Rabu, 18 September 2019

Pertanggungjawaban Pengurus Pusat PWI 2008-2013

MargionoOleh Margiono, Ketua Umum Pengurus Pusat PWI 2008-2013

Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamualaikum Wr. Wb, Salam sejahtera bagi Bapak – Ibu – dan Saudara-saudara sekalian.

Segala Puji Bagi Allah, Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Mari bersyukur atas semua nikmat yang dianugerahkan kepada kita.

Selamat datang di forum Kongres yang Insya Allah penuh berkah. Saya selalu berdoa semoga Bapak – Ibu- dan Saudara-saudaraku selalu dalam kebaikan. Sehat, kuat dan mendapatkan jalan keluar atas semua persoalan.

Dalam sesi pertanggungjawaban ini, yang pertama saya menyampaikan terima kasih dan penghormatan tinggi atas kebersamaan kita di PWI selama ini, khususnya dalam lima tahun terakhir periode kepemimpinan saya tentu ada romantisme, dinamika dan suka-duka. Saya senang dan bangga, merasakan betapa para senior, rekan-rekan seangkatan, dan adik-adik generasi baru dari seluruh tanah air, telah saling mendukung dan menguatkan kiprah kita di PWI.

Rasanya tak banyak organisasi profesi, bahkan organisasi massa sekalipun yang memiliki benang-merah panjang dan garis romantisme yang jelas seperti PWI. Tidak berlebihan kalau saya merumuskan, PWI adalah rajutan dari semangat, kecintaan, profesionalisme, heroism, dan romantisme dalam berorganisasi. Dan karena itu saya nyatakan bahwa kita berada pada jalan yang benar dalam memilih organisasi profesi.

Bapak – Ibu- Saudara-saudara sekalian. Saya sering mengusap air mata dengan kepala menunduk, hati saya jatuh manakala melihat para senior masih demikian aktif dan rajin mengisi hari-harinya untuk menguatkan roh PWI. Terkadang saya tak habis piker, bagaimana orang-orang tua kita seperti Pak Sofyan Lubis, Pak Sabam Siagian, Pak Tribuana Said, Pak Gusti Rusdi Effendi, Pak Alwi Hamu, Pak Syafik Umar, Pak Teddy Kharsadi, Pak Syamsul Kahar, Pak Ishadi SK dan Pak M Yazid bisa memelihara semangat untuk tetap mencintai PWI. Beliau-beliau rutin melakukan pertemuan, evaluasi, dan member solusi atas berbagai persoalan.

Beliau juga masih bersedia terbang melintasi laut dan pulau dalam jarak yang jauh untuk membagi pengalaman dan ilmu.

Kami juga mencermati bahwa para senior kita ; Pak Tarman Azzam, Pak Ilham Bintang, Pak Djoko Saksono, Pak Nuh, Pak Banjar Chaeruddin, Pak Asro Kamal Rokan, Pak Baidhowi Adnan, Pak Syamsuddin Ch. Haessy, tak pernah surut semangat mendorong pertumbuhan PWI. Terkadang saya malu, rasanya kami yang lebih muda ini tak bisa menyamai apalagi melampaui cinta dan kegigihan mereka. Sampai-sampai pada saat memimpin rapat pleno atau saat saya mengikuti acara di daerah, saya sering merasa bahwa Ketua Umum PWI itu masih Pak Sofyan Lubis atau Pak Tarman Azzam.

Tapi Alhamdullilah selama lima tahun terakhir kita berhasil memelihara kecintaan dan kesetiaan kita kepada PWI. Kami di pusat, dan kawan-kawan di cabang, telah bersama-sama mengarungi tugas menjalankan dan menjaga marwah organisasi meski harus dengan membanting tulang dan mengorbankan banyak hal. Saya sungguh terharu dan kagum, angkat topi menyaksikan perjuangan dan kegigihan teman-teman di daerah untuk terus menghidupkan dan mengembangkan PWI. Terkadang saya bertanya, untuk apa coba Anda mempertaruhkan banyak hal demi PWI. Ada apanya PWI kita bela-belain.

Roda organisasi kita juga berputar dengan sangat baik. Di pusat, proses perencanaan, pengorganisasian, mobilisasi, dan evaluasi berjalan lancer. Demikian pula di cabang dan perwakilan.

