Sabtu, 23 November 2019

Bahasa Indonesia Media Kaum Muda: Tinjauan Sepintas

Oleh Hendry Ch Bangun *)

Peran Media

Bukan hal yang istimewa jika dikatakan  media cetak, surat kabar dan majalah, yang terbit di Tanah Air berkewajiban memasyarakatkan Bahasa Indonesia. Secara yuridis formal media yang terbit di wilayah nusantara ini mempunyai kewajiban yang menurut penulis terkait dengan bahasa nasional. Dalam Undang-Undang no 40 tahun 1999 tentang Pers Bab II pasal 3 disebutkan pers nasional memiliki fungsi sebagai media  informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Di dalam dua fungsi pertama di atas itulah upaya pemasyarakatan Bahasa Indonesia mendapat tempat.

Dalam fungsi sebagai media informasi maka media dijadikan tempat untuk menyampaikan berbagai hal yang terkait dengan Bahasa Indonesia kepada pembacanya, seperti kebijakan baru, kegiatan yang dilakukan lembaga terkait kebahasaan, persoalan tenaga pendidik bahasa, dan sebagainya.

Dalam fungsi sebagai media pendidikan, media dapat menjadikan dirinya sebagai contoh dari penggunaan Bahasa Indonesia, apakah dapat menjadi teladan atau justru menjadi pelopor perusak bahasa, atau memberikan tempat bagi rubrik bahasa, forum tukar pendapat tentang bahasa, dan sebagainya.

Bahasa bagi media adalah jantung bagi mahluk hidup, alat yang membuatnya bisa hidup, yakni   menyampaikan informasi bagi pembacanya. Tanpa informasi, media tidak eksis, sebab tidak sesuai dengan fungsinya sebagai medium. Dan informasi itu terutama atau sebagian besar disampaikan melalui bahasa, bahasa tertulis di media cetak dan digital, serta bahasa lisan di media elektronik.

Kemampuan berbahasa akan menunjukkan identitas sebuah media.

Oleh karena itu ketrampilan berbahasa merupakan hal yang penting bagi awak media. Produk media apakah itu berita, artikel, teks foto, menjadi salah satu alat ukur untuk melihat  keahlian pengelola media dalam mengolah sebuah topik, problem. Hal yang disampaikan beberapa media mungkin sama, tetapi media yang satu dapat lebih unggul dari yang lain ketika hal itu tersaji dalam sebuah produk. Dan inilah nanti yang akan mampu menarik perhatian pembaca atau calon pembacanya.

Pilihan bahasa juga membuat pembaca dapat menyimpulkan apakah sebuah media cocok dengan dirinya atau bila dibalik, bahasa yang digunakan media merupakan cermin dari pemilihan segmen pembaca yang ditujunya.

Sering dikatakan hubungan antara media dengan pembacanya dapat diibaratkan sebagai hubungan antara dua pribadi, yang terbentuk setelah penjajakan dalam waktu lama, yang didasari karena terciptanya rasa akrab. Perasaan akrab, hubungan baik itu, hanya mungkin terjadi apabila kedua pihak berhubungan dalam bahasa yang “sama” , dalam pengertian menggunakan istilah, diksi, ragam yang memberi rasa nyaman. Oleh karena itu pula tidak mudah bagi seseorang untuk berpindah media, apalagi bila orang tersebut sudah membaca, berlangganan, dengan sebuah media dalam waktu lama.

Dalam kaitannya dengan istilah peran media dalam memasyarakatkan Bahasa Indonesia yang diajukan oleh panitia kongres ini, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setiap media memiliki kebijakan sendiri-sendiri, yang belum tentu berbeda dengan media lainnya. Di zaman normal, di mana media didirikan kalangan pers untuk idealisme yakni menjadi wahana aspirasi masyarakat umum atau kelompok tertentu,  tidak ada masalah bahasa di dalam lembaga per situ. Biasanya di dalam organisasi media ada fungsi atau peran penyelaras bahasa, apakah itu melekat di jabatan kepala desk/bidang atau di bagian tertentu yang tugasnya melulu untuk memperbaiki bahasa suatu naskah berita. Hal ini kira-kira bisa terlihat di perusahaan pers yang berdiri sebelum era reformasi tahun 1998.

