Sabtu, 23 November 2019

Tajuk SOLOPOS raih Rp50 juta Anugerah Adinegoro

Adinegoro Award(PWI News) - Tajuk berjudul ”Buruk Muka Hukum, Hati Nurani Dibelah” dari Harian Umum SOLOPOS meraih Rp50 juta dan tropi Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2012 yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) berkaitan dengan Hari Pers
Nasional (HPN) 9 Februari 2012.

Karya jurnalistik SOLOPOS itu meraih 252 dari dewan juri yang terdiri atas Atmakusumah Astraatmadja (mantan Ketua Dewan Pers), Sri Mustika (Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA/UHAMKA), dan Parni Hadi (tokoh pers), demikian keterangan pers PWI Pusat, Selasa.

Tajuk yang dipublikasikan SOLOPOS pada 9 Agustus 2012 itu merupakan karya terbaik dari 56 karya unggulan yang diterima panitia Adinegoro, dan diputuskan dewan juri pada Senin (21/1).

”Topikal. Isu perlindungan anak perlu mendapat perhatian, mengingat tragedi kekerasan terhadap anak sering terjadi, antara lain dalam bentuk pemerkosaan,” ujar Parni Hadi.

Sementara itu, Atmakusumah sebagai Ketua Dewan Juri menambahkan bahwa tajuk tersebut mengingatkan pada masalah anak yang banyak terjadi belakangan ini.

”Dalam kasus banjir, misalnya, saya terharu sekali melihat anak-anak yang kemudian banyak ditolong. Memperlihatkan bahwa pentingnya anak-anakmendapat perlindungan.” ujarnya.
 
Atmakusumah menyayangkan, meskipun jumlah peserta tahun ini meningkat, masih kurang banyak yang memberikan solusi kepada publik.

Penghargaan Anugerah Jurnalistik Adinegoro diberikan setiap tahun oleh PWI untuk mengabadikan nama tokoh pers nasional Djamaludin Adinegoro (14 Agustus 1904 – 8 Januari 1967).

Semasa muda Adinegoro mengenyam pendidikan jurnalistik di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda), kemudian kembali ke Tanah Air pada tahun 1931.

Ia menjadi Pemimpin Redaksi Pandji Poestaka dan kemudian Pemimpin Redaksi Pewarta Deli.

Pada tahun 1951 Adinegoro ikut berperan dalam pengambilalihan pimpinan bekas kantor berita Belanda (Aneta) yang kemudian diubah menjadi Pers Biro Indonesia-Aneta (PIA).

Presiden Soekarno pada 1962 menyatukan PIA dengan Kantor Berita Antara menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, dan Adinegoro mengabdikan dirinya di lembaga ini hingga akhir hayatnya. (*)