Sabtu, 23 November 2019

In-Memoriam Masdun Pranoto

Persatuan Wartawan Indonesia
    Masdun Pranoto
 
Oleh H. Ilham Bintang (*)

Jakarta (PWI News) - Senin (13/3) pagi pamit ke Anyer, Banten. Esok harinya, tinggal jasad yang kembali ke Jakarta dan masuk ke rumah. Selasa (14/3) pagi wartawan senior Masdun Pranoto ditemukan temannya terbujur kaku di atas sajadah di dalam kamar hotel di Anyer. Laptopnya masih menyala di atas meja kerja saat ia ditemukan.

Diperkirakan mantan Ketua PWI Jaya itu menghembuskan nafas terakhirnya, sehabis salat subuh. “Sampai jam satu malam kami masih kontakan lewat sms,” kata Bunda Ratna, kawan satu majelis taklim dengan almarhum. Dengan menumpang mobil sahabatnya itu Masdun ke Anyer. Menurut Ratna, kepergian Masdun untuk mengerjakan editing biografi Hartarto, mantan Menteri Perindustrian di era Orde Baru.

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun.

Saya menerima berita duka Masdun telah tiada, Selasa(14/3) pukul 08.00 pagi, dari sahabatnya Wijoyo Hartono, mantan wartawan Jawa Pos. Memang jika sudah sampai waktu, tidak siapa pun bisa mengelakkan kehendakNya. Masdun meninggal dunia dalam usia 71 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri, enam anak, dan sepuluh cucu.

Januari lalu saya bertemu Masdun Pranoto di rumah duka almarhum Ed Zoelverdi, mantan redaktur foto Majalah Tempo yang hari itu meninggal dunia. Setelah melayat kami bersantap siang di resto khas Makassar “Daeng Tata” di Jalan Casablanca, Jakarta Selatan, dengan Marah Sakti Siregar, serta teman satu kantor Eko Yuswanto dan Aris Amiris. Lama tidak bertemu, membuat perbincangan siang itu lebih bersifat nostalgia. Dari cerita semasa satu kantor di Harian Angkatan Bersenjata (HAB) hingga cerita sewaktu dia resign dan menjadi pemimpin redaksi Harian Suara Khatulistiwa di Pontianak, Kalimantan Barat.

Masdun ada bercerita sesuatu hal yang tidak saya mengerti maknanya. Ceritanya, dia pernah meminjam uang pada saya. “Ini sudah lama mengganjal. Sekarang waktunya saya tanyakan mengenai status pinjaman : apakah itu pinjaman atau bantuan?”. Demi Tuhan saya tidak ingat. Maka itu saya menjawab ringan saja. “Saya tidak ingat. Kalau benar adanya, sudah pasti saya ikhlaskan”. Ia langsung menjabat tangan saya. Kelak, ada teman yang menghubungkan dengan kepergian almarhum, maka cerita itu dimaknai sebagai firasat almarhum yang ingin “bersih” dari segala sangkutan sebelum wafat. Wallahualam bissawab. Tetapi kematian di atas sajadah setelah salat, sungguh kematian yang indah bagi orang beriman.

Terakhir saya bertemu Masdun Pranoto sekitar tiga minggu sebelum ia wafat. Ia bersama Wijoyo Hartono datang ke kantor. Mereka hendak melanjutkan pembicaraan rencana penerbitan media BUMN Watch. Saya dan Marah Sakti Siregar, Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat, menerima dia. Rencana itu sudah diutarakan di dalam dua kali pertemuan sebelumnya. Saya menaruh hormat pada semangat Masdun yang tinggi untuk menerbitkan media pers.

Tidak banyak yang berubah pada kawan ini. Ia tetap sebagaimana yang saya kenal lebih 35 tahun lalu. Santun, taat beribadah, introvert, selalu penuh gagasan, mampu memendam seberapa berat pun persoalan yang sedang dia hadapi.

Saya pertama kali berkenalan dengan Masdun Pranoto pada tahun 1975. Waktu itu ia dalam posisi Redaktur Pelaksana HAB, sedangkan saya penulis lepas di media itu. Tulisan biasa saya sampaikan melalui Masdun. Setelah beberapa kali bertemu dan berdiskusi, tahun 1976 dia menawari saya bekerja secara tetap di media tempatnya bekerja sejak tahun 1965.

Di masa itu ada dua redaktur pelaksana HAB, Masdun Pranoto dan Irsyad Sudiro. Irsyad dan Masdun bersahabat sejak remaja. Setelah lulus Sekolah Guru Agama (SGA) di Yogyakarta tahun 1961 mereka migran ke Jakarta. Dua wartawan senior itulah yang membimbing selama saya bekerja di HAB.

Bakat guru Masdun amat lekat dalam pelaksanaan tugasnya. Prinsip kehati-hatian dilaksanakan secara konsisten. Memang klop dengan prinsip kerja jurnalistik secara universal. Ia selalu menuntun wartawan untuk memenuhi syarat berita.

Tahun 1993 Masdun yang menjabat Wakil Pemimpin Redaksi resign dari HAB. Mungkin karena ingin mencicipi suasana baru di luar HAB, maka ia menerima tawaran pengusaha Osman Sapta Odang untuk menjadi Pemred Harian Suara Khatulistiwa di Pontianak, Kalimantan Barat.

Dalam organisasi PWI, ada ketentuan mengatur anggota yang pindah bekerja di media di luar domisili keanggotaan PWInya. Yang bersangkutan harus mutasi keanggotaan ke daerah baru. Ketentuan itu yang membuat Masdun Pranoto terpaksa mengundurkan diri dari jabatan Ketua PWI Jaya yang belum lama dipangkunya. Ia digantikan oleh Tarman Azzam.

Belakangan saya baru tahu, ternyata ia sebenarnya tidak pernah pindah ke Pontianak. Itu diungkap sendiri oleh Masdun ketika makan siang di resto khas Makassar itu. Soal itu disinggung juga almarhum dalam catatannya, dalam buku “Siapa-Siapa Wartawan Jakarta” (Editor Marah Sakti Siregar, 2003). Masdun menyebutkan, Sofyan Lubis, Ketua PWI Pusat waktu itu, baru akan menandatangani rekomendasi untuk Pemred Suara Khatulistiwa apabila Masdun menyanggupi mutasi.

Jenazah almarhum Masdun Pranoto dimakamkan Selasa siang di TPU Depok Mas, Depok Jaya. Keluarga, serta sejumlah sahabat dan rekan seprofesi mengantarkan jenasah almarhum ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Irsyad Sudiro, mantan Ketua Badan Kehormatan DPR-RI menyampaikan sambutan mewakili keluarga. Sambutan mewakili wartawan disampaikan oleh Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Tarman Azzam.

Selamat jalan Masdun.

(*) Penulis adalah Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Pusat dan Pemimpin Redaksi Tabloid C&R.