Pada media yang terbit di tengah atau setelah eforia reformasi, kedudukan penyelaras bahasa ini tampaknya tidak lagi menjadi semacam kewajiban. Terutama media yang didirikan untuk melulu untuk kepentingan bisnis (modal besar, tetapi lembaga dianggap tempat mencari keuntungan dengan cepat sehingga organisasi redaksi harus ramping) atau sebaliknya demi tujuan khusus (modal kecil sehingga jumlah tenaga dibatasi demi penghematan) oleh orang atau kelompok atau lembaga yang membutuhkan media sebagai corong. Tidak berarti lalu secara otomatis produk jurnalistik media yang lahir setelah reformasi pasti lebih buruk, apalagi memang didirikan lembaga ataupun orang-orang yang memiliki kredibilitas di bidang media. Untuk mendapatkan kesimpulan yang pasti soal ini memang sebaiknya dilakukan studi yang mencapai media-media yang terbit di berbagai kota di Indonesia.

Media Sehat dan Sakit

Dalam kaitan ini ada baiknya disampaikan di sini data dari Dewan Pers 2006 yang menyebutkan bahwa dari  851 media  yang terbit di Indonesia, terdiri dari 284 surat kabar harian,  327 surat kabar mingguan,  237 majalah, 3 buletin, hanya sekitar 30% yang sehat. (Wakil Ketua Dewan Pers, Leo Batubara, ketika diwawancara pada Oktober 2008 mengatakan, data tahun ini ada sekitar 1000 media di Indonesia, namun persentase sehat dan tidak sehat masih seperti di atas).
 
Yang dimaksudkan dengan sehat adalah dapat terbit secara teratur, secara ekonomis baik karena pemasukan lebih besar dari pengeluaran, perusahaan dapat membayar gaji dengan memadai, dan memiliki masa depan, artinya masih dapat berkembang baik sendirian maupun bersinergi ke berbagai bentuk media, vertikal maupun horisontal.

Media seperti ini biasanya juga memiliki sebuah struktur organisasi, yang mencerminkan  kebutuhan sebuah lembaga pers dari hulu hingga hilir, yang memungkinnya berperan sesuai tuntutan undang-undang. Personil media yang sehat ini pun memiliki kompetensi memadai, yang diwujudkan biasanya minimal dalam bentuk melakukan penyaringan untuk mendapatkan tenaga. Dan yang maksimal melakukan pelatihan terhadap hasil rekrutmen sebelum dijadikan wartawan tetap dan mengadakan pelatihan memadai sebelum dipekerjakan, dan melakukan tes secara berkala dalam kenaikan jenjang. Di media yang sehat, biasanya ada pula lembaga pengembangan yang bertujuan secara terus menerus memperbaiki kinerja redaksi maupun personil sesuai kemajuan di bidang manajemen maupun jurnalisme.
 
Namun sehat saja belum menentukan sebuah media menjalankan fungsi idealnya, sebab ada juga manajemen media sehat yang tujuan utamanya adalah kepentingan bisnis sehingga tampilan, kinerja media itu tidak seperti diharapkan. Di sini, visi pendiri media itu menjadi kunci bagaimana media memerankan fungsinya.
 
Di sisi lain ada sekitar 70 persen media yang ada dan terdata, tidak sehat. Artinya tentu kebalikan dari yang sehat, yakni media yang pengeluaran lebih banyak dari pemasukan, pendapatan dari iklan tidak memadai, pendapatan dari penjualan tidak mencukupi. Ada yang mampu terbit teratur, tetapi memberi gaji yang kecil sehingga tidak cukup untuk kebutuhan hidup, ada yang terbit tergantung keuangan, dst, sehingga pekerja seperti dipaksa untuk tidak bekerja sesuai tuntutan profesinya yang memiliki kode etik. Dalam gambaran terburuk, ada media yang organisasinya sekadar struktur di atas kertas. Ada peran ganda atau campur aduk, mulai dari hal liputan, sampai dengan pasca produksi, misalnya saja seorang wartawan ikut menjadi agen koran, pencari iklan, dan sebagainya.
 
