Kamis, 19 September 2019

Zaman Keemasan Soeharto, Buku Terakhir DH Assegaf

Metrotvnews.com, Jakarta - Tokoh pers nasional Djafar Husin Assegaf meluncurkan buku berjudul Zaman Keemasan Soeharto. Karya tersebut berupa kumpulan 225 tajuk rencana Assegaf di surat kabar Surabaya Post periode 1989-1993 yang diluncurkan di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (23/7).

Dalam buku setebal 414 halaman ini, pria yang terakhir menjabat Komisaris Utama Media Group itu menuturkan karyanya ini memang mengupas masa gemilang Orde Baru di bawah rezim Soeharto. Kendati demikian, kata Assegaf, bukan berarti ia larut dalam romantisme kejayaan pemerintahan Soeharto.

Pengalamannya sebagai wartawan senior, Assegaf memilki banyak cerita soal sosok Soeharto. Dia pun memilih sudut pandang keberhasilan rezim Soeharto. "Seperti yang disuarakan orang belakangan ini. Saya benar-benar tulus mengakui masa gemilang Soeharto," ujarnya dalam bukunya.

Sejumlah insan turut hadir dalam acara itu, seperti Pemimpin Redaksi Media Indonesia Usman Kansong, Ketua Dewan Pers Bagir Manan, Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo Priyambodo RH, mantan Ketua Dewan Pers Atmakusumah Astraatmadja, Guru Besar Universitas Indonesia Prof Bachtiar Aly, serta Pemimpin Redaksi ANTV Uni Z Lubis.

Atmakusumah mengenal Assegaf sebagai sosok wartawan yang kritis. Idealismenya itu tetap ia pertahankan ketika menjabat Pemimpin Redaksi Suara Karya. Dalam tajuknya di Surabaya Post (10 Februari 2012) yang berjudul Etos Wartawan dalam Sistem Pers Pancasila, ia mengkritisi konflik kepentingan antara pers dan pemerintah. "Dia (Assegaf) menyatakan diperukan keberanian wartawan jika terjadi benturan kepentingan tersebut," kata dia.

Assegaf juga menekankan pentingnya kebebasan pers tanpa sensor. Pada masa pemerintahan Soeharto, kebebasan pers kerap dikebiri oleh Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP).

Pemilik nama lengkap Sayyid Djafar bin Husein bin Ahmad Assegaf itu menghembuskan napas terakhir di RS Mitra Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (12/6), pukul 05.00 akibat sakit kanker usus.

Uni mengenang Assegaf ketika ia bekerja di Warta Ekonomi. Beliau, kata Uni, banyak mengajarkan cara menembus narasumber untuk memeroleh berita eksklusif. "Pak Assegaf mengajarkan percara diri saya sebagai wartawan," katanya.

Meski Assegaf adalah mentornya, cara pandang mereka tak memaknai suatu peristiwa kadang berseberangan. Menurutnya, sebagai senior, Assegaf cenderung mengambil posisi memahami pihak penguasa. "Apalagi jika menyangkut Golkar semasa rezim Soeharto. Meski sikap itu mudah mengundang kritikan," tegas Uni.

Pendiri Harian Kompas Jacob Oetama, dalam buku itu, turut mengomentari buku yang dicetak sebelum Assegaf meninggal dunia 12 Juni 2013. Menurut Jacob, judul Zaman Keemasan Soeharto masih bisa diperdebatkan karena tidak diperoleh argumentasi Assegaf lewat tajuk-tajuknya. "Buku ini dirasakan demikian karena pada 2012 orang mulai menengok ke masa kejayaan masa lalu di era Soeharto," tulis Jacob.

Chairman Media Group Surya Paloh mengatakan, tajuk-tajuk Assegaf adalah rekapan peristiwa yang jelas menapak tilas ketika mantan Wakil Pimpinan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara menjadi jurnalis. Buku ini, tulis dia, dapat jadi bahan renungan yang baik bagi para jurnalis muda. "Ia mewariskan keteladanan untuk menulis hingga akhir hayatnya," kata dia.

Sebagai wartawan yang selalu berada dalam posisi pimpinan, Assegaf memilih posisi yang sama dengan pemerintah. Hal tersebut banyak terekam dalam tajuk-tajuk rencananya tersebut.

Menurut Surya Paloh, buku itu adalah persembahan seorang tokoh pers yang menjadi kekayaan khasanah sejarah pers Indonesia.

(Rudy Polycarpus)