenjang Malam, Kesenian Tradisional, Selamat Pagi Banjarmasin, Citra Wanita, Forum Remaja, Panorama Pagi, Konsultasi Kehidupan, dan lain-lain. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang Muda Bengkulu - Hingga akhir tahun 1965 masyarakat Bengkulu hanya dapat menikmati siaran dari RRI Jakarta, RRI Palembang, RRI Medan, RRI Padang dan RRI Tanjung Karang. Saat itu RRI masih merupakan satu-satunya sarana hiburan bagi masyarakat di manapun di tanah air ini.
Sebagai rangkaian dari rencana pembentukan Provinsi Bengkulu, Muspida Daerah Tingkat II Bengkulu Utara dan Kotamadya Bengkulu, mengusulkan kepada Jawatan Penerangan setempat agar bakal provinsi ini dapat memiliki studio siaran radio sendiri. Maka atas inisiatif  Kepala Jawatan Penerangan Kabupaten Bengkulu Utara dan Dandim 0407, Letnan Kolonel Syamsul Bahrun, tanggal 12 April 1967 Panitia Persiapan Studio RRI Bengkulu.
Tanggal 2 Agustus 1967 tim pemasangan instalasi RRI Persiapan Bengkulu tiba di Bengkulu, yang terdiri dari Moh. Ali dan M. Toni juga dari RRI Palembang serta Sersan Mislan Suwardi dari Perhubungan Kodam IV Sriwijaya. Tim itu melakukan pemasangan peralatan pemancar di lokasi bekas kediaman Bung Karno di Jalan Anggut Atas yang sekarang dikenal dengan nama Jalan Sukarno-Hatta.
Pada tanggal 5 Agustus 1967 dilakukan siaran percobaan RRI Persiapan Bengkulu, dengan acara penyiaran warta berita daerah dan hiburan dengan menyiarkan lagu-lagu dan lain-lain, sehingga pada waktu itu sebagian masyarakat setempat ikut mendukung dengan cara menyampaikan informasi tentang kekuatan/daya pancar siaran yang mereka terima di kediaman mereka.
Pemancar RRI Persiapan Bengkulu pada waktu itu menggunakan gelombang 80,64 meter dengan frekuensi 3720 KCL per detik, dengan dengan call stasion “Inilah Siaran Percobaan RRI Persiapan Studio Bengkulu”.
Pada tahun 1975 RRI Persiapan Bengkulu resmi menjadi RRI Bengkulu yang langsung dibawahi oleh Departemen Penerangan RI. Studio yang sebelumnya menempati rumah bekas kediaman Presiden Pertama RI di Jalan Angut Atas, pindah ke Jalan Ahmad Yani. Di rumah ini RRI mengudara dengan menggunakan pemancar MW 1 Kilowatt, dengan jangkauan siaran ke seluruh wilayah Bengkulu. Hingga dilaksanakannya serah terima dari RRI Persiapan Bengkulu ke RRI Bengkulu peralatan dan gedung yang digunakan masih berupa sewaan.
Pada tahun 1986 RRI Stasiun Bengkulu memperoleh bantuan sebidang tanah lebih kurang seluas 8 ha untuk lokasi pemancar MW 5 Kilowatt di Desa Air Sebakul, Kabupaten Bengkulu Utara. Pada tahun  2003 RRI Bengkulu mendapat bantuan berupa pemancar berkekuatan besar sehingga dapat mengudara dengan Pemancar AM berkekuatan 10 Kilowatt pada frekuensi 747 Khz.
Pada tahun 2004 RRI kembali berada pada masa transisi kedua, dengan UU Penyiaran No. 32/2002, dan melalui PP No. I I tahun 2005 serta PP No. 12 tahun 2005, RRI dikukuhkan jati dirinya menjadi Lembaga Penyiaran Publik dengan status Cabag Muda, yang tetap berpegang pada Visi dan Misi RRI. RRI tidak lagi semata-mata menjadi corong pemerintah, tetapi menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah.
RRI Bengkulu, yang didukung oleh 112 orang PNS dan 17 orang non-PNS dewasa ini telah mengemas berbagai jenis mata acara siaran, dalam 4-6 Jam per hari, termasuk menyediakan ruang acara siaran khusus untuk komunitas yang ada di wilayah Bengkulu. Dengan acara-acara ini, RRI Bengkulu semakin digemari oleh masyarakat, karena masyarakat di daerah ini masih melihat RRI merupakan sarana komunikasi dan informasi terunggul dibanding dari media-media lainnya. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku 60 Tahun RRI)
Radio Republik Indonesia Cabang Pratama Biak. Kendati penyerahan wilayah Irian Barat dari United Nation Temporary Association (UNTEA) kepada Pemerintah Indonesia dilakukan pada 1 Mei 1963, RRI Cabang Muda Biak secara de facto baru mengudara pada tanggal 1 September 1963, setelah sebelumnya dikelola oleh Radio Papua Barat (Rapaba). Rapaba adalah stasiun radio bentukan UNTEA -semula bernama Radio Omroep New Guinea (RONG), yang pengalihan statusnya berlangsung pada saat pengalihan kekuasaan wilayah Irian Barat pada bulan Agustus 1962. RONG sendiri adalah lembaga penyiaran yang merupakan pusat penyiaran radio Pemerintahan Belanda di Irian Barat.
Pada masa pendudukan Belanda di Irian Barat, siaran radio sangat berperan dan merupakan alat komunikasi penting bagi Pemerintah Belanda, khususnya untuk menyampaikan informasi yang berkaitan dengan kepentingan mereka. Untuk mengudarakan siarannya RONG Biak menggunakan pemancar milik PTT Pemerintah Belanda yang ada sejak tahun 1955. Materi siarannya mencakup musik dari piringan hitam, transkripsi acara siaran dari Wereld Omroep Radio Nederland di Hilversum. Sedangkan siaran warta berita banyak diambil dari koran-koran yang disuplai dari Bevolking Voorlichting Hollandia yang dikirim melalui teleks. Ramalan cuaca dari Kantor Meteorologi di Biak dijadikan materi siaran setelah warta berita. Pada saat itu status RONG Biak berada di bawah pembinaan Dinas Kebudayaan dan Pendidikan (Dienst Van Culturele Zaken)
Pada masa itu penyampaian materi siaran masih menggunakan bahasa Belanda. Sedangkan penggunaan bahasa Indonesia baru dilakukan pada tahun 1959. Durasi siaran pagi dari pukul 10.00 s/d pukul 14.15, dan sore serta malam hari mulai pukul 17.00 s/d pukul 22.00, dengan menggunakan pemancar Redifon berkekuatan 5 KW.
Sejak Pemerintah Indonesia gencar memperjuangkan pengembalian Irian Barat ke tangan Indonesia, Pemerintah Belanda semakin menyadari pentingnya kehadiran RONG di wilayah tersebut. Oleh karena itu sejak 15 Juli 1962 RONG Biak difungsikan sebagai siaran regional, yang sama halnya dengan Merauke, Sorong, Fakfak dan Manokwari, sedangkan pusat atau sentralnya dipindahkan ke Holandia (Jayapura sekarang).
Pada awal keberadaannya siaran RRI Studio Biak hanya mampu mengudara selama 6 jam per hari, yakni pagi pukul 06.00 s/d pukul 09.00 WIT, dan malam pukul 19.00 s/d 22.00 WIT. Jumlah jam siaran ini ternyata tidak dapat menjawab kebutuhan masyarakat sehingga sejak Januari 1965 jam siaran ditingkatkan menjadi 12 jam per hari, dari pukul 06.00 s/d pukul 08.30 WIT, pukul 12.00 s/d pukul 15.30 WIT, dan pukul 17.00 s/d 21.00 WIT. Peningkatan jam siaran itu didukung dengan tambahan sebuah pemancar SW 1 KW pada gelombang 59,8 meter.
Pada awal Pelita I RRI Biak menempati gedung studio baru yang terletak di Jalan Ahmad Yani (sekarang dijadikan pusat Diklat untuk Indonesia Timur) dan pemancar di Ridge I Jalan Sriwijaya, yang diresmikan oleh Menteri Penerangan Republik Indonesia Budiardjo, bertepatan dengan Hari Radio ke-24, 11 September 1969. Salah satu tugas RRI Studio Biak yang tidak boleh dilupakan adalah turut menyukseskan penyelenggaraan Pepera pada tahun 1969, baik sebelum, pada saat, dan sesudah pelaksanaannya.
Pepera yang dilaksanakan di Teluk Cenderawasih tanggal 31 Juli 1969, yang dihadiri oleh 130 anggota Dewan Pepera Teluk Cenderawasih sebagai wakil dari 93.238 masyarakat Biak, Supiori, Numfor, Yapen Waropen, serta pulau-pulau di sekitarnya disiarkan langsung oleh RRI Studio Biak.
Pemerintah terus memberikan perhatian kepada RRI Studio Biak, dengan terus melengkapi peralatan penyiaran antara lain pemancar MW 10 KW pada frekuensi 1044 KHz dari Harris Gates, dan peralatan studio dari Schlumberger Perancis pada tahun 1976. Juga pemancar FM dari LEN berkekuatan 50 Watt pada frekuensi 58 MHz. Pertukaran berita antarstasiun, yang pada waktu itu dilakukan setelah jam siaran, juga ikut dibenahi dengan pengadaaan sarana-sarana penunjangnya.
Sejak April 1993 RRI Biak secara penuh menyelenggarakan siaran nonstop (24 jam per hari). Sebelumnya, meskipun sudah mampu mengudara selama 24 jam, antara pukul 23.00 s/d pukul 05.00 WIT, RRI Biak masih merelay siaran dari Programa Nasional Jakarta.
Dengan semakin berkembangnya kebutuhan sarana dan prasarana penyiaran, sejak tahun 1982 RRI Biak menempati gedung baru yang terletak di Jalan Ridge II, Biak, yang peresmiannya dilakukan oleh Pangkowilhan IV Letjen TNI Seno Hartono. Gedung ini mampu menampung karyawan yang jumlahnya sudah bertambah 10 kali lebih banyak.
Bahkan pada tahun 1993 RRI Biak memperoleh bantuan berupa sebuah pemancar MW 2 KW pada frekuensi 1044 KHz, pemancar FM Stereo 100 Watt pada frekuensi 95,7 MHz bantuan Jepang, bantuan peralatan studio dan satu unit mobil siaran luar (OB Van) yang cukup canggih dari Siemens Austria, sehingga siaran RRI Biak relatif dapat diikuti selama 24 jam tanpa memindahkan gelombang radio.
Sejak awal berdirinya hingga sekarang RRI Biak sudah mengalami pergantian pimpinan kepala stasiun sebanyak 17 kali, mulai dari R.H C Tobing, BA (1963-1967), A. Dulhadi, BA (1967-1969), Sugiono, BA (1969-1970), Abdul Fattah (1970-1976), Djon Dalam, BSc (1976-1978), Usman Ilyas (1978-1984), J.A Muskitta, BA (1984-1988), Bachrum Siregar (Pjs/1988-1989), Abdul Rachim, BA (1989-1993), Maryadi Tirtowasito (Pjs/Juni 1993-September 1993), Ny. J.O Nussy (1993-1996), Ricky Wader (1996-1998), Drs. Alex D. Siahainenia (1998-2001), Hartono (2001-2002), Rusdiman Saragi, SE (2002-2005), Drs. Woff Justinus, MLM (2005-2006), Drs. Kemal Pramayudha, S. Msi (2006-sekarang).
Sesuai Visi dan Misi RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP) yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2005, RRI Biak memberikan pelayanan Informasi, Pendidikan & Hiburan kepada masyarakat pendengarnya melalui Programa 1 dan 2, serta jaringan siaran nasional melalui Programa 3.
Programa 1 mengudara pada pukul 05.00 s/d pukul 24.00 WIT melalui frekuensi FM 96.90 MHz dan SW pada frekuensi 1044 KHz dengan jangkauan siaran (coverage area) Biak Kota, Palaido Bawah,Yapen Utara, yang menyajikan informasi, pendidikan, budaya & hiburan. Programa 2 mengudara pukul 05.00 s/d 24.00 WIT melalui frekuensi FM 95.30 MHz dengan jangkauan siaran di wilayah perkotaan. Sajiannya berupa musik dan informasi. Sedangkan Programa 3 mengudara 24 jam melalui frekuensi FM 95.80 MHz. (Tim EPI/KG. Sumber: Humas RRI Cabang Muda Biak/Buku 60 Tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang Pratama Bogor - Lembaga penyiaran publik ini sebelumnya merupakan radio milik Pemda Kota Bogor dan dikenal dengan nama Radio Daerah Bogor (RDB), yang sudah mengudara sejak tahun 1966.
Pada saat itu, meskipun bernama radio daerah, biaya pengelolaannya berasal dari kantong pribadi Sulaeman Suwanda, seorang tokoh warga Bogor, dan bantuan  dari Walikota Achmad Syam. Namun karena kesulitan dana, baik Walikota maupun Suleman Suwanda berupaya agar studio radio tersebut berubah menjadi RRI Bogor.
Sebelum diresmikan menjadi RRI Bogor, RDB pernah menempati dan mengudara dari Jalan Pangrango nomor 8, kemudian pindah ke Jalan Pangrango 34 (dulu 30) yang dianggap lebih memadai sebagai studio radio siaran. Pemindahan peralatan siaran segera dilakukan diikuti siaran-siaran percobaan hingga akhirnya diresmikan menjadi RRI Bogor pada tanggal 25 Juli 1968. Walikota Bogor pada waktu itu, Achmad Syam, menyerahkan Radio Daerah Bogor (RDB) kepada Direktorat Radio, yang didahului dengan terbitnya SK Walikota Bogor nomor 2360/6/1968 tertanggal 13 Mei 1968, berikut penguasaan atas seluruh gedung Jalan Pangrango.
Meskipun penyerahan studio sudah dilakukan Walikota sejak 25 Juli 1968, peresmian RRI Bogor dengan status Cabang Pratama dilaksanakan pada tanggal 4 Agustus 1968 oleh Dirjen RTF mewakili Menteri Penerangan R.I.
RRI Bogor mempunyai peranan penting sebagai media penyiaran radio, lewat RRI Bogor disiarkan berita-berita internasional, nasional maupun lokal, pesan-pesan pembangunan, seni budaya maupun siaran pendidikan dan keagamaan. Untuk berita lokal selain berbahasa Indonesia juga disiarkan dalam bahasa daerah Sunda.
Pada saat menjelang HUT-RRI ke 60, RRI Bogor didukung oleh 107 orang pegawai yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil, jauh lebih banyak dibandingkan pada awal berdirinya RRI Bogor yang pada waktu itu baru ada 16 orang, dan sebagian masih berstatus tenaga honorer. Dari 107 orang, mereka memiliki latar belakang profesi di bidang penyiaran radio, dan umumnya sudah mendapat pendidikan dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Penyebaran pegawai RRI Bogor pada tahun 2005, sebanyak 48 orang ditempatkan di bidang penyiaran, 31 orang di bidang teknik, 22 orang di bidang administrasi dan keuangan dan 6 orang di pemasaran dan pengembangan usaha-PPU. Agar dapat mengikuti dan menyesuaikan diri dengan kemajuan Iptek khususnya di bidang penyiaran radio, setiap karyawan mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan pelatihan profesi. Begitu juga dengan sarana kerja. Peralatan yang dianggap sudah tidak memadai diganti dengan peralatan baru dan canggih.
Saat ini, siaran RRI Bogor mengudara selama 19 jam/hari sejak pukul 05.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB (kecuali jika ada Pagelaran Wayang Golek), melalui 2 Programa yakni Programma 1 pada frekuensi AM 1242 KHz/10 Kwh di Depok, dan Programa 3 pada frekuensi FM 107,50 MHz/ 5 Kw  di Jalan Pangrango 34 Kota Bogor.(Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang Madya Denpasar - RRI Denpasar pertama kali mengudara pada tahun 1950, atas perjuangan sejumlah tokoh yang bercita-cita agar kota Denpasar memiliki studio siaran radio.
Semula RRI Denpasar hanya mengudara pada pagi hari pukul 6.00 hingga pukul 8.00 WITa, dilanjutkan siang hari dari pukul 12.00 hingga pukul 15.00, dan petang pada pukul 17.00 hingga pukul 21.00 WITa.  Namun ketika Bangsa Indonesia memasuki masa Orde Baru RRI Denpasar mampu mengudara selama 24 jam tanpa henti, dan bahkan mampu melakukan siaran langsung dari berbagai lokasi berlangsungnya  acara-acara tertentu.
RRI Denpasar yang semula berstatus Stasiun Regional I, setelah dihapusnya Departemen Penerangan dan RRI menjadi perusahaan jawatan, statusnya RRI Denpasar meningkat menjadi Cabang Madya. RRI Denpasar kini mengudara dari sebuah gedung di Jalan Hayam Wuruk - Denpasar, dengan acara-acara yang disajikan melalui tiga programa yakni PRO 1 yang dapat dinikmati melalui frekuensi FM 88,6 MHz dan  MW 1206 KHz, PRO 4 pada FM 93,4 MHz, PRO 3 pada frekuensi FM 95,3 MHz, dan PRO 2 pada frekuensi FM 100,9 MHz.
Acara-acara unggulan lembaga penyiaran publik yang beralamat di Jalan Melati 43 Denpasar ini antara lain GOOD MORNING BALI  dan SUN DOWNER (PRO 2), yang dilandasi visi membangkitkan citra Bali di mata wisatawan, dengan memberikan informasi tentang dunia pariwisata, tempat hiburan dan restoran, diselingi lagu-lagu lama (oldies). Acara ini dapat disimak setiap hari pukul 08.00 hingga 10.00 WITa dan 17.00 hingga 19.00 WITa.
Mata cara lain adalah DAGANG GANTAL yang dapat dinikmati setiap hari Senin s/d Jum'a t pukul 10.00 hingga 12.00 WITa. Pada acara ini pendengar dapat berdialog langsung melalui pesawat telepon dengan Mbok Luh Cemplung dan Bli Gede Tomat yang sudah sepuluh tahun lebih eksis menemani pendengarnya yang terus saja bertambah dalam melantunkan tembang-tembang tradisional Bali. Pendengar juga dapat menikmati acara-acara lain yang disiarkan setiap hari mulai pagi hingga larut malam di antaranya Kembang Rampe, Gondang Asik, Tembang Warga, Dibuang Sayang dan Nusaning Dewata bersama Pro 1.
Siaran yang lebih bersifat news disiarkan setiap hari Senin s/d Sabtu pukul 06.30 hingga 07.00 WITa dalam acara LINTAS DEWATA, dan DIALOG PAGI dengan narasumber para pakar, setiap hari Selasa sampai dengan Sabtu pukul 07.15 hingga pukul 08.00 WITa. (Tim EPI/KG. Sumber: dwj/Buku 60 Tahun RRI).
Radio Republik Indonesia Cabang Pratama Ende - Cabang Pratama. Pada saat didirikan pada 16 Juli 2002, RRI Ende hanya mengudara selama 10 jam dari pukul 05.55 hingga pukul 10.05 WITa, dan dari pukul 14.55 hingga pukul 21.05 WITa, dengan programa siaran yang disebut Pro 1 RRI Ende. Pada awal tahun 2004 RRI Cabang Pratama Ende mampu menambah jam siarannya menjadi 13 jam dari pukul 05.55 hingga pukul 12.05 dan dari pukul 14.55 hingga pukul 22.00 WITa. Karena tuntutan kebutuhan khalayak pendengar serta pertimbangan kemampuan teknis dan penunjang lainnya yang semakin berkembang sejak 1 Juni 2007 RRI Ende mulai mengoperasikan progama baru yakni Pro 2 dan Pro 3, dan mampu menambah jam siarannya menjadi 17 jam.
Sejak didirikan RRI Ende dilengkapi dengan pemancar-pemancar MW berkekuatan 10 KW, pada frekuensi 783 KHz, yang digunakan untuk siaran programa 1; MW berkekuatan 2 KW, pada frekuensi 783 KHz, juga digunakan untuk siaran programa 1; FM Stereo berkekuatan 10 KW, pada frekuensi 100,5 KHz, juga untuk siaran programa 1; FM Stereo berkekuatan 1 KW, pada frekuensi 104,8 KHz, untuk siaran programa 2; dan FM Stereo berkekuatan 10 KW, pada frekuensi 100,5 KHz, untuk siaran programa 3.
Siaran Programa 1 berlangsung selama 17 jam siaran (06.00 s/d 23.00), menjangkau daerah Kabupaten Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata, Sumba, Rote, dan Sabu. Setiap hari Pro 1 menyajikan acara-acara Bingkisan Bahagia dan Berita Lintas Nusa Bunga (pagi), Anjangsana (siang), Ramanda/Suara Merdu Anda (sore), Tembang Pilihan Barasa (berbagi rasa) dan Dialog Interaktif (malam).
Programa 2 berlangsung 12 jam siaran (06.00 s/d 11.00 dan 16.00 s/d 21.00), dengan jangkauan wilayah Ende dan sekitarnya, dengan mata acara sebagai berikut: Ende Morning (pagi), Fans Call (siang), Bingkai Mutiara dan HAY/How Are You (sore), DJ Pro 2 dan Symphoni Pro 2 (malam).
Sedangkan Programa 3 berlangsung selama 17 jam, dengan jangkauan wilayah Ende dan sekitarnya. Mata acara yang disajikan antara lain Dialog Interaktif, Warta Berita, Aspirasi Merah Putih, Sambung Rasa, Renungan Pagi, dan Investigative Reporting.
Kini RRI Cabang Pratama Ende memiliki gedung studio yang berdiri di atas tanah seluas 1,5 hektar dengan daya listrik terpasang 33.000 VA. Selain itu RRI Ende juga memiliki pemancar yang berdiri di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan daya listrik terpasang 66.000 VA.
Didukung oleh 53 karyawan yang terdiri dari 31 pegawai negeri sipil dan 22 tenaga kontrak, RRI Ende dipimpin oleh Repiandi, ST, menggantikan dua kepala stasiun sebelumnya yakni Drs. Pieter Erasmus Amalo (2002 - 2005), Boy Massie, S.Sos (2005 - 2007). (Tim EPI/KG. Sumber: Humas RRI Ende/Buku 60 Tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang Utama Jakarta - Sejak zaman pendudukan Hindia Belanda (Radio SRV) dan pendudukan Jepang (Radio Hoso Kyoku), para angkasawan radio Indonesia yang kemudian menjelma menjadi RRI sangat menyadari ampuhnya kekuatan radio. Tiga minggu sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan yaitu tanggal 26 Juli sampai tanggal 14 Agustus 1945, para angkasawan radio Indonesia yang bekerja di kantor berita Jepang, Domei, maupun yang bertugas di stasiun radio milik Dai Nippon, telah memonitor radio-radio luar negeri seperti BBC London, VOA Amerika yang menyiarkan kekalahan Jepang. Dengan kesadaran ingin mempertahankan kemerdekaan yang telah diperoleh maka pada tanggal 10 September 1945 para pegawai Hoso Kyoku seluruh Jawa berkumpul di Jakarta untuk merundingkan cara mengambilalihan Hoso Kyoku yang kemudian akan dipersembahkan kepada Presiden Republik Indonesia sebagai alat perjuangan bangsa Indonesia. Setelah pertemuan di Pejambon, delegasi radio menuju ke rumah Okonogi (Kepala Pusat Hoso Kyoku) untuk membicarakan atau menyerahkan pemancar-pemancar radio kepada RRI namun tidak berhasil karena semua pemancar serta alat-alat Hoso Kyoku sudah didaftar dan berada di tangan komando SEAC di Singapura.
Perundingan berikutnya diadakan di kediaman saudara Adang Kadarusman di Jalan Menteng Kecil dan tepat pukul 24.00 rapat dibuka oleh Dr. Abdulrachman Saleh. Adapun yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah dari Jakarta adalah Adang Kadarusman, Sutojo Surjodipuro, Jusuf Ronodipuro, Sukasmo, Sjawal Mochtarudin dan M.A. Tjatja. Dari Bandung Sakti Alamsjah, R.A. Darja dan Agus Marah Sutan, dan dari Yogyakarta R.M Soemarmadi dan Sudomomarto.
Dari Surakarta R. Maladi dan Sutardi Hardjolukito, dari Semarang Suhardi dan Harto, dan dari Purwokerto Suhardjo. Pertemuan berlangsung dalam suasana ramah tamah namun penuh rasa tanggung jawab dan berakhir pukul 06.00 pagi yang menghasilkan keputusan, antara lain :
1. Tanggal 11 September ditetapkan sebagai hari berdirinya RRI.
2. Semua pegawai diminta menentukanpendiriannya untuk menjadi pegawai RRI yang harus disertai sumpah setia kepada RRI dan Negara Republik Indonesia.
3. Organisasi semua radio tunduk pada komando pusat.
4. Masing - masing studio mengadakan penyerahan pemancar dan studionya dari pihak Jepang.
5. Mencari tempat diluar kota untuk calon tempat perjuangan selanjutnya.
6. Memindahkan pemnacar - pemancar besar dari kota ke tempat-tempat perjuangan selanjutnya beserta alat-alat penting yang dikhawatirkan dibom oleh musuh.
7. Menyiapkan studio-studio darurat serta mobil.

