Rabu, 18 September 2019

PBB minta Honduras lindungi wartawan

Tegucigalpa  (ANTARA News/Reuters) - Pemerintah Honduras harus menyelidiki kasus 22 wartawan yang dibunuh dalam dua tahun belakangan ini di negara Amerika Tengah itu, kata seorang utusan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Selasa.

Frank La Rue, pelapor khusus PBB bidang kebebasan berpendapat, juga mendesak Presiden Porfirio Lobo melakukan tidakan-tindakan baru  untuk melindungi wartawan termasuk memberikan akses bagi mobil tahan peluru  dan membantu parawat wartawan yang dianca dan keluarga amereka untuk direlokasikan, baik di dalam negara Honduras atau luar negeri lainnya.

"Negara itu harus mengusut dan menghukum para pelaku intelektual dan fisik terhadap para wartawan," kata La Rue dalam satu jumpa wartawan.

Tidak adanya keadilan, menurut dia, menimbulkan kekebalan hukum dalam kasus ini, kekebalan hukum meningkatkan aksi kekerasan terhadap wartawan.

Kehadiran kartel-kartel narkoba Meksiko yang meningkat di Honduras telah mwningkatkan aksi kekerasan di Honduras dengan tingkat pembunuhan tertinggi di dunia, 86 orang dari 100.000 orang tewas setiap tahun tahun 2012.

La Rue mengemukakan kepada wartawan bahwa sejak tahun 2010 ketika Loba berkuasa, hanya satu dari 22 kasus pembunuhan wartawan  berakhir melalui sidang pengadilan, kata data stastik ia sebut "tidak dapat diterima dan kejam."  

Dalam empat tahun sebelum Lobo dipilih, hanya seorang wartawan  dibunuh, tambah La Rue mengutip data pemerintah.

Alfredo Villatoro, seorang wartawan radio terkemuka, adalah korban terbaru. Ia diculik Mei dan tubuhnya ditemukan seminggu kemudian dengan satu luka tembak di kepala.

Antara tahun 2010 dan 2012, 64 wartawan dibunuh di seluruh dunia, kata  Komite Perlindungan Wartawan, yang menggunakan metodenya sendiri mencatat jumlah korban pembunuhan.

Di Meksiko tempat pemerintah memerangi selama enam tahun terhadap kartel-kartel anti-narkoba, lebih dari 80 wartawan dibunuh sejak tahun 2000, kata Komisi Hak Asasi Manusia Nasional negara itu. (*)