Selasa, 17 September 2019

30 Wartawan Aceh Ikuti Sekolah Jurnalisme Indonesia

Banda Aceh (atjehlink.com) – Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Angkatan II Tahun 2014, Senin (24/11/2014), resmi dimulai. Puluhan pesertanya berasal dari sejumlah media cetak maupun elektronik seluruh Aceh.

 

SJI PWI Aceh Angkatan II bertema “Melahirkan Wartawan Profesional dan Beretika” dan didukung Pemerintah Aceh ini akan berlangsung sampai dengan tanggal 6 Desember mendatang di Gedung PWI Aceh, Simpang Lima, Banda Aceh.

Pada acara pembukaan pagi tadi, turut hadir Ketua PWI Pusat yang diwakili oleh Ketua Bidang Pendidikan Marah Sakti Siregar, Perwakilan Kapolda, Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman, para pengurus PWI Aceh, Kadis Pendidikan Aceh yang diwakili Kabid PLS Saifullah MPd, dan sesepuh PWI Aceh Harun Keuchik Leumiek.

Kepala SJI PWI Aceh, Iranda Novandi SSos, dalam laporannya menyebutkan, SJI kali ini diikuti oleh 30 peserta dari sejumlah daerah di Aceh.

Menurutnya, selama ini mayoritas wartawan di Aceh belajar secara otodidak. “Maka Sekolah Jurnalisme Indonesia yang akan memberikan materi dasar jurnalistik menjadi hal yang penting untuk diikuti oleh para wartawan,” katanya.

Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman dalam sambutannya, mengungkapkan, SJI Angkatan I dan Angkatan II digelar bagi wartawan tingkat Muda (Jurnalis), sementara mulai tahun depan pihaknya akan menyelenggarakan SJI bagi tingkat wartawan Madya (Redaktur).

“Tenaga pengajar pada SJI angkatan II ini merupakan orang-orang yang sudah go international. Ada mantan Dubes, Dosen UGM dan lain lain. Jadi manfaatkankah kesempatan berharga ini dengan sebaik-baiknya,” pesan Tarmilin kepada para peserta.

 

Sementara itu, Marah Sakti Siregar dari PWI pusat menyatakan, basis kurikulum SJI berasal dari UNESCO tahun 2007 yang memang dikhususkan bagi negara-negara yang baru menjalankan sistem demokrasi. “Untuk tingkat muda, ada 17 materi ajar yang akan disampaikan.”

Ia melanjutkan, ada tiga aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang jurnalis. Pertama, Skill, meliputi tahapan rencana sampai dengan evaluasi sebuah produk jurnalistik.

“Kedua,  Etika. Wartawan harus tahu, paham dan menjalankan kode etik jurnalistik. Ketiga yang tak kalah penting adalah Knowledge. Seorang wartawan dituntut untuk memiliki wawasan yang luas.”

 

Saifullah yang didapuk untuk membuka acara secara resmi mewakili Kadisdik Aceh, menyampaikan, program ini sangat baik untuk para wartawan. “Pendidkan merupakan suatu kebutuhan yang hakiki. Bagi yang lulus nantinya agar membagi ilmunya kepada yang lain, terutama yang dari daerah,” kata dia.

Pada kesempatan itu, ia juga berharap agar wartawan tidak menjadikan narasumber sebagai ‘tersangka’, dalam setiap peliputannya. “Wawancara bukanlah interogasi.”

“Dana untuk acara ini berasal dari rakyat, jadi manfaatkan dengan baik kesempatan ini. Dengan mengucapkan bismillahirahmanirrahim SJI PWI Aceh Angkatn II Tahun 2014 kami nyatakan resmi dibuka,” tutup Saifullah. (Jun)