Demikian antara lain keputusan-keputusan dari 13 keputusan yang merupakan dasar atau fundamental RRI dalam menghadapi masa-masa perjuangan selanjutnya dan perundingan malam itu juga menghasilkan sumpah 11 September atau TRI PRASETYA RRI. Dengan bermodalkan delapan studio yaitu di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya dan Malang, RRI menyuarakan perjuangan Bangsa Indonesia ke segenap pelosok Tanah Air.
Siaran RRI ini berkumandang dan seirama dengan meningkatnya perjuangan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 melawan penjajah. Pertempuran melawan tentara penjajah mengakibatkan lahirnya stasiun-stasiun RRI baru di Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Cilacap, Kebumen, Pekalongan,Tegal, Pati, Salatiga, Mojokerto, Jember, Magelang, Wonosobo, Blitar, Kediri, Madiun, Bondowoso, Kotaraja (Banda Aceh), Bukit Tinggi, Palembang, dan Padang yang berjumlah 21 stasiun.
Dengan demikian jumlah stasiun RRI seluruhnya 29 buah, termasuk 8 stasiun yang telah ada. Sebagai akibat dari perang kemerdekaan pertama, RRI menyusut tinggal 10 studio, yaitu di Yogyakarta, Madiun, Kediri, Surabaya, Malang, Blitar, Magelang, Purwokerto dan Pekalongan menggabung di Wonosobo dan Pati. Untuk menghemat peralatan dan tenaga, stasiun Surabaya, Kediri dan Malang akhirnya digabungkan menjadi satu dengan nama RRI Jawa Timur yang berkedudukan di Kediri. Sedangkan Blitar dan Jombang diselenggarakan stasiun relay, demikian pula RRI Magelang, Purwokerto, Pekalongan disatukan dengan nama RRI Jawa Tengah yang berkedudukan di Magelang dengan stasiun relay di Wonosobo.
Sementara itu di stasiun nasional di Jakarta yang beralamat di Jalan Merdeka Barat 4 dan 5 pecah menjadi 2 karena yang berada di Merdeka Barat 4 digunakan NICA dengan mengumandangkan siarannya melalui Radio Resmi Indonesia (Belanda) dan nomor 5 digunakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI). Radio Resmi Indonesia yang ditangani oleh Belanda dan Radio Republik Indonesia yang ditangani oleh para angkasawan bangsa Indonesia terjadi perang udara sampai menjelang 21 Juli 1947 pada saat Gubernur Jenderal Van Mook akan mengadakan wawancara pers dan para angkasawan RRI mengartikan wawancara tersebut mengandung maksud tertentu.
Tepat pukul 22.30 dengan disaksikan oleh wartawan luar negeri, tentara Belanda menyerbu RRI di Merdeka Barat 5 dan bersamaan dengan itu tentara kolonial Belanda melakukan perang kolonial pertama. Kepala studio RRI Nasional Jakarta, Jusuf Ronodipuro yang saat itu berada di studio ditangkap dan sejak itu untuk sementara siaran RRI Jakarta tidak di udara, berganti dengan Radio Resmi Indonesia (Belanda). Meskipun RRI Jakarta diduduki pasukan NICA, namun RRI Yogyakarta sebagai tempat Ibukota Republik Indonesia beserta stasiun-stasiun lainnya tetap mengudara.
Pada saat perang kemerdekaan kedua, Belanda menyerang kota Yogyakarta secara tiba-tiba, ketika perundingan sedang berjalan, sehingga seluruh RRI menyingkir ke daerah pegunungan. Dalam menyingkir ke daerah pedalaman tersebut sumpah setia kepada Republik Indonesia dan semboyan “Sekali di Udara Tetap di Udara” serta lahirlah RRI di rimba raya atau di pegunungan-pegunungan. Setelah Belanda dan dunia internasional mengakui kedaulatan RI tanggal 27 Desember 1949, yang pada masa itu menjadi RIS, maka RRI kembali ke kota-kota. Pada tanggal 1 Agustus 1953 RRI berada di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Medan, Kotaraja, Padang, Bukittinggi, Palembang, Banjarmasin, Pontianak, Manado, Ambon dan Denpasar, ditambah dengan stasiun-stasiun yang berstatus relay di Cirebon, Jember, Madiun dan Ternate, menyelenggarakan siaran-siaran lokal.(Tim EPI/KG. Sumber: Company Profile RRI/Buku 60 Tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang Muda  Jambi - Meskipun lembaga penyiaran publik ini resmi hadir sebagai Radio Republik Indonesia (RRI) Jambi pada 26 September 1959, cikal bakalnya sudah mengudara sejak tanggal 6 Januari 1957, bersamaan dengan diresmikannya pembentukan Provinsi Jambi, atas bantuan PTT (Pos Telegrap dan Telepon), yangmeminjamkan pemancar berkekuatan 300 watt pada gelombang 120 meter. Pada masa awal penyiarannya stasiun radio tersebut masih sangat sederhana dan baru dalam tahap mencari bentuk dan pola siaran.
Dengan semakin majunya kemampuan yang diperlihatkan Radio Jambi dan semakin besarnya minat dan hasrat masyarakat Jambi untuk mendirikan RRI, maka dibentuklah RRI Persiapan Studio Jambi. Baru setahun kemudian Radio Jambi resmi menjadi RRI.
Setelah berubah status RRI Jambi terus melakukan peningkatan kapasitas penyiaran meskipun secara bertahap. Pada  tahun 1961 misalnya, lembaga penyiaran pubik ini menempatkan satu pemancar baru berkekuatan 1 kilowatt pada gelombang 89 meter.  
Tahun 1964, RRI Jambi membangun Gedung Pemancar Sipin dan menambah pemancar berkekuatan 7,5 Kilowatt pada frekuensi 60,9 meter sehingga memiliki daya pancar yang dapat menjangkau hingga ke pelosok desa di Provinsi Jambi. Bahkan hingga ke daratan Eropa.
Ketika terjadi konfrontasi dengan Malaysia, pemancar gelombang 60,9 siarannya diarahkan ke Malaysia dengan acara yang cukup menarik berjudul “Muhibah ke tanah Melayu” dengan penyiar kocak Oedin Thaib dengan bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin.
Dengan perangkat tehnik yang dimiliki, RRI Jambi mulai menata paket-paket acara siaran yang sesuai dengan kondisi daerah Jambi ketika itu dengan 8 jam siaran setiap hari. Sedangkan pada hari libur jam siaran ditambah menjadi 13 jam per hari dengan 40% siaran kata dan 60% hiburan.
Guna memenuhi tuntutan perkembangan, baik yang berkait dengan bertambahnya peralatan maupun sumber daya manusia, RRI Jambi membangun gedung baru di deretan perkantoran di Telanaipura, tepat berhadapan dengan Kantor Gubernur Kepala Daerah Tk. I Jambi.
Pada periode 1975-1981 RRI Jambi melengkapi pemancar yang sudah ada dengan pemancar berkekuatan 10 Kilowatt yang dipancarkan melalui gelombang FM 103,7 Mhz, serta menambah jam siaran dari 8 jam per hari menjadi 14 jam per hari.
Pada periode 1981-1987 RR Jambi membangun auditorium berkapasitas 500 tempat duduk. Gedung berlantai dua tersebut diresmikan pada tanggal 1 April 1984 oleh Menteri Penerangan Harmoko, sekaligus meresmikan operasional RRI Jambi selama 24 jam.
Pada kurun 1993-1995 lembaga penyiaran ini menambah dua pemancar (FM 96 MHz dan 98 Mhz). Pemancar FM 96 Mhz adalah hasil rakitan tehnisi RRI Jambi yang dapat dipergunakan untuk siaran langsung dari lokasi ke lokasi walaupun tanpa OB VAN, dan membangun menara setinggi 50 meter untuk meningkatkan kebeningan.
Pada tahun-tahun antara 1995 hingga 1998 RRI Jambi melakukan penambahan peralatan tehnik pemancar  yakni membangun menara 1 buah, menambah peralatan pemancar FM-STL 1 unit (100 watt), VHF-STL 1 unit (1 watt), FM-LYS 1 unit (2,5 KW), FM-RVR 1 unit (3 KW), dan FM LYS 1 unit (5 KW). Dalam periode tersebut, RRI Jambi mencetak sejarah dengan  meraih Piala Kencana sebagai wujud prestasi menjadi Juara I Siaran Pedesaan pada 11 September 1997.
Untuk menghadapi pesaing, pada tahun 2000 RRI Jambi meningkatkan peralatan teknik antara lain dengan menambah pemancar MW (OMNI) 2 KW 1 Unit dan Pemancar FM (RVR) 3 KW 1 Unit. Selain itu berupaya melakukan penghematan biaya produksi dan menata acara-acara yang betul-betul dibutuhkan dan diinginkan khalayak pendengar.
Pada tahun 2000 RRI Jambi berubah status menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan), lembaga penyiaran yang mandiri namun bukan lembaga profit. Pelayanan publik semakin berkurang dan kreativitas pun membeku. Meski demikian RRI Jambi terus berupaya meningkatkan kebeningan siarannya dan menambah kekuatan jangkauan dengan menambah pemancar FM (RVR) 1,5 KW 1 Unit, dan pemancar FM (RVR) 5 KW 1 Unit.
Selama tahun 2004 RRI Jambi mampu menempatkan diri di posisi lima besar dalam perolehan pendapatan dari jasa siaran. Peningkatan pendapatan ini diimbangi dengan peningkatan kualitas program siaran, perangkat keras dan perangkat lunak, serta sumber daya manusia. Upaya yang dilakukan adalah melengkapi perangkat studio penampilan dengan program komputer, baik Pro 1 maupun Pro 2 pada tahun 2005 Pro 2 RRI Jambi terus melangkah maju, melalui kerja sama dengan Kantor Berita ANTARA yang mampu mengakses berita ratusan item per hari. Selain itu juga kerjasama dengan Telephone Flexi untuk memperlancar siaran interaktif atau phone in program. Sedangkan Pro 3 sebagian besar masih merelay siaran Pro 3 Jakarta.
Pada usia 60 tahun Indonesia Merdeka RRI mengalami perubahan menjadi Lembaga Penyiaran Publik (LPP). Dalam kiprahnya radio publik milik Bangsa dan Negara masih tetap mengacu pada prinsip radio publik yang bersifat independen, netral, dan sebagai alat pemersatu bangsa. RRI masih tetap eksis di tengah-tengah menjamurnya berbagai media yang tumbuh saat ini, khususnya kompetitor dari media elektronik yang ada.
Untuk mewujudkan siaran berkualitas yang sangat ditentukan oleh dukungan sumber daya manusia (SDM) yang profesional, sarana/prasarana serta fasilitas tehnik yang lebih baik dan mengikuti perkembangan atau kemajuan teknologi informasi, secara bertahap terus dilakukan RRI Jambi, terutama perangkat teknik studio. Sementara teknik pemancar masih perlu dilengkapi diantaranya untuk mengantisipasi aliran listrik PLN yang sering terputus. Begitu pula strategi rekrutmen tenaga penyiar sebagai ujung tombak, perlu disesuaikan dengan  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Secara garis besar upaya-upaya yang dilakukan antara lain melakukan rekondisi secara maksimal sesuai dana yang tersedia terhadap peralatan-peralatan penunjang operasional siaran, melaksanakan rehabilitasi gedung kantor, gedung pemancar, gedung auditorium dan gedung diesel, dan pada tahun 2005 menambah peralatan penunjang operasional seperti pemancar MW 10 KW (1 unit), Diesel 85 KVA  (1 unit), jaringan komputer studio (1 unit), peralatan sound system studio, peralatan pemberitaan, suku cadang peralatan tehnik, dll.
Selain melakukan langkah-langkah di atas RRI Jambi juga mengirim karyawan-karyawannya mengikuti pendidikan teknis, membina keharmonisan hubungan kerja baik dengan pemda maupun mitra kerja lainnya, melakukan kerja sama dengan LKBN ANTARA untuk memperkaya sumber berita, memberi pelatihan (In House Training) di bidang komputerisasi bagi karyawan untuk semua seksi (Program Cool Edit, Winamp Pro, LAN & Pengenalan LINUX). (Tim EPI/Wid. Sumber: Humas RRI Jambi/Buku 60 tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang  Madya Jayapura - Lembaga penyiaran publik berstatus cabang madya ini mulai mengudara pada tanggal 1 Mei 1963 bersamaan dengan berlangsungnya upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih. Siaran radio dengan call sign Kota Baru itu, mengudara dengan menggunakan sarana transmisi bekas stasiun pemancar milik pemerintah kolonial (Radio Omroep Netherland New Guinea), yang sejak saat itu harus hengkang dari Bumi Pertiwi.
Kini, Radio Jayapura yang mengudara dari studionya di Jalan Tasangkapura No. 23 Jayapura - Irian Jaya, menjumpai penggemarnya melalui programa PRO 1 pada frekuensi FM 96,3 MHz, FM 94,5 MHz, MW 1053 KHz; PRO 2 pada frekuensi FM 90 MHz; dan PRO 3 pada frekuensi FM 93,55 MHz.
Masing-masing programa memiliki acara unggulan yang sangat diminati para pendengarnya. DIALOG PRIMA yang dapat dinikmati melalui programa PRO 1 misalnya, merupakan paket acara berdurasi 60 menit yang memiliki rating tertinggi, yang disiarkan setiap hari mulai pukul 11.00 - 12.00 Wit. Acara ini disajikan dalam format talk show, dan dikemas semenarik mungkin dengan menghadirkan narasumber partisipan. Pendengar dapat berpartisipasi di dalam acara ini yang membahas permasalahan aktual baik berskala lokal maupun nasional.
Programa PRO 3 mengunggulkan acara SUARA RAKYAT PAPUA, sebuah acara yang  mengungkap berbagai masalah aktual yang tengah terjadi di masyarakat, untuk kemudian dicari solusinya secara terbuka sehingga terbuka dialog yang cukup interaktif dengan narasumber dari kalangan para tokoh masyarakat.Pendengar diajak untuk berpartisipasi dalam acara ini setiap hari Senin s/d Sabtu pukul 11.30 - 12.30 Wit.
Acara yang bersifat hiburan yang secara khusus diperuntukkan bagi para eksekutif  muda disajikan melalui acara KAFE MUSIK EKSEKUTIF LIVE, setiap hari Minggu pukul 17.00 hingga 18.15, melalui programa PRO 2. Acara yang disiarkan secara langsung (live) ini memberi kesempatan kepada para pendengar, khususnya para eksekutif muda untuk, menghibur diri dengan berkaraoke, dipandu oleh penyiar di studio.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai alat kontrol sosial, RRI Jayapura berusaha  menjembatani berbagai masalah yang terjadi dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran bersama agar berjalan sesuai prosedur dengan pola win win solution., melalui acara WARUNG PINANG, pada programa PRO 1, setiap hari Sabtu pukul 06.00 hingga 06.30 WIB.(Tim EPI/KG. Sumber: dwj/Buku 60 tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Muda  Kendari - Lembaga penyiaran publik (LPP) berstatus cabang muda ini mulai mengudara tanggal 27 Juli 1964, lebih dari setahun setelah terbentuknya Provinsi Sulawesi Tenggara tanggal 27 April 1964. Keberadaannya saat itu lebih merupakan penunjang segala aktivitas pemerintah daerah khususnya dalam rangka menyampaikan berbagai informasi bagi kepentingan masyarakat Sulawesi Tenggara.
Pada awalnya RRI Cabang Muda Kendari mengudara dari studio dan kantor yang berlokasi di kota lama Kendari dengan lokasi pemancar di Jalan Mayjen Sutoyo No. 33 Kelurahan Tipulu Kendari.
Pada tahun 1977 studio dan kantor dipindahkan ke Jalan Muhammad Hatta No. 34 di Kelurahan Sanua Kendari dengan lokasi pemancar Lepo-Lepo Kendari. Pada tahun 1982 studio dan kantor dipindahkan di Mandonga Jalan Laute No. 44 Kelurahan Mandonga Kendari dengan lokasi pemancar Lepo-Lepo dan Silea Kendari.
Meskipun sudah berusia cukup lama namun sarana operasional yang dimiliki lembaga penyiaran publik ini, khususnya pemancar, hampir tidak mengalami perubahan dan masih menggunakan peralatan-peralatan tua, antara lain pemancar MW 314 Meter 954 Khz 2 KW - Tx Lepo-Lepo (kondisi baik); SW 75 Meter 399510 KW - Tx Lepo-Lepo (kondisi baik); FM Stereo 90,8 Mhz 5 KW (kondisi rusak); FM Stereo 90,8 Mhz 0,1 KW (kondisi balk); FM Stereo 103 Mhz 5 KW (kondisi rusak); FM Stereo 107 Mhz 2,5 KW (kondisi rusak), dan FM Stereo 107 Mhz 5 KW - Tx Silea (kondisi rusak).
Sedangkan mesin diesel yang dimiliki RRI Cabang Muda Kendari yaitu Diesel Deutz 60 KVA di studio (kondisi baik); Diesel Deutz 35 KVA- Tx Silea (kondisi baik); Diesel Deutz 60 KVA-Tx Silea (kondisi baik); dan Diesel Deutz 35 KVA- Tx Lepo-Lepo (kondisi baik).
Begitu juga dengan sarana penunjang seperti kendaraan roda empat dan roda dua, RRI Kendari hanya memiliki satu kendaraan roda empat, OB Van untuk siaran luar, dan tiga buah sepeda motor, yang kesemuanya sudah berusia lebih dari 15 tahun. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI/dwj)
Radio Republik Indonesia Cabang Pratama Malang - Stasiun radio ini mulai mengudara pada  tanggal 11 September 1945. RRI Malang adalah bagian dari Radio Republik Indonesia yang keberadaannya memiliki sejarah yang heroik.
Sebenarnya, sebelum bangsa Indonesia merdeka, di Malang sudah ada stasiun radio dengan nama NIROM (Nederland Indische Radio Omroep) yang berlokasi di Jalan Celaket (sekarang, dekat hotel Kartika Prince), sedangkan Radio Goldenberg berlokasi di toko Goldenberg di Jalan Basuki Rakhmat, dulu Kayutangan. Kedua stasiun radio tersebut merupakan awal mula adanya siaran radio di kota Malang, hanya saja corak serta sistem siarannya merupakan hiburan bagi orang Belanda. Nirom dan Goldenberg berdiri di kota Malang sekitar tahun 1939 s.d 1941.
Ketika Jepang berkuasa di Indonesia  mereka menguasai stasiun radio di kota Malang dengan mendirikan pemancar radio dan membangun stasiun radio ex Belanda yang dinamai Malang Hosokyoku. Beberapa orang Indonesia yang aktif dalam Malang Hosokyoku pada saat itu di antaranya Poenidjo, Karjono, Koesno Albari serta Sahlan.
Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu Malang Hosokyoku jatuh ke tangan para pemuda kita. Dengan peralatan bekas milik pemerintah Jepang, siaran-siaran radio ini sangat membantu perjuangan di kota Malang.
Setelah pecahnya Clash I dan Clash II yang dilancarkan oleh pihak Belanda hampir dikatakan RRI Malang mendapat satu tuntutan yaitu ikut mengobarkan semangat juang bangsa, yang pada tahun 1947 daerah Malang digunakan sebagai basis pertahanan yang mengakibatkan RRI Malang selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sebuah pesawat TB dengan kekuatan 60 W pada saat itu didirikan di Kepanjen. Sayang ditempat ini pun pesawat tersebut tidak dapat bertahan lama karena terjadi pembumihangusan, sehingga harus pindah ke daerah Blitar dan menggunakan gelombang 113 meter dengan suatu panggilan YDO (call sign), meskipun menggunakan pemancar dan diesel yang kecil namun siarannya dapat ditangkap dengan baik, sehingga dapat mempengaruhi lawan, akibatnya stasiun RRI Malang dicari oleh pihak Belanda.
Pada tahun 1948 ketika perjuangan bangsa Indonesia memuncak saat Clash II dan peristiwa Madiun maka dilakukanlah penggabungan dengan RRI yang berada di kota Kediri Jawa Timur. Dengan demikian pemancar yang ada dipindahkan pula, yang pelaksanaannya di bawah koordinasi Soedomo (karyawan RRI). Ini bukan berarti Blitar dikosongkan, karena relay telegrafis tetap dilakukan oleh petugas almarhum Indra Sunarya (Purna karya RRI Malang). Efendi (Purna karya, mantan kepala Stasiun RRI Sumenep) dan Salman (Purna karya GIA). Setelah perang mereda, peralatan terlanjur tidak ada dan pemancar sudah dibumihanguskan. Selanjutnya pada masa transisi tahun 1947 s.d 1948, Belanda membonceng tentara sekutu, keadaan RRI Malang diam membisu karena peralatan sudah musnah sehingga kegiatan siaran terhenti. Itulah sebabnya setelah gencatan senjata, dirintis kembali untuk mengadakan siaran radio dengan menggunakan peralatan militer, sehingga berkumandanglah RRI Malang dengan call station Radio Militer. Siaran radio ini tidak berlangsung lama. Sekitar tahun 1950 personilnya tidak diaktifkan. Praktis siaran radio Malang lenyap di udara.
Selama kira-kira 12 tahun lamanya RRI Malang tidak muncul di udara untuk menjumpai para pendengarnya. Disamping karena petugasnya banyak yang pindah dari Malang juga karena peralatannya tidak bisa diaktifkan lagi.
Pada tahun 1962 dilakukan percobaan untuk mendirikan stasiun radio (RRI Persiapan) atas bantuan PHB DAM VIII Brawijaya (sekarang Hubdam V Brawijaya), berupa sebuah pemancar RCA yang diperkuat amplifier bermerek Givson yang berkekuatan 60 W out put, dengan call station Radio Brawijaya.
Pada bulan September 1965 RRI Persiapan diresmikan dengan nama RRI Studio Malang, walaupun masih menggunakan peralatan lama. Secara bertahap RRI Malang, mempersiapkan diri, dan sekitar tahun 1965 telah tersusun acara-acara siaran yang dapat dilaksanakan secara tertib.
Dalam perjalanan yang hampir 31 tahun lebih RRI Malang sudah banyak mengalami  kemajuan, dan ditunjang peralatannya yang sudah modern. Beroperasi dari gedung seluas sekitar 4.000 m2 di atas tanah 1 hektar, RRI Malang tetap mengacu kepada landasan ideal Pancasila dan konstitusional UUD 1945 serta operasional GBHN. Dengan demikian fungsi radio sebagai media penerangan/informasi, hiburan dan pendidikan tidak boleh menyimpang dari landasan tersebut.
Untuk memperoleh materi siaran yang sesuai dengan fungsinya, RRI Malang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kotamadya, Kabupaten, Wilayah Kerja IV Pembantu Gubernur di Malang, dan menjalin hubungan dengan dinas lintas sektoral dan organisasi sosial, profesi, serta kesenian, sekolah-sekolah, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi negeri dan swasta.
Dengan demikian RRI Malang sebagai media elektronika benar-benar dimanfaatkan oleh mereka. Pola siaran makin lama makin berkembang, dari 4 penggolongan pada tahun 1996 menjadi 7 penggolongan, meliputi berita 19% penerangan 8%, pendidikan/kebudayaan 14%, siaran agama 5%, olah raga dan hiburan 47%, siaran niaga 2%  dan pelayanan masyarakat dan acara penunjang 5%.
Untuk menunjang operasional siaran RRI Malang memiliki sarana pemancar (rakitan sendiri) MW dan FM berkekuatan 1 KW; pemancar UHF/FM 102 berkekuatan 50 W; pemancar UHF/FM 105 berkekuatan 50 W; pemancar SW berkekuatan 500 W; pemancar FM portable 10 W; pemancar MW 1 KW; pemancar FM berkekuatan 21/2 KW; pemancar FM berkekuatan 5 KW dan 10 KW; 1 unit transceiver UHF berkekuatan 50 W serta 2 SSB berkekuatan 50 W.  Sarana pemancar-pemancar ini dibangun di atas tanah seluas 700 m2 pada ketinggian 1977 m dari permukaan laut, yang terletak di desa Ngadirejo Kecamatan Tutur yang merupakan bantuan Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan.
Sementara ini personal berjumlah 135 orang yang bertugas di pos masing-masing  yakni Seksi Pemberitaan berjumlah 22 orang, Seksi Siaran berjumlah 35 orang, Seksi Teknik berjumlah 34 orang, Seksi Umum berjumlah 34 orang, dan Tenaga Kontrak berjumlah 10 orang. Tugas-tugas yang dilaksanakan oleh awak RRI Malang telah sesuai dengan bidangnya masing-masing, sebagai mana yang telah diatur dengan SK Menpen nomor 101 tahun 1979.
Keberadaan RRI Malang di tengah sekitar 10 Radio siaran swasta, terasa makin marak dan kompetitif namun juga sebagai mitra. Sedang untuk siaran televisi baik TVRI, RCTI, SCTV, ANTV, Indosiar, TPI, TFI, CNN, HBO dan lain-lain yang bisa ditangkap di daerah Malang melalui pemancar masing-masing atau melalui parabola, bukanlah menjadi halangan, bahkan memberikan variasi sajian siaran yang diminati khalayak.(Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang Muda  Manado - Lembaga penyiaran publik yang kini berstatus cabang muda ini resmi berdiri tanggal, 11 September 1950.
Namun pada usianya yang masih muda RRI Manado tercatat memiliki beberapa prestasi membanggakan antara lain, menyiarkan secara langsung pelaksanaan pemilihan umum yang pertama pada tahun 1955. Selain itu juga menyelenggarakan siaran dari Soa Siu Halmahera, dalam rangka pembebasan Irian Barat pada tahun  1956. Tahun 1950-an menyelenggarakan pemilihan bintang radio sebagai tempat pengembangan prestasi di bidang seni suara dan hiburan, dan menyiarkan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959.
Namun,  gejolak politik yang cukup memprihatikan pada tahun 1958, melibatkan RRI Manado sehingga harus mengudara dalam dua versi, pemerintah NKRI dan Permesta.
Pada masa setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S./PKI) RRI Manado lebih banyak menyiarkan dan menyebarluaskan program Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dalam rangka Negara Kesatuan Rapublik Indonesia.
Sedangkan pada tahun 70-an penyelenggaraan siaran lebih menyentuh kepentingan masyarakat baik yang berada di perkotaan maupun pedesaan, apalagi dengan dapat disebarluaskannya penyelenggaraan Pemilihan Umum pada tahun 1971 dan tahun 1977.
Walaupun pada waktu itu bermunculan radio-radio amatir, namun dengan program-program siaran yang langsung menyentuh kepentingan masyarakat, siaran RRI Manado tetap diminati masyarakat. Program-program siaran tersebut antara lain siaran pedesaan, kontak tani, nelayan untuk kepentingan masyarakat pedesaan; Obrolan Om Endi dan Om Gode, Pilihan Pendengar, Anajangsana Udara, Tangga lagu-lagu Pop Indonesia untuk masyarakat perkotaan; penyelenggaraan pemilihan bintang radio secara terus menerus untuk mengembangkan minat dan bakat dalam bidang seni suara.
Pada tahun 1974, dengan peralatan teknik yang sederhana RRI Manado dapat menyiarkan langsung ke seluruh penjuru tanah air kegiatan-kegiatan seperti pertemuan Presiden Soeharto dan Presiden Philipina Ferdinand Marcos di Manado, pembukaan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka pada bukan November 1974 oleh Wakil Presiden Sri Sultan Hamengku Buwono IX maupun acara penutupannya oleh Ibu Tien Soeharto.
Pada tahun 1977 RRI Manado juga menyiarkan pelaksanaan kegiatan MTQ yang dibuka oleh Presiden Soeharto, di stadion Klabat Manado.
Pada 16 Desember 1983 RRI Manado merealisasikan siarannya selama 24 jam. Namun sejak 11 September tahun 1983 RRI Manado mulai mengudara dengan dua programa siaran yaitu programa 1 yang menjangkau sekitar 70% wilayah Sulawesi Utara dan siaran programa kota yang dikhususkan bagi masyarakat kota Manado dan sekitarnya.
Tahun 1987 RRI Manado mulai melaksanakan acara di luar studio seperti acara Panggung Gembira. Acara ini mendapat sambutan dari masyarakat dan berlanjut hingga tahun 1989. Memasuki tahun 1990-an RRI Manado memasuki masa stereonisasi dengan didatangkannya pemancar FM Stereo 89,1 Mhz.
Untuk memupuk minat generasi muda yang aktif dalam mengikuti/mendengarkan siaran RRI Manado dibentuklah sebuah kelompok pendengar dengan nama Fans Club RRI Manado pada tanggal 1 Mei 1991. Mereka dibina dan diikutsertakan dalam berbagai kegiatan on air maupun off air. Dari pembinaan ini banyak di antara mereka kemudian menjadi penyiar, pembawa acara, dan pengarah acara.
Sesuai dengan tuntutan jaman dan lajunya perkembangan di segala bidang, RRI Manado dari tahun ke tahun terus memantapkan pola siarannya.
Dalam nuansa reformasi dan era keterbukaan Radio Republik Indonesia mengalami perubahan status pasca pembubaran Departemen Penerangan RI di era pemerintahan Presiden RI K.H. Abudrachman Wahid, dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 37/2000 Tentang Pendirian Perjan RRI tertanggal 7 Juni 2000. Perubahan status dan orientasi RRI yang harus melaksanakan prinsip-prinsip radio publik secara profesional dan senantiasa berorientasi pada kepentingan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat (empowerment), untuk mendorong peran serta publik secara aktif dalam proses pembangunan serta melindungi dan menampung aspirasi pendengar melalui program siaran.
Akhirnya RRI Manado merancang program acara siaran yang berorientasi publik seperti halnya Dialog Interaktif sebagai saluran untuk menyalurkan opini, saran, kritik dari masyarakat terhadap kebijakan pemerintah daerah. Demikian pula program acara untuk masyarakat minoritas (masyarakat pengungsi asal Ternate dan Ambon di Sulawesi Utara) RRI Manado memberikan ruang dan waktu dalam program siarannya yang bermaterikan informasi lokasi pengungsian, bantuan dari pemerintah pusat dan daerah, sikap penerimaan masyarakat lokal, proses pemulangan ke daerah asal sampai pada penguatan menjadi masyarakat lokal. Program acara ini dapat diakses hingga di Ternate.
Dalam menyongsong Pilkada Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Sulawesi Utara RRI Manado mengalokasikan program siarannya untuk masa kampanye yang berlangsung mulai 3 s/d 16 Juni 2005 , yang diikuti 5(lima) pasangan Calon Gubernur/Wakil Gubernur bersamaan dengan Pilkada Calon Bupati/Wakil Bupati Minahasa Utara, Minahasa Selatan dan Calon Walikota/Wakil Walikota Tomohon.
Program siaran Kampanye di RRI Manado mengalokasikan 2 (dua) kali mengisi siaran kampanye untuk setiap pasangan calon. Untuk memperluas wawasan publik terhadap figur calon Gubernur/Wakil Gubernur, RRI Manado mempertemukan dengan masyarakat Pendengar melalui Dialog Interaktif untuk menampung aspirasi masyarakat bagi setiap calon yang terpilih.
RRI Manado juga menyiarkan secara langsung Debat Lima Calon Gubernur untuk menambah referensi publik tentang calon yang pantas untuk memimpin Sulawesi Utara 2005 2010. Siaran debat calon ini disiarkan selama 8 jam non stop. Tanggal 20 Juni 2005 Sulawesi Utara mencatat sejarah sebagai daerah di Indonesia yang pertama kalinya menyelenggarakan pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur secara langsung. Untuk menyukseskan proses pemilihan sampai perhitungan suara, kembali RRI Manado menyelenggarakan liputan eksklusif Pilkada Tahun 2005, dengan berbagai informasi mulai aktivitas masyarakat pemilih menuju TPS, proses pencoblosan, perhitungan sementara, sampai hasil rekapitulasi sementara.
Liputan-liputan tersebut, di cover oleh 20 reporter RRI dan didukung oleh partisipasi publik sejumlah 173 penelepon mulai dari wilayah Sangihe-Talaud, Bolaang-Mongondow, Minahasa Utara dan Selatan, serta Kota Bitung. Siaran RRI Manado ketika itu bergema ke seantero Sulawesi Utara yang ingin mengetahui secara cepat, akurat dan bertanggung jawab hasil perolehan suara yang tersebar di 3.675 TPS di seluruh wilayah Sulawesi Utara. Pada akhirnya, melalui siaran yang dimulai pukul 08.00 wita hingga pukul 20.00 Wita tersebut, masyarakat Sulawesi Utara dapat mengetahui secara dini calon Gubernur/Wakil Gubernur terpilih. Bahkan hasil liputan ini membantu media cetak lokal untuk bahan berita besoknya. Melalui siaran Pemilu tersebut, kembali RRI menunjukkan eksistensinya sebagai media radio publik saluran aspirasi vara rakyat.(Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI)


