Kamis, 19 September 2019

Bahasa di Media Massa Bisa Jadi Pemicu Kekerasan

Oleh Artini Suparmo PhD. *)
Jakarta (ANTARA News) - Tuduhan masyarakat terhadap media massa sebagai pemicu tindak kriminalitas agaknya cukup beralasan, seiring dengan semakin bertambahnya kasus-kasus kekerasan, seperti mutilasi  dan pembunuhan bayi kandung sendiri,  secara beruntun belakangan ini.

Liputan media massa mengenai kasus kekerasan  dinilai oleh beberapa pakar kriminologi dan komunikasi, secara langsung ikut melakukan kekerasan lewat bahasa, bahkan semakin jelas dalam adegan rekonstruksi di televisi. Media melaporkan berbagai peristiwa kekerasan pada dasarnya adalah sebagai bentuk intervensi sesuai dengan fungsi media massa, yakni bagaimana  mencegah meluasnya kekerasan dalam masyarakat.

Dalam konteks campur tangan media massa dalam persoalan masyarakat inilah, yang menjadi alasan mengapa media massa dituduh telah menjadi pemicu  kekerasan. Laporan kejahatan sekarang ini sudah mirip hiburan, ditambah lagi dengan bahasa yang digunakan seperti drama dengan pilihan kata dan kalimat yang mencekam, sehingga mereka tidak lagi sensitif  karena sudah terbiasa dengan judul berita seperti "istri dijedotin ke tembok berkali-kali sampai berdarah-darah hingga tewas"  di surat kabar.

Padahal, menurut pakar kriminologi, Fromm (2004),  sifat perusak dan kekejaman manusia atau agresi bagi semua tindakan yang menyebabkan kerugian bagi orang lain,  sebenarnya lebih dipicu oleh alasan-alasan yang berakar dalam diri manusia itu sendiri.

Di sinilah peran tuturan dalam  berita  di media massa sebagai bentuk dialog dengan masyarakat untuk ikut mengatasi masalah kekerasan dalam masyarakat. Dialog dalam berita adalah bentuk penyampaian pesan yang saling bermanfaat bagi kedua pihak. Menurut ahli bahasa Sudaryanto, dialog adalah fungsi hakiki bahasa yakni kebersamaan atau menjadi sesama antara penutur dengan mitra bicara.

Para pengelola media massa sebenarnya sadar benar bahwa kehadiran mereka adalah untuk kepentingan umum, sehingga pangsa mana pun yang menjadi target, maka pers selayaknya menggunakan kesantunan berbahasa, bukan  sekadar memilih kata-kata atau kalimat yang santun, tetapi makna yang disampaikan  sesuai dengan  prinsip  dan fungsi media itu sendiri.

Bidal kesantunan berbahasa adalah prinsip atau kesepakatan yang harus dipatuhi di antara dua belah pihak yang berkomunikasi, oleh penutur dan petutur, atau antara media massa dengan khalayaknya dalam laporan atau liputan media. Kesantunan berbahasa pada hakikatnya adalah upaya untuk mengurangi dampak negatif pada khalayak, atau hak dan kewajiban dalam hubungan sosial dalam suatu percakapan, termasuk  di media massa.  

Intisari dari teori  kesantunan berbahasa adalah komunikasi ostensif sebagai bentuk komunikasi yang hanya memberikan fakta bermanfaat kepada khalayak, antara lain jumlah informasi sesuai  kebutuhan, akurat  dengan bukti yang meyakinkan, mengandung relevansi dan disampaikan dengan cara  singkat, tidak mendua, ringkas, teratur dan tidak menyakiti.

Kenyataannya di media sekarang ini, hampir semua liputan kekerasan di media massa  dikemas eksplisit  secara jelas, langsung, harfiah, kronologis, dari narasumber yang dianggap dapat dipercaya yaitu polisi dan pelaku sehingga khalayak dapat dengan mudah memahami isi pesan. Namun, di balik berita tersebut, sesungguhnya  terdapat realitas lain yang berpengaruh, yaitu "realitas kepentingan pribadi dan bisnis media massa".

Dalam suatu diskusi dengan wartawan "beat" kriminal, mereka mengakui, seringkali tidak datang ke tempat kejadian perkara (TKP),  hanya  mengandalkan informasi dari pelaku dan polisi saja, bahkan sudah tidak empati lagi pada masalah kekerasan karena terlalu sering meliput dan menulis hal sama, di samping rasa malas. Meski media tempat dia bekerja telah menempatkan berita kekerasan terhadap perempuan sebagai berita utama yang laku dijual, ternyata tidak mempengaruhi wartawan "untuk berbuat lebih jauh" terhadap berita-berita tersebut agar lebih  mendalam. Hal ini karena setiap hari wartawan harus membuat 5-7 berita, dikejar deadline, serta sulitnya mencari narasumber, sehingga  berita-berita kekerasan tampil apa adanya.

Mereka sengaja mengungkapkan proses pembunuhan atau penganiayaan yang dilakukan seorang suami secara kronologis dan harfiah, seperti bagaimana suami membentur-benturkan kepala istri ke tembok, memukul kepala istri dengan batu besar, mencekik istri, memukul dengan helm atau gantungan baju dari besi sampai istri meninggal

Fakta ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan dalam berita kekerasan di media secara umum adalah bahasa peran  dalam menggambarkan kekerasan, sehingga akhirnya menjadi ciri khas media. Wartawan mengira-ngira seperti apa adegan perkosaan atau kisah pembunuhan, sehingga keluarlah kata-kata seperti "gadis bar, ususnya terburai-burai, bajunya berdarah-darah, atau kepalanya dijedotin ke dinding berkali-kali". Dan supaya tulisan menjadi hidup, maka dipakailah bahasa yang konyol atau kata-kata yang mengandung unsur seksual. Targetnya tidak lain hanya agar berita itu mempunyai nilai jual.