Tidak berarti lalu media yang sakit maupun setengah sakit tidak idealis. Ada banyak media yang didirikan dengan penuh dedikasi, untuk tujuan mulai, apakah itu untuk menyuarakan kepentingan kelompok, perjuangan mencapai sasaran tertentu, tetapi biasanya media seperti tidak tahan lama kecuali mendapat sokongan dana rutin dari pihak-pihak pendukungnya. Sebab bagaimanapun hukum ekonomi akan berlaku, di mana media harus dicetak dengan membeli kertas dan menyewa percetakan, karyawan harus digaji, sewa gedung harus dibayar, seperti juga listrik, telpon, dan sebagainya, sehingga pemasukan harus ada. Bila tidak artinya, lama kelamaan lembaga ini akan sekarat dan mati.

Paparan di depan mengenai kondisi media ini saya maksudkan tidak lain untuk menyampaikan bagaimana tantangan di dalam dunia media sendiri sangat besar, padahal ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa media cetak, khususnya sura kabar, dapat menjadi sarana pembelajaran yang murah bagi masyarakat. Bila dirinya sendiri sakit, tentu sulit mengharapkan media menjalankan peran mulianya itu.

Makalah pendek ini tidak dimaksudkan untuk memberi gambaran bagaimana media (umum) melakukan tugasnya memasyarakatkan Bahasa Indonesia. Dengan berbagai alasan dan pertimbangan, yang hendak dilihat secara sepintas adalah Bahasa Indonesia konten media dengan segmen pembaca muda. Dalam kesempatan ini penulis mencoba membandingkan dua tipe media bagi kalangan muda, yakni dari suratkabar dengan rubrik yang dikelola dan ditujukan bagi kaum muda dan majalah khusus remaja yang dikelola wartawan profesional.

Mengapa kaum muda, karena menurut pendapat penulis sebenarnya kelompok usia inilah yang perlu mendapatkan pemahaman tentang menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mereka sedang dalam proses pembentukan dalam berbagai sisi kehidupan sehingga kemampuan berbahasa dengan baik akan menciptakan mereka menjadi manusia yang bisa mengekspresikan diri di masa dewasanya kelak dengan baik bagi perkembangan Bahasa Indonesia. Bila tidak mereka akan terombang-ambing antara serbuan istilah bahasa asing yang begitu deras dan ketidakpercayaan pada bahasa sendiri karena tidak pernah diajarkan dengan cara baik di sekolah sehingga Bahasa Indonesia dianggap sekadar mata pelajaran.
 
Dengan jumlah 40.224.825 juta jiwa menurut data Biro Pusat Statistik sesuai sensus tahun 2005, maka penduduk usia 15-24 tahun mencapai hampir 25 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia yang berjumlah 218.086.288 jiwa. Ini merupakan target  yang besar bagi pengelola media, baik sebagai pembaca maupun konsumen iklan. Oleh karena itu berbagai cara dilakukan untuk memikat mereka, salah satunya dengan membuat mereka merasa akrab lewat bahasa yang dipakai di pergaulan sehari-hari.

Namun tinjauan selintas menunjukkan ada perbedaan pendekatan yang dilakukan media dalam penggunaan bahasa di media mereka sebagaimana terlihat dari dua surat kabar dan tiga majalah yang menjadi contoh. Tulisan-tulisan yang dimuat di rubrik remaja suratkabar dan merupakan hasil tulisan remaja sendiri, menggunakan bahasa tulis dengan struktur yang semistandar --seperti istilah Felicia Utorodewo-- walaupun di sana-sini diselipkan istilah, ungkapan, pilihan kata, dari kalangan muda. Sementara  tulisan yang dimuat di majalah remaja, cenderung seperti bahasa lisan yang tercetak karena tidak mengindahkan struktur dan dibuat semaunya.