Radio Republik Indonesia Cabang Pratama Manokwari - RRI Manokwari berasal dari Eks Stasiun Radio Omroep Nieuw Guinea (RONG) yang didirikan Pemerintah Kolonial Belanda di Manokwari tahun 1960.
Setelah “Persetujuan New York” yang menyelesaikan konflik konfrontasi bersenjata Republik Indonesia dengan Kerajaan Belanda tentang status Nieuw Guinea/Papua Barat (Irian Jaya), otomatis  RONG menjadi bagian dari Pemerintahan RI.
Ketika didirikan sebagai stasiun RONG Manokwari, kekuatan pemancarnya tidak seberapa besar dan terbatas yaitu pemancar SW berkekuatan 1/2 KW merek “REDIFON” frekuensi  68, 85 MHZ/gelombang 48,5 meter dengan jam siaran pagi hari mulai 06.00 hingga  08.00 waktu setempat  (WIT),  siang mulai pukul 10.00 hingga 12.00 (WIT), dan sore pukul 17.00 hingga 23.00 (WIT). Acara siaran yang diketengahkan berupa produksi lokal, relay pusat RONG di Holandia (Jayapura), warta berita/informasi /paket hiburan tertentu.
Kekuatan pemancar dan program siaran RRI sekarang terdiri dari pemancar Maripi Manokwari MW berkekuatan 10 KW dan 2 KW dengan frekuensi 702 Khz, pemancar Reremi Manokwari 2 buah FM 2 KW merek RVR dengan frekuensi 99,15 MHz, 1 buah link modulasi STL merek RX 100 watt, 1 buah SW 500 watt merek Redifon frekuensi 16,86 Khz dalam keadaan rusak, dan 1 buah SW 1 KW merek Philips frekuensi 93,75 KHz dalam keadaan rusak. Pemancar yang terletak di Jalan Merdeka No. 68 Manokwari antara lain FM 3 KW frekuensi 94,30 MHz, FM 2 KW frekuensi 92,40 MHz, FM 2 KW frekuensi 97,75 Mhz, FM 100 watt frekuensi 93,50 Mhz (link modulasi Maripi), dan FM 100 watt frekuensi 97,50 Mhz (link modulasi Reremi).
Kini lembaga penyiaran publik dengan status cabang pratama ini mengudara mulai pukul 04.55 hingga  23.00 WIT (durasi 18 jam 5 menit) yang meliputi acara-acara yang tergabung dalam programa PRO 1. Acara ini memiliki karakter yang bersifat dengan sasaran khalayak berusia 5 tahun ke atas, tanpa membedakan jenis kelamin, latar belakang pendidikan, dan status sosial dengan sasaran wilayah provinsi dan kabupaten. Sedangkan klasifikasi siaran antara lain berita/informasi 29,70% dengan kategori berita (news) dan masalah aktual. Lingkup kejadian berita lokal dan berita regional serta nasional. Isi dimensi berita ekonomi, sosial, politik, budaya, olah raga, iptek, hankam, dan berita kejahatan, laporan cuaca, nuansa efek, info lalu lintas, laporan harga pasar; siaran pendidikan 10,25% dengan kategori siaran pendidikan sekolah, siaran pendidikan luar   sekolah, pendidikan umum, khusus, dan agama. Format feature, majalah udara, uraian, diskusi, dialog/percakapan dan radio spot; siaran kebudayaan 6,36% dengan kategori siaran apresiasi seni, siaran apresiasi budaya, Format acara: feature, majalah udara, uraian, diskusi, dialog/percakapan; siaran hiburan 43,36% dengan kategori musik, nonmusik, campuran musik dan nonmusik; siaran iklan/acara penunjang 10,23% dengan kategori siaran iklan niaga, iklan layanan masyarakat, tanda tunggu buka siaran/tutup siaran dan penanti acara.
Programa 2 yang mengudara pada jam siaran pukul 15.35 hingga 23.00 WIT (8 Jam 5 menit ) disajikan dalam lima golongan siaran yakni berita/informasi 27,10%, pendidikan 5,27%, kebudayaan 6,89%, hiburan 47,96%, dan iklan 12,79%. Sedangkan Programa 3 adalah acara siaran yang seluruhnya berupa relay RRI Pro 3 Jakarta dari pukul 05.00 hingga  23.00 WIT. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).
Radio Republik Indonesia Cabang Madya Medan - Lembaga penyiaran publik berstatus cabang madya ini resmi mengudara sebagai stasiun RRI Medan pada bulan September 1945, tidak lama setelah Jepang menyerah ke tangan Sekutu. Sedangkan siaran radio yang dikelola Pemerintah Jepang sendiri sudah mengudara sejak bulan Maret 1943.
Ketika terjadi pemberontakan PRRI Permesta pada tanggal 15 Februari 1958, RRI Medan sempat dikuasai kelompok pemberontak dan menyiarkan dekrit-dekrit mereka. Namun berkat upaya yang dilakukan bersama oleh karyawan RRI dan aparat militer stasiun radio ini dapat direbut kembali.
Stasiun radio yang mengudara dari Jalan
Jenderal Gatot Subroto Km 5,6 MEDAN ini menyajikan berbagai acara unggulannya melalui programa PRO 1 pada frekuensi FM 95,1 MHz dan MW 855 KHz, PRO 2 pada frekuensi FM 97,8 MHz, dan PRO 3 pada frekuensi FM 92,4 MHz.
Pro 1 membungkus budaya tujuh etnis Sumatera Utara dengan menyuguhkan paduan lagu daerah, cerita pepatah, cuplikan budaya bahkan informasi yang kesemuanya disajikan dalam bahasa daerah. Terdiri dari Senandung Melayu (Melayu), Horas Solubolon (Toba), Sitalasari (Simalungun), Ketabo-ketabo (Mandailing), Tanah Karo Simalem Pakpak (Dairi). Anda dapat mengikuti acara ini 3 kali dalam setiap hari pukul 10.15 hingga 12.00, pukul 14.30 hingga 16.00 dan21.00 hingga 22.30 WIB.
PRO 1 juga menyajikan bursa musik dangdut seiring dengan trend yang melanda hampir semua lapisan masyarakat. Pendengar dapat berdangdut ria setiap hari kecuali Rabu pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.
PRO 2 menyajikan acara khusus untuk  ibu-ibu dan kaum wanita umumnya yang sedang melakukan aktivitas harian. Pendengar dapat menyimak info cantik, makanan dan santapan, kesehatan, perhatian terhadap anak dan keluarga. Wanita biasanya tidak jauh dari gaya dan busana, itulah corak hidup dan kehidupan. Pendengar juga dapat menyimak acara ini setiap Senin s/d Sabtu pukul 10.00 - 11.00 WIB.
Sedangkan PRO 3 menyajikan acara unggulan “Jajak Pendapat”, sebuah acara yang  membuka ruang seluas-luasnya bagi pendengar untuk mengemukakan pendapatnya  tentang isu yang sedang hangat, baik berskala lokal maupun nasional. “Opini Anda” (hasil jajak) akan diekspos pada kesempatan yang ada termasuk dalam siaran berita, dan bahkan tidak jarang hasil jajak pendapat dikirim ke lembaga/instansi terkait. Melalui Pro 3 pendengar dapat mengikuti acara ini setiap hari Senin dan Jum'at. (Tim EPI/KG. Sumber: dwj/Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Muda  Palangka Raya - Siaran RRI Palangka Raya sebagian besar menjangkau wilayah Kalimantan termasuk sebagian wilayah negara tetangga Malaysia dan Brunai Darussalam.
Siaran RRI Palangka Raya yang dapat dipantau melalui gelombang SW 3325 KHz 50 KW, MW 1197 K fZ 10 KW, FM 89,2 MHz 5 KW, FM 93,6 MHz 100 W, 97,3 MHz 100W, FM 96,0 MHz 100W, menyajikan 14 acara siaran unggulan yang dikemas dan disiarkan melalui Programa 1 di antaranya Dialog Interaktif, Anjangsana Udara, Campur Sari, Siaran Pedesaan, Simponi Keroncong dan Obrolan Sanger. Sedangkan 6 acara unggulan di Programa 2 di antaranya Prolog ( Psykologi ), Pro Sport, Pro Etnik dan Pro Sinema. Untuk Programa 3 Jaringan Berita Nasional akan diresmikan pengudaraannya pada saat peresmian Gedung Kantor RRI Palangka Raya pasca kebakaran yang dijadwalkan tanggal 12 April 2008.
Saat ini RRI Palangka Raya memiliki 117 karyawan termasuk 27 orang pegawai honorer. RRI Palangka Raya juga memiliki 3 bangunan yang berada di 3 lokasi berbeda.  (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Madya Palembang - Lembaga penyiaran publik dengan status cabang madya ini dapat dinikmati melaluitoga programa yakni PRO 1 melalui gelombang FM 95,3 MHz, FM 88 MHz, MW 1287 KHz; PRO 2 FM 97,2 MH; dan PRO 3 melalui FM 91,8 MHz.
Ketiga programa yang dikumandangkan dari Jalan Radio No. 2 KM 4 Palembang ini menyajikan acara-acara unggulan antara lain PELANGI melalui PRO 1 dan PRO 3. Segmen acara yang mengetengahkan kegiatan kelompok minoritas di masyarakat dengan menghadirkan narasumber dari kelompok tersebut (WNI keturunan Tionghoa, Arab, India, Dinas Instansi terkait, LSM, DPRD dll) dengan tujuan untuk meningkatkan komunitas positif dengan elemen masyarakat setempat serta partisipasi mereka dalam pembangunan bangsa. Acara ini dapat disimak setiap hari Minggu ke 3 pukul 20.15 - 21.30 WIB.
ARIA SRIWIJAYA melalui PRO 1, yang khusus menyajikan lagu-lagu khas Sumatra Selatan oleh penyiar kesayangan dengan gaya dan bahasa Palembang. Pendengar dapat berpartisipasi dalam acara ini via telepon atau surat, disajikan setiap hari Kamis s/d Minggu pukul 21.15 WIB.
BINGKISAN ULTAH, melalui PRO 2 adalah untuk pendengar yang ingin menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada sahabat karib, keluarga atau orang yang disayangi. Acara ini disajikan setiap hari mulai pukul 09.00 WIB.  (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI/dwj).


Radio Republik Indonesia Cabang Muda  Palu - Keberadaan lembaga penyiaran publik dengan status cabang muda ini berawal dari studio lokal pada tahun 1964 yang menyiarkan situasi kota melalui berita daerah, berita Nusantara I Makassar atau berita-berita sentral Jakarta, setiap hari dimulai pukul 17.00 dan berakhir pada malam hari sampai dengan pukul 22.00 Wita, sebab saat itu telah dianggap larut malam.
Acara-acara siarannya selain berita-berita tersebut memadukan lagu-lagu hiburan dengan informasi tentang pengumuman pemerintah dan pilihan pendengar. Paket acara pilihan pendengar inilah menjadi primadona dan banyak ditunggu-tunggu pendengar ketika itu.
Setelah berjalan kurang lebih satu tahun timbul gagasan dari para penyiar studio lokal saat itu antara lain: Palisu Daeng Marau, H. Hamid Rana dan Hasan Tawil, BBA., untukmengusulkan kepada Jawatan Penerangan Kabupaten Donggala agar mendirikan stasiun RRI Palu.
Usulan tersebut dipenuhi dan sejak 11 Juni 1965 Palu secara resmi memiliki studio siaran RRI. Dengan pemancar berkekuatan 300 watt dan peralatan studio bekas buatan tahun 1940-an, RRI Palu pada saat itu hadir apa adanya, dan dengan jangkauan sangat terbatas.
Meskipun dengan peralatan yang serba sederhana RRI Palu mampu menunjang program Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah khususnya, dalam menyebarluaskan informasi-informasi mengenai program pemerintah dan pelaksanaan pembangunan.
Menjelang meletusnya pemberontakan G30S/PKI (September 1965) di Jakarta, RRI Palu turut berperan dalam memberikan informasi yang sebenarnya kepada masyarakat pendengar mengenai situasi terakhir musibah yang menimpa bangsa dan negara kita tercinta.
Untuk menjangkau daerah-daerah lain di Provinsi Sulawesi Tengah, Pemda Kab. Buol Toli-toli berinisiatif meminjamkan pemancar dalam keadaan rusak. Setelah diperbaiki seperlunya, pemancar bekas itu pun dapat beroperasi hingga tahun 1966.
Kemudian RRI Palu memperoleh bantuan dari RRI Mataram berupa pemancar berkekuatan 1,5 KW bekas. Pemancar peninggalan masa Perang Dunia II yang dirakit kembali oleh para teknisi RRI Surabaya ini dapat berfungsi dan bertahan cukup lama.
Pada tahun 1972 peralatan studio merek Gates buatan Amerika tahun 1940-an berakhir masa operasinya setelah datangnya peralatan studio tipe C buatan Jerman Timur. Sejak tahun 1976 hingga tahun 1997 RRI Palu mendapat bantuan luar negeri baik dari Amerika, Perancis, Jepang maupun Austria (Siemen) berupa peralatan studio, pemancar maupun mesin pembangkit listrik (diesel). Kesemua bantuan tersebut dioperasikan sesuai dengan fungsinya guna mencapai hasil siaran yang lebih baik dan berkualitas, serta mencapai jangkauan siaran yang lebih luas.
Selama pemerintah Orde Baru eksistensi RRI lebih banyak berfungsi sebagai corong pemerintah, karena memang kebijakan politik pemerintah saat itu siaran RRI harus mendukung kebijakan pemerintah, dan sebaliknya tidak dibenarkan untuk mengoreksi program dan kebijakan pemerintah.
Kini, setelah statusnya menjadi lembaga penyiaran publik RRI Palu harus memperhatikan keinginan dan selera pendengarnya, di samping mempertahankan aktualitas informasi yang disajikan. Salah satu keunggulan RRI adalah kecepatan informasi. Karena itu diperlukan SDM yang profesional dan mampu menampilkan acara siaran yang bermutu dan menarik. Siaran budaya dan kesenian lokal agar tetap mendapat porsi dan dipertahankan, karena hal itu memiliki daya tarik dan segmen pendengar tersendiri. Tri Prasetya RRI juga harus tetap dipertahankan, karena bagaimana pun sejarah lahirnya RRI tidak dapat dipisahkan dengan hakekat perjuangan yang terkandung dalam Tri Prasetya RRI tersebut.
RRI menjumpai penggemarnya melalui acara-acara yang dikemas dalam beberapa programa yakni Programa 1 (saluran Hiburan, Informasi dan Pendidikan), yang dapat dinikamti melalui frekuensi : SW 3960 KHz, 7234 KHz AM. 1035 dan FM, Stereo 90,8 MHz.
Adapun acara-acara unggulannya antara lain MAMAKU (Masalahku Masalahmu) -  Masalah Rumah Tangga dan Remaja, (Senin dan Kamis Pukul 10.15); PASTELA (Pasti Anda Suka Tembang Lama) sapaan ringan untuk membangkitkan kenangan lama. (Senin s/d Sabtu Pukul 13.00); SELAM (Segmen Lagu Mandarin) Rabu dan Minggu Pukul13.30; OM Kota/Laporan Kota Informasi seputar Kota Palu dan sekitarnya dengan gaya bahasa santai khas suku Kaili dari Pemerintah dan Masyarakat (tiap hari pukul 15.30); dan Radio Cape (pendengar menyanyi melalui telepon (Senin pukul 21.30 Wita).
Progama 2 yang diformat sebagai saluran Musik dan Informasidapat disimak melalaui frekuensi: FM Stereo 105 MHz, dengan acara-acara unggulan Info Sehat, yakni informasi dan TIPS sehat untuk keluarga muda, ibu hamil dan anak-anak (setiap hari pukul 10.00); Memory Song Request Live telepon khusus lagu lama (Senin - Sabtu pukul13.00); LA INDIE CHART, tangga lagu-lagu, band-band Kota Palu (Sabtu pukul 15.00). Suara Pelajar membuka wawasan pelajar SLTP, SLTA se Kota Palu mengenai dunia penyiaran, Acara Talk Shaw (Senin - Jumat pukul 16.00); FRIDAY IN JAZZ. Mengajak kawula muda mengenal dan menyukai lagu berirama jazz (Jumat pukul 18.30); dan KENCANA ACK-REQUEST, lagu dan cerita seputar kencan malam Minggu (Sabtu pukul 20.30).
Sedangkan Progama 3 yang memiliki format siaran sebagai saluran News & Talk dapat diiukti melalui frekuensi: FM Stereo 92,4 MHz, dengan acara-acara unggulan OPINI PENDENGAR, mengupas berbagai topik aktual, tuntas secara interaktif (tiap hari pukul 07.15); JARITA NTODEA, masalah aktual yang menjadi pembicaraan di masyarakat (tiap hari pukul 10.15; MPL (Musik Pelepas Lelah), sapaan ringan sahabat Pro 3 (tiap hari pukul 13.15); Dialog Interaktif-Sumber Informasi dari berbagai dinas/instansi dan Pemda Sulawesi Tengah (tiap hari pukul 17.00); MOZAIK, Ceramah Agama/Penyejuk Kalbu (tiap hari pukul 18.20).BINGKAI NOSTALGIA, tembang lama mengungkap kenangan masa lalu langsung dari pendengar sahabat Pro 3 pukul 21.45.  (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Muda  Pontianak - Lembaga penyiaran publik dengan status cabang muda ini resmi mengudara sebagai media komunikasi nasional sejak penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada bangsa Indonesia. Saat itu Jawatan RRI segera memikirkan siaran-siaran radio di dua tempat yaitu Banjarmasin dan Pontianak.
Tindakan pertama dilakukan saat itu (Februari 1950) adalah mengambil alih siaran bekas milik Belanda di Pontianak. RRI Pontianak pada waktu itu berkantor di Jalan Karirnata No. 60, sedangkan penyiaran di Jalan Radio (Jalan Teuku Umar sekarang). Siaran mengudara pada gelombang 127,7 meter atau frekuensi 2350 Khz.
Pada bulan Mei 1951 Radio Pontianak diresmikan menjadi Radio Republik Indonesia dan pindah ke alamat yang baru di Jalan Perwira No. 7 (Jalan Jenderal Sudirman sekarang), menempati bangunan bekas perumahan Syahbandar Belanda yang terbuat dari kayu, sementara lokasi pernancar di Jalan Maluku. Jumlah pegawai RRI Pontianak sampai dengan tahun 1953 berjumlah 22 orang.
Pada masa konfrontasi dengan Malaysia, RRI Pontianak sebagai stasiun RRI yang berbatasan dengan Malaysia (Sarawak) menjadi ujung tombak dengan meng-counter siaran dari Malaysia. Dalam rangka itu pemancar RRI Pontianak diangkut dan ditempatkan di Balaikarangan (Kabupaten Sanggau). Tenaga-tenaga RRI yang aktif dalam konfrontasi itu antara lain IMP Tantrawan, BA (Kepala Stasiun RRI Pontianak periode 1963-1967), Abdul Rani (Teknik), Suparmin, M. Said Japri, Sujanto, Ismail Toman dan Anis Truli. Kepala Stasiun RRI Pontianak pada waktu itu diangkat oleh Panglima Daerah Pertahanan Militer.
Siaran RRI Pontianak di perbatasan (Balaikarangan) diudarakan melalui pemancar PTT 2,5 watt pada gelombang 2,5 meter, antara pukul 09.00-18.00 WIB, dan menggunakan diesel 1 PK. Sdangkan peralatan studio berupa turne table-piringan hitam, landshieke (mixer), tape recorder untuk rekam dan play back, dan radio 2 band merek Ralin. Antene pemancar dinaikkan setengah jam sebelum mengudara untuk menghindari pengintaian yang dilakukan pesawat-pesawat Malaysia.
Dalam operasi penumpasan PGRS/Paraku, RRI Pontianak  mendirikan studio mini untuk menyelenggarakan siaran dan memberikan informasi/penerangan kepada masyarakat tentang PGRS/Paraku dan meng-counter isu-isu yang tidak benar mengenai Negara Indonesia. Tugas itu banyak dibantu oleh Bupati Sambas, Firdaus dan Dandim Mayor Nurdin. Peralatan siaran dibantu pemancar 150 watt dari PHB dan peralatan studio sederhana. Peralatan siaran itulah yang menjadi cikal bakal Radio Pemerintah Daerah Singkawang. Hal yang sama dilakukan juga di Ketapang dengan menugaskan Sdr. Diran, semula didukung pemancar SW 100 watt milik PHB, kemudian ditingkatkan menjadi 250 wattAM.
Penyelenggaran siaran RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik sudah menjadi ciri tersendiri dalam merealisasikan penyebarluasan berita/informasi, penerangan/pendidikan, kebudayaan dan hiburan kepada masyarakat, patut dicatat harus mampu menyejukkan masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya, untuk memberikan keseimbangan, hampir semua etnis yang berada di Kalimantan Barat diberi ruang yang memadai untuk mengisi siaran, seperti Budaya Khatulistiwa, Minang Berdendang, Lambaian Ulos, Tadak Sambas, Dendang Pasundan, Karaoke Mandarin, Irama Melayu, Dangdut Ria dan lain-lain.
Dalam rangka pemilihan gubernur, RRI Pontianak sudah berperan sejak penyaringan calon dengan memberi kesempatan kepada setiap calon untuk menyampaikan visi dan misinya, yang disiarkan secara langsung oleh RRI Pontianak dari Gedung DPRD Kalimantan Barat, hingga seluruh rangkaian pemilihan gubernur/wagub berakhir. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Pratama Purwokerto - Pertama kali mengudara pada tanggal  11 September 1945. Bagi masyarakat Purwokerto khususnya, masyarakat eks Karesidenan Banyumas umumnya, siaran radio ini sudah akrab di telinga mereka sejak Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Di kota Purwokerto sendiri sebelumnya sudah ada studio siaran radio yang diselenggrakan oleh pemerintah kolonial Jepang yang disebut Purwokerto Hosokyoku, yang tujuan penyiarannya sepenuhnya dalamupaya mempropagandakan kepentingan mereka di tanah jajahannya. radio ini mengudara pagi hari pukul 06.00 hingga 08.00, siang pukul 12.00 hingga 14.00 dan petang pukul 17.00,- 23.00 atau 24.00 WIB.
Sesaat setelah berlangsungnya penyerahan kekuasaan dari pihak Jepang kepada Pemerintah RI, Hosokyoku Purwokerto diambil alih dan diresmikan menjadi Radio Banyumas. RRI Banyumas sekarang mengudara dalam tiga programa. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Madya Semarang -   Mengudara dari Jalan Jend. A. Yani No. 144 - 146 Semarang, dengan tiga programa yakni PRO 1 melalui gelombang FM 89 MHz - 97,75 MHz, dan MW 801 KHz; PRO 2 melalui gelombang FM 95,3 MHz, dan PRO 3 melalui FM 90,4 MHz. Acara-acara unggulannya antara lain CAMPURSARI yaitu sajian lagu-lagu langgam Jawa dengan iringan campursari disertai parikan-parikan/pantun Jawa dan bingkisan pendengar, PRO 1  mengudara setiap hari pukul 11.00 - 13.00 WIB.
Acara lainnya adalah SOLUSI yang dapat dinikmati melalui PRO 1 dan PRO 3 dengan format dialog interaktif. Pendengar dapat mengikuti acara yang mengupas berbagai permasalahan aktual ini, menampung aspirasi dan mencari solusi terbaik atas permasalahan yang ada. Acara ini mengudara  setiap Kamis pukul 16.00 - 17.00 WIB.
Setiap hariMinggu pukul 05.00 - 05.35 WIB dan pukul 19.30 - 20.00 WIB, PRO 1 dengan setia menemani Anda dalam acara Simpedes Kidung Karyo yang mengetengahkan pembahasan atau mengupas tentang budaya, istiadat dan kesenian di Jawa Tengah oleh individu maupun profesi budaya dalam bentuk pemaparan maupun apresiasi.
Melalui PRO 1 dan PRO 3, pendengar juga dimanjakan dengan acara SPECIAL EVENT  yakni sebuah acara yang dikemas dalam bentuk laporan langsung dari lapangan tempat peristiwa terjadi seperti siaran langsung sepak bola, info Idul Fitri, info Haji dan sebagainya. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI/dwj).


