Rabu, 18 September 2019

Anugerah Adinegoro berhadiah Rp300 juta

Adinegoro AwardJakarta (PWI News) - Panitia Pelaksana Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013 dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat mengundang seluruh wartawan media cetak, siaran televisi dan radio, serta media siber warga negara Indonesia untuk mengirimkan karya jurnalistik yang telah disiarkan selama periode Januari hingga November 2013 guna disertakan dalam penilaian lomba memperebutkan Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013 sebagai penghargaan tertinggi dalam pemberian penghargaan jurnalistik di Indonesia berhadiah total Rp300 juta.

Kategori penilaian Anugerah Jurnalistik Adinegoro meliputi:
1. Karya jurnalistik tulis berupa laporan investigasi (JI)
2. Karya jurnalistik radio berupa laporan investigasi atau laporan berkedalaman (JR)
3. Karya jurnalistik televisi berupa laporan investigasi atau laporan berkedalaman (JT)
4. Karya jurnalistik foto meliputi foto berita, feature, potret/profil dan foto olahraga (JF)
5. Karya jurnalistik tajuk rencana ((TR)
6. Karya jurnalistik karikatur opini (JK)

Selain itu diberikan pula dua kategori anugerah karya jurnalistik meliputi:
1. Karya jurnalistik infotainmen (IN)
2. Karya jurnalistik siber (SR).
 
Hadiah

Bagi pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro, disediakan hadiah masing-masing sebesar Rp50.000.000 (Lima Puluh Juta Rupiah) berupa cek, tropi dan piagam, serta fasilitas akomodasi untuk menghadiri penyerahan hadiah pada acara puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2014 yang dihadiri Presiden Republik Indonesia di Bengkulu.

Pemenang penghargaan Jurnalisme Infotainmen dan Jurnalisme Siber masing-masing diberikan hadiah Rp10.000.000 (Sepuluh Juta Rupiah) berupa cek, trofi dan piagam.
 
Anugerah jurnalistik Adinegoro mengabadikan nama wartawan multi-talenta Djamaluddin ADINEGORO, yang lebih dikenal dengan nama ADINEGORO, ketimbang nama aslinya Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan yang diberikan ayahnya. Ia tokoh yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan pers nasional.

AdinegoroTokoh pers nasional yang dilahirkan di Talawi, Sumatera Barat, pada 14 Agustus 1904 dan wafat di Jakarta 8 Januari 1967 itu, mengeyam pendidikan kewartawanan di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda) sebelum kembali ke tanah air tahun 1931 untuk menjadi Pemimpin Redaksi Panji Poestaka untuk kemudian memimpin surat kabar Pewarta Deli.

Pada 1948 ia bersama-sama dengan Profesor Dr. Mr. Soepomo, Ir. Pangeran Moehammad Noer, Soekardjo Wirjopranoto, Mr. Gusti Majur dan Mr. Jusuf Wibisono menerbitkan majalah Mimbar Indonesia, yang merupakan majalah perjuangan yang bermutu pada saat itu.

Tokoh ini pula yang mendirikan Perguruan Tinggi Publisistik dan Fakultas Publisistik & Jurnalistik Universitas Pajajaran Bandung. Tahun 1951 ia mengambil-alih pimpinan bekas kantor berita Belanda Aneta yang namanya diganti Pers Biro Inonesia Aneta (PIA).

 Adinegoro juga dikenal sebagai kartografer (ahli pembuat peta), dan penulis buku komunikasi bermuatan filsafat jurnalisme, hubungan masyarakat, opini publik, dan geopolitik. Buku "Falsafah Ratu Dunia" dan "Melawat ke Barat" termasuk karya Adinegoro yang hingga kini tetap aktual.

 Namanya juga diabadikan dalam Yayasan Pendidikan Multimedia ADINEGORO yang menaungi Lembaga Pers Dr. Soetomo sebagai satu institusi yang mengabdi untuk membangun/meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang jurnalistik.

 Astrid B. Soerjo, putri bungsu Adinegoro, mengharapkan Anugerah Jurnalistik Adinegoro  menjadi peluang bagi seluruh wartawan warga negara  Indonesia untuk berkompetisi membuat laporan jurnalistik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Anggota Dewan Penasehat PWI Pusat itu menyatakan, "Ini menjadi peluang pula bagi wartawan di daerah, mulai dari Papua hingga Aceh, bahkan wartawan warga negara Indonesia yang bertugas di luar negeri."

Astrid, yang alumni Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), juga berharap bahwa wartawan Indonesia selalu memacu kreativitasnya dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, seperti yang dicita-citakan Adinegoro semasa hidupnya.

"Sudah waktunya pula para wartawan bisa mengembangkan jurnalisme sastrawi yang dapat diterima masyarakat. Sekarang ini kan kecenderungan pemberitaan terkesan serba instan," ujarnya menambahkan.

Komentar video streaming Astrid B. Soerjo dapat diakses  di http://www.youtube.com/watch?v=UppMvXQtqRM 
 

Persyaratan peserta

Terbuka bagi seluruh wartawan warga negara Indonesia yang dapat mengirimkan karya-karya jurnalistik sesuai kategori dan persyaratan teknis yang ditetapkan oleh panitia dengan panduan umum untuk karya yang sudah dipublikasikan selama periode Januari himgga November 2012.

Karya yang sudah pernah mendapat penghargaan lain bisa disertakan dalam penilaian Adinegoro ini dan diberikan penjelasan atas kemenangan/penghargaan tersebut.

Melampirkan formulir pendaftaran yang telah diisi dengan lengkap dan jelas, bersama fotocopi/pemindai (scan) kartu tanda penduduk (KTP) & kartu pers yang masih berlaku, dan formulir terlampir.

Jumlah karya yang dikirimkan bersifat terbatas, untuk karya yang dibuat oleh tim, peserta harus menyebutkan ketua tim dan anggotanya.

Batas waktu pendaftaran dan penyerahan karya jurnalistik pada Panitia tanggal 6 Desember 2012 (cap pos) pukul 17,00 WIB.

Tidak ada korespondensi antara peserta dengan panitia. Lengkapi persyaratan yang telah ditentukan panitia. Segala keputusan panitia dan dewan juri merupakan keputusan yang tidak dapat diganggu gugat.

Dokumen yang dikirimkan adalah surat keaslian karya, formulir pendaftaran dan catatan kisah proses kreatif, kartu identitas (KTP & PERS), serta karya yang dilombakan. Pada sampul pengiriman sudut kiri atas mohon dicantumkan kode jenis lomba serta asal media pengirim. Contoh : Kode Kategori/ADINEGORO/2012/Nama Media  (JI/ADINEGORO/2012/HARIAN KATA)

Karya yang tidak memenuhi syarat pengiriman dinyatakan gugur (kalau tidak sesuai kriteria salah satu saja).

Dokumen dapat dikirim langsung atau melalui pos kepada :

PANITIA ANUGERAH JURNALISTIK ADINEGORO 2012
GEDUNG DEWAN PERS, PWI Lt. IV
Jln. Kebon Sirih No. 34 Jakarta 10110.