Kamis, 19 September 2019

Harymurti: Indonesia perlu asosiasi pers

Manado (Tribun Manado News) - Pers di Indonesia saat ini memerlukan Asosiasi Pers untuk menampung pemberitaan, seperti di Amerika yang dikatakan negara kapitalis, namun disitu memiliki koperasi pers.

"Sehingga berita-berita dapat diperoleh baik untuk media nasional dan lokal," ujar CEO Tempo Media Group  saat menjawab pertanyaan dari peserta dalam Seminar Discovering Innovative Business model for the Future of Print Media Industry, di Aryaduta Hotel, Manado, Kamis (7/2/2013).

Harymurti menambahkan contoh di Amerika asosiasi pers di sana menyediakan berita yang dapat diambil oleh New York Times maupun media lokal yang kecil di amerika, dengan pembayaran berita dilihat dari oplahnya. Namun kedua media tersebut memperoleh kualitas berita yang sama. Sehingga persaingan lebih kepada berita-berita eksklusif.

Seandainya di Indonesia memiliki asosiasi pers, maka media nasional dan lokal bisa mendapatkan berita yang baik. Sehingga persaingan untuk nasional tinggal mencari berita-berita eksklusif dan lokal juga bersaing pada berita eksklusif daerahnya. Sehingga wartawan tidak membuang-buang waktu untuk konfrensi pers. Mereka bisa berkosentrasi mencari berita lainnya. "Dengan demikian konfrensi pers hanya dilakukan oleh wartawan dari asosiasi pers," katanya.

Jika hal tersebut dilakukan, bisa meningkatkan industri pers yang ada di Indonesia. Selain itu dengan adanya asosiasi pers bisa membuat pembekalan untuk wartawan agar nantinya melahirkan jurnalis yang bermutu dan beretika, sehingga meminjam istilah Bill Gates bukan berkompetisi melainkan koopetisi.

Sedangkan untuk kompetisi antar media jangan ada yang bumi hangus, melainkan persaingan dengan sehat.

Sedangkan untuk ke khawatiran media cetak karena media elektronik, menurutnya tidak perlu berlebihan. Sebab dalam media audio visual yang bekerja lebih banyak otak kanan, sedangkan media cetak otak kiri. "Orang lebih terganggu jika ditulis dimedia cetak dibandingkan dengan media cetak," katanya.

Untuk pasar di Indonesia masih cukup besar untuk media cetak. Sebab media dibeli untuk kalangan kelas atas. "Sebenarnya media internet merupakan solusi bagi negara kepulauan agar dalam produksi biayanya dapat ditekan, tinggal bagaimana mengaturnya," ungkapnya.

Selain itu oplah untuk  Indonesia masih cukup kecil secara keseluruhan hanya 20 juta eksemplar, dibandingkan dengan Amerika 400 juta eksemplar.

Dalam kegiatan yang dimoderatori Direktur Produksi dan Pengembang Produk Harian Bisnis Indonesa Ahmad Djauhar jika menghadirkan pembicara dari CEO Femina Group Svida Alisjahbana, dan WAN-IFRA Asia Pasifik Gilles Demptos yang membahas tema yang sama.  Kegiatan tersebut juga diikuti berbagai peserta dari CEO media yang ada di Indonesia.

(Penulis: Herviansyah/Editor: Robertus_Rimawan)