Radio Republik Indonesia Cabang Pratama Sibolga -Lembaga penyiaran publik dengan status cabang pratama ini secara resmi berdiri pada tahun 1956 dengan dibangunnya sebuah gedung kantor dan studio yang sekarang terletak di Jalan Ade Irma Suryani No.11 Sibolga.
RRI Sibolga sebagai salah satu media penyiaran milik publik terus berupaya meningkatkan mutu dan kualitas siaran, baik on air maupun off air. Dengan power dan jangkauan siaran yang lebih luas RRI Sibolga menyajikan programa siaran yang sesuai dengan kebutuhan khalayak.
Sajian-sajian acara dikemas sesuai selera dan keinginan pendengar, misalnya dengan menghadirkan acara yang bernuansa etnis setiap malam. Acara ini dikemas dalam bentuk yang variatif dengan mengajak pendengar untuk berpartisipasi melalui jalur telepon. Di bidang olahraga RRI Sibolga juga menyiarkan langsung berbagai liputan antara lain laporan kegiatan sepak bola, takraw, motocross dll.
Acara - acara yang menjadi unggulan RRI Sibolga antara lain Kombur Tak Sudah (Melayu) yang disiarkan setiap hari Minggu pukul 20.30 s/d 22.00 melalui Programa 1, Martandang Borngin (Batak) disiarkan setiap hari Senin pukul 20.30 s/d 22.00 melalui Programa 1, Pesisir Kampung Halaman (Pesisir) disiarkan setiap hari Selasa pukul 20.30 s/d 22.00 melalui Programa 1, Ya'ahowu Banuada Fefu (Nias) disiarkan setiap hari Rabu pukul 20.30 s/d 22.00 melalui Programa 1, Marpio Lungun (Mandailing) disiarkan setiap hari Kamis pukul 20.30 s/d 22.00 melalui Programa 1, Minang Maimbao (Minang) disiarkan setiap hari Jum'at pukul 20.30 s/d 22.00 melalui Programa 1, Gayengan Campur Sari (Jawa) disiarkan setiap hari Sabtu pukul 20.30 s/d 22.00 melalui Programa 1, Warung Dangdut disiarkan setiap hari pukul 15.15 s/d 17.00 melalui Programa 1, Fans Request disiarkan setiap hari pukul 16.00 s/d 17.00 melalui Programa 2, Hallo Pro.2 disiarkan setiap hari pukul 10.10 s/d 11.00 melalui Programa 2, Bingkisan Hari Bahagia disiarkan setiap hari pukul 08.00 s/d 09.00 melalui Programa 2, Break Time disiarkan setiap hari pukul 12.00 s/d 13.00 melalui Programa 2.
Selain itu RRI Sibolga juga menggalang kerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah dalam menyelenggarakan Dialog lnteraktif “Tapanuli Tengah Membangun”, dengan menghadirkan narasumber dari seluruh Dinas yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Selain sebagai media hiburan dan informasi, keberadaan RRI Sibolga saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sibolga dan Tapanuli Tengah. Khusus setiap memasuki bulan Ramadhan masyarakat selalu meminta agar aula RRI Sibolga dapat digunakan sebagai tempat Sholat Tarawih berjamaah dan disiarkan secara langsung melalui Programa 1 yang mengudara pada gelombang FM 97,20 dan AM 1044 Khz.
Liputan-liputan yang bersifat keagamaan senantiasa menjadi prioritas RRI Sibolga seperti siaran langsung Sholat Jum'at dan Musabaqoh Tilawatil Qur'an, termasuk siaran langsung Kebaktian dari gereja-gereja.
Kini dengan kekuatan dan jangkauan siaran yang meliputi kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Utara, dan sebagian kota Pakpak Dairi, bahkan sebagian daerah pesisir Sumatera Barat.
Untuk meningkatkan kualitas SDM dalam mendukung dan memantapkan siarannya RRI Sibolga juga dilaksanakan studi banding ke RRI Palembang dalam rangka pertukaran informasi tentang keberadaan RRI sebagai lembaga penyiaran publik.
RRI Sibolga mengudara melalui Programa 1 melalui gelombang FM 97,20 Mhz (5 KW), dan AM 1044 Khz (10 KW); Programa 2 melalui  gelombang FM 94,80 Mhz (5 KW), dan Programa 3 melalui FM 103,10 Mhz (3 KW) - Relay Pro-3 Jakarta
Program berita/informasi yang disiarkan setiap hari antara lain Berita Daerah yang disiarkan setiap pukul 06.30 WIB melalui Pro-1, Berita Kampung Kito disiarkan setiap pukul 10.00 WIB melalui Pro-2, Lintas Sibolga/Tapanuli disiarkan setiap pukul 14.30 WIB melalui Pro-1, Analisa disiarkan setiap pukul 17.30 WIB melalui Pro-1, Berita Bahasa batak disiarkan setiap pukul 22.30 WIB melalui Pro-1. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Muda Sorong - Lembaga siaran radio pemerintah ini resmi mengudara untuk pertama kalinya pada tanggal 1 Mei 1963. Meskipun demikian, tiga tahun sebelumnya di Sorong sudah terdapat stasiun radio bernama Radio Omroep Nieuw Guinea (RONG) dengan status regional, yang diasuh hanya oleh empat orang yaitu Van Velsen (pemimpin), Theo Arfayan, Dolfinus Rombino, dan Ali Bauw.
Siaran diselenggarakan dalam bahasa Melayu (Indonesia) dan bahasa Belanda. Materi siaran berupa hiburan musik dan informasi, baik yang diproduksi sendiri oleh RONG Sorong maupun relay dari stasiun RONG Biak. Ada kalanya materi siaran dikirim langsung dari RONG Biak, yang sejak tahun 1955 berperan sebagai pusat penyiaran radio Pemerintah Belanda di Nieuw Guinea.
Pada masa konfrontasi dengan Belanda RONG Sorong dilibatkan secara aktif sebagai media untuk melawan isi siaran RONG Biak. Materi siarannya merelay dari radio-radio siaran perjuangan pembebasan Irian Barat yang terdapat diluar bumi Irian Barat seperti stasiun RRI Ambon, Ternate, dan radio perjuangan di Tual.
Pada pertengahan tahun 1962 Van Velsen harus meninggalkan posnya, menyusul adanya persetujuan New York tentang penyerahan Irian Barat kepada Pemerintah Republik Indonesia. Sejak saat itu pengelolaan RONG Sorong dikendalikan oleh tenaga-tenaga setempat.
Menjelang akhir tahun 1962, tenaga RRI yang diikutsertakan dalam tim Republik Indonesia mulai berdatangan. Mereka membina kerjasama dengan tenaga-tenaga setempat sekaligus mempersiapkan perubahan stasiun call RONG Sorong. Nama RONG diganti dan disesuaikan dengan kesepakatan yang dicapai Pemerintah Indonesia, Pemerintah Belanda dan Pemerintahan Sementara PBB (UNTEA).
Tanggal 1 Mei 1963 stasiun call RONG Sorong resmi diganti menjadi RRI Sorong, menyusul pengalihan kekuasaan dari UNTEA kepada Pemerintah RI. Karena pengalihan itu pula seluruh asset yang tersedia, baik sumber daya manusia maupun piranti keras, dialihkan kepemilikannya kepada Pemerintah RI c.q RRI.
Tiga bulan kemudian, tepatnya tanggal 23 Juli 1963, fasilitas siaran RRI Sorong diperkuat dengan tambahan sarana transmisi pemancar yang didatangkan dari Ternate, yang berkekuatan 10 KW. Sebelumnya sarana tranmisi yang dimiliki RRI Sorong hanya berkekuatan 500 Watt. Pemancar tersebut dibawa ke Sorong dengan KRI Tarewo atas perintah Jenderal A.Yani. Turut mendampingi pengiriman sarana transmisi tersebut adalah Theo Arfayan, Fajar Madraji, BA, dan Sudarsono.
Pengembangan sarana, prasarana, personil materi siaran maupun struktur organisasi serta kebijakan siaran terutama dilakukan setelah 1969. Pada Repelita II misalnya, RRI Sorong melakukan rehabilitasi gedung studio serta melengkapi sarana pemancar MW berkekuatan 10 KW yang dibangun di atas tanah seluas 10 hektar, di Tanjung Kasuari.
RRI Sorong saat ini memiliki 11 unit pemancar terdiri dari yakni 5 pemancar masing-masing pemancar FM merk NEC  berkekuatan 100 Watt pada frekuensi 96,10 MHz, merk RVR berkekuatan 100 Watt pada frekuensi 95,10 MHz, merk Harris Austraslia berkekuatan 2000Watt pada frekuensi 96,30 KHz, merk RVR berkekuatan 3000 Watt pada frekuensi 1000 KHz, dan merk Jupiter yang berkekuatan 5000 Watt pada frekuensi 102 KHz.
Selain itu juga memiliki pemancar MW merk Omni pada frekuensi 909 KHz, merk Omni 1000 Tronix berkekuatan 5000 Watt pada frekuensi 909 MHz, dan merk NEC berkekuatan 1.000 Watt pada frekuensi 909 MHz. Pemancar SW merk Gates yang berkekuatan 10.000 Watt pada frekuensi 4875 KHz, merk Harris berkekuatan 10.000 Watt pada frekuensi 4875 KHz, dan merk Elcor berkekuatan 1000 Watt pada frekuensi 9745 KHz.
Lembaga siaran radio pemerintah ini beberapa kali mengalami pergantian pimpinan. Dalam catatan sejarahnya lembaga siaran ini pernah dipimpin oleh Fajar Madraji, BA (1963-1967), F.P. Likurnahwa (1967-1974), Ahmad J.S., BA (1974-1981), A.F.C. Usmany (1981-1984), Ricky D Wader (1984-1992), Salomo Hamid (1984-1982), Muchtar Yushputra, SH,BA (1992-1997), Umar SoIle (1997-2000), Rusdiman Saragi, SE (2000-2005), dan H.R. Djarot SE (2005-2007).  (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Pratama Sumenep - Perjuangan untuk mendirikan stasiun RRI di Sumenep mulai terdengar tahun 1950-an. Tokoh-tokoh masyarakat Madura melalui DPRDS Sumenep menyalurkan aspirasi masyarakat dengan dikeluarkannya sebuah resolusi dalam sidang tanggal 1 Juli 1954. Resolusi tersebut mendesak Kementerian Penerangan dan RRI Pusat segera menyetujui berdirinya studio lokal RRI Madura di Sumenep.
Menyusul ditetapkannya resolusi DPRDS  kemudian dibentuk delegasi untuk menghadap Menteri Penerangan di Jakarta. Delegasi itu terdiri dari: Ketua RH Sastro Negoro, Wakil Eksekutif  Singoning Ayudo dan Anggota R. Suyuti. Delegasi tiga orang ini diterima Sekjen Kemententerian Penerangan di Jakarta yang juga dihadiri Drs. Sumadi dari Direktorat Jenderal Radio. Pembicaraan menghasilkan kesepakatan bahwa pemerintah pusat akan melakukan peninjauan ke Sumenep. Suatu panitia pendirian RRI lokal Madura kemudian mendapat kesempatan bertemu Menteri Penerangan, Sudibjo ketika berkunjung ke Madura.
Berbagai persiapan sesuai kesepakatan dilakukan, seperti penyediaan alat pemancar, alat studio dan gedung kantor di Jalan Urip Sumoharjo. Yakni Gedung Asisten Residen yang dibangun tahun 1864 yang lebih dikenal kemudian dengan sebutan “KAPETORAN” sesuai dengan nama Sang Asisten, yang kemudian dikenal sebagai Asrama Puteri SGB hingga tahun 1956 ketika sebagian gedung ditempati studio RRI Sumenep. Dalam masa persiapan tahun 1956 itu ditunjuk sebagai Kepala Stasiun (Kepsta) adalah Supeno, Kepala Bagian TU adalah Yoso Prawiro, Kepala Bagian Siaran Hariyanto dan Kepala Bagian Teknik Abd. Rajak. Seluruh pegawai saat itu 17 orang.
Perjuangan panjang tokoh masyarakat melalui DPRDS Sumenep membuahkan hasil dan mencapai klimaks saat pertama kali dikumandangkan kalimat “INILAH RADIO REPUBLIK INDONESIA SUMENEP” dari Jalan Urip Sumoharjo (dulu Jalan Kalianget) pada tanggal 5 Oktober 1956 bertepatan dengan Hari Angkatan Bersenjata RI. Suara penyiar pertama dari Hadi Sudibjo (almarhum) dengan operator studio M. Saleh Haris. Masa itu merupakan masa uji coba RRI Sumenep. Panitia pendirian RRI yang beraudiensi dengan Menteri Penerangan itu terdiri dari: Ketua R. Abdurrahman (Ketua DPRDS), Anggota R. Sami'oedin (Wakil Ketua Sekretaris), R. Abd. Karim Dipasastro Pati, Asmawi (Wakil Kepala Jawatan Penerangan), RB Abd. Gaffar (Anggota DPRDS), Moh. Rais (Ketua Organisasi Sinar Sumekar), dan RA Sujiningrat (Perwakilan Jawatan Kebudayaan).
Audiensi dengan Menteri Penerangan berlangsung di kantor Keresidenan Madura di Pamekasan. Panitia meminta ketegasan pemerintah pusat terhadap apa yang disampaikan delegasi ke Jakarta sebelumnya. Ada yang menarik dari pembicaraan itu, sebab sempat muncul gagasan lokasi pendirian RRI bukan di Sumenep. Namun akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa RRI lokal Madura didirikan di Sumenep, dengan berbagai argumentasi dari panitia pendirian RRI lokal Madura. Menteri Penerangan saat itu menyetujui RRI lokal Madura berlokasi di Sumenep, dan pelaksanaan pendiriannya diserahkan kepada Dirjen Radio dan Kepala Jawatan Penerangan Jawa Timur. Dirjen Radio R. Maladimenyepakati menyediakan peralatan pemancar, studio dan pegawai, sedangkan kebutuhan lain menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Secara resmi RRI Sumenep berdiri pada tanggal 5 Juli 1957. Peresmian dilakukan oleh Menteri Penerangan RI, Sudibjo.
Pada awal siarannya RRI Sumenep menggunakan seperangkat peralatan teknik berupa studio consule bermerek Gate buatan tahun 1940 dan pemancar RCA berkekuatan 250 watt, bekas peralatan teknik RRI Surabaya pada masa mempertahankan kemerdekaan. Dengan alat ini pancaran siaran RRI Sumenep dapat dinikmati oleh pendengarnya melalui gelombang SW 120 meter.
Berikutnya RRI Sumenep mendapat bantuan pemerintah pusat lewat Program Colombo Plan 1961 berupa renovasi peralatan studio consule bermerek Gates dan pemancar 1 KW type 1619 TCA. Sejak itu RRI Sumenep dapat menjangkau lebih luas melalui gelombang SW 89,41 meter.
Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi komunikasi radio tahun 1976 RRI Sumenep mendapat bantuan lunak Pemerintah Perancis, consule dan pemancar MW merek Harris kekuatan 10 Kw gelombang 273 meter.
Pada tahun 1989 terjadi peristiwa kebakaran gedung dan studio RRI Sumenep pada pukul 23.00 WIB. Seluruh bangunan studio dan perkantoran tingggal puing-puing saja.  Namun musibah yang terjadi Senin 5 Maret 1989 itu tidak pernah memupuskan semangat, karena 30 menit setelah api padam tepatnya pukul 03.30 WIB RRI Sumenep mengudara kembali kendati dengan peralatan sederhana dan menggunakan motor diesel sebagai pembangkit.
Dalam kurun waktu 5 tahun puing-puing gedung lama seakan menjelma menjadi sebuah bangunan yang lebih megah, kokoh dan indah. Pembangunannya kembali menggunakan dana APBN dari DIP 1990/1991 tahap I hingga 1995/1996. Sedangkan peningkatan sarana teknik dan studio pemancar antara lain mendapat satu unit mobil siaran luar lengkap dengan peralatan teknik rekaman (1990), subsidi daerah bawahan (SDB) Pemda Tk. II Sumenep.
Tahun 1990 RRI Sumenep mendapat bantuan lunak dari Pemerintah Austria berupa 2 unit studio consule merek Siemen, 1 unit peralatan editing musik, 1 unit peralatan news room, MCR, dan UTS, seperangkat transmitter, serta 1 unit mobil Siaran Luar  (OB Van).
Pada tahun yang sama RRIU Sumenep juga mendapat bantuan lunak dari Pemerintah Jepang berupa pemancar 2 Kilowatt merek NEC, mesin pembangkit listrik (Genset) 100 KVA. Karena itu siaran RRI Sumenep dapat terdengar lebih mantap melalui pemancar MW dan FM Stereo. Didukung peningkatan sumber daya manusia lewat program pendidikan dan latihan profesi, siaran RRI Sumenep dapat memikat hati khalayak pendengarnya bukan saja masyarakat Madura dan kepulauannya, tetapi juga masyarakat pendengar di pesisir utara Jawa Timur dan beberapa daerah lain di luar Jawa. Sejak berdiri hingga kini pemancar yang digunakan adalah: pemancar MW 10Kw, 2 Kw dan 10 Kw, pemancar FM D 1 unit FM5 Kw (98,5 Mhz), 1 unit FM5 Kw (93 Mhz), 1 unit FM5 Kw (101,3 Mhz), 1 unit FM5 Kw (101,3 Mhz), dan 1 unit OB VAN 100 W (105 Mhz).
Dengan mengikuti perkembangan masyarakat sampai saat ini RRI Sumenep mengudara dengan tiga Programa yaitu Informasi, Budaya, Hiburan serta Pendidikan.  (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Muda Sungailiat - Perjan RRI Cabang Muda Sungailiat sebelumnya adalah Stasiun RRI Regional II Sungailiat yang merupakan kelanjutan dari RRI Persiapan Pangkalpinang (1969) yang berlokasi di Jalan RRI Pangkalpinang, tepatnya di Gedung Nasional. Tahun 1979, lokasi studio RRI Persiapan Pangkalpinang mengalami musibah kebanjiran mengakibatkan peralatan banyak rusak, sehingga tidak beroperasi lagi. Pada saat RRI akan didirikan kembali, ternyata Pemda Pangkalpinang tidak dapat menyediakan lahan untuk lokasi RRI, namun kemudian Pemda Kab. Bangka berminat menyediakan lahan di Sungailiat.
Setelah memperhatikan Surat Bupati Bangka kepada Dirjen RTF tanggal 24 November 1990 dan memperhatikan hasil pertemuan Direktur Radio tanggal 26 November 1990 di Jakarta, maka Dirjen RTF cq. Direktur Radio (Arsyad Subik) menetapkan dipandang perlu untuk mempersiapkan pembangunan RRI sebagai media informasi pemerintah dan masyarakat. Melalui CP Direktur Radio tanggal 27 November 1990, Direktur Radio memerintahkan Kepala RRI Palembang untuk mempersiapkan segala kelengkapan peralatan untuk pendirian RRI Sungailiat.
Setelah melalui survei oleh staf Dirjen RTF dan staf RRI Palembang, maka Pemda Kab. Bangka menyiapkan fasilitas yang diperlukan dan untuk sementara gedung studio RRI Persiapan dan pemancarnya ditempatkan di gedung milik Pemda Kab. Bangka di Jalan Cokroaminoto No. 13 Sungailiat. Selanjutnya Pemda Kab. Bangka menyediakan tanah pekarangan untuk pembangunan gedung studio RRI di Jalan A.Yani Jalur 2 Sungailiat seluas 2 ha dan untuk lokasi pemancar di Desa Kimak Kecamatan Merawang seluas 10 ha. Tahun 1992 pembangunan fisik gedung studio RRI Sungailiat dimulai secara bertahap melalui dana APBN dan Proyek Pusat berupa loan dan dana rutin. Tahun 1994 RRI Regional II Sungailiat secara resmi berdiri melalui SK Menpen No: 174/Menpen/1994 tanggal 5 September 1994 tentang Organisasi dan Tata Kerja Stasiun RRI Lhokseumawe, Stasiun RRI Sungailiat dan Stasiun RRI Tual.
Sejalan dengan telah berdirinya Provinsi Kep. Bangka Belitung dan berubahnya status RRI menjadi Perjan (PP 37 tahun 2000, tanggal 7 Juni tentang Pendirian Perusahaan Jawatan RRI), maka kemudian tahun 2001 RRI Regional II Sungailiat berubah menjadi Perjan RRI Cabang Muda Sungailiat mengacu pada Kep. Dirut No. 07/Kep-Dirut/2001, tanggal 20 April 2001, tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Perusahaan Jawatan Radio Republik Indonesia. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Madya Surabaya - RRI Surabaya adalah instansi yang pertama kali melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang dan mulai memperkenalkan diri sebagai RRI Surabaya pada tanggal 27 September 1945, melalui gelombang 92, 116 dan 150 meter, bersamaan dengan penyerahan kekuasaan dari pemerintah Jepang menyusul kekalahan mereka dari pihak Sekutu. Tetapi peresmiannya sendiri baru dilakukan pada 1 Oktober 1945 yang ditandai dengan menyiarkan pidato Gubernur Surabaya saat itu dan Bung Tomo.
Bung Tomo selaku pemimpin “Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia” diberi kesempatan untuk berpidato dimuka corong RRI Surabaya. Dan mulailah rakyat mengenal siaran “Radio Pemberontakan” dengan Bung Tomonya. Cara penyelenggaraan siaran diatur demikian rupa sehingga seolah-olah RRI Surabaya merelay dari pemancar “Radio Pemberontakan”. Hal ini dilakukan karena pemancar radio pemberontakan sendiri belum selesai dan menurut siasat perjuangan yang ditentukan pemerintah waktu itu harus ada pemisahan tegas antara radio resmi dan “Radio Pemberontakan Rakyat”.
Untuk melayani kepentingan perjuangan RRI menempatkan sebuah amplifier di markas besar tersebut berserta 4 karyawannya selaku penghubung. Ternyata usaha ini berfaedah sekali ketika menghadapi tentara Inggris. Tanggal 28 Oktober 1945 RRI Surabaya menjadi sasaran siasat tentara Inggris, dan sekitar pukul 14.15 sebanyak 35 tentara Gurkha menduduki studio di Simpang. Meskipun begitu siaran RRI Surabaya tidak terhenti. Siaran sore pada hari itu mulai diselenggarakan dari Embong Malang.
Pada tanggal 9 Nopember 1945 pada kira-kira pukul 12.15 beberapa pesawat terbang Inggris menyebarkan pamflet-pamflet yang berisi ancaman agar menyerahkan Kepala Studio Radio Surabaya. Batas waktu yang diberikan hanya sampai keesokan harinya pukul 06.00 pagi. Namun rakyat Surabaya dengan tegas menolaknya dan siap menerima konsekuensi yang harus mereka hadapi.
Tanggal 10 Nopember 1945 pukul 09.30 segenap tentara lnggris, di darat, laut dan udara mulai digerakkan, dengan menembakkan meriam-meriam mereka sehingga menimbulkan banyak korban. Pesawat-pesawat mulai mengitari dan  mengintai gedung radio di Embong Malang. Peluru-peluru meriam kapal mulai juga berjatuhan di halaman muka dan samping gedung pemancar.
Karena dianggap membahayakan maka pada tanggal 17 Nopember dilakukan pemindahan alat-alat penting dari Embong Malang ke Mojokerto. Meskipun demikian siaran masih tetap bisa diselenggarakan dari Embong Malang dengan menggunakan alat-alat seadanya dan mudah disingkirkan bilamana sewaktu-waktu musuh datang.
Pemancar yang digunakan adalah pemancar RCA di Petemon yang dihubungkan  dengan pemncar di Embong Malang. Karyawan yang menanganinya pun hanya  4 orang.  Sementara yang lain ditugaskan di Petemon,  guna bersiap seandainya Embong Malang jatuh.
Pada tanggal 23 Nopember seluruh pejuang mundur ke pedalaman Mojokerto. Pemancar RCA yang ada di Petemon diangkut.
Kini, setelah lebih dari 50 tahun perjalanannya, RRI Surabaya mengalami kemajuan yang tidak sedikit. Dalam lima tahun terakhir, RRI Surabaya mengalami lompatan yang cukup menggembiraka,.Posisinya sebagai perusahaan jawatan mendorong dilakukannya poembenahan di semua bidang.
Sebagai salah satu motor penggerak siaran, divisi pemberitaan harus mampu memacu diri agar memberi pelayanan secara optimal kepada pendengarnya, antara lain dengan menyusun acara sedekat mungkin dengan kebutuhan pendengarnya.
Aspirasi, acara yang disiarkan setiap Senin s/d Sabtu pukul 08.00-09.00 WIB, disajikan dalam bentuk dialog dengan pakar/pelaku dan Sharing by Telephone; Wawancara/Topik pagi, disiarkan setiap Senin s/d Sabtu pukul 06.30 dan 07.30 WIB, bentuk dialogis (by telephone) durasi 30 menit; Komentar/Ulasan, disiarkan setiap Senin s/d Minggu pukul 16.00 WIB dengan durasi 5 menit (rekaman ); Info Frima, disiarkan setiap hari mulai pukul 16.00-17.00 WIB (60 menit) dengan format penggabungan dalam bentuk Straight News + ROS + Wawancara + Voice Report + Editorial (Komentar & Ulasan); Profile, disiarkan setiap hari Minggu di kuadran Info Prima dalam format feature menampilkan profit sosok tokoh terpandang dengan durasi 15 - 20 menit
Info Selintas, pola siar Breaking News disiarkan 3 kali (setiap siar 2 item info terkini sifatnya nasional); Info Bisnis & Perbankan, disiarkan secara lepas 8 item (diselingi lagu setiap 2 item); Info Olahraga & Kesehatan, disiarkan secara lepas 8 item (diselingi lagu setiap 2 item); Report on the Spot (ROS) tentang peristiwa aktual oleh sie Reportase & Sie Aktual pada jam-jam yang sudah ditentukan setiap harinya; Parlementaria, disiarkan setiap hari Sabtu dalam kuadran Info Prima dengan durasi 15 - 20 menit.
Wawancara Topik Pagi diudarakan pukul 06.30 dan 07.30 WIB masing-masing selama 30 menit di Programa 3. Acara ini mengupas berbagai permasalahan aktual yang muncul di tengah masyarakat dengan menggandeng pakar dari perguruan tinggi, unsur pemerintahan, legislatif maupun praktisi guna mendapatkan komentar atau tanggapan serta solusi yang sederhana dalam masalah sosial politik, ekonomi, keamanan dan HAM serta kriminal dan seni budaya.
INFO PRIMA, merupakan buletin informasi dan berita yang diformat dalam masa putar 60 menit, mencakup paket straight news.
Selain memiliki acara-acara unggulan pemberitaan RRI Surabaya juga menyajikan acara-acara hiburan unggulan yang disuguhkan baik melalui programa acara PRO 1 (FM 99,15 MHz dan MW 585 KHz), PRO 2 (FM 95,3 MHz), dan PRO 3 (FM 89,7 MHz). yang dipancarkan dari Jalan Pemuda No. 82 - 90 Surabaya.
Setiap hari, pukul 0 5.30 - 06.00 dan pukul 16.00 - 16.30 WIB melalui PRO 1, pendengar dapat menikmati acara Info Prima untuk mengikuti ekspose berita yang menjadi isu sentral hari ini, digarap secara mendalam oleh redaktur berpengalaman yang mengetengahkan format report on the spot dan interview serta insert-insert narasumber pilihan.
Live Cafe di studio dengan konfigurasi ruangan seperti Cafe hangat dengan sentuhan keyboard dan tiupan Saxophone mengiringi penyanyi di studio, yang dapat melibatkan pendengar secara langsung untuk berinteraktif sambil bernyanyi melalui pesawat telepon, setiap hari Sabtu pukul 14.00 - 16.00 WIB melalui PRO 1.
Sedangkan tradisional parade, program spesial yang di gelar 6 jam setiap hari melalui programa 1 mulai dari wayang kulit, ludruk, campursari sampai ke mocopat merupakan primadona ethnic on air yang dipilih khusus bagi pecinta seni tradisional. RRI Surabaya identik dengan kesenian ludruk. Hal ini bisa dirasakan apabila  menyebut RRI Surabaya maka yang terbayang pasti tokoh ludruk yang terkenal saat itu. Ludruk RRI Surabaya dibentuk tahun 1959, dipicu oleh besarnya  perhatian masyarakat terhadap kesenian tradisional ini. Ludruk memang sangat digemari terutama oleh masyarakat Surabaya. Tokoh ludruk studio RRI Surabaya yang terkenal pada tahun 60-an antara lain  Mat Said, Dul Dasi, Kadir Asmoro, Jono, Nurali, dan Umi Kalsum.  (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Muda  Surakarta - oleh sebagian besar orang RRI Surakarta dianggap sebagai cikal bakal lahirnya stasiun-stasiun radio di Indonesia. Berawal dari kegemaran Sri Paduka Mangkunegoro VII menikmati alunan gending-gending Jawa, tanggal 1 April 1933, atas perintahnya lahir Solose Radio Vereniging (SRV). Meskipun peralatan dan pemancarnya sangat sederhana, sajian gending-gending Jawa dan Ketoprak yang diudarakannya sangat diminati, bahkan mampu menggelorakan semangat perjuangan.
Langkah awal ini kemudian mengilhami para pemikir, peminat seni serta pejuang untuk membentuk perkumpulan penyiaran radio seperti di Semarang, Yogyakarta, Purwokerto. di Sala sendiri berdiri perkumpulan Siaran Radio Indonesia (SRI) yang diasuh Pangeran Surjo Hamidjojo, dkk.
Karena penggemarnya semakin banyak  SRV membangun gedung megah di atas tanah seluas 5000 m2, pemberian Sri Paduka Mangkunegoro, yang terletak di Jalan Marconi (sekarang Jalan Abdul Rahman Saleh No. 51, gedung RRI Surakarta sekarang). Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan tanggal 15 September 1935 dan peresmian penggunaannya tanggal 25 Agustus 1936.
Berkat sajian SRV, kelompok-kelompok seni kerawitan makin berkembang. Namun ketika Belanda kembali ke Sala  12 Maret 1942, dan membumihanguskan obyek-obyek penting tak terkecuali pemancar dan alat-alat SRV.
Tetapi berkat usaha keras para penyelenggara teknik, SRV dapat menyelamatkan pemancar seberat 2 ton dengan cara membawanya ke Desa Mbalong Matesih Karanganyar, sekitar 20 km kearah timur kota Sala. Untuk mengenang peristiwa ini pada tahun 1988 dibangun sebuah monumen, yang setiap tahun menjadi agenda kunjungan sebagai salah satu kegiatan memperingati hari radio.
Akhir tahun 1942, ketika Jepang masih berkuasa, SRV kembali mengudara di bawah pimpinan R. Maladi, dengan gending Puspowarno sebagai pembuka dan Ayak-ayakan Kaloran sebagai penutup.
Hubungan dengan radio lain pun dipererat, dan melakukan pertemuan rutin tiap bulan guna kemajuan siaran. Namun langkah inilah menimbulkan  kecurigaan dari pimpinan Hoso Kyoku Kankri, dan meminta Maladi untuk mempertanggungjawabkan siarannya. Alasan tepat yang disampaikan Maladi membuka peluang bagi SRV untuk terus mengudara, bahkan dengan jangkauan lebih luas.
SRV sempat tidak mengudara ketika Jepang menunjukkan tanda-tanda kalah dari Sekutu, dan mengudara kembali pada tanggal 11 September 1945. Bersamaan dengan itu di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Surabaya dan Semarang lahir stasiun-stasiun radio. Tanggal 1 Oktober 1945 Jepang dengan resmi menyerahkan segala pengelolaan atas radio milik mereka kepada Maladi.
Kini RRI Surakarta mampu menjangkau  7 wilayah yakni Kota Sala, Kabupaten Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Boyolali, dan Klaten. Peran RRI Surakarta sebagai lembaga penyiaran publik tetap harus berada pada prinsip menjangkau, mendidik dan merefleksikan selera serta minat seluruh masyarakat termasuk peran-peran yang tidak dapat dijalankan lembaga penyiaran lain.
Namun di antara misi-misi tersebut RRI Surakarta lebih menitikberatkan pada pemeliharaan dan pengembangan budaya Jawa. Hal ini sangat dipengaruhi oleh sejarah lahirnya RRI Surakarta, juga banyaknya keberadaan perkumpulan seni Jawa di wilayah jangkauannya.
Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitas siaran, RRI Surakarta tidak henti-hentinya melakukan terobosan, bekerja sama dengan berbagai pihak. Kelompok-kelompok Kerawitan secara bergantian mendapat kesempatan untuk menampilkan kebolehannya, mengisi siaran di RRI Surakarta. Bahkan, sejak tahun 2003, RRI Surakarta  menggratiskan para penggemar dan pecinta wayang orang maupun ketoprak untuk menyaksikan pagelaran seni tradisional Jawa tersebut.
Pada tahun 2005 RRI Surakarta bekerja sama dengan dalang karismatik Ki Haji Mantep Sudarsono untuk menggelar wayang kulit secara rutin setiap bulan, dengan menampilkan dalang-dalang terpilih dari 7 daerah di wilayah Surakarta.
Satu lagi kerja sama dijalin RRI Surakarta dengan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta untuk bidang seni. Penandatanganan kerjasama ini dilaksanakan pada 14 Juni 2005 di Auditorium RRI Surakarta untuk waktu 5 tahun. Selain itu RRI Surakarta juga memprakarsai penyelenggaraan Seminar Nasional Pelestaraian dan Pengembangan Kesenian Tradisional dalam siaran.
Dari berbagai upaya ini diharapkan RRI Surakarta tetap memiliki kekuatan dan daya tangkal terhadap pengaruh negatif dengan masuknya seni-seni modern seiring era globalisasi. Melalui langkah ini pula RRI Surakarta menjadi bukti sekaligus menjadi pilar bagi pelestarian dan pengembangan seni Tradisi Jawa seperti yang telah dicontohkan Sri Paduka Mangkunegoro VII.  (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Tahuna  - Sebagai lembaga siaran radio nasional yang berada di daerah perbatasan (dengan Philipina), serta mempunyai jangkauan siaran ke seluruh Kepulauan Sangihe -yang terdiri dari 129 pulau besar maupun kecil, dan membentang dari Biaro di utara hingga Miangas di selatan, semua program siaran RRI Tahuna berorientasi untuk menjaga keseimbangan dan keselarasan masyarakat yang majemuk dan demokratis dalam mengamankan UUD 1945, Pancasila, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
RRI Tahuna pertama kali mengudara pada tanggal 24 Oktober 2003. Pada saat itu RRI Tahuna hanya mempunyai satu program siaran dan beroperasi dengan kekuatan pemancar hanya berkekuatan 1 KW selama 9 jam siaran per hari. Pada masa awal ini RRI Tahuna hanya didukung oleh 17 tenaga, serta jangkauan siaran sebatas Tahuna dan sekitarnya.
Pada awal tahun 2006 RRI Tahuna mulai memperluas jangkauan siarannya dengan dukungan peralatan baru, antara lain satu pemancar FM berkekuatan 1 KW. Dengan adanya tambahan peralatan ini RRI Tahuna mampu menyajikan program siaran (Programa II) dengan masa siar 10 jam per hari pada frekuensi 92 MHz.
RRI Tahuna juga memiliki satu pemancar FM berkekuatan 5 KW (Programa I) dengan masa siar 12 jam per hari, pada frekuensi 98,7 MHz dan 99,5 MHz; satu pemancar AM 10 KW (Programa I) dengan masa siar 12 jam, pada frekuensi 10,44 KHz; satu pemancar 300 Watt (Programa III)  dengan masa siar nonstop, pada frekuensi 102 MHz. 
Selain berupa peralatan, RRI Tahuna juga didukung oleh adanya tenaga tambahan sehingga kini memiliki 42 orang karyawan. Lembaga penyiaran ini terus melakukan pembenahan, baik dari segi program siaran maupun teknis operasional, serta terus melengkapi diri dengan fasilitas-fasilitas yang lebih canggih, antara lain studio rekaman dengan sistem komputerisasi multi track, perangkat sound system, alat musik key board, ruang rapat yang dilengkapi LCD dan AC, aula dengan kapasitas 200 kursi, serta halaman yang luas dengan fasilitas untuk berolah raga berupa lapangan volley ball out door.
Dengan semakin lengkapnya fasilitas siaran yang dimilikinya, RRI Tahuna menyajikan program-program siaran andalan sebagai berikut:

PROGRAMA I
1. Opini Publik (Senin s/d Sabtu, pukul 08.30  s/d/ 09.00)
2. Bingkisan Bahagia (Senin s/d Sabtu, pukul  07.30 s/d/ 08.00)
3. Harmoni Keluarga (Senin s/d Sabtu, pukul  10.00 s/d/ 11.00)
4. Dialog Interaktif (Rabu, pukul 16.00 s/d/   17.00 
5. Akuila (Setiap hari, pukul 21.00 s/d/ 22.00)

PROGRAMA II
1. Kopi (Senin s/d Sabtu, pukul 08.30 s/d/   09.00)
2. Kiat Menuju Sukses (Setiap hari, pukul 10.00  s/d/ 11.00)
3. Klakustik (Sabtu, pukul 21.00 s/d/ 22.00)
4. SMS (Setiap hari, pukul 16.00 s/d/ 17.00) 
5. Pro II Special Choise (Setiap hari, pukul   21.00 s/d/ 22.00)
Sejak berdirinya hampir 4 tahun silam RRI Tahuna pernah dipimpin oleh Ir. Richard Manurip (24 oktober 2003 s/d 5 Desember 2005); Drs. Salman (5 Desember 2005 s/d 5 Desember 2007); Ir. Ikman Posumah (Plt) (5 Desember s/d 2007 s/d 18 Maret 2008); dan Vustinus Joko Setiono, SE (18 Maret 2008 s.d saat ini).  (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI/Humas RRI Tahuna)


Radio Republik Indonesia Ternate -  Stasiun radio ini pertama kali mengudara secara resmi pada tanggal 11 September 1952, bertepatan dengan Hari Radio ke-7. Keberadaan RRI di Ternate bermula dari keinginan Pemerintah Daerah Maluku Utara untuk membuka stasiun pemancar RRI, sehubungan dengan adanya kunjungan Presiden Soekarno ke Ternate tahun 1952.
Pada awalnya siaran RRI Ternate menggunakan pemancar PTT yang sangat sederhana. Atas dukungan Muspida setempat serta Kepala Jawatan Penerangan Provinsi Maluku waktu itu, Mr. D. Tahitu, RRI Ternate melakukan berbagai persiapan, antara lain dengan mendatangkan sejumlah peralatan dari Jakarta.
Sejak berdiri hingga sekarang, keberadaan RRI Ternate sangat terasa peranannya di dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara maupun pemerintah daerah setempat,  karena dipandang sebagai media yang paling cepat, tepat, dan dalam menyampaikan informasi. Hal ini terlihat dari hasil survei yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi maupun LSM setempat bahwa RRI Ternate masih sangat dibutuhkan 0leh masyarakat di daerah seribu pulau ini.
Salah satu bukti adalah keberhasilan RRI Ternate di dalam adalah menyosialisasikan masalah hukum kepada masyarakat Maluku Utara, sehingga memperoleh penghargaan Anugerah Hukum Tahun 2007.

Sejumlah nama yang tercatat pernah memimpin RRI Ternate:

1. 1952 s/d 1955  Buce van Room
2.  1955 s/d 1960  Kusno Alibari
3.  1960 s/d 1965  Hartono
4.  1965 s/d 1969  Sugiyono
5.  1969 s/d 1974  G. Nendesa
6.  1974 s/d 1979  Achmad Semarang
7.  1979 s/d 1983  Drs. H. Ali Amran
8.  1983 s/d 1989  M. Yusran B.A.
9.  1989 s/d 1993  Abubakar Al Hadar
10. 1993 s/d 1998  A. Latif Kamaruddin
11.  1998 s/d 2002  Drs. H. Hasyim Ado
12.  2002 s/d 2003  Sutrisno Santoso,S.Sos
13.  2003 s/d 2006  Drs. H. Andi Daulat
14.  2006 s/d sekarang Supardi Abdullah, S.H.

PROFIL MEDIA :

PRO 1
Frekuensi :  SW 3345 KHz, MW 891    KHz, FM 101,8 MHz.
Output power : 10 kw-10 kw-250 W
Covarage Area :  Seluruh wilayah Provinsi    Maluku Utara (6 Kabupaten,   2 Kota, 395 pulau), Maluku,    Sebagian Pupua, Sulawesi    Utara, Sulawesi Tengah,    Sulawesi Barat, Sulawesi    Tenggara, sebagian     Kalimantan, dan sebagian    Nusa Tenggara Timur.
Jam Siaran :  04.50 s/d 24.00 WIT
Strata Ekonomi Sosial: B , C , D.
Aktifitas Profil : Tani/nelayan, karyawan ,    wiraswasta, profesional,    mahasiswa/pelajar,ibu    rumah tangga.
Musik :  Pop Barat, pop Indonesia,    pop melayu, musik lokal.

PRO 2
Frekuensi :  FM 94,3 MHz, FM.97,6 MHz
Output power :  3 kw-100 W
Covarage Area :  Kota Ternate dan sekitarnya
Jam Siaran :  08.00 s/d 16.00 WIT
Usia :  16 - 45 Tahun
Strata Ekonomi Sosial: B , C , D.
Aktifitas Profil :  Karyawan, wiraswasta,    profesional,  mahasiswa/   pelajar, ibu rumah tangga.
Musik :  Pop Barat, pop Indonesia,    musik lokal.  Tim EPI/KG. Sumber: RRI Ternate/Buku 60 Tahun RRI)
Radio Republik Indonesia Cabang Pratama Tolitoli - Berdirinya RRI Cabang Pratama Tolitoli berawal dari Siaran Radio Pemerintahan Daerah (RPD) Kabupaten Buol Tolitoli melalui proses perkembangan informasi dialihkan menjadi Radio Persiapan RRI Tolitoli.
Pengalihan tersebut dicanang kan pada tanggal 11 September 1999 oleh Gubernur Sulawesi Tengah H.B. Paliuju di Palu ketika itu bertepatan dengan Hari Radio ke 54. Dengan demikian sejak tanggal 11 September 1999 Radio Persiapan RRI Tolitoli mengudara di bekas Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Tolitoli di JI. Gadarmun Hangkiho No. 1 dengan pemancar Total Asembling 50 watt berkekuatan pada frekuensi 99,9 MHZ.
Sejak perubahan status RRI dari UPT Departemen Keuangan RI menjadi Perusahaan Jawatan sesuai PP 37 tahun 2000 , tanggal 6 Juli 2002 bertepatan dengan Pelantikan Kepala Cabang RRI Tolitoli yang pertama Bash Arif, SH bersama 16 Pejabat struktural lainnya oleh Direktur Utama Perjan RRI, maka diresmikan pula status RRI Persiapan menjadi RRI Cabang Pratama Tolitoli dan masih beroperasi di bekas Kantor Departemen Penerangan (sekarang Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Tolitoli).
Pada tanggal 6 Agustus 2002 studio penyiaran pindah pada kantor baru Jalan Radio Kabinuang Puncak dengan luas bangunan 1000 m2 menggunakan pemancar 50 watt pada frekuensi FM 93 MHz yang mempunyai coverage area kota Tolitoli dan sekitarnya. Tahun Anggaran 2003 RRI Cabang pratama Tolitoli memperoleh bantuan Pemancar FM 1 KW dan peralatan Studio Rekaman dan Multi Purpose dari Perjan RRI Pusat.
Pada tahun 2004 mendapat tambahan 2 (dua) buah pemancar FM 3 KW dan 1 KW serta dilengkapi Down Link. Hingga saat ini RRI Toli-toli memiliki : 2 buah pemancar FM 1 KW, 1 buah pemancar FM 3 KW, studio rekaman dan multi purpose, 2 unit studio penyiaran, dan tower setinggi 65 meter. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).
Radio Republik Indonesia Cabang Pratama Tual  - Sejak siaran perdana uji coba Desember 1995, kemudian dilanjutkan peresmiannya 11 September 1996, RRI Tual menjadi media utama masyarakat Kabupaten Maluku Tenggara dalam memperoleh informasi, pendidikan dan hiburan. Tidak ada radio lain, demikian pula media cetak sebagai media pembanding. RRI Tual tampil sebagai pemain tunggal dibidang komunikasi dan informasi. Sejak itu RRI Tual merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Kabupaten Seribu Pulau ini. Radio Republik Indonesia Tual satu-satunya media komunikasi massa milik negara yang berada digugusan Kepulauan Maluku Bagian Tenggara. Posisinya sangat strategis, dimana berhadapan langsung dengan negara tetangga Australia dan negara-negara Kawasan Pasifik. Mengudara 18 jam setiap hari, dengan beragam acara siaran dan topik pembicaraan. Siaran yang dipancarluaskan RRI Tual dapat diakses oleh seluruh masyarakat diwilayah Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, dan Kabupaten Kepulauan Aru (Pemekaran), bahkan siarannya diterima dengan baik dan jelas di pulau-pulau terpencil perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini, Australia dan Timor Leste.
Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Publik dan Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2005 tentang Lembaga Penyiarar Publik RRI, semakin memperkokoh posisi dan status RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang bersifat independen, netral, tidak komersial, dan berfungsi memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat.
Perubahan status RRI dari Radio Pemerintah menjadi Radio Publik tidak semudah membalik telapak tangan. Berbagai hambatan dan tantangan datang silir berganti, namun peluang dan harapan juga terbuka. RRI Tual sangat merasakan hal tersebut. Penyebabnya In.ternal terbatasnya pemahaman SDM tentang radio publik, eksternal masyarakat belum siap menerima informasi atau berita yang bersifat sosial kontrol.
Akibatnya terkadang RRI Tual harus menghadapi rongrongan, ancaman dan tekanan, bahkan pemanggilan untuk menjadi saksi dalam kasus pemberitaan yang dilaporkan kepihak penyidik. Sejumlah peristiwa penting dan masalah aktual yang dapat dijadikan tolak ukur dan teruji dalam kiprah RRI Tual sebagai Radio Publik, sebagai berikut:
Dalam kiprahnya sebagai sebagai radio publik, aktifitas dan operasional siaran RRI Tual sudah nampak sejak bergulirnya Era Reformasi tahun 1998. Pelaksanaan siaran dan layanan publik semakin meningkat pada saat pecahnya konflik horizontal di Maluku tahun 1999. Kedua momen bersejarah ini makin memantapkan kelayakan dan kepatutan RRI Tual sebagi radio publik, menyusul turunnya Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2000.
Pro-kontra pemekaran Kabupaten Maluku Tenggara menjadi 3 (tiga) daerah otonomi antara lain Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat dan Kabupaten Kepulauan Aru (2002-2005) berkepanjangan berdampak terhadap RRI Tual dengan terjadinya penyanderaan terhadap personil OB Van Siaran Luar Negeri.
Dari berbagai ketentuan dan peraturan, seperti UU Nomor 32 tahun 2002 Peraturan Pemerintah Nomor 11 dan 12 tahun 2005, semakin mamantapkan semangat, tekad dan komitmen jajaran RRI Tual berkiprah ke radio publik. Prinsip Independen, netralitas dan tidak komersial merupakan dasar utama dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, siaran yang dipancar luaskan adalah berita dan informasi yang aktual, akurat, berimbang dan terpercaya. Berita RRI bukan sensasi, tetapi solusi informasi yang menyejukkan, acuan bagi masyarakat untuk mencari yang sebenarnya terjadi dan berkembang.
Sebelum RRI Tual lahir, Tual memiliki stasiun radio yang disebut Radio Pemerintah Daerah (RPD), dengan personil dan sarana prasarana yang dibina langsung oleh RRI, pada penghujung tahun 1970-an.  Dengan pemancar berkekuatan 500 watt bantuan RRI, dan training singkat bagi personil teknik dan siaran di RRI Ambon, keberadaan RPD, masih belum memuaskan Pemda setempat, mengingat daya jangkau pemancarnya belum memenuhi harapan. Padahal, biaya exploitasi, maintenance dan operasionalyang sudah dikeluarkan pihak Pemda sudah cukup besar.
Pada akhir tahun 1980-an, menjelang tahun 1990, konsistensi perjuangan dari satu Bupati ke Bupati berikutnya untuk menghadirkan RRI nampaknya tidak pernah surut,  hingga membuahkan hasil dengan ditugaskannya Tim Survei RRI (Direktorat Radio) untuk melakukan survei teknis.
Bulan Desember 1995 RRI Tual mulai melakukan siaran percobaan selama 2 minggu yang dipancarkan dari Puncak Rumbeng Desa Faan, menggunakan pemancar MW 1 Kw Merk BE dengan frekuensi 7,65 dengan 1 Kw pemancar FM daya 100W merk NEC, ditunjang peralatan diesel genset 60 KVA yang dipasang di pemancar.
Pada tanggal 11 September 1996, bertepatan dengan Hari Radio ke-51, Menteri Penerangan  Harmoko melakukan peresmian  tiga stasiun RRI yakni RRI Tual, Lhokseumawe dan Sungai Liat.  (Tim EPI/KG. Sumber: Buku 60 Tahun RRI).


