Rabu, 18 September 2019

Presiden SBY Sahabat Pers

Bagir Manan, Margiono, Presiden SBY (kiri ke kanan)Bengkulu (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dianugerahi kado istimewa sebagai Sahabat Pers dalam puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2014 yang digelar di Benteng Marlborough, Kota Bengkulu, Minggu.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Ketua Dewan Pers Bagir Manan mewakili komunitas Hari Pers Nasional kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada saya yang disebut dengan sahabat pers. Insya  Allah saya akan terus menjadi sahabat pers sampai kapanpun juga," kata Presiden saat memberikan sambutan.

Ketua Dewan Pers Bagir Manan dalam kesempatan itu mengatakan, kebebasan pers di satu sisi memberikan efek samping. Namun demikian, pers yang bebas merupakan prasyarat rakyat berdaulat dan demokrasi.

Untuk itu, upaya Presiden Yudhoyono untuk mendukung kebebasan pers meskipun terkena efek sampingnya, layak diapresiasi.

"Presiden Yudhoyono telah menumbuhkan, memelihara dan menjaga kebebasan pers," katanya.

Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia Margiono saat memberikan sambutannya di Hari Pers Nasional sebagai bentuk apresiasi atas peranan dan sumbangan Presiden terhadap pers.

"Karena besarnya perhatian Bapak kepada pers, tingginya kepedulian Bapak kepada pers, karena berkomunikasi dengan baik dengan pers, kami bersepakat, Bapak Presiden kami angkat sebagai sahabat pers," katanya.

Ini merupakan kesempatan terakhir SBY menghadiri peringatan Hari Pers Nasional sebagai Presiden. Selama menjabat sebagai Presiden sejak 2004, SBY setiap tahun menghadiri Hari Pers Nasional.

Margiono menambahkan, sahabat pers, menunjukkan perasaan terdalam yang terus bersama dalam suka dan duka.

"Sahabat itu lebih tinggi dari teman.Sahabat sampai akhir hayat, kalau teman di meja makan tapi sulit dalm duka. Sahabat bersama baik suka maupun duka," katanya.

Presiden Yudhoyono dalam berbagai kesempatan menyatakan secara tegas dukungannya terhadap kebebasan pers. Namun demikian, Presiden Yudhoyono, dalam beberapa kesempatan mengkritik adanya kebebasan pers yang disalahgunakan sehingga muncul berita-berita fitnah.

Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Presiden juga menyatakan sebagai korban Pers karena berita-berita fitnah. Namun, Presiden tetap meyakini pers yang bebas dibutuhkan bagi demokrasi yang sehat.

Puncak perayaan HPN 2014 yang bertema Pers Sehat Rakyat Berdaulat digelar di benteng yang didirikan oleh East India Company (EIC) tahun 1713-1719 di bawah pimpinan Gubernur Joseph Callet.

Komunitas Hari Pers Nasional (HPN) terdiri atas Dewan Pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Serikat Perusahaan perS (SPS), Serikat Drafika Pers (SGP), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), Perusahaan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI). (*)