Dari bahasa yang digunakan itu, tampaklah bahwa sajian kekerasan di media massa memang sengaja dikemas secara sangat khas dan jelas, karena media hanya menyampaikan fakta telanjang di lapangan, agar pembaca tidak perlu berfikir keras tentang maksud media. Fakta ini ditambah lagi dengan malasnya wartawan mencari data dukungan, seperti penjelasan psikolog, sehingga  khalayak pembaca kurang mengerti motif pelaku secara kejiwaan. Kemalasan wartawan dalam pemberitaan kekerasan juga tampak dari pengutipan informasi dari polisi atau pelaku saja. Dengan kata lain, dengan sumber di depan mata saja,  yaitu polisi sebagai sumber yang kredibel karena dia yang menangani kasus itu, wartawan juga tidak berusaha menggali fakta lebih dalam, misalnya tentang hukuman untuk pelaku.

Padahal, dukungan data dalam pesan di media massa  merupakan unsur paling penting  guna  memperkaya  pemahaman. Dukungan data atau pengayaan dalam pesan, sebenarnya merupakan salah satu bidal kesantunan berbahasa. Dalam konteks ini, maka media massa pada dasarnya telah melanggar kesantunan berbahasa, karena menyajikan informasi yang tidak utuh kepada masyarakat luas.

Apalagi, media cenderung memarjinalkan peran seseorang, seperti perempuan sebagai korban dengan menonjolkan peran pelaku atau polisi sebagai sumber dipercaya. Fakta ini juga menunjukkan pelanggaran kesantunan berbahasa karena ada ketidakbebasan wartawan dalam mencari dan menuliskan realitas, sehingga konstruksi realitas di media hanya menguntungkan peran seseorang.  

Orang ketiga

Kesantunan berbahasa juga belum terealisasi dalam pemberitaan kekerasan  di media massa, karena media juga tidak pernah memperhatikan kehadiran orang ketiga dalam pemberitaan. Ketika berita kekerasan  mengungkapkan kebiadaban seorang ayah yang  memperkosa anak kandungnya atau menendang anak balita ke luar jendela, maka ada pihak yang terluka di lingkungan masyarakat.

Sama halnya dengan pemberitaan antrian panjang masyarakat miskin untuk mendapat uang THR Rp20 ribu di rumah seorang  pejabat pada lebaran lalu, maka hampir semua pembaca akan terenyuh. Atau ketika tahu ada wakil rakyat yang mendapat hadiah Rp500 juta tanpa tahu  dari siapa dan untuk apa, maka yang menangis saat membaca berita itu adalah orang-orang kecil.

Mereka inilah orang ketiga yang terabaikan dalam bahasa pemberitaan. Gambaran ini juga secara tidak langsung melahirkan keputusasaan dan akhirnya mendorong  perbuatan nekat atau tindak kriminal. Fakta ini juga merupakan pelanggaran kesantunan berbahasa karena karena media massa seringkali  memperlakukan peristiwa dalam bahasa berita hanya menjadi pengantar fakta saja, tanpa memperhatikan orang ketiga  yang langsung atau tidak langsung terlibat dalam pemberitaan tersebut. Ada pihak-pihak yang terluka akibat pemberitaan tersebut.

Contoh lain pelanggaran kesantunan berbahasa adalah liputan kekerasan di media juga seringkali menunjukkan ketidaksetaraan posisi sumber dalam berita, ada sosok yang digambarkan secara menarik sehingga dapat menguntungkan sosok tersebut, namun di sisi lain ada sosok yang ditempatkan pada posisi yang dirugikan.

Pengertian kesantunan berbahasa jangan disalahartikan, karena prinsip-prinsip atau bidal? Bidal kesantunan berbahasa tidak bermaksud untuk bermanis-manis atau bersopan-santun dalam berbahasa, tapi adalah suatu prinsip kerjasama atau dialog kesepakatan antara media massa dengan khalayak dalam mengatasi berbagai masalah dalam masyarakat.

Paul Grice (1975) yang terkenal dengan Prinsip Kerjasama (Cooperative Principle) mengajukan empat bidal dalam  kesantunan berbahasa yaitu pesan yang disampaikan hendaklah berkualitas, cukup jumlahnya, ada relevansinya serta penyampaiannya yang tidak boleh menyakiti orang lain.

Jika dampak berita yang disampaikan media justru menimbulkan sisi negatif, atau tidak sesuai dengan yang diharapkan media dan masyarakat, maka berarti hakiki bahasa yakni kesantunan berbahasa di media sudah terabaikan bahkan mungkin saja telah hilang.

Untuk dapat secara bersama-sama mengatasi pelbagai masalah dalam masyarakat termasuk kekerasan, maka perlu dialog antara media massa dan masyarakat khalayak, lewat bahasa pemberitaan media, dan dialog itu merupakan bagian kesantunan berbahasa.

(* Artini Suparmo PhD adalah pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) London School of Public Relation)