Radio Republik Indonesia Cabang Madya Yogyakarta - Stasiun radio yang sebelumnya bernama Mataramse Voor Radio Oemroef (MAVRO) ini pertama kali melakukan siaran pada 22 Februari 1934, dari Pendopo Pangeran Ngahabehi Ngabean dan Kepatihan, dengan program siaran pelajaran tari srimpi, serta wayang orang dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Ketika Jepang menduduki sejumlah wilayah di Indonesia seluruh stasiun radio dilarang melakukan siaran kecuali bergabung dengan Hosokyoko, sebuah organisasi siaran radio bentukan pemerintahan Jepang yang berpusat di Kota Yogyakarta. Saat itu, RRI Yogyakarta menempati salah satu ruangan di Gedung Nimly, sekarang Gedung BNI 1946, di Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan.
Pada saat Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, para angkasawan berhasil menguasai pemancar dan semua peralatan siaran Hosokyoko. Pemancar dan peralatan siaran inilah yang digunakan untuk mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke seluruh kawasan Nusantara maupun ke luar negeri.
Ketika Kota Yogyakarta diserbu Belanda pada 19 Desember 1948, RRI Yogyakarta menyiarkan tiga mata acara yang sekaligus menandai penutupan sementara stasiun radio tersebut selama 8 bulan. Ke tiga mata acara tersebut adalah pengumuman pmerintah, amanat Padukan Jang Mulia Presiden Republik Indonesia, dan Amanat Wakil Presiden. Meskipun demikian, RRI Yogyakarta terus melakukan siaran-siaran darurat dari daerah-daerah gerilya antara lain Wonosari, Playen, dan Srenggo, hingga kembali ke Kota Yogyakarta pada bulan Juni 1949.
Dalam perkembangan selanjutnya pengoperasian RRI Yogyakarta pindah ke sebuah gedung di Jalan Amat Jazuli No 4, Kota Baru, yang sekaligus menjadi pusat perkantoran dan operasional, siaran serta gedung pemancar di Demangan, Seturan dan Kaliurang.
Dengan disahkan Undang Undang No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, RRI berubah status rnenjadi Lembaga Penyiaran Publik, yang kemudian dipertegas melalui Peraturan Pemerintah No 12 Tahun 2005. Dengan status baru tersebut RRI Yogyakarta mempunyai tugas memberikan pelayanan informasi, pendidikan dan hiburan yang sehat, kontrol sosial, dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa; melalui siaran Programa 1, Programa 2, Programa 4, dan Programa 3 sebagai Prograrna Jaringan Berita Nasional.
Dalam perkembangannya, siaran RRI Yogyakarta seakan menjadi “ikon” penyiaran seni dan budaya, pendidikan, dan pariwisata daerah. Stasiun ini memiliki acara-acara yang pernah sangat melekat di telinga pendengarnya, antara lain “Obrolan Pak Besut”, “Ketoprak Mataram”, “Wayang Kulit Sasana Hinggil Dwiabad Kraton Yogyakarta”, dan “Sandiwara Radio Bahasa Daerah”. Acara-acara ini sangat digemari dan ditunggu para pemirsanya.
Obrolan Pak Besut misalnya, adalah obrolan dalarn bahasa jawa yang diudarakan sepekan dua kali, sejak RRI Yogyakarta masih berstatus sebagai RRI Nusantara II hinga Agustus 1982. Para pendengar yang sangat menggemari dan menunggu-tunggu acara ini, mengira bahwa Pak Besut merupakan pegawai RRI. Padahal orang tua yang sebenarnya bernama Pancratius Suradi Wardoyo itu adalah seorang wartawan senior harian Kedaulatan Rakyat. Namun dengan Surat Keputusan Menteri Penerangan tertanggal 1 April 1981, Pak Besut diangkat menjadi Pegawai RRI dan langsung diberhentikan dengan hormat dan hak pensiun. Sejak saat itu Obrolan Pak Besut diteruskan menjadi Obrolan Pak Pringgo dan Obrolan Pak Bares, hingga sekarang.
Demikian juga dengan acara Ketoprak Matararn. Acara ini merupakan sandiwara dengan versi lakon kuno termasuk Babad Tanah Jawa, namun disajikan sesuai dengan situasi jaman. Bahasa Jawa yang digunakan mudah dipahami, dan adegan-adegan disajikan berseling antara humor dan serius. Sejumlah seniman yang membesarkan mata acara ini antara lain almarhum Cokrojiyo, Jayeng Suwardi, Atmohungkoro, Gus Harjo, Bekele Tembong dan Basiyo.
Siaran Ketoprak Mataram diselenggarakan setiap Rabu pukul 21.00 s/d 24.00 WIB. Sedangkan pergelarannya setiap sekali sebulan pada hari Sabtu pukul 21.00 s/d 01.00 WIB yang disiarkan langsung dari Auditorium RRI Demangan, Jalan Affandi Gejayan.
Mata acara lain yang juga sangat ditunggu adalah Wayang Kulit Sasana Hinggil Dwiabad Kraton Yogyakarta. Acara ini pertama kali disiarkan pada 11 Januari 1958, dan hingga sekarang berlangsung tanpa putus pada setiap Sabtu minggu kedua, pukul 21.00-05.00 WIB. Acara ini menampilkan dalang-dalang senior dari dalam maupun dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan mengambil lakon berdasarkan literatur wayang kulit, baik Ramayana maupun Mahabarata. Sebelum pergelaran, dilangsungkan “bedah lakon” yang terselenggara atas kerjasama RRI Yogyakarta, UGM dan Pepadi Propinsi DIY.
Sandiwara radio bahasa daerah yang disiarkan setiap Minggu pukul 22.00 s/d 22.45 WIB juga merupakan siaran budaya yang digemari hampir ke seluruh pelosok Nusantara. Acara yang dimainkan Keluarga RRI Yogyakarta dikemas secara sederhana, berkaca pada kehidupan sehari-hari. Beberapa nama yang melekat di telinga penggemar Sandiwara Radio Bahasa Daerah RRI Yogyakarta antara lain: Habebari, Bagus Giarto, Sumarjono, Hastin, Atas Asih dan Maria Kadarsih.  (Tim EPI/KG. Sumber: RRI Yogyakarta/Buku 60 Tahun RRI).


Radja Ali Kelana - (1808-1873). Nama lengkapnya adalah Radja bin Ali Radja Moehammad Joesoef Al-Ahmadi yang Dipertoean Moeda Riau. Radja Ali Kelana tercatat sebagai penyusun dasar-dasar tata bahasa Melayu. Pada 23 Juli 1906 Radja Ali Kelana melahirkan majalah Al lman pada saat ia masih berstatus sebagai kerani kelana atau juruwarta keliling Kerajaan Melayu Riau-Lingga.
Radja Ali Kelana yang bersaudara dengan Sultan Riau-Lingga Abdul Rahman pernah diangkat Sultan Johor sebagai penasihat rahasia. Dia dikenal gigih melawan politik kolonial Belanda. Kepergiannya ke Johor sebenarnya untuk mencari perlindungan dari Sultan Ibrahim. Ia kemudian menikahi salah seorang dari keluarga Diraja Johor dan diangkat menjadi Ketua Agama Islam, yang pengangkatannya ditentang oleh Belanda.
Selain sebagai pelopor jurnalistik Melayu, karyanya yang sangat monumental adalah “Gurindam Duabelas” yang menjadi pembaharu sastra pada jamannya. Ia juga menulis syair Siti Shianah, syair Suluh Pegawai, syair Hukum Nikah dan syair Sultan Abdul Muluk. Radja Ali Kelana patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Karena itu pula, untuk mengenang perjuangannya sebagai perintis dan pelopor jurnalistik Melayu, namanya diabadikan oleh PWI Cabang Riau sebagai lambang Anugerah Lomba Karya Jurnalistik yang diperebutkan setiap tahun. (Tim EPI/AM. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)


Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) - adalah stasiun swasta pertama di Indonesia yang didirikan oleh Rajawali Citra Corporation dan PT. Bimantara Citra, sejak Agustus 1989.
RCTI hadir di hadapan pemirsa nusantara sengaja dengan penampilan prima. Menurut Andy Ralie, Dirut RCTI, penampilan prima tersebut diperkuat dengan penayangan program-program lokal yang bermutu dan terbaik. “Kita ingin ada hubungan bailk antara masyarakat RCTI dan kita, masyarakat RCTI dan masyarakat luas,” katanya. Dengan visi tesebut, lanjut Ralie, dibuat mission statement yang jelas.
Program-program RCTI dituntut tersaji dengan balk terutama pemberitaan (feature) mengena kepada kepentingan masyarakat serta pembangunan bangsa. Hal ini sengaja dilakukan pihaknya untuk menjadi satu alternatif media elektronik, dibandingkan dengan media berasal dari luar negeri. Pihaknya berupaya mengarahkan program-program bersifat lokal. “Kita telah mencapai angka 65%,” ungkapnya. Seperti program tayangan olah raga lewat saluran olah raga RCTI yang banyak mendapatkan respons dari masyarakat luas. Sedangkan program hiburan dan informasi tetap mendapatkan porsi sama. “Khusus program hiburan, kita sudah capai 65% lokal dan segera kita tingkatkan lagi,” ujar pria kelahiran Medan ini.
Misi yang diemban televisi di bawah bendera Bimantara Grup mencakup dua aspek. Aspek ke dalam, kata Ralie menyangkut masalah kesejahteraan dan kepentingan karyawan, dan aspek keluar tetap menyajikan beragam program informasi, hiburan dan olah raga. Program olah raga dunia, seperti Liga Italia, ATP Tour, Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis mewarnai tayangan eksklusif RCTI. “Seperti Tour De France kita informasikan secara tuntas lewat media layar kaca,” paparnya. Semua ini, lanjutnya, merupakan komitmen manajemen untuk memasyarakatkan cabang olah raga tersebut kepada masyarakat.
Untuk perkembangan ke depan terutama produksi-produksi lokal berupa sinetron tentu harus dikerjasamakan dengan baik kepada rumah-rumah produksi. Dimaksudkan agar sinetron anak negeri dapat pas dan diterima masyarakat dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Klasifikasi profil konsumen bagi RCTI merupakan suatu tuntutan yang harus dilakukan agar bisa tetap survive. “Kita created produk yang siap ditayangkan. Tentu dikorelasikan dari segi usia, sosio demografi dan kebutuhan mereka,” katanya. Jadi nantinya program-program itu betul-betul perspesifik atau sesuai kebutuhan. Fenomena media elektronik tak lama lagi muncul neurocasting. Terlihat bermunculnya program-program acara seperti CNN, Discovery, ESPN, HBO dan Cartoon Net-work. Meski demikian broadcasting tetap ada dan masih dibutuhkan. Sedangkan media interaktif lainnya merupakan sesuatu alternatif pilihan bagi pemirsa untuk melengkapi kebutuhannya.
Slogan RCTI Oke tetap melekat dan menjadi trend image bagi dunia pertelevisian Indonesia. Agaknya slogan ini terasa memasyarakat karena didukung misi RCTI yang tidak saja meraup untung tetapi melakukan kegiatan sosial, tentu saja dimaksudkan mengambil simpati publik. Misalnya, kegiatan pesantren nusantara, lomba adzes, dialog segitiga, pasar murah, warung peduli. Kegiatan terakhir merealisasikan 2.000 warung yang dimotori Yayasan Janur Kuning. Selain berkomunikasi dengan publik lewat kegiatan off-air, RCTI menyelenggarakan program Mega Bintang, Adi Pariwara, Marketing Gathering. “Jadi tanpa dibarengi dua misi di atas (mencari untung dan tugas sosial) slogan RCTI Oke tidak ada artinya.
Sebagai pelopor teve swasta di tanah air, RCTI selalu muncul sebagai trendsetter. Untuk itu menurut Ralie perlu di-created sesuatu hal yang baru. Ada beberapa terobosan yang baru kami hadirkan. Misalkan kerjasama dengan Jawa Pos yang mengulas tuntas program-program tayangan RCTI dengan label saluran nomor satu.
Beberapa program acara yang menjadi primadona siaran RCTI antara lain Selera Nusantara yang dipandu oleh Rudy Khaerudin. Acara ini pernah mendapat penghargaan untuk kriteria performance saat diikutkan TV Gourmet di Perancis. Pada event yang berlangsung pada tahun 1996 tersebut RCTI menjadi satu-satunya wakil Indonesia. Di kemudian hari Selera Nusantara berganti format dengan Resep Oke Rudy. Atas prestasinya, Rudy tercatat di Muri sebagai presenter masak terlama, sejak tahun 1990 hingga 2004. Penyerahan piagam berlangsung di Semarang pada saat HUT ke-15 Muri pada tanggal 27 Januari 2005 oleh Jaya Suprana.
Kemudian ada drama komedi tradisional Betawi. Drama tradisional ini diangkat RCTI melalui tayangan rutin dengan judul Lenong Rumpi, yang dibintangi antara lain oleh Harry De Fretes, Ira Wibowo, Robby Tumewu, Jimmy Gideon, Ade Libertifa dan Deby Sahertian.
Si Doel Anak Sekolahan (SDAS), yang pertama ditayangkan pada tahun 1996 merupakan serial yang sangat ditunggu para pemirsa RCTI. Ceritanya adalah versi modern dari novel Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Majoindo dan film berjudul sama yang disutradarai Sjumandjaja di tahun 1972. SDAS ketika pertama ditayangkan melejit menjadi salah satu acara paling terkenal dan mengalahkan popularitas produksi-produksi asing yang saat itu mendominasi televisi Indonesia. Serial sebanyak 77 episode ini dibintangi antara lain oleh Rano Karno, yang berperan sebagai si Doel, Maudy Koesnady, Benyamin S, Mandra, dan Basuki.
Katakan Cinta juga menjadi acara reality show yang menjadi favorit bagi pemirsa RCTI. Program ini merupakan hasil pengembangan dari satu acara beken yang berusia lima tahunan di Radio Prambors, Katakan Cinta dari Siapp (Siaran Paling Pagi). Rating acara ini juga melonjak ke angka 10 sejak episode keempat. “Kami ingin ajarkan melalui acara ini tentang sportivitas dan percaya diri,” papar Vena Annisa, produser sekaligus presenter acara ini, yang sekarang juga dikenal sebagai presenter untuk VOA. Program ini berhasil meraih Panasonic Award untuk kategori acara reality show terfavorit.
Sejak tahun 1992, sosok Pepeng memang sangat identik dengan Telekuis “Jari-jari”-nya. Telekuis berdurasi 3 menit ini selalu tampil fresh, “gila”, dan ngocol, lengkap dengan gaya Pepeng yang doyan mengecoh peserta. Dengan bekal ini, tanpa sengaja menciptakan nada suara teriakan “Jari-jari!” (ingat, huruf “i” harus dibaca longgar, sehingga mirip “e”) yang naik ke atas. Tak tanggung-tanggung, dalam waktu dua jam jumlah pemirsa yang mencoba menelepon bisa mencapai 6.000 penelepon.
Selain acara-acara di atas RCTI juga menyajikan sebuah mata acara yang dikemas secara menarik dan atraktif. Tak dapat dimungkiri, program yang ditayangkan setiap hari Senin pukul 21.00 wib selama 1 jam ini, telah melambungkan nama seorang magician bernama Deddy Cahyadi Sundjojo atau lebih dikenal sebagai Deddy Corbuzier. “Format acara yang ditampilkan pada program Impressario ini agak berbeda dengan program-program variety show lainnya. Impressario adalah leader sebuah program variety show yang ada saat itu,” ungkap Deddy. Selain musik, Impressario juga dilengkapi hiburan komedi dari Komeng dan kawan-kawan, dan tak ketinggalan fashion show. Saat menjadi bagian dari Impressario, tahun 2002 Deddy mendapat penghargaan Muri setelah berkeliling kota Jakarta dengan menyetir mobil sambil menutup mata. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)


Rahajoe - majalah bulanan berukuran kecil, yakni 15 X 20 cm. Tebalnya setiap terbit rata-rata 48 halaman, namun dari bulan ke bulan urutan halaman itu bersambung. Sehingga dalam setahun atau 12 kali penerbitan jumlah halamannya bisa mencapai ratusan. Majalah bulanan Rahajoe yang terbit tahun antara tahun 1930 hingga 1940an menggunakan huruf Jawa, dengan isi rubrik meliputi artikel sosial, budaya, pendidikan, dan lain-lain. Setiap tahun penerbitan, majalah tersebut ditandai dengan candrasengkala yang sekaligus sebagai moto. Contohnya, majalah terbitan tahun 1936 ditandai moto Kasarireng Rasa Ngesti Jati. Peredaran majalah Rahajoe cukup luas, menjangkau kota-kota Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lain di Jawa. (Tim EPI/TS. Sumber: Reksa Pustaka)


Rahastoeti Adhitama (Madiun, Jawa Timur, 19 Februari 1935). Dalam suatu acara wisata keluarga di Mesir, 1975, Toeti dan kedua anaknya mengitari piramid sambil duduk di punggung unta. Balik ke tempat suaminya, menunggu bersama pemilik ketiga unta, segera terjadi perdebatan antara suami Toeti, wiraswastawan Wahyu Adhitama, dan pemilik unta, yang menuntut sewa ekstra. “Sementara itu, kami bertiga terkatung-katung di punggung unta, tidak tahu cara turun dari punggung hewan jangkung itu,” tutur Toeti. Setelah tuntutan pemilik dituruti, dengan sedikit aba-aba, unta langsung menekuk kaki. Selamatlah Toeti dan kedua anaknya.
Sebagai ahli Komunikasi Antar-Pribadi, dan sejak 1983 mengajarkan ilmu ini di Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia, di samping memberikan kuliah Psikolinguistik di Jurusan Inggris Fakultas Sastra universitas yang sama, Toeti tenang menanggapi kejadian itu: “It was a friendly persuasion dari pemilik unta, agar suami saya membayar lebih banyak,” katanya.
Dalam ilmu komunikasi, Toeti mendapat gelar Master dari Universitas George Washington, AS, 1974. Ia sudah berpraktek di media massa sejak awal 1959, sebagai penerjemah dan penyiar Radio Australia di Melbourne. Terakhir -- di samping memimpin majalah Eksekutif, Toeti aktif di TVRI. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pernah memberinya penghargaan sebagai pembaca berita terbaik.
Setiap hari, Toeti memulai kesibukannya pada pukul 5 pagi. Potongan rambutnya tetap pendek, cara berpakaiannya pun selalu ringkas dan rapi. Sejak masih di SMA, penampilan Toeti sudah begitu. Ia menyukai warna putih, hitam, dan cokelat muda.
Ayahnya, Prayitno, adalah pensiunan ABRI. Toeti, anak sulung dengan empat adik, mengaku masa kecilnya tidak gemerlapan. Di zaman Revolusi Kemerdekaan, ayahnya turun ke medan perang. Ia dititipkan kepada tantenya, dan harus berpisah dengan adik- adiknya, yang ikut saudara-saudara lain. Mereka berkumpul kembali setelah Toeti tamat SMP. Ia rajin bersenam, main boling, bridge, dan golf. Yang terakhir ini biasa dilakukannya di lapangan Rawamangun. “Seminggu, kalau lagi enak, saya bisa main golf sampai tiga kali,” katanya.
Toeti mengenyam pendidikan di SD Cemara II, Solo (1947), SMP I, Pekalongan (1951), SMA Budi Utomo, Jakarta (1954), Fakultas Sastra UI, Jakarta (B.A., 1957), Universitas Virginia, AS (1962-1963), Universitas George Washington, AS (M.A., 1974).
Karir Toeti juga sangat beragam, di antaranya menjadi penyiar radio Voice of America (1963-1975), Editor majalah Femina (1975-1976), Penyiar TVRI (1976-sekarang), Dosen tidak tetap Fakultas Sastra (1979-sekarang) dan FISIP UI (1983-sekarang), dan Wakil Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi majalah Eksekutif (1979).
Kegiatan lain yang layak untuk dicatat adalah Manajer PT Inscore Adcom (1977-1980), Anggota Kelompok Kerja Menteri P & K (1980-1983), Anggota Dewan Kurator LPPM (1984-sekarang).(Tim EPI/AM. Sumber: Wikipedia)


Rakyat Berjoang (RB) - adalah koran terbitan Makassar yang terbit pada tahun1950. RB diterbitkan oleh Jajasan Penerbit Rakjat Berjoang yang beralamat di Jalan Chairil Anwar 28 Makassar. Berbekal slogan “Objektif, Kritis & Konstruktif”, RB menyajikan berita-berita yang tak kalah dari koran nasional. Lembaran-lembarannya disesaki dengan berita-berita nasional yang dikutip dari Kantor Berita Antara.
Perhatian yang lebih besar kepada perkara-perkara nasional itu membuat berita-berita lokal hanya mendapatkan ruang sempit di halaman 1 dan 2. Biasanya, berita lokal disisipkan di rubrik “kabar kota” atau “aneka warta sulawesi” di halaman 2. Di ruang yang secuil itu, biasanya redaksi juga menyajikan potongan-potongan berita yang tengah terjadi, seperti yang ada pula di rubrik 'warna-warni” di halaman 1.
Empat halaman suratkabar ini terlihat kurang hidup karena tidak ada foto-foto yang mendampingi berita, padahal kala itu suratkabar lain sudah dilengkapi foto-foto atau ilustrasi gambar. Namun, dari segi penataan rubrik, harian yang dijual dengan harga Rp 0,75 ini terbilang cukup rapi dan menarik, sehingga mata pembaca dijamin tidak akan jemu ketika membacanya. (Tim EPI/KG. Sumber: Rhoma Dwi Aria Yuliantyri/Indonesia Buku/Jurnas)


Rakyat Merdeka  diterbitkan pertama kali pada tanggal 22 April 1999, oleh hampir seluruh mantan wartawan dan karyawan Harian Merdeka. Di bawah gemblengan manajemen Jawa Pos Group, secara perlahan Rakyat Merdeka berhasil menembus tiras 172 ribu eksemplar (data: 1 Desember 2007). Terbit 20 halaman setiap hari, Rakyat Merdeka adalah koran segmented yang membahas tuntas semua berita politik & bisnis dalam negeri.
Rakyat Merdeka dibaca oleh hampir semua anggota MPR/DPR dan para pengambil keputusan di negeri ini, serta menjadi bahan bacaan wajib dan referensi penting bagi para politikus & pebisnis . Di samping sebagai koran politik & bisnis, Rakyat Merdeka juga tampil sebagai koran ekonomi plus hiburan yang layak dipercaya, yang disajikan melalui suplemen Probisnis. Suplemen delapan halaman ini secara tuntas mengulas perkembangan dunia bisnis saat ini melalui berbagai informasi ekonomi baik makro dan mikro, luar dan dalam negeri.
Berdasarkan hasil survey media AC-Nielsen Rakyat Merdeka dibaca oleh 700 ribu pembaca yang secara empiris memiliki basis pembaca di wilayah Jabodetabek (65%), serta tersebar secara luas dan merata di kota-kota yang dipandang sebagai sentra bisnis di Indonesia seperti Bandung, Medan, Lampung, Padang, Cirebon, Palembang, dan lain-lain dalam kisaran antara 3,5% hingga 8%.
Dari survey di atas Rakyat Merdeka dibaca oleh pembaca pria (65%) dan 35% kaum wanita, serta terbanyak dibaca oleh golongan usia antara 18 hingga 29 tahun (35%), 30 hingga 39 tahun sebanyak 25%, 40 hingga 49 tahun sebanyak 22%, dan mereka yang berusia di atas 50 tahun sebanyak 18%. 
Melihat latar pendidikan pembacanya, wajar jika Rakyat Merdeka digolongkan sebagai koran dengan segmen pembaca kelas menengah. Dari seluruh pembaca Rakyat Merdeka, 55% antaranya termasuk golong ekonomi sosial kelas A. Sedangkan kelas B, C, dan D masing-masing 19%, 23%, dan 3%. 32% dari mereka adalah lulusan perguruan tinggi, 56% lulusan SLTA, 7% lulusan SLTP, dan sisanya (5%) lulusan sekolah dasar. Rakyat Merdeka yang tergolong koran semi broadsheet atau junior broadsheet -dengan areal cetak 327 mm x 540 mm, dicetak dengan delapan halaman berwarna (Tim EPI/KG/Istimewa)


