Rabu, 18 September 2019

Busana koran sambut HPN di Bengkulu

Bangkalan (ANTARA News) - Para siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Senin menggelar peringatan Hari Pers Nasional (HPN) bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dengan menampilkan parade busana muslim yang terbuat dari kertas koran.

"Parade busana dari kertas koran ini sebenarnya sebagai bentuk pengenalan kepada para siswa akan pentingnya pers dan informasi dari hasil karya jurnalistik wartawan," kata Kepala MAN Bangkalan Fathorrahman Said.

Busana yang ditampilkan para siswa yang terbuat dari koran ini, sebagai salah satu hasil keterampilan dari para siswa. Sebab di MAN Bangkalan para siswa dilatih keterampilan fasion dan menjahit.

"Busana yang terbuat dari koran ini kan mempunyai makna, agar pekerja jurnalistik tetap tampil indah dan bagus dengan menjunjung kode etik jurnalistik, demi kemaslahatan umat," katanya.

Selain itu, ia berharap agar pemberitaan seputar dunia pendidikan lebih ditingkatkan. Karena pendidikan mempunyai peran penting demi kemajuan bangsa.

Selama ini, kata dia, pemberitaan tentang dunia pendidikan di kalangan perusahaan media, terkesan kurang diperhatikan, dan kalaupun ada halamannya juga sangat terbatas.

"Jadi selain untuk menampilkan keterampilan, demo tentang busana dari kertas koran ini juga sebagai bentuk kritik membangun kepada para insan pers agar dunia pendidikan bisa lebih diperhatikan lagi," katanya.

Parade busana dari kertas koran oleh puluhan siswa MAN Bangkalan ini digelar dari MAN Bangkalan berkeliling kota yang menarik perhatian para pengguna jalan.

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-68 itu juga ditandai dengan pelepasan burung merpati oleh Ketua PWI Bangkalan Moh Amin.

Amin menjelaskan, pelepasan burung merpati yang dilakukan secara bersama-sama dengan Kepala MAN Bangkalan Fathorrahman Said itu sebagai simbol pembebasan.

Menurut dia, pada era reformasi saat ini, pers telah bebas dari belenggu kekuasaan dan bisa menyampaikan kritik kepada siapa saja dengan catatan kritik itu harus membangun, sehingga manfaatnya akan terasa oleh semua pihak.

"Bebas yang kami inginkan tentunya bebas beretika dengan menyampaikan solusi yang lebih baik, bukan hanya sekedar mengkritik," katanya.

Ia juga mengakui, pemberitaan di dunia pendidikan selama ini memang terkesan kurang mendapatkan perhatian, sehingga ke depan kata dia, pihaknya perlu bekerja sama dan saling membantu dengan berbagai lembaga pendidikan yang ada di Bangkalan. (*)