Sabtu, 23 November 2019

BJ Habibie minta pers subyektif

 Persatuan Wartawan Indonesia

BJ Habibie

Jakarta (ANTARA News) - Presiden RI periode 1998-1999, Bacharuddin Jusuf Habibie, menilai bahwa pers nasional harus bersikap subjektif terhadap kepentingan masyarakat Indonesia.

"Pers nasional sebagai pilar keempat demokrasi harus bisa bersikap seobjektif mungkin, tapi lebih dari itu, pers nasional harus subjektif dalam membela kepentingan masyarakat," kata BJ Habibie usai acara tayang bincang Dialog Merah Putih kerja sama TVRI, RRI dan ANTARA di kediamannya, Patra Kuningan 13, Jakarta, Rabu.

Menurut Habibie, industri pers saat ini lebih mengutamakan kepentingan-kepentingan pemodal besar. "Kalau saya lihat, sekarang ini pers nasional, terutama industri pertelevisian, lebih mengutamakan kepentingan badut-badut pemodal yang menjual barang-barang dengan jam kerjanya tidak memihak pada bangsa kita," kata Habibie.

Oleh karena itu, Habibie menyarankan, agar industri pers lebih bersatu padu mencegah keberpihakan pada pemodal. "Dengan konsolidasi pers, seperti ANTARA, RRI, dan TVRI ini, maka kepentingan masyarakat bisa lebih diutamakan daripada kepentingan pemodal," kata Habibie.

Selain itu, menurut Habibie, pers memiliki peran penting dalam mendidik bangsa oleh karena itu pers harus memiliki pendirian kuat membela kepentingan rakyat.

"Pers memiliki kekuatan besar dalam memberi informasi, oleh karena itu pers harus hati-hati jangan sampai masuk perangkap orang-orang yang memiliki kepentingan-kepentingan khusus," kata mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi/Ketua Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (Menristek/BPPT) ini.

(T.I027/P003)