Rabu, 18 September 2019

Tempo raih Investigative Reporting Adinegoro 2012

Jakarta (PWI News) - “Tangan Godfather di Kampung Ambon", tulisan Majalah Tempo meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2012 kategori Jurnalistik Investigasi. Tulisan yang dimuat di Majalah Tempo edisi 8 Mei 2012 tersebut menceritakan lika-liku peredaran narkoba di Kampung Ambon, Jakarta.

“Narkoba itu musuh nomor satu yang harus diperangi oleh bangsa Indonesia, bukan terorisme, karena itu pilihan tema ini sangat cocok untuk situasi saat ini dan menyangkut kepentingan masyarakat banyak,” kata dewan juri S. Sinansari ecip.

Dewan Juri Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2012 Kategori Jurnalistik Investigasi, yaitu Hermien Y. Kleden (wartawan senior), S. Sinansari ecip (dosen Universitas Sahid, wartawan senior), dan Marah Sakti Siregar (Ketua Umum Yayasan Sekolah Jurnalisme Indonesia/SJI PWI)

Marah Sakti Siregar mengatakan, liputan Kampung Ambon yang ditulis Mustafa Silalahi dan kawan-kawan merupakan ide orisinal.

“Bisnis narkoba di Kampung Ambon sudah lama terjadi, tetapi isi tulisan ini banyak menyajikan informasi baru yang dilakukan dengan praktik investigasi dan ada unsur membangun,” ujarnya.

Anugerah Adinegoro pada tahun ini menilai karya jurnalistik dalam enam kategori yaitu jurnalistik tulis untuk karya jurnalistik berkedalaman (Depth News), Tajuk Rencana/Opini, Jurnalistik Foto, Jurnalistik Karikatur, Jurnalistik Televisi, dan Jurnalistik Radio masing-masing untuk satu pemenang dengan hadiah masing-masing kategori Rp 50 juta dan trofi yang akan diserahkan di puncak peringatan Hari Pers Nasional 2013 pada tanggal 9 Februari 2013 di Manado.

Penghargaan Anugerah Jurnalistik Adinegoro diberikan setiap tahun oleh PWI menyambut Hari Pers Nasional. Penghargaan ini mengadopsi nama tokoh pers nasional Djamaludin Adinegoro, (14 Agustus 1904 – 8 Januari 1967).

Adinegoro semasa muda mengenyam pendidikan jurnalistik di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda), kemudian kembali ke Tanah Air pada tahun1931 serta menjadi Pemimpin Redaksi Pandji Poestaka dan kemudian Pemimpin Redaksi Pewarta Deli.

Pada tahun 1951 Adinegoro ikut berperan dalam pengambilalihan pimpinan bekas kantor berita Belanda (Aneta), yang kemudian diubah menjadi Pers Biro Indonesia-Aneta (PIA). Presiden Soekarno pada 1962 menyatukan Kantor Berita ANTARA dan PIA menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, dan Adinegoro hingga akhir hayatnya bekerja di lembaga ini. (*)

PWI juga memberikan penghargaan Inovasi Jurnalisme Infotainmen kepada Agnes Winarti dari The Jakarta Post dalam artikel berjudul ”Village Pasing the Wayang Wong Baton”.

Karya jurnalisme infotainmen yang dimuat The Jakarta Post edisi 24 Mei 2012 itu menceritakan pelestarian seni tradisi wayang wong di Bali di kalangan generasi muda.

Dewan Juri kategori Jurnalistik Infotainmen terdiri dari Pius Pope (Pengajar Broadcasting di Lembaga Pers Dr Soetomo), Amalia E. Maulana (Brand Consultant & Ethnographer di Etnomark Consulting, pengajar di Binus Business School), dan Rita Sri Hastuti (Pengurus PWI Pusat dan Asosiasi Tradisi Lisan, pengajar Penyuntingan Bahasa Indonesia di Politeknik Negeri Jakarta).

Agnes berhak mendapat hadiah senilai Rp10 juta, sertifikat dan tropi Inovasi Jurnalisme Infotainmen. (*)