Rancangan Undang Undang Keterbukaan Informasi Publik (RUU KIP) - Salah satu Rancangan Undang Undang (RUU) yang sedang dibahas di DPR RI --setidaknya hingga Ensiklopedi Pers ini disusun-- adalah RUU tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Penyusunan RUU ini tentu saja sejalan dengan berlangsungnya era reformasi. Beberapa pertimbangannya adalah:
a. Bahwa informasi merupakan kebutuhan pokok setiap orang bagi pengembangan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta merupakan bagian penting bagi ketahanan nasional;
b. Bahwa hak memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia dan keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik;
c. Bahwa kebebasan memperoleh informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan badan publik lainnya dan segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik;
d. Bahwa pengelolaan informasi publik merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan masyarakat informasi.
Asas (R)UU ini adalah (1) Setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap pengguna informasi publik. (2) Setiap informasi publik harus dapat diperoleh setiap pemohon informasi publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana.
Sedangkan tujuan (R)UU ini adalah:
a. Menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan program kebijakan dan proses pengambilan keputusan publik serta alasan pengambilan suatu keputusan publik;
b. Mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik;
c. Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan badan publik yang baik;
d. Mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik, yaitu yang transparan, efektif dan efisien, akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan;
e. Mengetahui alasan kebijakan publik yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak;
f. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan bangsa; dan
g. Meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan badan publik untuk menghasilkan layanan informasi yang berkualitas.
Di dalam (R)UU KIP ini diatur tentang hak dan kewajiban pemohon dan pengguna informasi publik dan badan publik; informasi yang wajib disediakan dan diumumkan; informasi yang dikecualikan; mekanisme memperoleh informasi; komisi informasi; keberatan dan penyelesaian sengketa melalui komisi informasi; hukum acara komisi; gugatan ke pengadilan dan kasasi; sanksi.(Tim EPI/Wid)


Rapat Redaksi - Di lingkungan industri media massa, rapat redaksi (editorial meeting) merupakan lembaga yang sangat penting untuk diselenggarakan di samping berbagai jenis rapat lainnya di bagian nonredaksi. Begitu pentingnya rapat redaksi ini sehingga setiap hari diselenggarakan dan bahkan dalam sehari bisa diselenggarakan lebih dari sekali, misalnya rapat pagi dan rapat sore. Rapat redaksi juga diselenggarakan secara rutin yang periode penyelenggaraannya lebih lama, misalnya rapat mingguan atau bulanan.
Tujuan utama rapat rutin ini, khususnya yang diselenggarakan setiap hari, umumnya untuk mengevaluasi isi atau sajian media yang telah diterbitkan hari itu dan kemudian membuat perencanaan topik liputan untuk terbitan esok hari. Sesuai dengan tujuan tadi, maka rapat lazimnya diikuti para unsur pimpinan redaksi (pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, redaktur, asisten redaktur, dan para wartawan serta unsur pendukung lainnya). Meskipun komunikasi antar-mereka dewasa ini telah dipermudah dengan teknologi telekomunikasi sehingga dimungkinkan untuk menyelenggarakan rapat jarak jauh, tetapi rapat yang bersifat tatap muka langsung masih diselenggarakan oleh banyak perusahaan media hingga kini. Sesuai dengan sifat rapat yang rutin tadi, maka waktu rapat dapat diselenggarakan secara cepat dan tidak bertele-tele.
Di lingkungan media penyiaran, seperti ditulis Helena Olii dalam bukunya Berita & Informasi Jurnalistik Radio (Penerbit PT Indeks, 2007), rapat redaksi juga dinilai merupakan persiapan kegiatan yang sangat penting bagi setiap lembaga yang bergerak di bidang produksi berita, termasuk lembaga penyiaran radio. Bahkan dia mengamati bahwa meskipun kegiatan rapat redaksi ini sangat menentukan mutu berita yang dihasilkan, belum banyak radio yang menerapkan kegiatan ini secara rutin.
Seperti halnya di lingkungan media cetak, pada rapat redaksi di lingkungan media penyiaran juga terjadi pertukaran, penajaman, dan pematangan ide berita. Pada rapat redaksi juga berlangsung  perencanaan awal yang menjamin disajikan berita terbaik kepada pendengar.
Mengutip Torben Brandt dkk (2001) dalam Jurnalisme Radio, Helena Olii mengungkapkan beberapa manfaat rapat redaksi bagi para reporter sebelum mereka melakukan tugas peliputan. Pertama, komunikasi terjalin lancar. Melalui rapat setiap reporter dan redaktur saling mengenal rekan sekerjanya, mulai dari pandangan-pandangannya, karakter, cara menyampaikan gagasan sampai ke cara yang terbaik untuk berdebat. Kedua, gagasan menjadi tajam. Reporter atau wartawan dan redaktur akan jadi terbiasa mengungkapkan dan mempertajam gagasan. Ketiga, liputan akan lebih terencana. Ide-ide berita yang dihasilkan dari rapat redaksi juga akan terencana dengan lebih matang dan rapi. Topik dan sudut (the angle) liputan menjadi lebih jelas dan tajam, narasumber yang dihubungi sudah dirancang dari awal, pertanyaan yang akan diajukan sudah lebih jelas. Selain itu tidak akan terjadi tumpang-tindih tugas dan tanggung jawab.
Rapat redaksi harus dilakukan setiap hari, yang idealnya setiap pagi sebelum reporter turun mencari berita ke lapangan. Misalnya, setiap pukul 08.30 pagi WIB atau dijadwalkan pada sore hari atau malam hari sesudah berita disiarkan. Jika jadwal malam hari yang dipilih, selain untuk menentukan topik esok hari, forum itu bisa dipakai sekaligus sebagai wadah evaluasi atas berita-berita yang baru disiarkan. Lamanya rapat sekitar 15 menit, efektif dengan tidak ada pembicaraan yang tanpa isi. (Tim EPI/Wid)


Redaktur Pelaksana - Dalam struktur organisasi redaksi sebuah perusahaan media massa, redaktur pelaksana (redpel) umumnya langsung berada di bawah pemimpin redaksi (pemred) atau wakil pemimpin redaksi (wapemred). Posisi ini menggambarkan bahwa redpel merupakan “kepanjangan tangan” pemred atau wapemred. Secara teknis ia bertugas mengoperasikan atau menjabarkan berbagai kebijakan redaksional yang telah ditetapkan oleh pemred/wapemred. Tugas berat inilah yang menyebabkan posisi redpel diisi oleh minimal seorang dan dibantu beberapa orang wakil redpel atau posisi redpel itu dijabat oleh beberapa orang. Ini sangat tergantung skala perusahaan media massa bersangkutan.
Posisi redpel yang demikian penting itu dengan sendirinya harus diisi oleh para wartawan senior yang sudah memiliki banyak pengalaman di lapangan maupun pengalaman memimpin di lingkungan redaksi. Karena itu sebelum menjabat redpel, biasanya orang yang dipilih sebagai redpel itu sudah pernah menjadi redaktur bidang, bahkan sebaiknya pernah menduduki posisi beberapa redaktur bidang, misalnya sebagai redaktur kota, redaktur politik, dan redaktur olahraga atau redaktur ekonomi.
Pengalaman yang luas ketika menjadi redaktur bidang itu pun belum dianggap cukup ketika seseorang dipromosikan sebagai redpel, karena yang bersangkutan juga harus paham masalah etika pers dan hukum pers serta berbagai peraturan yang berkaitan dengan media massa. Bahkan seorang redpel juga harus memiliki  jiwa kepemimpinan yang baik.
Dalam menjalankan teknis operasional keredaksian tersebut redpel harus menyelenggarakan rapat-rapat harian untuk membahas serta merancang sajian media massa edisi esok harinya. Rapat dimaksud dalam sehari bisa diselenggarakan beberapa kali, misalnya rapat pagi, rapat siang, dan rapat petang hari. Materi rapat pagi seringkali harus dikoreksi kembali pada rapat siang atau rapat petang sehubungan dengan terjadinya peristiwa terbaru yang dinilai menarik perhatian masyarakat luas.
Rapat terus-menerus seperti itu bagaimanapun menyita tenaga dan pikiran sehingga posisi redpel yang diisi oleh beberapa orang tadi menjadi sangat relevan, karena dengan formasi seperti itu mereka bisa saling bergantian. Harap maklum, “dapur redaksi” harus selalu di bawah pengelolaan serta pengawasan redpel, dari pagi hingga larut malam ketika sebuah koran, misalnya, selesai dicetak.
Untuk sedikit meringankan beban tugas redpel, ada perusahaan penerbitan yang sengaja mengangkat seorang redaktur malam atau redaktur teknis, yang tugasnya benar-benar terfokus pada berbagai persoalan teknis di lingkungan “dapur redaksi”. Dengan demikian jajaran redpel pun masih memiliki waktu untuk melakukan lobi-lobi ke luar perusahaan, terutama untuk mewakili pemred atau wapemred dalam membina hubungan eksternal keredaksian atau perusahaan. (Tim EPI/Wid)
Republik - harian umum, terbit di ibu kota Provinsi Jawa Tengah, Semarang, tergolong koran yang berusia tua. Koran yang beralamat di Jalan Kepodang No. 20, Semarang tersebut, pertama kali terbit tanggal 1 April 1957. Penerbitnya adalah Yayasan Warta Tempo. Harian Republik terbit berdasarkan Surat Izin No. 0390/Per/SK/Dir/SIT/71 tertanggal 1 September 1971.
Sejak awal penerbitannya, Harian Umum Republik terbit hanya 4 halaman. Tercatat sebagai Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi adalah Chandra Nainggolan. Harian Republik yang beroplah 10.000 eksemplar, beredar di Kota Semarang dan sekitarnya.  Koran hanya beredar hingga dasawarsa 80-an. (Tim EPI/TS)


Republika - adalah koran nasional yang dilahirkan oleh kalangan komunitas Muslim di Indonesia, dan dilatarbelakangi oleh kehadiran Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), yang berhasil menembus pembatasan ketat pemerintah untuk mengeluarkan izin penerbitan saat itu, sehingga Republika dapat terbit perdana pada 4 Januari 1993.
Kehadiran Republika menjadi berkah bagi umat. Sebelumnya, aspirasi umat tidak mendapat tempat dalam wacana nasional. Kehadiran media ini bukan hanya memberi saluran bagi aspirasi tersebut, namun juga menumbuhkan pluralisme informasi di masyarakat. Karena itu kalangan umat antusias memberi dukungan, antara lain dengan membeli saham sebanyak satu lembar saham per orang. PT Abdi Bangsa Tbk sebagai penerbit Republika pun menjadi perusahaan media pertama yang menjadi perusahaan publik.
Mengelola usaha penerbitan koran bukan perkara sederhana. Selain sarat dengan modal dan sarat sumber daya manusia (SDM), bisnis inipun sarat teknologi. Keberhasilan Republika menapaki usia 10 tahun merupakan buah upaya keras manajemen dan seluruh awak pekerja di PT Abdi Bangsa Tbk yang dilakukan oleh perusahaan yang menerbitkan koran ini sejak 1993 untuk mengelola segala kerumitan itu.
Selain dituntut piawai berhitung, pengelola koran juga harus jeli, cerdik, dan kreatif, bersiasat untuk tetap bertahan dan memenangkan persaingan. Sejak awal, Republika memang dekat dengan “sesuatu yang baru”. Tatkala lahir, Republika menggebrak dengan tampilan “Desain Blok” yang tak lazim. Republika pun mampu menyabet gelar juara pertama Lomba Perwajahan Media Cetak 1993.
Tahun 1995, Republika membuka situs web di internet. Republika menjadi yang pertama mengoperasikan Sistem Cetak Jarak Jauh ( SCJJ ) pada tahun 1997. Pendekatan juga dilakukan kepada komunitas pembaca lokal. Republika menjadi salah satu koran pertama yang menerbitkan halaman khusus daerah. Selalu dekat dengan publik pembaca adalah komitmen Republika untuk maju.
Mulai tahun 2004, Republika dikelola oleh PT Republika Media Mandiri (RMM). Sementara PT Abdi Bangsa naik menjadi perusahaan induk (Holding Company). Di bawah PT RMM, Republika terus melakukan inovasi penyajian untuk kepuasan pelanggan.
Segala kreativitas dicurahkan untuk sedapat mungkin membuat Republika selalu dekat dan meladeni keinginan publik. Memang, upaya itu jelas tak mudah. Namun, kami menikmatinya selama ini.
Sebagai media berbasis keislaman Republika memiliki visi menjadikan koran ini  sebagai koran umat yang terpercaya dan mengedepankan nilai-nilai universal yang sejuk, toleran, damai, cerdas, dan profesional, namun mempunyai prinsip dalam keterlibatannya menjaga persatuan Bangsa dan kepentingan umat Islam yang berdasarkan pemahaman Rahmatan Lil Alamin.
Sedangkan misi yang diembannya adalah menciptakan dan menghidupkan sistem manajemen yang efisien dan efektif, serta mampu dipertanggungjawabkan secara profesional. (Tim EPI/KG. Sumber: Republika Online)


Resensi - Salah satu dari sekian banyak rubrik di media cetak biasanya berupa rubrik resensi, misalnya resensi buku atau resensi film. Dengan membaca rubrik resensi, pembaca biasanya akan segera mengetahui gambaran umum isi sebuah  buku atau alur cerita sebuah film, yang umumnya berupa buku baru atau film baru yang sedang diputar di bioskop. Dengan demikian pembaca akan memperoleh penilaian atau pertimbangan mengenai plus-minus buku atau film dimaksud.
Secara etimologis, menurut Alfons Taryadi dalam tulisannya berjudul Resensi dan Masalahnya (Buku Pengetahuan Dasar Bagi Wartawan Indonesia, Dewan Pers, 1977), istilah resensi dipinjam dari kata bahasa Belanda recensie dan berasal dari kata bahasa Latin recenseo yang berarti: memeriksa kembali, atau menimbang. Dalam pers kita istilah-istilah resensi buku (timbangan, pertimbangan atau pembicaraan buku), resensi drama, resensi film dan seterusnya, berarti suatu ulasan tentang buku (film, drama atau karya seni lain) yang baru saja terbit. Adapun sifatnya bisa informatif tentang seluk-beluk karya seni tersebut dan bisa juga bersifat kritis.
Dalam bahasa Inggeris, resensi disebut review yang biasanya dianggap berlainan dengan “kritik” (criticism). Review adalah sebuah reportase yang melukiskan “apa, siapa, di mana, kapan, bagaimana”-nya suatu peristiwa kesenian. Sedangkan kritik adalah suatu evaluasi, penilaian, yang mengundang pendapat dari penulisannya tentang suatu karya seni (buku dan lain-lain). Perbedaan serupa itu terlihat misalnya pada ucapan H. Rosihan Anwar (di depan musyawarah kerja perfilman nasional), bahwa apa yang dinamakan “kritik” film Indonesia baru dapat dinamakan review, belum tentu criticism.
“Kalau anda membaca sebuah buku”, tulis Llewellyn Jones, “dan menulis ringkasannya sambil menceritakan bidang yang dilingkupinya dan mungkin mencatat tentang gayanya, maka anda menulis sebuah review. Tetapi kalau anda bicara tentang buku itu dari segi pandangan anda, kalau anda mengatakan apakah menurut anggapan anda buku itu baik atau jelek, dengan mengemukakan alasan-alasan mengapa anda berpendapat begitu, maka anda menulis sebuah kritik”.
Tetapi menurut definisi yang diberikan oleh Webster's Third New International Dictionary, review bersifat informatif dan sekaligus kritis. Sedangkan dari keterangan The Shorter Oxford Dictionary, review merupakan penggambaran umum tentang suatu karya seni atau kritik atasnya. Dan memang pada kenyataannya, tulis Alfons Taryadi, perbedaan antara review dan kritik sering tidak jelas. Review yang ditulis oleh George Orwell di majalah-majalah Observer dan Partisan Review atau yang ditulis oleh Brigid Brophy di London Magazine, New Statesman atau New York Herald Tribune sama sekali tidak hanya bersifat reportase, melainkan juga sangat kritis.
Pada akhir tulisannya, Alfons Taryadi memberi saran bahwa dalam usaha meningkatkan mutu resensi seni dan buku, satu faktor yang penting adalah perhatian dari pemimpin redaksi. Kalau kemampuan editor untuk menangkap “mood of the day” sangat mempengaruhi pemilihan bidang resensi, seperti dikatakan oleh D.A.N. Jones, maka di tangan redaksi, terutama pemimpin redaksilah terletak kemungkinan perbaikan mutu resensi, tapi pertama-tama perhatianlah yang tumbuh dari pemimpin redaksi. Usaha perbaikan akan lahir bila perhatian sudah ada.
Yang dibutuhkan untuk meninggikan mutu resensi, antara lain bisa disebutkan sebagai berikut:
1. Cukup tenaga yang kompeten untukmenangani bidang resensi seni dan buku. Paling baik kalau untuk setiap bidang ada orangnya yang khusus.
2. Kebijaksanaan yang tegas dalam seleksi pemuatan resensi: menjauhkan intervensi komersial dalam pemuatannya (sistem “amplop” untuk sinopsis pesanan yang dimuat, dll).
3. Kesempatan meningkatkan kemampuan wartawan-penulis resensi: beberapa kali nonton film yang sama untuk mendalami isinya, penyelenggaraan diskusi antara wartawan-wartawan kebudayaan, penulis-penulis resensi film/drama dengan kritikus-kritikus yang qualified (kalau perlu kritikus-kritikus kenamaan dari luar negeri); kesempatan meninjau dapur teater, perfilman, mengikuti shooting film, secara dekat melihat kehidupan grup-grup drama (beberapa hari hidup di tengah mereka); penyelenggaraan workshop tentang resensi seni dan buku.
4. Perpustakaan yang lengkap, dan dokumentasi yang luas; kalau tidak mungkin, setidaknya, disediakan waktu dan fasilitas untuk mengunjungi perpustakaan-perpustakaan, di mana dimungkinkan riset dengan obyek terarah, seperti misalnya sejarah film Indonesia, perkembangan tater kita, dll.
5. Tuntutan yang keras dari redaksi terhadap mutu tulisan resensi untuk melatih sikap sungguh-sungguh wartawan resensen/penyumbang dari luar, dalam menggarap tulisan mereka. (Tim EPI/Wid)


Retno Suyati - adalah suratkabar berkala yang pernah beredar pada tahun 1891, dan diterbitkan oleh  Surakarta School. suratkabar dengan jumlah halaman hampir 60 halaman tersebut, khusus memuat tulisan-tulisan dan berita tentang kebudayaan dan filsafat Jawa. (Tim EPI/TS. Sumber: Reksa Pustaka)
Revolusioner  - Harian ini terbit dengan bekal SIT Deppen No. 0123/sk/DPHM/SIT 66 dan SIPK No. C. 711/AC/RI/III, izin Perpeda Djaya Kep.20/p/7/1968.
Tampil sebagai media pembela keadilan, berani mengritik yang perlu dan patut dikritik tanpa memandang golongan. Misalnya ketika pemerintah melancarkan kebijakan Gelora Repelita. Presiden Soeharto memerintahkan penyebarluasan kebijakan itu ke seluruh pelosok negeri. Atau ketika didapati adanya sejumlah oknum ABRI yang tidak membeli tiket saat berlayar dengan kapal Pelni.
Koran ini menyuguhkan hal besar kepada pembaca, yaitu perjuangan untuk mewujudkan prinsip negara Indonesia sebagai negara-hukum: semua warga setara di hadapan hukum, pun para serdadu. Sebagai daya tarik Revolusioner melengkapi sajian berita dan tulisan-tulisannya dengan foto dan ilustrasi grafis, dan dijual dengan harga hanya Rp 180,-(Tim EPI/KG. Sumber: Rhoma Dwi Aria Yuliantri/Indexpress/Jurnas)


Riuslan Paguci (Rigangan Kabupaten Kaur, 13 Nopember 1964) - saat ini menjabat Ketua PWI Cabang Bengkulu untuk yang keduakalinya. Setelah memimpin organisasi profesi tersebut selama satu periode (2001-2006), Riuslan terpilih kembali untuk memimpin PWI Cabang Bengkulu hingga tahun 2010 mendatang.
Perjalanan karir Riuslan di dunia jurnalistik tidak terlalu panjang. Dari biodatanya ia hanya mencantumkan keterlibatannya di dunia jurnalistik sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pada Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia Cabang Bengkulu.
Pada biodata yang dikirimkannya pria yang memiliki hobi tarik suara ini malah banyak mencantumkan keterlibatannya di dalam organisasi-organisasi nonjurnalistik. Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama misalnya, ia mencantumkan keterangan pernah duduk sebagai Ketua OSIS. Begitupun ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, Riuslan tercatat sebagai sekretaris OSIS. Jabatan sebagai sekretaris ini rupanya cukup lekat dengan pengalaan berorganisasi Riuslan sebab dari catatan yang dikirimkannya, Riuslan tercatat empat kali duduk sebagai sekretaris. Selain sebagai sekretaris OSIS SMAN 2 Bengkulu Selatan, Rius juga pernah duduk sebagai Sekretaris Senat mahasiswa STIA Bengkulu, Sekretaris II AMPI Provinsi Bengkulu (1991-1996), dan sekretaris Angkatan Muda Islam Indonesia Bengkulu (1996-1999).
Sedangkan keterlibatannya dengan dunia jurnalistik hanya dialaminya ketika Riuslan menjabat sebagai Ketua Lembaga Pers KNPI Provinsi Bengkulu 1989-1991.
Sebagai pegawai negeri sipil Riuslan beruntung sempat mendapat kesempatan untuk mengikuti Penataran P4 Tingkat Nasional pola 144 jam di Cibubur Jakarta (Calon Penatar) pada tahun 1993. Selain itu ia pun sempat mengikuti Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas) di PPSDP Cibubur Jakarta tahun 1995, dan Penataran Kesadaran Bela Negara di PPSDP Cibubur Jakarta tahun 1996.
Riuslan yang sempat meraih gelar Sarjana bidang Administrasi Negara itu menikah dengan Bayu Hartini, yang sama-sama berstatus PNS.mereka tinggal di sebuah rumah yang terletak di Jalan Timur Indah Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu. (Tim EPI/KG/Istimewa)
Robinson Hamonangan Siregar (1932 - Jakarta 14 Januari 2008), Sekretaris Dewan Kehormatan PWI (DK-PWI) periode 1988-1993, 1993-1998, dan 1998-2003. Kongres PWI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah menetapkan R.H. Siregar menjadi Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat (2003-2007).  Sedangkan jabatan Wakil Ketua Dewan Pers diembannya pada periode 2000-2003. 
Sebagai wartawan, ia memulai karir sebagai Sekretaris Redaksi Mimbar Pengawal, Jakarta (1954-1955), kemudian redaktur majalah ETIKA, Jakarta (1954-1955), Pemimpin Redaksi majalah Partungkoan, Medan (1956-1957), Pemimpin Redaksi UTUSAN, Medan (1956-1959), Sekretaris Redaksi majalah Ragi Buana dari Kelompok Sinar Kasih, Jakarta (1961-1968), Redaktur Pelaksana Sinar Harapan, Jakarta (1968-1986), Wakil Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan, Jakarta (1987-1991, dan anggota Dewan Redaksi Suara Pembaruan (1991-2008).
Siregar memilih kuliah di Fakultas Hukum. “Pada awalnya karena sebagai wartawan saya melihat ketidakadilan-ketidakadilan dalam putusan pengadilan yang kemudian memotivasi saya untuk memilih pendidikan hukum”, ungkapnya. Dalam perjalanan berikutnya, Siregar makin terlibat jauh dalam kewartawanan maupun hukum.
Sejak muda Siregar sudah aktif berorganisasi. Ia duduk sebagai wakil ketua Persatuan Pemuda Kristen Indonesia (PPKI) 1956-1959, anggota pengurus Gerakan Mahasiswa Kristen (GMKI) 1967-1969, ketua Biro Pendidikan/Biro Hukum PWI Jaya 1975-1985, direktur Pengembangan Hukum PWI Pusat 1988-1998, anggota Dewan Pakar Lembaga Pendidikan Pers Dr. Soetomo 2003, di samping kedudukannya di Dewan Kehormatan PWI dan Dewan Pers. Masalah besar yang sangat memprihatinkannya adalah suka-duka para pencari keadilan atau mereka yang “putus asa” dalam berperkara di pengadilan dan Mahkamah Agung.
Siregar ikut dalam konferensi hukum sedunia tahun 1981 di Santo Paulo dan meliput konferensi Hukum Laut PBB III tahun 1979 di Jenewa. Dalam konferensi-konferensi yang diselenggarakan sejak 1958 ini, Indonesia adalah faktor dan salah satu pelopor  berlakunya Deklarasi Juanda tahun 1957. Rangkaian konferensi ini akhirnya menghasilkan penandatanganan Konvensi PBB mengenai Hukum Laut tanggal 10 Desember 1982 di Montego Bay, Jamaica, sebagai rezim hukum laut internasional yang baru. Dengan konvensi ini pula dunia mengesahkan konsepsi Indonesia tentang Wawasan Nusantara dan tentang rezim hukum khusus mengenai negara kepulauan (archipelagic state).
Pentingnya peranan Indonesia juga terbukti dengan terpilihnya secara aklamasi Prof. DR. Hasyim Djalal, duta besar keliling RI untuk Hukum Laut/Kelautan sebagai Presiden pertama dari International Seabed Authority (ISBA) yang dibentuk sejak berlakunya konvensi PBB itu tahun 1984. Ia juga menjadi ketua kelompok negara-negara berkembang dalam masalah hukum laut.
Siregar piawai memasak. Ketika mengikuti Konferensi Hukum Laut III di Jenewa akan berlangsung lama, ia memilih hotel dela Poste yang ada dapur sendiri. Suatu kali sedang memasak, tiba-tiba room boy mengetuk pintu kamar dan langsung menanyakan ada apa? Rupanya dia mencium bau sesuatu yang asing baginya. Kuatir ada kebakaran. Siregar terkekeh. Diajaknya si room boy ke dapur. Siregar sedang menggoreng bawang dan membuat sambal goreng. Bau sedapnya memenuhi dapur. Si room-boy tersenyum.
Ketika meliput Konferensi Hukum sedunia di Sao Paulo ia didatangi tiga orang petugas hotel karena dari kamarnya tercium cium bau asing yang mencurigakan mereka. Siregar pun kemudian menjelaskan bahwa itu adalah bau dari rokok kretek khas Indonesia yang sedang diisapnya. R.H. Siregar, Senin 14 Januari 2008 Pukul 03.30 WIB meninggal dunia di RS  MMC Kuningan pada usia 76 tahun.(Tim  EPI/AM. Sumber: SSWJ)


