Kamis, 21 November 2019

Wisata Jurnalistik ke Bunaken

Denpasar (ANTARA News) - Sebanyak 40 peserta wisata jurnalistik dari Bali menikmati keindahan flora dan fauna Taman laut Bunaken, Manado, Sulawesi Utara dalam rangkaian kunjungan tiga hari ke daerah itu, 20-23 Nopember 2008.

Wartawan dari berbagai media massa di Bali bersama staf Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali menumpang dua perahu metor yang dirancang secara khusus untuk bisa melihat keindahan bawah laut yang memiliki kedalaman lebih dari 200 meter.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setdaprov Bali, I Nyoman Puasha Aryana yang memimpin kegiatan tersebut, Minggu, mengaku sedikit kecewa karena tidak bisa menunjungi Pulau di pesisir Taman laut Bunaken akibat cuaca yang kurang bersahabat.

Dua perahu motor yang membawa peserta mengunjungi taman laut Bunaken hanya berputar-putar di sekitar Teluk Manado untuk menikmati panorama alam bawah bawah lewat layar kaca di dasar perahu motor.

Kedua perahu motor yang membawa rombongan dari Bali tidak bisa merapat di pesisir Pulau Taman Laut Bunaken akibat gelombang yang cukup besar.

Meski beberapa wartawan mendesak nahkoda agar merapat, namun perahu motor itu akhirnya kembali tanpa sempat menginjakkan kaki di pulau andalan pariwisata Sulut itu.

Peserta wisata jurnalistik dari Bali sengaja memilih berkunjung ke Taman Laut Bunaken karena tempat tersebut akan menjadi tuan rumah pertemuan "World Ocean Conference Wocevent Internasional-WOC" yang melibatkan 125 negara yang memiliki laut dan pesisir di belahan dunia pada Mei 2009.

Asisten Pemerintahan dan Kemasyarakatan Pemprov Sulut HR Makagansa didampingi Kepala Dinas Perikanan Sulut George Ruata ketika menerima peserta wisata jurnalistik dari Bali, mengatakan pertemuan bertaraf internasional tersebut melibatkan sejumlah kepala negara, peneliti dan organisasi internasional yang membicarakan kehutanan dan pesisir pantai, terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim.

Selain itu juga diadakan pertemuan Coral Triangle Initiative (CTI) yang melibatkan sejumlah negara antara lain Indonesia, Malaysia, Pilipina, Brunei Darussalam dengan mitra kerja Amerika Serikat dan Australia.

Negara-negara tersebut termasuk dalam "zone" segitiga "cotal triangle" yang memiliki trumbu karang terbesar di dunia.

Taman Laut Bunaken pada kesempatan itu rencananya disahkan sebagai "World Heritage". Terumbu karang dengan dengan flora dan faunanya yang lestari karena memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim.

Konferensi kelestarian alam bawah laut dan pesisir pantai baru pertama kali diadakan dunia dan Sulut mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah pelaksana, ujar Makagansa. (*)