Kamis, 21 November 2019

Foto Fanny Octavianus raih Adinegoro dan Rp50 juta

Rusuh-MKJakarta (PWI News) - Foto berjudul "Rusuh Sidang MK" karya pewarta foto Kantor Berita ANTARA, Fanny Octavianus, meraih Penghargaan Adinegoro 2013 untuk kategori Foto Berita, dan berhak mendapat trofi, piagam dan hadiah uang senilai Rp50 juta. 
 
Karya foto yang memperlihatkan kantor Mahkamah Konstitusi (MK) porak poranda diamuk massa pada medio November 2013 itu mendapat nilai total 251, mengungguli 129 karya lain hasil kiriman wartawan Indonesia dari 16 media massa nasional dan internasional, demikian pernyataan pers Panitia Tetap Anugerah Jurnalistik Adinegoro, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Jumat.
 
Dewan Juri Penghargaan Adinegoro 2013 untuk kategori foto berita terdiri atas Direkrur @museum/fotografer Yudhi Soerjoatmodjo, Direktur/Kurator Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA) Oscar Motulloh fotograferpewarta foto senior Enny Nuraeni menetapkan Fanny Octavianus sebagai pemenang pada 17 Januari ini. usai penjurian yang selesai pada Jumat petang ini.
 
Fanny dijadwalkan menerima hadiahnya dalam acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2014 di Bengkulu pada 9 Februari 2014 yang dijadwalkan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
 
Sebanyak 10 karya terbaik karya foto jurnalistik yang mengikuti lomba karya jurnalistik Adinegoro juga akan perlihatkan kepada publik dalam Pameran HPN 2014.
 
"Dibandingkan karya foto jurnalistik yang disiarkan, karya-karya yang masuk masih terasa belum optimal, sehingga untuk memilih 10 besar saja juri harus bekerja keras," kata Enny. 
 
AdinegoroIa menilai, "Banyak peristiwa terjadi di Indonesia, sehingga para wartawan bisa lebih mengapresiasi peristiwa itu untuk disertakan dalam ajang penilaian Penghargaan Adinegoro, yang sejauh ini menjadi penghargaan paling bergensi bagi wartawan nasional."
 
Pendapat serupa juga diutarakan Yudhi, yang menilai bahwa para peserta kurang mampu menggali obyek yang sesuai dengan tema yang ditetapkan, yaitu Demokrasi dan Citra Bangsa, namun hanya mendekati kriteria itu saja. 
 
Berkaitan foto "Rusuh Sidang MK", ia berpendapat, Fanny mampu menampilkan situasi pada saat peristiwa sudah usai, namun masih tetap bisa memberikan makna yang jelas.
 
"Foto itu berbicara, seperti satu simbol dan memberi suasana segar di tengah foto-foto lain. Juga terasa bisa mewakili kekisruhan dunia peradilan di MK saat itu," ujarnya. 
 
Yudhi juga menyukai foto lain yang masuk 10 besar, yaitu foto yang memperlihatkan politisi yang mantan Ketua DPR dan Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar) Akbar Tandjung memencet hidung Joko Widodo (Jokowi) karya Andhika Wahyu (Kantor Berita ANTARA) dan foto "Kecanduan Smartphone" yang memperlihatkan semua orang asyik dengan gadgetnya di tempat umum karya Roderick A Mozez (kompas.com). 
 
Oscar Motuloh berpendapat, dewan juri yang menilai karya foto tanpa melihat nama pewarta hingga menentukan hasil/nilai akhir memilih "Rusuh Sidang MK" karya Fanny Octavianus karena paling sesuai tema dan berbicara tentang ketidakadilan pun terjadi di lembaga tertinggi penegakan hukum konstitusi negeri ini. 
 
"Foto ini memperlihatkan elemen simbolik atas fakta jurnalistik mengenai penegakan hukum dalam setahun, dan juga mewakili foto serupa dalam 10 tahun terakhir. Gambaran reformasi," katanya. 
 
Anegerah Jurnalistik Adinegoro diselenggarakan saban tahun yang dibagi ke dalam enam kategori, yaitu foto berita, karikatur, tajuk rencana, berita jurnalistik investigasi, jurnalistik televisi, dan jurnalistik radio. 
 
Panitia HPN juga memberikan Anugerah Inovasi Jurnalisme untuk kategori karya jurnalistik media siber dan jurnalistik infotainmen.
 
(*)