Konferensi cabang berlangsung sangat tertib, dinamika organisasi juga bagus. Mana ada organisasi profesi yang roda ritualisme dan pengembangan programnya menyebar ke jaringan seluas yang dimiliki PWI.

Lewat laporan pertanggungjawaban ini saya juga nyatakan bahwa regenerasi dan kaderisasi PWI telah berlangsung dengan baik. Mari kita cek, pada jajaran pelaksana pengurus pusat, sebagian besar adalah generasi kepala 50 dan 40. Ada memang satu atau dua pengurus pelaksana yang lebih senior, tapi saya jamin semangatnya tok-cer. Ini berarti ada selisih 10 tahunan disbanding generasi kepengurusan sebelumnya yang kini berusia 60-an. Ketua-ketua cabang yang baru hamper semuanya juga berasal dari generasi baru.

Yang tak kalah membanggakan, PWI semakin menarik perhatian kalangan luar. Mereka mengajak kita bekerjasama dan bersinergi. Ini bukti bahwa citra dan brand PWI semakin baik. Sejumlah pimpinan media dan wartawan professional juga minta menjadi anggota PWI. Ada pula anggota lama yang kartu PWI-nya sudah tidak aktif bertahun-tahun kini minta dihidupkan lagi. Saya telah mengambil jalan pintas untuk memproses cepat kartu anggota PWI bagi mereka yang kami nilai memiliki kompetensi tinggi. Misalnya sejumlah pemimpin redaksi televisi dan media on-line yang benar-benar berkarir dari wartawan.

Bapak- Ibu- Saudara-saudara sekalian. Sungguh telah banyak yang kami dan kita kerjakan dalam lima tahun terakhir. Namun juga tak sedikit kekurangan, kelemahan, dan kesalahan yang kami perbuat. Keberhasilan itu adalah keberhasilan kita semua. Itulah persembahan kita sebagai pribadi professional dan organisasi profesi kewartawanan untuk demokrasi, HAM dan pembangunan.

Adapun kekurangan dan kesalahan, tentu sayalah yang paling bertanggungjawab. Misalnya ada sejumlah masalah di cabang seperti Kalimantan Barat, penataan dan pengelolaan asset, ketidakaktifan sejumlah pengurus, dan penggalian sumber dana yang belum sistemik. Kami memahami masalah itu, dan kami terus berusaha mencari jalan keluar atas persoalan-persoalan tersebut. Titik terang itu sudah terlihat.

Sayalah yang akan memikul tanggungjawab itu dengan segala resikonya. Saya bersedia menanggung dan melakukan apa saja yang Saudara-saudara perintahkan melalui Keputusan Kongres sebagai bentuk pertanggungjawaban itu. Saya tidak akan lari meninggalkan tanggungjawab karena saya merasa di PWI inilah kami menemukan rumah yang ideal dan nyaman sebagai komunitas profesional.

Denyut kehidupan di rumah profesi ini juga sama-sama kita rasakan, tidak hanya terjadi di pusat organisasi tapi juga semarah di cabang-cabang hingga perwakilan terkecil. Sel-sel organisasi kita hidup sampai ke ujung-ujung wilayah dan virus profesionalisme ini sedang dan akan terus menyebarluas melampaui badan organisasi kita.

Profesionalisme. Inilah kunci pertama yang kami pegang ketika Pengurus Pusat PWI periode 2008 – 2013 terbentuk dalam Kongres di Aceh, lima tahun silam. Sejak saat itu, kami berpikir dan berikhtiar menggerakkan organisasi ini dengan Password Profesionalisme.

Dalam rapat kerja nasional pertama Pengurus Pusat di Puncak, pada September 2008 saya menyampaikan beberapa pemikiran dan pandangan dasar saya tentang PWI, yaitu :