Rosihan Anwar. (Kubang Nan Dua, 10 Mei 1922). Sejak kecil memang mempunyai cita-cita yang tinggi. Pendidikan ditempuhnya mulai dari HIS Padang (1935), MULO Padang (1939), AMS-A II Yogyakarta (1942), Drama Workshop, Yuniversitas Yale, AS (1950), dan School Journalism, Columbia University New York. AS (1954). Usia 21 tahun, ia sudah karib dengan pena dan kertas, bergelut mengurai kata dan kalimat menjadi berarti kemudian dibubuhkan  pada koran-koran. Dia memang punya cita-cita ingin menjadi wartawan.
Riwayat pekerjaannya sebagai wartawan dimulai sebagai reporter di suratkabar Asia Raya, Jakarta (1943-1945). Karirnya menanjak sejak ia bergabung dengan harian Merdeka milik B.M. Diah yang terbit pertama kali pada 1 Oktober 1945.  Sebelumnya, bersama Joesoef Isak dan B.M. Diah ia bergerak merebut percetakan Djawa Shimbun yang menerbitkan Asia Raja, kemudian dijadikan modal untuk mengembangkan sayap Merdeka. Berawal dari kerjasama ini mereka bersama-sama mendirikan Merdeka. Rosihan waktu itu menjabat posisi redaktur utama.
Di harian Merdeka, bakat Rosihan makin tampak. Selama menjadi wartawan, ia tak hanya menulis berita-berita lepas. Ketekunannya dalam menulis, merangkai dan menafsir fakta membuatnya lincah melahirkan beragam buku.
Kelihaian menulis yang dimiliki oleh Rosihan tak semata-mata berasal dari sekolah formal. Ia banyak berguru kepada Buya Hamka. Nama ini tetap dikenang sebagai orang yang ikut membentuk pribadinya dalam berkarya. Tidak heran, tulisan Rosihan Anwar juga seindah tulisan Hamka.
Rosihan tidak hanya lihai merangkai kata. Salah satu kelebihan yang dimilikinya adalah ketekunannya dalam mencari dokumen. Jakob Oetama menilai Rosihan Anwar sebagai sosok wartawan yang memiliki kemampuan dan kebiasaan mengingat, mencatat serta menyimpan impresi kejadian-kejadian penting maupun sehari-hari yang sarat dengan persoalan kemanusiaan.
Didasari daya juangnya yang tinggi, kiprah Rosihan di dunia pers makin mantap. Saat terjadi konflik dengan B.M. Diah, Rosihan tak lantas kehilangan harapan. Bersama rekan lainnya, Soedjatmoko dan Sanjoto, Rosihan mendirikan Pedoman pada tahun 1948. Di media ini Rosihan mengemban tugas sebagai pemimpin redaksi. Pada saat hampir bersamaan ia juga menerbitkan majalah mingguan Siasat. Di dua penerbitan ini, Rosihan tak hanya bergiat mencari dan menyampaikan berita. Dengan tekun, ia juga memberikan latihan kepada seluruh karyawannya, khusus para wartawan.
Pada tahun 1970 Rosihan terpilih menjadi Ketua  PWI Pusat, menyisihkan B.M. Diah. Meski pada tahun-tahun awal terjadi konflik panas yang kemudian melahirkan kepengurusan “PWI Kembar” dari sebuah kongres di Palembang akhirnya mereka bisa menyelamatkan PWI hingga langgeng sampai sekarang. Rosihan menjadi ketua umum PWI Pusat dalam kurun 1970-1973, ketua Pembina PWI Pusat (1973-1978 dan 1978-1983), penasehat PWI (1993-1998. Hampir 15 tahun (1970-1985), ia memimpin pelatihan wartawan melalui Karya Latihan Wartawan (KLW-PWI).  Selain aktif di organisasi PWI, Rosihan juga menjadi anggota Tim Ahli Lemhanas, anggota pengurus Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, anggota pengurus Asian Mass Comunication Research and Information Centre (AMIC).
Pendiri perusahaan film nasional Perfini bersama Usmar Ismail dkk (1950) ini juga ikut main dalam sejumlah film seperti Darah dan Doa (19500, Lagi-lagi Krisis (1956), Karmila (1974) dan Tjoet Nyak Dhien (1988). Bersama Ishadi SK dari TVRI, Rosihan menjadi producer director/script writer untuk film dokumenter/sejarah seperti Tanah Toraja, Hatta dan Sjahrir di Banda Neira, Kerajaan Islam Samodra-Pasai, Urang Talu, Pagaruyung, Perundingan Linggarjati 1946.
Tahun 1953, Pedoman mengalami gejolak hingga goncang dan akhirnya mati suri. Sebabnya, keberanian Rosihan menampilkan berita pernikahan Hartini-Soekarno yang saat itu sedang memanas dan diserbu kritikan dari organisasi perempuan. Rosihan dituduh bersekongkol dan dengan tanpa ampun, koran ini kemudian dibekukan. Tak hanya koran yang menjadi beku, demikian pun hubungan Rosihan dengan Soekarno mendingin.
Beruntunglah Rosihan masih punya Siasat yang bisa menopang hajat. Menjadi wartawan freelance pun ia jalani demi mengokohkan hidup dan pikirannya. Rosihan waktu itu masih tetap berharap, Pedoman dapat bangkit kembali.
Harapan itu pada akhirnya terwujud. Pada masa Orde Baru, Pedoman kembali beredar. Cukup lama bisa menghirup udara kebebasan, tahun 1974 Pedoman kembali mendapat terpaan. Pedoman dianggap pro-Peristiwa Malari yang membumihanguskan  Pasar Senen.
Pedoman benar-benar tutup usia, bersamaan dengan 12 suratkabar lain yang bernasib sama. Rosihan hanya bisa menatap anak asuhannya mati. Tapi ia sadar, kekosongan tak mungkin berlangsung lama. Ia bangkit bergerak merambah suasana lain. Kembali ia mengayunkan pena, menulis buku-buku yang tak hanya berbau pers, juga sejarah dan politik. Ia juga berhasil menulis autobiografinya yang bertajuk, Menulis Dalam Air, Autobiografi pada tahun 1983. Dalam bidang sejarah ia juga mencatat prestasi menggembirakan dengan menulis perjalanan Soekarno semasa pembuangan dalam buku berjudul Musim Berganti yang terbit 1985 dan Petite Histoire: Sejarah Kecil Kota-Kota di Indonesia, terbit 2001. Terakhir ia juga menulis tentang Gerakan 30 September berdasarkan rekaman memorinya di lapangan.
Di usianya yang senja, Rosihan juga tak mau hanya berdiam. Ia terus menulis. Khusus untuk para sahabat yang menaungi perjalanan hidupnya, ia mempersembahkan sebuah karya, In Memoriam, untuk mengenang tokoh-tokoh yang sudah meninggal dunia. Karya itu mulanya tak diniatkan menjadi buku. Atas saran Ali Audah, pengarang cerita pendek dan penerjemah karya-karya sastra Timur Tengah, Rosihan menimbang ulang dan bersedia membukukannya.
Atas saran berbagai pihak Rosihan kemudian mengumpulkan tulisan-tulisannya  yang tersebar di harian Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Gatra, Cek & Ricek, serta Panji Masyarakat. Akhirnya terbitlah buku setebal 432 halaman yang memuat beragam cerita dan kenangan terhadap 77 tokoh yang dekat dengan Rosihan  dan turut menyumbang tenaga kepada keberlanjutan sejarah Indonesia.      
Selama puluhan tahun menjadi wartawan ada beberapa peristiwa yang paling berkesan bagi Rosihan selama menjalankan profesinya. Pertama, ketika ikut dalam pasukan yang menjemput Panglima Besar Soedirman dari daerah gerilya untuk kembali ke Ibu Kota Yogyakarta pada tahun 1949, setelah tercapainya  kesepakatan Roem-Royen. Kedua, menghadiri penyerahan kedaulatan dari Ratu Yuliana kepada Wakil Presiden RI Mohammad Hatta di Istana den Dam, Amesterdam, pada 27 Desember 1949.
Pengalaman menarik lainnya yakni ketika melakukan percakapan intim dengan Bung Karno di tempat tidurnya di Kotaraja (sekarang Banda Aceh) tahun 1952. Isi percakapan tersebut yakni soal-soal sexology. Pengalaman lainnya adalah percakapan dengan Letjen TNI Ali Murtopo, Kepala Opsus, di dalam pesawat terbang menuju Kupang tahun 1972.(Tim EPI/ES/AM. Sumber: TAB/SSWJ).


Rohana Kuddus (Kotogadang, 20 Desember 1884-Jakarta, 17 Agustus 1972), wartawati pertama Indonesia, perintis pers Indonesia, penggerak perempuan pertama di Minangkabau, dan tokoh serta pelopor pendidikan yang mendirikan sekolah keterampilan di kota kelahirannya.
Rohana tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah umum melainkan hanya belajar secara otodidak kepada ayahnya. Meskipun demikian, pada usia 8 tahun ia sudah “mengajari” teman-temannya dengan cara bermain sambil membaca.
Pada usianya yang sangat belia itu Rohana membacakan cerita anak-anak dari buku-buku atau suratkabar yang dibelikan ayahnya. Teman-temannya sangat terkesan dan terpesona dengan berbagai kisah yang dibacakan Rohana. Ketika Rohana bermain sambil belajar dengan teman-temannya, ayah dan ibunya sering mendampingi dan turut membacakan buku-buku agama, budi pekerti, dan sesekali buku-buku sastera terbitan luar negeri.
Rohana yang terlahir dengan nama Sitti Rohana adalah putri pertama dari buah perkawinan Moehammad Rasjad Maharadja Sutan dan Kiam. Ayahnya adalah seorang pegawai Pemerintahan Belanda. Karena ayahnya sering harus berpindah tugas, sejak usia 10 tahun Rohana sudah dibawa merantau. Bagi anak seusia Rohana pada masa itu, kesempatan ikut merantau bersama orangtua merupakan keberuntungan. Di perantauan Rohana banyak melihat hal-hal baru. 
Rohana memang tumbuh dan berkembang di lingkungan terbaik. Selain hidup di lingkungan adat dan agama yang kolot dan terbelenggu, Rohana juga beruntung karena memiliki ayah yang moderat dan memiliki kegemaran membaca. Hal ini tentu saja mendorong Rohana untuk mempelajari banyak hal baik melalui buku, majalah, mamuoun suratkabar.
“Guru” Rohana yang sebenarnya dalam hal membaca dan menulis adalah orangtua angkatnya, Adiesa, tetangga mereka ketika orangtua Rohana merantau ke Alahan Panjang. Berkat upaya isteri Jaksa di kota kecil itu, dalam usia 8 tahun Rohana sudah pandai membaca dan menulis dalam bahasa arab, latin, arab melayu, bahasa melayu, dan belanda. Untuk meningkatkan kemampuannya membaca dan menulis ayahnya berlangganan buku bacaan anak-anak Berita Kecil yang terbit di Medan.
Berkat dukungan ayah, ibu, dan orangtua angkatnya, dalam usia belia Rohana sudah memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas. Manakala anak-anak seusianya asyik bermain, Rohana malah tenggelam dalam bacaan milik ayahnya seperti buku-buku hukum, politik, dan sastera.
Rohana sebenarnya mempunyai keinginan kuat untuk bisa mengikuti pendidikan di sekolah umum. Namun, ketika itu, di kota tempat tinggalnya hanya terdapat sekolah untuk laki-laki, dan anak perempuan sangat tidak lazim bersekolah.
Tahun berganti tahun Rohana tumbuh menjadi remaja dengan cakrawala berpikir yang luas. Melalui bacaan yang dilahapnya sehari-hari, Rohani menjadi paham terhadap kondisi perempuan di negerinya. Namun pada usia itu pula Rohana meyakini bahwa Islam tidak pernah mengekang pendidikan kaum perempuan, dan memberi hak yang sama dengan kaum pria, setelah mempelajari tafsir Al Quran tentang kedudukan kaum perempuan.
Meskipun memiliki pengetahuan dan wawasan yang selangkah lebih maju dari remaja seusianya, Rohana tetap menjunjung tinggi adat istiadat dan agama yang mengandung ajaran budi pekerti luhur. Hal itu ia perlihatkan ketika dijodohkan dengan seorang pria yang belum pernah dilihatnya, dan baru ia ketahui hingga tiba waktunya menikah.
Rohana menikah pada usia 24 tahun dengan Abdul Kuddus, salah seorang keponakan ayahnya. Meskipun suaminya tidak tergolong kaya secara materi perkawinan ini sangat membahagiakan Rohana, karena Abdul Kuddus adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu yang berlimpah, berwawasan luas, dan memiliki jiwa pergerakan. Selain dikenal sebagai aktivis pergerakan Abdul Kuddus juga dikenal memiliki kemampuan meulis artikel bertemakan sosial, politik, dan hukum. Rohana merasa beruntung karena terdapat kesamaan antara ia dan suaminya yakni sama-sama menginginkan perubahan. Jika suaminya menghendaki perubahan situasi politik di Tanah Melayu, Rohana berjuang untuk perubahan nasib kaum perempuan.
Kecintaan Rohana akan membaca dan menulis mendorong Rohana untuk mengirimkan tulisan-tulisannya ke koran-koran yang dilangganinya baik koran terbitan Padang, Medan, Batavia, maupun Belanda. Namun keinginannya urung ia laksanakan karena adanya kekhawatiran, koran-koran yang akan ia kirimi tulisan, tidak berkenan memuat tulisan seorang perempuan.
Namun atas dukungan Sutan Maharadja,  Pemimpin Redaksi Harian Oetoesan Melajoe, keinginannya dapat terpenuhi. Bahkan bukan sekadar menyampaikan pikiran-pikirannya tentang bagaimana memajukan kaum perempuan, Rohana berkesempatan menerbitkan koran khusus untuk kaum perempuan yakni Sunting Melayu.
Tepat pada tanggal 10 Juli 1912, Rohana berhasil mewujudkan mimpinya dengan menerbitkan Sunting Melayu, koran khusus berslogan “suratkabar perempuan di alam Minangkabau.”
Selama memimpin Sunting Melayu Rohana tetap tinggal di Kotogadang. Ia cukup mengirimkan tulisan-tulisannya ke Kota Padang. Artikel-artikelnya ditulis tangan karena saat itu Rohana belum dapat menggunakan mesin tik.
Aktivitas Rohana di Sunting Melayu ini secara tidak sengaja mendorong ia terjun sebagai wartawan, profesi yang sebelumnya tidak pernah dicita-citakannya. Awalnya, ia menulis hanya karena ingin menyampaikan pemikiran-pemikirannya yang berupa ajakan kepada kaum perempuan untuk bangkit membela nasibnya sendiri terutama hak-haknya.
Selepas melahirkan anak pertamanya, dan satu-satunya, di Bukit Tinggi pada tahun 1917, Rohana mendirikan Roehana School, sekolah kepandaian perempuan, yang dibuka di rumah yang ia sewa. Murid-muridnya kebanyakan adalah gadis remaja yang pagi hari bersekolah di sekolah umum dan sore hari berminat menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan. Sayang, usia sekolah ini hanya dua tahun karena Rohana memutuskan untuk pindah ke Lubuk Pakam, Medan. Di kota ini Rohana juga mengajar di sekolah Dharma Putra Pusat, dan sesekali menulis artikel untuk suratkabar Perempuan Bergerak. 
Setelah sempat kembali ke kota kelahirannya, Kotogadang, Rohana menetap di Medan, Jakarta, Surabaya, dan kembali ke Jakarta. Di kota ini, tepatnya tanggal 17 Agustus 1972, Sitti Roehana Kuddus meninggal dunia pada usia 88 tahun.
Untuk menghormati jasa-jasanya Rohana memperoleh penghargaan dari Gubernur Sumatera Utara sebagai “wartawati pertama.” Rohana juga memproleh penghargaan dari Dewan Pertimbanga Pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)  sebagai “Perintis pers Indoensia”. (Tim EPI/KG. Sumber: Biografi Rohana Kuddus, Wartawan Perempuan Pertama Indonesia, 2005)


Rudy Novrianto (Pematang Siantar ) nama ini identik dengan urusan olahraga. Sejak merintis karir di dunia jurnalistik, bersama Majalah Berita Mingguan TEMPO, 1981, pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, ini memang lebih banyak menggeluti rubrik Olahraga. Begitu juga saat membidani kelahiran Majalah GATRA, 1994, ayah dua anak lulusan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor ini juga menangani masalah Olahraga. Ia meliput berbagai event olahraga, baik di tingkat nasional maupun internasional. Mulai dari Pekan Olahraga Nasional, SEA Games, Piala Thomas dan Uber, Asian Games, Piala Eropa, Piala Dunia sampai Olimpiade.
Rudy Novrianto, juga aktif berkecimpung di organisasi keolahragaan. Di awali sebagai Bendahara di SIWO PWI Jaya pada 1986 hingga 1990. Kemudian, ia menjadi Sekretaris SIWO PWI Pusat dibawah pimpinan Sumuhadi Marsis, 1994-1998. Dilanjutkan dengan posisi yang sama saat SIWO PWI Pusat dipimpin Atal S. Depari periode 2003-2008. Kegemarannya bermain tenis membawa Rudy Novrianto duduk dalam kepengurusan PB Pelti sebagai Staf Media dan Hubungan Luar Negeri 1994-2003 di era kepengurusan Bapak Sarwono Kusumaatmadja dan Tanri Abeng. Rudy juga pernah menjadi  anggota Komisi Media dan Humas KONI Pusat 1998-2003, dibawah Ketua Umum Bapak Wismoyo Arismunandar.
Kegiatan lain di luar liputan olahraga, Rudy pernah menjadi juri pemilihan McDonald Players Escort Program ke Piala Dunia 2002. Selain itu juga menjadi juri pada Lomba Karya Jurnalistik  Turnamen Tenis Wismilak International, sejak 2005,  yang mulai tahun lalu berubah menjadi Turnamen Tenis Classic Commonwealth Bank.
Rudy dan kawan-kawan saat di TEMPO, juga sempat menerbitkan Buku Piala Dunia "Dari Montevideo ke Chicago" 1994. Juga menjadi editor Buku Program Indonesia Bangkit yang diterbitkan oleh KONI Pusat pada 2005.
Penghargaan di dunia jurnalistik yang pernah diterima Rudy Novrianto adalah Samsung Journalist Award 2001. Dia meraih penghargaan untuk kategori berita olahraga yang artikelnya dimuat di Gatra, September 2001. Tulisan yang dimuat di rubrik Suplemen itu mengulas masalah olahraga di Indonesia menjelang Asian Games di Busan, Korea Selatan.


Running News - Selain berita yang berdiri sendiri, penulisan feature melanjutkan berita yang sudah dibuat sebelumnya. Berita berkesinambungan atau running news dibuat terhadap sebuah peristiwa yang besar yang menarik minat masyarakat luas. Berita yang menghebohkan tidak hanya ditulis sekali, tetapi bisa sampai beberapa hari atau minggu, bahkan sampai sebulan.
Penulisan running news dilakukan melalui straight news dan feature. Straight news untuk penulisan terhadap perkembangan kejadian, sedangkan feature untuk sesuatu yang ada di balik berita (behind the news). Penanganan sebuah peristiwa besar selalu berkembang dari hari ke hari. Perkembangan ini harus menunjukkan kemajuan dari beritanya. Misalnya hari ini menulis tentang aksi perampokan sadis yang menewaskan satu keluarga. Besok berita yang tampil bukan lagi jalannya cerita perampokan, tetapi bagaimana penanganan polisi untuk memburu pelakunya.
Sebuah peristiwa besar pasti menimbulkan banyak permasalahan yang mengikutinya. Di antara masalah itu selalu muncul masalah-masalah yang berkaitan dengan unsur kemanusiaan.
Kasus penggerebekan Dr. Azhari di Batu,Malang, Jawa Timur merupakan salah satu contoh berita besar. Selain perkembangan berita pengerebekan yang menghebohkan itu muncul dari ke hari, juga muncul berita-berita ikutan. Unsur human interest banyak terdapat dalam kasus tersebut. Misalnya, bagaimana perasaan tetangga Azhari saat terjadi baku tembak antara polisi dengan kelompok teroris itu. Masih banyak kisah lain yang ada di balik peristiwa tersebut, dan kalau dibuat sebuah feature bisa sampai beberapa kali edisi. Sebab, kalau bicara soal kemanusiaan, akan selalu muncul dalam sebuah peristiwa. Unsur kemanusiaan tidak akan pernah habis selama manusia masih hidup. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Panduan Menulis Berita, Pengalaman Lapangan Seorang Wartawan, Husnun N. Djuraid, Penerbit UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang, 2006).


Rusli Haudy (Banjarmasin, 27 Juli 1953) - saat ini menjabat sebagai Direktur Program Perumahan PWI Pusat (2003-2008). Di tingkat daerah Rusli juga sempat aktif sebagai pengurus PWI Cabang Kalimantan Selatan (Kalsel) yakni sebagai Ketua Bidang Organisasi (1977-1980), dan Ketua Unit Wartawan Perbankan (1992-1997).
Rusli mengawali karirnya di bidang jurnalistik tahun 1975 sebagai wartawan Suratkabar Harian Gawi Manuntung Banjarmasin. Setahun kemudian ia pindah menjadi wartawan di Suratkabar Harian Merdeka Banjarmasin.
Tahun 1977 Rusli hijrah ke Jakarta dan bekerja sebagai wartawan LKBN Antara (1977-1982). Pada saat bersamaan ia pun merangkap sebagai wartawan untuk Jurnal Ekuin Jakarta (1980-1982). Pada tahun 1984 Rusli dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana Majalah Promosi Ekonomi. Setahun berikutnya, selama dua tahun Rusli menjabat sebagai Redaktur Pelaksana Majalah Infobank (1985-1987).
Karirnya melesat ketika Rusli masuk ke jajaran redaksi Suratkabar Harian Umum Pelita. Tahun 1999 Rusli mendapat kepercayaan untuk menduduki jabatan sebagai Pemimpin Redaksi Harian Umum Pelita Jakarta 1999-2008, setelah sepuluh tahun sebelumnya menduduki poisisi sebagai redaktur (1988-1998). Lepas dari kedudukannya sebagai Pemimpin Redaksi Pelita, Rusli alih tugas menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Suara UKM yang baru dijabatnya beberapa bulan terakhir ini.
Selain bergelut di dunia jurnalistik Rusli juga terlibat aktif di sejumlah lembaga nonjurnalistik antara lain sebagai Manager Koperasi Asuransi Indonesia di Jakarta 1981, Staf Bank Duta Kantor Pusat Jakarta 1984, Staf PT Alkan Indonesia di Jakarta 1983, dan Staf Pengajar di STEI Jakarta, 1986-1988.
Menjadi pemimpin memang bukan hal baru bagi Rusli. Sejak masih di kota kelahiran ia sering terlibat di berbagai organisasi dan menduduki jabatan startegis. Tahun 1977 hingga 1980 Rusli menjabat sebagai Ketua KNPI Provinsi Kalsel. Pada saat bersamaan ia pun menduduki jabatans sebagai Ketua Perhimpunan Sastra Kalsel (1977-1979), dan Ketua Badan Pagelaran Seni Banjarmasin (1977-1979).
Tahun 1980 hingga 1984 Rusli menjabat sebagai Ketua AMPI Jakarta Selatan. Tahun 2001 hingga sekarang Rusli duduk sebagai Direktur Pusdek (konsultan), Ketua Umum Majelis Kajian Islam Raudlatul Jannah 2008-sekarang, Direktur Islamic Development Studies for Indonesia 2008-2013, dan Ketua Forum Usaha Kecil-Menengah Indonesia, 2008-2013.
Rusli yang menempuh pendidikan dasar dan menengah di Banjarmasin, bertekad meninggalkan tanah kelahirannya guna  menuntut ilmu ke negeri seberang (Subaraya), di kota ini Rusli tercatat sebagai mahasiswa Akademi Wartawan Surabaya (AWS), dan tuntas pada tahun 1974. Rusli kemudian melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, di Surabaya, dan meraih gelar sarjana tahun 1978. Di tengah kesibukannya sebagai wartawan Rusli sempat menempuh pendidikan singkat di Asia Management Institut, Filipina, tahun 1986.
Seakan tak cukup dengan ilmu yang sudah diraihnya Rusli mengikuti berbagai pendidikan singkat (kursus) di berbagai lembaga antara lain Kursus P4 Pola 120 Jam, 1980, Kursus Pendidikan Hankam 1978, Kursus Perbankan untuk wartawan, 1975, Kursus Pendidikan Wartawan Antara, 1979, Kursus Wartawan Taspen, 1982, Pendidikan Perbankan Indonesia (LPPI), 1982, Pendidikan Leasing Indonesia, Depkeu 1982, dan Kursus Manajemen Bank Mitsubishi, Tokyo 1984.
Keluasan ilmu, pengetahuan, dan wawasan yang dimiliki Rusli tampaknya bukan sekadar karena pendidikannya (formal/nonformal) yang "segudang", namun juga  ia peroleh dari pengalamannya selama melanglang buana ke berbagai Negara. Dalam catatannya Rusli pernah  mengikuti Misi Kebudayaan Kalsel ke Malaysia (1977), menjadi anggota Delegasi Pemuda ke Bangkok (1978), melakukan Studi Banding Pasar Modal ke Hongkong (1984), dan Studi Banding Perbankan ke Tokyo (1986), menjadi anggota Delegasi COCI Indonesia ke negara-negara ASEAN (1993), menjadi Koordinator Liputan Haji di Arab Saudi (2007), dan menghadiri Muktamar Rabithah al Alam Islami di Makkah (Juni 2008). usli menikah dengan Tuti Sumiati, yang memberinya tiga keturunan. Ia dan keluarganya memilih rumah di Jalan H. Zaini No 37 Yado III Radio Dalam Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sebagai tempat tinggal mereka. (Tim EPI/KG/Istimewa)