Rabu, 18 September 2019

In Memoriam - DH Assegaf wartawan multitalenta

Jakarta (ANTARA News) - "Ku kira setelah ikut berjuang membela kemerdekaan tahun 1945, negeri ini 10 hingga 20 tahun kemudian bisa menyamai Eropa. Ternyata, perjuangan ku harus terus berlanjut karena menandingi Singapura pun kita belum bisa," ujar Sayyid Dja'far bin Husein bin Ahmad Assegaf.

Pak DH Assegaf, demikian sebutan akrabnya di kalangan pers dan kampus, mengemukakan hal itu pada 23 Juli 2011 bertepatan dengan ulang tahun ke-23 Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS).

Pusat pendidikan dan pelatihan wartawan dan hubungan masyarakat (humas) ini kelahirannya turut dibidani Assegaf bersama Jakob Oetama, pendiri kelompok Kompas-Gramedia

Rabu ini, sekira pukul 05.00 WIB Pak Assegaf berpulang keharibaan Tuhan Yang Mahakuasa setelah beberapa bulan dirawat di Paviliun Kencana Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta, di usia 81 tahun.

Pria kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 12 Desember 1932 itu dikenal tegas dalam bicara dan bersikap, terutama bila bicara pendidikan pers, politik, diplomasi, militer dan tata negara.

"Aku ini lari dari Lampung, Sumatera, ke tanah Jawa untuk belajar semua hal. Aku selalu ingin maju. Juga ingin semua orang mencapai kemajuan," ujar suami dari Siffa Abdullah itu suatu ketika di LPDS, Jalan Kebon Sirih 34 Jakarta.

Ia pun senang berbagi pengalaman, terutama kepada wartawan di sejumlah perusahaan pers maupun para muridnya di kampus.

Ayah dari lima anak tersebut menjadi wartawan sejak 1953 di harian Indonesia Raya, kemudian ke harian Abadi, Suara Karya, Kantor Berita Antara, Warta Ekonomi, televisi RCTI, dan hingga akhir hayatnya di harian Media Indonesia sekaligus Metro TV.

Karir jurnalismenya seiring dengan hasratnya menjadi pendidik, terutama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (Fisip UI) dan LPDS.

Cara mengajarnya pun menggunakan pendekatan diskusi, dan sesekali berbagi pengalaman yang disebutnya bahwa wartawan adalah sekaligus pelobi dan agen pembaru bagi publik.

Bahkan, ia pernah mengemukakan, "Aku punya rahasia bila mengingat zaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan, yaitu ikut jadi intel militer Indonesia. Intel kecil-kecilan. Tapi, di kemudian hari banyak teman sebaya ku saat itu malah menjadi intel besar di negeri ini."

Pria yang gemar mengemudikan mobilnya sendiri itu pernah bergabung di Seksi Penerangan Seksi Penerangan Komando Operasi Tertinggi (KOTI) pada 1964-1968. Ilmu intelijen diakui Assegaf berperan besar mengasah kepekaan jurnalismenya.

Assegaf pernah berujar, "Prinsip kerja wartawan sama dengan intel. Bedanya, bos para intel ya komandan dan hanya institusinya. Kalau wartawan ya rakyat banyaklah bosnya."

Kepada para wartawan, ia juga sering menekankan mekanisme kerja jurnalisme harus cerdas (intelligent) yang paham kaidah kerja intel (intelligence). "Jika tidak intelligent dan intelligence, maka matilah karir wartawan kalian." Ini salah satu wasiat jurnalisme Assegaf.

Dalam karir jurnalisme, Assegaf juga pernah aktif di Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menjadi Ketua Dewan Kehormatan, dan menjadi anggota Dewan Pers. Ia dianugerahi penghargaan sepanjang masa (Lifetime Achievement Award) oleh komunitas Hari Pers Nasional (HPN) pada 2008.

Adapun dalam karir politik dan diplomasi ia menjadi anggota MPR RI (1978-1988) dan Duta Besar Berkuasa Penuh RI untuk Vietnam periode 1993-1997. Assegaf menerima Bintang Mahaputra Utama pada 1998  atas jasanya di bidang jurnalisme, pendidikan dan diplomasi.

Ketika sejumlah sahabat dan muridnya sempat terkejut lantaran ia kembali terjun ke dunia politik praktis selaku Ketua Dewan Pembina Partai Nasional Demokrat (Nasdem) di usianya 80 tahun, maka Assegaf pun punya jawaban sendiri.

"Aku diminta Pak Surya Paloh untuk ikut menjaga semangat anak-anak muda. Sebenarnya mereka pula yang menjaga saya tetap semangat," ujarnya.

Semangat itu pula yang tetap diperlihatkannya saat dirawat di rumah sakit. Sekira dua minggu lalu, Assegaf tetap semangat menonton berita di televisi rumah sakit, walau selang infus di tangan dan selang nutrisi di hidungnya.

Tatkala ada berita terorisme, ia pun meminta Gazy (putra bungsunya) untuk memperkeras volume suara televisi.

Salah seorang putra dari lima anaknya, Hasanudin, sempat menjadi wartawan harian Kompas. Sang putra tersebut meninggal dunia di usia muda saat masih menjadi wartawan. Assegaf sekeluarga tentu saja sangat berduka atas hal ini.

Namun, di kemudian hari Assegaf pernah berujar, "Siapa pun akan berduka kehilangan anak, sahabat atau kerabat. Duka akan hilang seiring berjalannya waktu. Aku juga menyadari satu hari akan pergi menemui Hasan menghadap Illahi, dan kami pun akan reportase bersama tentang indahnya surga."

(Priyambodo RH - ANTARA Multimedia Gateway)
COPYRIGHT © 2013