1. Bahwa PWI adalah organisasi pofesi dan karena itu memiliki dua tugas pokok. Pertama meningkatkan skill atau ketrampilan profesi. Kedua mensosialisasikan dan menanamkan kode etik.
2. Bahwa PWI adalah alat perjuangan bangsa. Dan karena itu program-program PWI harus diarahkan untuk kepentingan bangsa dan negara, melalui program-program profesi antara lain penyebaran informasi yang sehat dan bermanfaat. PWI juga harus menumbuhkan kesadaran di kalangan pers bahwa pers adalah salah satu komponen penting dalam pembangunan bangsa.
3. Sebagai konsekuensi dari alat perjuangan, pers harus menempatkan diri sebagai partner yang kritis dan konstruktif terhadap pusat-pusat kekuasaan yang lain. Dalam posisi ini kami berpendapat PWI tidak perlu menjadi organisasi yang nyinyir, akgetan, bersikap oposisi, dan gampang mengecam pihak lain. PWI harus kita bawa menjadi organisasi matang, responsive namun sekaligus member solusi atas berbagai persoalan.
4. PWI berkewajiban menjaga dan mengembangkan kemerdekaan pers yang secara universal kita kenal dengan konsep freedom of the press atau lazim pula disebut kebebasan pers. Ada kebebasan yang harus kita perjuangkan, bukan hanya kebebasan kita, tapi juga kebebasan masyarakat. Dengan kata lain, kebebasan pers harus memperjuangkan masyarakat bebas dari ketakutan, dari kemiskinan dan dari kebodohan.
Dari empat pemikiran dasar itulah kita merancang dan menyusun program organisasi yang panduannya sudah ada dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) PWI.

Secara garis besar, kammi mengelompokkan program PWI itu menjadi empat program besar.

1. Pendidikan dan latihan
2. Pengembangan dan penguatan organisasi
3. Advokasi wartawan
4. Kesejahteraan wartawan

Empat kelompok program tersebut pada dasarnya saling terkait, saling menutup, dan melengkapi. Dalam satu mata kegiatan, bisa terkandung unsure pendidikan, pengembangan organisasi, advokasi, dan sekaligus kesejahteraan. Namun harus kami nyatakan bahwa kami memilih program pendidikan latihan sebagai prioritas utama. Bukan hanya karena PWI sebagai organisasi profesi seharusnya menempatkan pendidikan latihan sebagai mascot, tapi juga karena kondisi di lapangan menunjukkan tingkat kompetensi anggota kita masih memprihatinkan

Karena itu, pilihan kita adalah peningkatan profesionalisme. Dengan peningkatan profesionalisme kita tidak hanya meningkatkan SDM, tapi sesungguhnya kita telah mendorong peningkatan kesejahteraan wartawan dan mengadvokasinya.

Kita menyaksikan realitas di lapangan bahwa wartawan yang kesejahteraannya rendah dan mendapatkan masalah dalam menjalankan tugas profesinya, sebagian besar adalah wartawan yang kompetensinya rendah. Karena itu, dengan meningkatkan kompetensi, berarti kita juga telah meningkatkan sumber daya, mengembangkan kesejahteraan, dan mengadvokasi wartawan.

Bapak – Ibu- Saudara-saudara sekalian. PWI telah menempuh cara yang substantive dan proporsional dalam melakukan advokasi dan kesejahteraan. Yakni melalui peningkatan profesionalisme atau kompetensi. Adapun program langsung yang terkait dengan kesejahteraan dan advokasi, PWI memilih yang bersifat supportif dan substitusi. Artinya mendorong dan menguatkan program-program yang sudah ada, baik yang dilakukan oleh cabang maupun yang kita lakukan bersama lembaga pers yang lain.