                                                                                                                                        Secara umum dapat dikatakan tulisan yang terdapat di semua contoh tidak memenuhi standar, tetapi dengan kadar kekurangan yang berbeda. Dalam pandangan saya tulisan yang dibuat penulis amatir, remaja yang baru belajar untuk membuat karya jurnalistik, masih dapat dimaafkan karena mereka tengan dalam proses belajar. Tetapi kesalahan bersifat struktural di media remaja yang dikerjakan oleh jurnalis professional, seharusnya dihindari atau tidak dilakukan para pengelola itu karena bagaimanapun produk mereka adalah sudah termasuk dalam kategori media yang beredar luas dan dikonsumsi umum—meski segmennya remaja.

Tujuan tinjauan selintas ini tidak bermaksud untuk menghakimi, sekadar menyampaikan kenyataan yang ada dalam dunia pers saat ini. Tentu saja ada harapan agar keadaan yang memrihatinkan itu bisa ditangani pihak berwenang, dalam hal ini lembaga Pusat Bahasa, dengan memberi perhatian dalam meningkatkan kemampuan berbahasa pengelola media remaja.

Bahasa Kaum Muda?

Setiap hari di rubrik Curhat Harian Warta Kota, dimuat puluhan tanggapan, permintaan,  keluh kesah, remaja, mengenai dunia hiburan dan bintang-bintangnya, yang disampaikan melalui pesan singkat telpon seluler alias SMS. Kalimat yang digunakan pada awalnya masih “normal”, tetapi dalam setahun terakhir mulailah terjadi proses alami, para pengirim SMS ini menggunakan singkatan-singkatan yang membingungkan. Dari semula dimaksudkan untuk berhemat, karena tariff SMS dihitung berdasarkan kata—meski sekarang ada yang dihitung tarifnya perhuruf—belakangan bentuk baru itu dipergunakan para pengirim SMS lebih karena tren yang berkembang di kalangan remaja. Kalau tidak melakukan hal itu, mereka merasa ketinggalan zaman.

Berikut ini beberapa contoh dari Warta Kota tanggal 24 Oktober 2008.

Hy WK, Koran yg plg top abz, gw Oq di Bgr, gw mnt tmpilin fotonya Olga Syahputra donk, coz dia artis yg lucu n gokil. Tlg y WK tmpilin Fotonya. (085694779XXX).

(Hai Warta Kota, Koran yang paling top habis, gua Oki di Bogor, gua minta tampilin fotonya Olga Syahputra, because dia artis yang paling lucu dan gokil (gila). Tolong ya Warta Kota, tampilin fotonya.)

Hai WK yg makin top aja, aq Hendra d Jmbtn 5 , aq nge’fans buangeeet ma Cinta Laura, biz cantik + bibir y sexy biz, aq mohon tmpilin photona dunk, please..! (O85782314XXX)

(Hai Warta Kota yang makin top saja, aku Hendra di Jembatan Lima, aku ngefans banget sama Cinta Laura, habis cantik dan bibir yang seksi habis (sekali), aku mohon fotonya dong, please.)

Redaksi memutuskan untuk membiarkan bahasa SMS itu tampil apa adanya, tidak diedit, sebagai salah satu cara untuk menampung aspirasi penggemar rubrik tersebut. Apabila bahasanya disesuaikan dengan bahasa di rubrik lain maka orisinalitasnya juga hilang dan membuat pengirim SMS yang juga sekaligus menjadi pembacanya merasa tidak nyaman. Ruang tersebut dijadikan semacam kamar khusus bagi pembaca muda yang memiliki kegemaran sama, semacam taman bermain, tempat mereka berkomunikasi dengan cara yang mereka pahami dengan baik, yakni ragam SMS. Keadaannya kira-kira sama dengan ragam iklan baris yang meskipun penyingkatan katanya dilakukan secara membabi buta agar harganya murah, bahasanya dipahami pembacanya, seperti contoh di bawah ini.

 Pdk Citayam Permai Kp Susukan Rt 6/02, T/B:331/54M, 2KT,2KM,List, IMB, SHGB, Jl Utama tembus ke Parung Hub 8640993/0816986700. Krs HP terakreditasi, 600rb Lg Bs Prtk HW&SW Lkp Bnus Alt Hbs Pakai &Obengset, Diktat, Srtfkt DataPhone 021-57900550,5735579.

