Jumat, 15 November 2019

Media Telah Beropini

Persatuan Wartawan Indonesia

Prof. DR Kacung Marijan (di podium)

dalam Silaturahmi Pers Nasional 2012 

  Jakarta (ANTARA News) - Pengamat politik Prof DR Kacung Marijan menilai, sebagian media massa dalam taraf tertentu telah beropini pada pemberitaan korupsi Wisma Atlet yang melibatkan petinggi Partai Demokrat.

“Media massa sudah memiliki sikap tertentu dalam kasus Wisma Atlet ini sehingga media bukan lagi sekedar saluran informasi, melainkan sudah menjadi aktor dalam dunia politik nasional,” kata Kacung dalam diskusi Silaturahmi Pers Nasional di  Wisma ANTARA Jakarta, Selasa.

Guru Besar Ilmu Politik di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu mengatakan, pilihan media massa untuk beropini terhadap suatu kasus tertentu adalah wajar dan secara umum bisa ditemui di negara-negara demokratis lain. “Meskipun demikian, media juga tidak bisa seenaknya saja memiliki opini, sikap yang mereka pilih dalam kasus korupsi Wisma Atlet misalnya, itu harus bisa dipertanggungjawabkan secara publik,” kata dia.

Marijan mengingatkan, di dalam demokrasi pasar sekarang ini, masyarakat merupakan konsumen berita yang cukup cerdas dan bisa melakukan kontrol terhadap pemberitaan di media massa. “Untuk itu dalam beropini, media massa harus mempertimbangkan realitas yang terjadi, termasuk di antaranya adalah apa yang menjadi tuntutan publik,” kata dia.

Menurutnya, terdapat dua teori dalam memposisikan media massa di kehidupan politik bernegara, pertama peran media adalah menyediakan informasi yang adil dan seimbang. “Dalam teori ini, media hanya merefleksikan realitas yang terjadi di masyarakat serta pendapat tokoh-tokoh tertentu mengenai realitas tersebut, di sini media menjadi supermarket yang menyediakan apa yang diinginkan konsumen,” katanya.

Namun teori lain, lanjut Marijan menyebutkan bahwa media dalam taraf tertentu bisa mempengaruhi apa yang dipikirkan oleh masyarakat. “Media bisa memberitakan isu-isu tertentu secara intensif dalam kurun waktu tertentu. Konsekuensinya konsumen bisa terpengaruh oleh agenda yang sudah diatur oleh kebijakan editorial media yang memberitakan. Di sini, media massa juga merupakan aktor politik” kata dia.

Dalam kasus pemberitaan Wisma Atlet itulah, Kacung Marijan berpendapat bahwa dalam taraf tertentu, apa yang terjadi di dunia pers Indonesia lebih mencerminkan teori yang kedua. (*)