Selasa, 12 November 2019

Perusahaan Media Malas Mendidik Wartawan

Persatuan Wartawan Indonesia
Dokumen PWI Kaltim: Pelaksanaan SJI dan UKW.
 

 

Jakarta (Kompasiana) - “Untung saya ikut SJI dan Safari Jurnalistik. Kalau nggak, pasti saya sulit mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW),” ujar salah satu peserta UKW yang diadakan PWI Pusat di Balikpapan,akhir pekan lalu.

Semula menjadi wartawan hanya dengan pemahaman seadanya, dia kemudian tahu hal-hal pokok yang wajib dikuasai seorang wartawan professional .Dan itu dibuktikan dengan lulus dalam UKW.

 

Adalah kenyataan media malas mendidik wartawan,termasuk media yang sebenarnya memiliki modal cukup. Alasan utama, ya buat apa buang duit kalau dengan seadanya wartawawan bisa belajar sambil jalan. Padahal sesuai dengan tuntutan kompetensi yang sudah digariskan Dewan Pers, ada kesadaran, pengetahuan mendasar, dan ketrampilan yang harus dimiliki seorang wartawan. Kalau tidak maka produk berita yang dihasilkan bisa tidak bermutu, sebagaimana kerap kita saksikan, dengar, dan baca di banyak media pada saat ini.

 

Kembali ke pokok di atas, yang dimaksud dengan SJI adalah Sekolah Jurnalisme Indonesia yang digagas PWI Pusat sejak Februari 2010 di Palembang dan kini sudah dilakukan di Lampung, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.

 

Walaupun namanya sekolah, SJI sebenarnya bentuk pelatihan jurnalistik selama dua minggu penuh yang kurikulumnya memenuhi kebutuhan mendasar bagi reporter (untuk SJI tingkat dasar) dan redaktur (untuk SJI tingkat madya).Selain teori ada pula praktek pembuatan media (berupa dummy suratkabar dan paket siaran berita televisi bagi wartawan teve dan radio) di dua hari terakhir.

 

Selain materi yang diberikan narasumber berpengalaman, yang membantu peserta sebenarnya adalah simulasi yang dipimpin atau diarahkan pengajar. Di sini para wartawan menjadi satu tim, terdiri dari berbagai peran, mulai dari reporter, fotografer/kameramen,editor/produser, plus pimpinan redaksi. Diciptakan rapat perencanaan, lalu diawasi hasil liputannya, dan diperbaiki hasil berita atau liputan gambarnya.

 

Bagi media besar, katakanlah suratkabar atau stasiun televisi di Jakarta, proses kerja seperti itu biasa. Tetapi bagi media kecil, yang terbit atau bersiaran di daerah, terkadang proses perencanaan dan membuat team work yang solid, adalah barang mahal. Dengan jumlah personil terbatas dan sumber daya lain yang juga tidak besar, terkadang rapat, memikirkan apa yang dikehendaki audiens, membuat rencana, dianggap sebagai faktor penghambat. Jadi, wartawan pun terbiasa alat meliput, asal membawa kamera ke tempat-tempat yang diperkirakan ada berita, lalu menunggu tips, atau peristiwa yang jatuh dari langit.

 

Tidak terbayang pula para pengusaha media kecil mau keluar uang untuk memberikan pendidikan dan pelatihan jurnalistikkepada awak kerja mereka, apakah itu pada saat mereka diterima di perusahaan ataupun di tengah-tengah karier si wartawan. Boro-boro untuk itu, memberikan gaji yang pantas pun masih banyak perusahaan pers yang kesulitan, walau Dewan Pers sudah mengeluarkan Peraturan Pers tentang Perusahaan Pers, yang mewajibkan perusahaan membayar gaji wartawan minimal setara Upah Minimum Provinsi (UMP) sebanyak 13 kali dalam setahun.

 

Maka SJI menjadi alternatif utama. Berkatbantuan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta kontribusi dari Pemerintah Provinsi dan PWI, peserta SJI tidak dikenai biaya. Oleh karena itu ada grup media yang menitipkan sampai belasan wartawannya untuk ikut SJI. Pimpinan media itu cerdas, tahu cara berhemat sambil menimba ilmu. Tidak ada media mainstream di Sumsel. Jambi, Lampung, Jabar, Jateng, Kaltim, Kalsel, Sulsel, yang menyia-nyiakan kesempatan ini. Namun yang menggembirakan media lokal yang kecil banyak berpartisipasi.

 

Di Balikpapan, sehabis SJI, peserta mengikuti Safari Jurnalistik yang merupakan persiapan untuk mengikuti UKW. Peranan Safari sebagai semacam bimbingan belajar sebelum ujian, modul yang dilakukan PWI mulai tahun 2012, ternyata sesuai harapan. Peserta tidak lagi kaget karena sudah mulai memahami materi ujian, bentuk ujian, dan peraturan-peraturannya sehingga mereka pun siap.

 

Menggandengkan tiga event menjadi satu ini sebenarnya paling praktis dan pas, tetapi menjadi beban berat bagi personil PWI Cabang dan tim pendidikan PWI Pusat yang harus berkonsentrasi dan terjun langsung selama 2 minggu plus 2 hari. Tetapi kalau melihat hasilnya memuaskan, terkadang rasa lelah teman-teman terobati juga.Walau dalam hati tetap saja yangbilang, lama-lama bisa jadi tokoh dalam lagu dangdut, Bang Thoyib, yang tidak pulang-pulang ke rumah dan bikin keluarga resah.

 

Keluhan seperti  sudah disampaikan beberapa teman penguji UKW yang dalam satu bulan bisa permisi dari anak dan istri tiga kali karena ketatnya jadwal UKW PWI. (*)

http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/07/05/perusahaan-media-malas-mendidik-wartawan/