(Kursus HP terakreditasi, 600 ribu langsung bisa praktek, hardware dan software lengkap bonus alat habis pakai dan obengset, diktat, sertifikat DataPhone, dan seterusnya)

Bahasa yang digunakan di rubrik itu akhirnya memang bersifat khas pembaca muda, meskipun sebetulnya halaman Hiburan tersebut ditujukan kepada kelompok pembaca perempuan, mulai dari remaja hingga ibu rumah tangga. Dari sekitar 150-200 SMS yang diterima setiap hari, hampir tidak ada  tanggapan SMS di rubrik Curhat yang disampaikan dalam  Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Di banyak surat kabar , yang menjadi contoh di makalah ini hanya Harian Kompas dan Harian Warta Kota, secara sadar  pembaca muda diberikan tempat. Ini sesuai dengan adagium yang sudah lama berkembang bahwa di satu sisi pembaca surat kabar semakin tua dan di sisi lain pembaca muda semakin merasa asing dengan surat kabar.

Sebuah studi di AS (baca Jack Shafer, 2002) tahun 1972 mengungkapkan 47 persen penduduk berusia 18-29 tahun mengaku membaca surat kabar, tetapi di tahun 2000, di kelompok usia itu jumlah pembaca surat kabar  tinggal 18 persen dan diramalkan pada tahun 2010 jumlahnya semakin melorot sehingga tinggal 9 persen. Studi lain di Kanada oleh Wayne Wanta tahun 1992 menyimpulkan  pembaca muda tertarik pada surat kabar, bila ada hal-hal berikut. 1, Terasa menyenangkan bila beritanya sedikit dan banyak pull-out (kutipan yang ditonjolkan di tengah-tengah berita), 2. Lebih mudah dibaca bila banyak pull-out dan foto, 3. Lebih menarik bila banyak foto dan grafik yang besar.

Selain mengubah tampilan, upaya surat kabar untuk mengikat pembaca muda ini seperti di Kompas dan Warta Kota juga dilakukan dengan memberikan tempat atau rubrik di mana remaja (pelajar Sekolah Menengah Atas) melakukan liputan dan menuliskan artikelnya yang dilengkapi foto mereka sendiri. Di sini mereka berpraktek jurnalistik dengan mendapat bimbingan, mulai dari perencanaan sampai proses produksi tulisan, dengan tujuan kelak mereka dapat menjadi penulis yang baik. Dengan demikian kedua belah pihak sama-sama mendapatkan keuntungan.

Di dalam pembelajaran itu para pelajar ini menuangkan topik liputan dalam tulisan yang sesuai dengan bahasa mereka sehari-hari karena didasari keinginan agar prosesnya bersifat alamiah, apa adanya, sesuai dengan sasaran pembacanya. Tentu saja artikel itu lalu tidak memenuhi syarat Bahasa Indonesia ragam jurnalistik yang sempurna, seperti yang dapat dilihat dalam contoh-contoh di bawah ini.

Contoh A.1.
Jika teman kita memiliki suara bagus, biasanya dicap dia punya bakat menyanyi. Teman yang selalu mendapat nilai 8 di bidang kesenian, kita sebut berbakat menulis. Sementara teman yang menyukai pelajaran biologi, menjadi dokter adalah pekerjaan yang cocok untuknya.
(Kompas Muda, 17 Oktober 2008).

Dalam artikel ini kalimat pertama bisa dikategorikan sebagai kalimat tidak teratur karena penampatan jika (yang maksudnya apabila) di depan kalimat pertama, selain penggunaan kata dicap yang tidak tepat. Pada kalimat kedua ada kesalahan dalam pemilihan kata, yakni hubungan antara kesenian dan berbakat menulis, mungkin lebih cocok bila diganti mengarang dan sastrawan. Sedangkan di kalimat ketiga, ada ketidaksejajaran makna, sebaiknya anak kalimatnya berbunyi, mungkin kelak menjadi dokter atau barangkali berbakat menjadi dokter.

