Jumat, 22 November 2019

Silaturahim Pers Nasional dan Peluncuran Buku "SBYB dan Kebebasan Pers : Testimoni Komunitas Media"

SBY: Karena Kritik Pers, Saya Bisa Bertahan sampai Saat Ini

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku bersyukur mendapatkan kritik dari pers selama 10 tahun masa jabatannya. Menurut dia, seorang pemimpin tidak boleh anti terhadap kritik. Pemimpin yang anti-kritik, sebut Presiden, hanya akan menyimpan bom waktu.

"Pemimpin yang pantang dikritik dan menolak kebebasan pers dan hanya menerima serba baik sama saja menyimpan bom waktu," ujar Presiden SBY dalam peluncuran buku SBY dan Kebebasan Pers di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (5/9/2014).

Presiden mengungkapkan, pemimpin yang pantang dikritik cenderung akan terlena karena  merasa seolah-olah semua orang menyukai dan mendukungnya. 

"Lalu tergoda dengan kedudukan. Itulah kisah tragis di mana-mana, terutama yang menganut sistem otoritarian yang pemimpinnya menolak kritik," ujar Presiden SBY.

Oleh karena itu, ia mengaku bersyukur telah dikritik media selama 10 tahun ini. Menurut Presiden, karena hampir setiap hari mendapat kritikan, bom waktu itu tidak terbentuk. 

"Karena kritik dari pers juga saya bisa bertahan sampai saat ini," kata dia.

SBY pun bercerita, di balik kritik yang dilontarkan media terhadap dirinya kadang kala direspons sang istri, Ani Yudhoyono. 

"Bu Ani sering bilang ini kok keras betul, kadang-kadang berlebihan. Itu biasa, tetapi over all saya yang mengucapkan terima kasih. Teman-teman pers membantu saya untuk tidakabuse of power," kata dia.

Adapun buku SBY dan Kebebasan Pers adalah kumpulan testimoni dari sejumlah pekerja media massa. Editor dari buku itu, Agus Sudibyo, menyebutkan, testimoni dari para pimpinan pers dan media tidak hanya berisikan pujian, tetapi juga kritik.