Secara umum dapat kami sebutkan bahwa program yang telah kita lakukan dalam lima tahun terakhir ialah sebagai berikut :
1.Mendirikan Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI), Sekolah Jurnalisme Kebudayaan (SJK), rintisan Sekolah Jurnalisme Anti Korupsi (SJAK), dan Safari Jurnalistik.
2. Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan briefing penyegaran profesi.
3. Literasi Media.
4. Lomba Karya Jurnalistik, terutama menghidupkan kembali Anugerah Jurnalistik Adinegoro.
5. Menggalakkan Penulisan Laporan Masalah Daerah oleh PWI Cabang.
6. Program besar Wartawan Menulis Buku.
7. Penyertaan pengurus dan wartawan pada kegiatan internasional, tukar wartawan dengan media asing, dan menerima kunjungan wartawan asing dalam berbagai event.
8. Memelopori ditetapkannya Standar Perusahaan Pers, dan Standar Kompetensi Wartawan lewat Pencanangan Piagam Palembang yang monumental itu.
9.  Peningkatan kompetensi wartawan olahraga, dan mendorong meningkatnya prestasi olahraga nasional.
10.Memelopori pemberian penghargaan profesi dan kemerdekaan pers, yaitu :
             a.    Press Card Number One
             b.    Medali Emas Kemerdekaan Pers
             c.   Spirit Jurnalisme
11. Membuka kerjasama/sponsorship dengan kalangan swasta, BUMN dan instansi pemerintah untuk menyelenggarakan program peningkatan profesionalisme.
12. Mengembangkan kerjasama yang lebih luas dan substantive dengan lembaga pers lain.
13. Memelopori dibentuknya Komisi Anti Kekerasan Wartawan, dan aktif bersama organisasi pers yang lain.
14. Bedah etik kasus jurnalistik.
15. Dialog dan diskusi masalah-masalah aktual.
16. Menetapkan target kongkret : Manfaat HPN bagi pembangunan daerah.
17. Mengajak organisasi pers lain untuk membikin program khusus dan lebih aktif berpartisipasi dalam HPN.
18. Mengkoordinasikan kegiatan workshop bagi ribuan wartawan cetak, elektronik, dan on-line yang dilakukan oleh berbagai lembaga pers dalam rangkaian HPN.
19. Merancang PWI sebagai organisasi profesi yang modern dan maju tanpa meninggalkan ciri historis sebagai organisasi pejuang dengan melakukan penyempuraan PD/PRT.

Yang sangat membanggakan, berbagai program besar di atas bisa kita jalankan secara kolektif kolegial dan kooperatif pada semua jenjang dan tingkatan. Kepada Bapak – Ibu dan kawan-kawan pengurus pusat lengkap, saya harus menyampaikan penghargaan dan penghormatan yang luar biasa atas kerja keras dan pengabdian yang demikian tinggi. Pengabdian Bapak – Ibu dan Saudara-saudara tidak akan sia-sia. Sambutan kawan-kawan dari cabang dan perwakilan terhadap program bersama kita juga sangat membanggakan. Sepanjang periode ini, saya tidak menjumpai ada penolakkan program dari cabang dan perwakilan. Yang saya saksikan justru ada kesedihan dan penyesalan manakala kawan-kawan belum bisa melaksanakan program itu.

Bapak – Ibu- Saudara-saudara sekalian.

Di penghujung masa kepengurusan ini, kita sempat mendialogkan nasib dan masa depan PWI, dalam acara di Wisma DPR, April lalu. Banyak gagasan, pemikiran, usul dan saran, juga kritik untuk organisasi yang kita cintai ini. Semua didasari kecintaan kita pada PWI. Karena iu tak ada pemikiran yang buruk. Yang diperlukan adalah memilih dan memrioritaskan program.
Dalam forum itu, saya mengajukan sejumlah bahan renungan untuk keberlanjutan PWI. Yaitu perlu dirumuskannya manfaat organisasi bagi pengurus dan anggotanya. Juga manfaat PWI bagi kehidupan pers, demokrasi, dan masyarakat. Kemampuan dan keberhasilan kita mengelaborasi azas manfaat inilah yang akan sangat menentukan masa depan PWI. Dan masa depan kita.

Sebagai sesama anggota PWI, saya ingin mengajak kita semua untuk terus mengembangkan diri.

1. Membangun kompetensi profesionalisme,
2. Membangun kapasitas pribadi, leadership, dan partnership,
3. Meningkatkan kehormatan organisasi.

Pengembangan kapasitas itu bisa kita lakukan dengan :

1. Aktif mengambil peran di berbagai bidang dan lapangan pengabdian
2. Membuka dan memperluas jaringan
3. Melakukan evaluasi dan aktualisasi diri

Dengan mengembangkan kapasitas, aktif mengambil peran dan memperluas jaringan, maka kita bisa menjadi lebih bermanfaat dan menjadikan PWI lebih berarti. Saling memberi manfaat inilah yang akhirnya menguatkan keberadaan kita dan keberadaan PWI dalam melakukan pengabdian. Semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha Perkasa selalu member petunjuk dan kekuatan.

Wassalam'mualaikum warohmatullahi wa barokatuh.

Banjarmasin, 19 September 2013.