Kekurangan yang ada dalam komposisi di atas tergolong parah, menggambarkan penulis belum memiliki kemampuan berbahasa yang memadai, menyangkut logika dan juga penguasaan kosa kata.

Contoh A2.
Menjadi pembawa acara terkenal tak pernah terpikirkan oleh Tamara Geraldine ketika remaja. Namun, ia yakin dan berjanji pada dirinya, suatu saat HARUS menjadi “seseorang”. Ini beberapa teknik yang mau dibagi Tamara untuk mengembangkan bakat kita. (Kompas Muda, 17 Oktober 2008).

Di contoh ini kesalahan lebih ringan yakni dalam penggunaan pungtuasi, memakai kata dengan huruf besar dan tanda kutip untuk memberi penekanan, serta kata yang tidak baku, tak, mau dan dibagi, yang maksudnya adalah ingin disampaikan. Apabila penulis kedua artikel itu berbeda berarti kemampuan mereka berbeda. Tetapi bila penulisnya orang yang sama berarti si penulis memiliki kesulitan dalam membuat teras berita dari bahan wawancara atau liputan dia dan teman-temannya.

Contoh B1.
“Kamu punya buku baru nggak?”
“Buku ini bagus lho, aku udah baca.”
Teman-teman mungkin sering denger-denger kata-kata seperti itu dari teman-teman kita yang hobi baca. Dan kalau kita ke toko buku, kita pasti nemuin orang-orang yang nggak cuma liat-liat, tapi juga niat beli atau cuma numpang baca dong. (Warta Kota Muda, 19 Oktober 2008).

Komposisi ini menggunakan kata-kata yang tidak baku seperti udah, denger-denger,baca, nemuin, liat-liat, numpang, dong. Namun kalimat kedua mengandung kesalahan makna karena seharusnya yang nggak cuma liat-liat dan numpang baca doang tapi juga niat beli.

Contoh B2.
Guys, ada banyak cara membuat pribadi seseorang menjadi dewasa. SMA Tarakanita 2 Pluit (TarQ-2) punya tradisi yang disebut retret. Tujuannya mengantar anak-anak menjadi pribadi yang dewasa luar dalam. Maksudnya, tidak hanya pinter di sekolah tapi juga dewasa sebagai anak beriman.
(Warta Kota Muda, 19 Oktober 2008).

Penggunaan kata guys yang kerap di pakai dalam ragam lisan pergaulan remaja adalah kekurangan dalam kalimat pertama, seperti juga pemakaian pinter di kalimat ketiga.

Contoh C1.
Dulu..setiap mengisi sebuah form pada bagian “Hobi:” aku seringnya jawab berenang, tidur, ngemil,nonton…Well, bisa aja sih menghasilkan uang dari hobi-hobi tersebut, tapi sebenernya aku punya hobi (the real one which i never realized when i was younger) yang sekarang jadi modal aku bekerja di Gogirl, yaitu hobi baca majalah dan doodling (bikin coret-coretan nggak jelas dimana-mana). Some of you guys mungkin udah tahu kalau me and my sisters are magazine freaks..
(Gogirl! Oktober 2008).

Diselipkannya kalimat-kalimat berbahasa Inggris di komposisi ini tampaknya sebagai bentuk dari kebiasaan menggunakan bahasa campuran dalam kehidupan sehari-hari penulis. Hal itu semakin tampak dengan banyaknya pemakaian kata tidak baku. Namun kesalahan penulis semakin parah karena penggunaan .. (dua titik) atau …(tiga titik)yang tidak jelas maksudnya juga tanda kutip “Hobi”. Tulisan yang merupakan editorial yang merupakan pengantar redaksi ini menunjukkan kekurangmampuan berbahasa Indonesia penulisnya, atau mungkin pula ketidakpeduliannya. Hal yang sama bisa disimpulkan dari artikel kedua berikut ini.

