Kamis, 19 September 2019

Sejumlah wartawan terbunuh di Suriah

Damaskus (ANTARA News/Xinhua-OANA) - Satu kelompok pria bersenjata, Sabtu, membunuh seorang wartawan Suriah yang bekerja buat kantor berita resmi negeri itu, SANA, demikian laporan TV resmi Suriah.

Ali Abbas ditembak di kepala pada Sabtu di rumahnya di pinggiran Ibu Kota Suriah, Damaskus, demikian pernyataan dari TV tersebut.

Pembunuhan Abbas adalah yang paling akhir dari serangkaian pembunuhan yang telah ditujukan kepada wartawan dan staf media pro-pemerintah dan resmi Suriah.ngecam serangan-serangan atas media itu.
Pada pertengahan Juli, Mohammad Saeed, pembaca berita di stasiun TV resmi, diculik dari rumahnya, juga di Jdaidet Artos, dan belakangan dinyatakan dibunuh oleh satu kelompok yang memiliki hubungan dengan Al Qaida.

Pada Jumat, empat staf stasiun TV pro-pemerintah, Al-Ekhbaria, diculik, sewaktu mereka meliput kerusuhan di pinggiran Damaskus, Tal Mneen.

Pekan sebelumnya, satu ledakan mengguncang markas TV resmi di Ibu Kota Suriah, Damaskus, dan melukai beberapa orang.

Bulan lalu, satu kelompok gerilyawan bersenjata menyerbu markas TV Al-Ekhbaria di pinggiran Drosha, dekat Damaskus, membuat tempat itu kacau dan porak-poranda.
 
Suriah menuduh anasir bersenjata menculik dan membunuh para pekerja media resmi dalam upaya membungkam suara pemerintah Suriah.

Sehari kemudian, stasiun TV pro-pemerintah Suriah, Al-Ekhbariya, menyatakan bahwa jurufotonya, Hatem Abu Yahia, diculik bersama tiga rekannya tiga hari sebelumnya, telah dibunuh.

Satu rekaman video yang diposting di YouTube memperlihatkan tiga pegawai yang diculik tersebut mengumumkan kematian rekan mereka dan menyatakan ia tewas selama pemboman pemerintah atas pinggiran Damaskus, At-Tal, tempat keempat wartawan itu diculik pada Jumat (10/8).

Penculikan dan pembunuhan wartawan pro-pemerintah telah umum terjadi di Suriah, sehingga membuat mereka kesulitan untuk meliput peristiwa di daerah bergolak.

Pemerintah Suriah, Sabtu (11/8), menyatakan "satu kelompok teroris bersenjata" membunuh Ali Abbas, wartawan yang bekerja buat kantor berita resmi, SANA, di kediamannya di daerah Jdaidet Artouz di pinggiran Ibu Kota Suriah, Damaskus.

Pada 4 Agustus, Fron An-Nusra, kelompok bayangan yang mengaku bertanggung jawab atas sejumlah serangan bunuh diri di Suriah selama 17 bulan belakangan, menyatakan bertanggung jawab atas pembunuhan seorang penyiar terkenal Suriah, Mohammad As-Said.

Mohammad As-Said diculik dari dekat rumahnya di Jdaidet Artouz oleh satu kelompok bersenjata pada 20 Juli.

Beberapa "kelompok teroris bersenjata" juga dituduh oleh pemerintah melakukan dua serangan bom terhadap TV Suriah dan Gedung Radio di Damaskus pekan lalu dan terhadap gedung TV Al-Ekhbariya di pinggiran Damaskus pada 27 Juni. Akibatnya ialah tiga wartawan dan empat penjaga tewas selain terjadi kerusakan besar materil.

Saat kerusuhan terus bergejolak, kelompok oposisi dan pemerintah Suriah telah saling melontarkan tuduhan memalsukan fakta melalui saluran media mereka.

Sementara itu, Moskow mengecam serangan-serangan teror terbaru terhadap wartawan  Suriah, kata Kementerian Luar Negeri Rusia.

"Kami tegas mengutuk serangan-serangan teror terhadap wartawan yang menjamin pelaksanaan hak-hak dasar demokratis warga negara untuk menerima informasi yang obyektif, kebebasan berbicara dan berpendapat," kata kementerian itu dalam satu pernyataan yang disiarkan di situsnya.

Moskow mendesak organisasi-organisasi internasional dan regional, serta negara-negara yang memiliki pengaruh terhadap oposisi Suriah, untuk tidak tinggal diam dan agar menanggapi fakta ini.

"Sikap terhadap wakil-wakil dari semua media harus sama, standar ganda bias tidak bisa diterima dalam masalah itu," kata pernyataan itu.

Pihaknya menunjuk  kasus penangkapan kru foto dari TV pro-pemerintah pada 10 Agustus, dan pembunuhan seorang wartawan dari kantor berita resmi Suriah SANA pada 11 Agustus.

TV Suriah al-Ekhbariya pada Senin  mengatakan  bahwa fotografer Hatem Abu Yahia, yang diculik tiga hari lalu bersama tiga rekan lainnya, tewas.

Pemerintah Suriah menyatakan bahwa satu "kelompok teroris bersenjata" membunuh Ali Abbas, seorang jurnalis yang bekerja, di kediamannya di daerah Artouz Jdaidet di pinggiran Damaskus.

Menculik dan membunuh wartawan pro-pemerintah telah menjadi umum di Suriah, sehingga sulit bagi mereka untuk menutupi kejadian di tempat yang panas.

Babacar Gaye, kepala Misi Pengawasan PBB di Suriah, mengutuk serangan terhadap jurnalis Suriah, dan mengatakan "kami mengutuk kekerasan terhadap media mendatang dari salah satu sisi."

Satu organisasi pers Suriah mengatakan baru-baru ini bahwa 39 wartawan dan juru kamera tewas sejak pecahnya protes di Suriah.

Dari Teheran, Iran, dilaporkan bahwa seorang wartawannya yang berbasis di Suriah untuk jaringan televisi berbahasa Arab Al-Alam telah diculik oleh para pemberontak di  kota tengah Suriah Homs, kata kantor berita tersebut di situsnya, Selasa.

Wartawan itu, Ahmad Sattouf, dibawa oleh "kelompok teroris bersenjata," saat ia kembali ke rumahnya di Homs, kata Al-Alam, dengan menggunakan istilah para sekutu rezim di Iran dan Suriah gunakan  menunjuk pemberontak Suriah.

Saluran itu tidak mengatakan kapan tepatnya Sattouf diculik, tetapi mengatakan dia telah hilang selama "beberapa hari."

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia secara terpisah mengatakan bahwa Sattouf, seorang Suriah, telah diculik sepanjang malam Sabtu-Minggu.

Al-Alam mengatakan bahwa "para pemberontak juga menyerang dan mengobrak-abrik" kantor di Homs.

Beberapa wartawan asing dan Suriah dijadikan target dalam konflik di Suriah.

Kepala kantor berita Suriah SANA dikatakan telah dibunuh oleh para pemberontak di luar rumahnya di dekat ibu kota negeri bergolak itu, dan satu kelompok jaringan Al Qaida  telah mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan awal bulan ini terhadap pembawa acara  di televisi pemerintah.

Tiga wartawan TV negara Suriah juga dilaporkan diculik oleh pemberontak pada  Jumat saat mereka mendampingi pasukan pemerintah tak jauh dari ibu kota.

Pada  pekan lalu satu serangan bom terhadap markas besar televisi negara melukai beberapa orang. (*)