Rabu, 18 September 2019

Akhmad Munir ; Kemajuan Teknologi Mengubah Wajah Pers Indonesia

27 Februari 2016

Surabaya – (beritalima.com), Media massa harus harus bisa beradaptasi dan berinovasi dengan perkembangan teknologi informasi  jika ingin tetap ingin eksis dan diminati masyarakat, demikian di antara kesimpulan Diskusi Konvergensi Media di Era Digital yang digelar di PWI Jatim, Sabtu. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Akhmad Munir mengatakan tanpa terasa kemajuan teknologi telah mengubah wajah pers Indonesia saat ini. “Kita masih ingat ditutupnya Koran Sinar Harapan. Padahal koran itu merupakan koran perjuangan karena pendirinya juga para pejuang. Begitu juga tabloid Bola tiba-iba pada Januari lalu tutup. Ini Kenapa? kiranya hal ini perlu didiskusikan bersama,” kata Kepala LKBN Antara Biro Jatim ini. Menurut dia, apa yang harus dilakukan oleh media massa dalam menghadapai fenomena ini. Harapannya, lanjut dia, agar media massa baik cetak, radio, online, bisa menyiarkan berita sesuai hakekat pers. Nnarasumber dalam diskusi kali ini adalah Errol Jonathan (CEO Surabaya Media Group), Nur Wahid (Pimpred Jawa Pos), Nugroho Iman (Kabiro Kompas TV) dan Ferry Pe’i Suharyanto (karikaturis). Errol Jonathan mengatakan konvergensi media khususnya radio basisnya pada digital atau internet. Keunggulan radio, lanjut dia, bisa menggerakkan khalayak umum, sentuhan emosi, interaktivitas dan imajinasi. “Saya pesan saat itu, penyiar radio tidak boleh nampang. Kekuatan penyiar adalah pada suara.  Kalau pendengar mengetahui wajah penyiar, maka dikhawatirkan melemahkan tingkat imajinasi pendengar,” katanya. Namun seiring dengan perkembangan teknologi, kata dia, radio harus bisa menyesuaikan. Ia mencontohkan radio Suara Surabaya (SS) yang telah menggunakan streaming untuk memudahkan pendengar mendengarkan suara SS dimanapun berada. Seiring dengan perjalanan waktu, SS juga mengunakan video streaming.

 “Pendengar di luar Negeri terbanyak di Hongkong. Setelah kami analisis hal itu dipengaruhi banyak TKW Indonesia di sana,” ujarnya. Selain itu, kata dia, dampak citizen jurnalistik juga berpengaruh dalam meningkatkan jumlah pendengar SS. “Partisipsi warga terjadi untuk menyiarkan kejadian yang ada di lokasi,” katanya. Pimpred Jawa Pos Nur Wahid mengatakan sempat menjadi kekhawatiran bahwa koran seiring dengan era digital akan mati. “Kami setiap tahun menggelar pertemuan bagaimana koran menghadapi situsi seperti ini. Tapi ada perkembangan menarik, tahun lalu sudah tidak ada lagi kekhawatiran itu,” katanya. Menurutnya, pihaknya optimistis koran tidak akan mati selama bisa melakukan inovasi, salah satunya menampilkan berita mendalam yang tidak didapat di media online. Ia mencontohkan Jawa Pos yang membuat media online seperti JPPN. “Hal ini dilakukan jika nanti benar-benar koran mati, bisa beralih ke JPPN. Tapi kenyataannya perolehan iklan JPPN hingga saat ini masih kalah jauh dari koran Jawa Pos. Ini berarti koran masih eksis,” katanya. Kabiro Kompas TV Jatim Nugroho Iman mengatakan teknologi berkembang dengan cepat, tentunya TV harus bisa mengikuti perkembangan itu. “Peran sosial media juga harus diperhatikan.  Tantangan konvergensi media adalah kreativitas. Itu menjadi keharusan,” ujarnya. (*)

 

Sumber: http://www.beritalima.com/2016/02/27/akhmad-munir-kemajuan-teknologi-mengubah-wajah-pers-indonesia/