Contoh C2
Social network sites has become a lifestyles nowadays. Situs pertemanan kayak Facebook, My Space dan Friendster jadi ajang “ketemu dan ngumpul” bareng temen-temen, finding long lost friends, cari temen baru bahkan pacar. Adu narsis dengan gonta-ganti foto supaya profile kita dilihat orang sih wajar. But lately, kita bisa lihat banyak banget foto-foto yang “berani” di sana. Hmm, apa maksudnya yah?
(Gogirl! Okt 2008)

Contoh D1
Bencana itu termasuk salah satu rahasia Tuhan. Kita, manusia, nggak pernah bisa menduga atau nebak, kapan datengnya. Yang bisa dilakukan sama kita ya cuma bersiaga. Waspada, serta sadar bahwa bencana itu termasuk rencana Yang Kuasa. (Hai, 20 Oktober 2008)

Penggunaan kata-kata yang tidak baku adalah kesalahan yang ringan, tetapi   kekurangan lain komposisi ini adalah tidak efektif dalam menyampaikan pesan karena pengulangan. Seharusnya penulis membuat contoh-contoh dari nggak pernah bisa menduga atau nebak, kapan datengnya.

Contoh D2
Gaya modifikasi crossover lagi mulai menjamur. Honda CS1 disebut-sebut jadi biang keroknya. Alhasil, beragam jenis motor mulai dimodifikasi total dari segi tampilan maupun performa mesin. Syaratnya cuma satu: ciri khas motor aslinya nggak boleh hilang. (Hai, 20 Oktober 2008).

Kekacauan juga terdapat dalam komposisi di atas.  Setelah menjamur di kalimat pertama, di kalimat kedua sebenarnya harus dibuat contoh atau rincian. Empat kalimat yang ada tidak memiliki keterkaitan, masing-masing merupakan gagasan yang berbeda.

Dua contoh buruk ini memperlihatkan kelemahan penulis yang sangat mendasar, dia tidak menguasai logika bahasa, bukan sekadar bermain-main dengan kata-kata tidak baku yang dimaksudkan agar dapat akrab dengan pembaca remajanya.

Contoh E1
Kuliah di Harvard University-Amerika merupakan dambaan setiap orang, namun study di kampus bergengsi ini bisa diraih gratis lho? Tentu dengan cara melewati program bea siswa yang ditawarkan beberapa institusi untuk mengambil gelar S1, S2 atau non gelar di luar negeri. AMINEF misal lembaga yang menelorkan program Fullbright ini, memberi dana US$ 30.000 pertahun bagi peserta yang lolos test. Karena basicnya harus pintar maka bila memiliki IP 4.00 akan lebih punya peluang mengenyam study di Amerika. (Kartika, Desember 2007)

Gagasan yang hendak disampaikan komposisi di atas adalah kuliah di universitas dengan reputasi tinggi di AS yang  merupakan dambaan bisa dicapai bukan hanya oleh mereka yang memiliki uang tetapi juga oleh mereka yang pintar karena ada lembaga yabg menyediakan beasiswa. Tetapi karena penulis tidak menguasai cara penulisan yang baik maka penyampaiannya menjadi kacau. Penggunaan kata study dan basic, juga mungkin menggambarkan keinginan penulis agar tampak intelek karena padanan kedua kata ini sangat mudah didapat.

Contoh E2
Concern-nya pada bisnis kosmetika Mamanya, Martha Tilaar, Kilala Tilaar menjadi sering keluar masuk mal mencicipi lipstick dan produk kecantikan wanita lainnya. Teman-temannya di Amerika jadi sering menaruh curiga,” Kiki are you gay?” Baginya tidak ada kata manja, bahkan untuk bisa beli mobil rela menjadi loper koran. (Kartika, Desember 2007).

Kata concern dan lipstick digunakan barangkali tidak jauh dari kemunculan kata guys, please, well dalam contoh-contoh sebelumnya, untuk menambah bumbu kemodernan kalimat di kalangan remaja. Namun kekurangan lain dari Contoh E2 ini adalah munculnya gagasan baru, yakni mengenai kemanjaan tokoh, padahal gagasan pertama yang disampaikan adalah tentang bagaimana si tokoh peduli pada bisnis milik ibunya sehingga dia masuk keluar toko untuk melihat produk kecantikan wanita.

