Kamis, 21 November 2019

Wartawan Kompeten PWI tembus angka 1.100

Catatan Hendry Ch. Bangun, Sekretaris Jenderal PWI Pusat

http://www.analisadaily.com/im4g3sf1l3/508_dari_14_ribu_anggota_pwi_se_indonesia_lulus_uji_kompetensi_wartawan_393.jpeg

                                                                 (Dokumen foto Harian Analisa mengenai UKW di Medan)

Jakarta (Kompasiana) - Ketua Umum PWI Pusat, Margiono, langsung menunjukkan rasa bangga ketika saya mengatakan, organisasi PWI sudah berhasil mencatat lebih dari seribu wartawan melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Memang betul. Sampai dengan UKW di PWI Jaya yang ditutup hari Sabtu (21/4), tercatat sudah 1131 wartawan yang berhak atas kartu kompetensi. Minggu ini merupakan minggu sibuk, karena diadakan UKW di tiga daerah sekaligus, yaitu di Gorontalo (19-20 April), di Surabaya (19-20 April), dan di Jakarta (20-21 April).

 

Sebelumnya, Maret-April UKW diadakan di Tanjungbalai Karimun (Kepulauan Riau), Jayapura (Papua), Samarinda (Kalimantan), di Bandung (khusus wartawan Radar Cirebon Grup), Yogya, Solo, dan Semarang (Jawa Tengah), serta di PWI Pusat (khusus bagi wartawan senior dan pengurus). Minggu depan UKW diadakan di Banjarmasin, Bandung (Jawa Barat) , Serang(Banten), kemudian menyusul di Sumatera Barat dan Sumatera Utara dan sejumlah daerah lain di bulan Mei

 

“Padahal kita baru melaksanakan sejak Juli ya?,” katanya setengah tak percaya.

 

 

Dari dua lembaga penguji yang ada, PWI sejauh ini menghasilkan lulusan terbanyak, diikuti oleh Lembaga Pendidikan Doktor Soetomo (LPDS).

 

PWI Pusat pertama kali melakukan UKW pada tanggal 29-30 Juli 2011, setelah mendapatkan sertifikatsebagai lembaga penguji oleh Dewan Pers pada tanggal 25 Juli. Waktu itu PWI Pusat terpaksa meminjam tenaga dari LPDS karena penguji dari PWI Pusat masih minim.Tetapi setelah mengadakan tiga kali Pelatihan bagi Calon Penguji UKW, PWI kini memiliki lebih dari 30 penguji dan mampu melakukan tiga UKW secara simultan. Namun khusus di DKI kemarin, kami pun terpaksa meminta bantuan seorang rekan penguji LPDS, Kristanto Hartadi.

 

Keberhasilan menembus angka 1000 itu terasa penting karena target PWI adalah mampu meluluskan sekitar 2000 wartawan sampai akhir tahun 2012 ini. Bila pada tahun lalu PWI Pusat mendapat bantuan dari Dewan Pers dalam pendanaan UKW selain upaya sendiri, tahun ini kami dibantu mitra kerja dari swasta seperti Bank Mandiri, Astra International, Trans Corporate. Dengan demikian PWI Pusat mampu mensubsidi PWI Cabang minimal sekali melakukan UKW, dan diupayakan di seluruh 34 cabang dapat dilakukan UKW.

 

Pengorbanan para penguji yang menyisihkan waktu kerja untuk kepentingan pengembangan wartawan di Tanah Air, luar biasa. Ada yang sampai menguji 4 kali dalam satu bulan, artinya mereka terpaksa “bolos” selama 12 hari.

 

Sejauh ini tingkat kelulusan mencapai 94 persen. Di Papua, DKI Jakarta, Jawa Timur, wartawan yang tidak kompeten 6 persen dari jumlah peserta, sedang di Gorontalo mencapai 40 persen, dan di Kepulauan Riau yang tidak kompeten sekitar25 persen. Hanya di Yogyakarta dari dua kali pelaksanaan tingkat kelulusan mencapai 100 persen. Apa boleh buat, standar yang dibuat PWI sudah baku dan tidak akan diturunkan sekalipun pesertanya para pengurus.

 

Kesan yang disampaikan ke saya dan ditangkap penguji lain, UKW PWI Pusat memberikan kebanggaan bari mereka yang dinyakan kompeten, karena peserta merasa harus “berkeringat” untuk menembus skor yang ditetapkan. Tentu saja ada juga yang komplain dan bahkan melakukan banding atas hasil UKW, dan PWI Pusat memang membuka pintu bagi mereka yang tidak puas. Ketidakpuasan itu akan dibahas dalam Komisi Banding, yang akan menilai dokumen hasil UKW, yang wajib disertakan dalam setiap penetapan hasil.

Wagub Gorontalo Idris Rahim yang mendapat informasi soal UKW ketika kami sarapan di rumah jabatannya, Sabtu (21/4) memuji kegiatan itu, karena akan membuat buat pihak pemerintahan khususnya bisa mendapat manfaat dari kinerja wartawan yang melakukan tugas jurnalistik sesuai kaidah dan kode etik. Sebab dia sendiri di sepanjang kariernya kerap menyaksikan bagaimana perilaku sejumlah orang mengaku wartawan atau wartawan tidak professional, justru membuat pandangan orang tentangmedia menjadi buruk.

Tidak ada pekerjaan yang mudah. Tetapiupaya untuk semakin meningkatkan profesionalisme wartawan melalui UKW dan terus mengawal profesi ini dari berbagai gangguan yang menjatuhkan harkat dan martabat wartawan dan dunia jurnalistik, harus terus dilanjutkan dan diperjuangkan. (*)

 http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/04/21/tembus-angka-1100-wartawan-lulus-uji-kompetensi-pwi/