Keseluruhan contoh dari media remaja yang dikelola para jurnalis professional tersebut memperlihatkan rendahnya kemampuan berbahasa Indonesia mereka, karena kekurangan menyangkut segala aspek. Di sisi lain, meskipun karya para remaja yang ditampilkan di rubrik bagi kaum muda di surat kabar, menujukkan Bahasa Indonesia mereka tidak memenuhi standar, hal itu merupakan hal yang masih dapat dimaklumi karena mereka dalam proses belajar, baik dalam bidang jurnalistik dengan bahasa  sebagai alatnya.

Kesimpulan

Bahasa Indonesia ragam jurnalistik disebut semistandar. Disebabkan oleh tuntutan waktu dan ruang yang tersedia, berita atau tulisan di media melanggar aturan yang ada. Felicia Utorodewo mengatakan, ciri semistandar ini ditandai antara lain, penggunaan kalimat tidak lengkap, penggunaan kosa kata lisan, penghilangan tanda baca di tempat-tempat tertentu seperti frase apositif atau gelar, dan lain-lain.

Karya jurnalistik di kolom muda surat kabar dan karya jurnalistik wartawan professional di media remaja memperlihatkan Bahasa Indonesia dalam berita atau artikel di sana jauh lebih buruk dari cakupan semistandar. Padahal media cetak memiliki kewajiban untuk memasyarakatkan Bahasa Indonesia dan bahasa merupakan alat yang seharusnya dikuasai pelaku media. Keadaan ini menimbulkan keprihatinan sehingga  semua pihak harus merasa berkepentingan untuk memperbaikinya karena pembaca kalangan muda merupakan generasi penerus yang kelak berperan penting dalam kehidupan bangsa ini.

Kepustakaan

-. Buku Panduan Kompas, Jakarta: Penerbit Kompas, 2008.
-. Depkominfo, Membangun Profesionalisme Pers Dengan Menegakkan Hukum dan Etika Pers, Jakarta ,2007.
-.Dewan Pers, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Jakarta, 2007.
-. Jack Shafer, Red Scare, In Chicago, the Tribune Co.'s RedEye races Hollinger's Red Streak to the bottom dalam www.slate.com/id/2073375/
-. Utorodewo, Felicia N, Laras Jurnalistik, ringkasan makalah Seminar Sejarah Bahasa Melayu/Bahasa Indonesia dalam Jurnalistik, di Buku Panduan Kompas, Jakarta: Oktober 2008.
-. Wayne Wanta, etc, Young Readers and The Newspaper: Factors Affecting Information Recall and Perceived Enjoyment, Readability and Attaractiveness, School Of Journalism, University of Oregon, Eugene, Oregon, 1992.
-. Pusat Bahasa, Buku Praktis Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa, 2007.
-. "Reading Between the Lines: Debunking Common Myths about Young Newspaper Readers," a D-Code study commissioned by the Canadian Newspaper Association, 2006.

-. http://forum4editors.com/2008/10


Media


Harian Kompas, 17 Oktober 2008.
Harian Warta Kota, 19 Oktober dan 24 Oktober 2008.
Majalah Gogirl!, Oktober 2008.
Majalah Hai, 20 Oktober 2008.
Majalah Kartika,  Desember 2007.


Resume

 

This paper is a blink look at youth rubric in two newspapers Kompas and Warta Kota and three teens magazines for girls (Gogirl! and Kartika) and boys (Hai). Examples taken from five media indicated that the quality of Bahasa Indonesia in its editorial, news and articles, was very poor. The weakness not only in inability to write in standard sentences and composition and choose of  standard diction, but also in its logic. In most cases the writers tend to use English words to make their articles seems intellectual. It’s important to all stakeholders of Bahasa Indonesia, mainly Pusat Bahasa, seriously take action to tackle this problems, because the youth in the future will fill the jobs in all aspects of this nations.


*) Hendry Ch Bangun adalah Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (Sesjen PWI) Pusat.-