Rabu, 18 September 2019

Pengaduan Partai Demokrat, Cerita Lama Kekuasaan Lawan Media

Persatuan Wartawan Indonesia
Suryopratomo, Ramadhan Pohan, Karni Ilyas, Priyambodo RH
dan Prof Bagir Manan (kiri ke kanan) dalam
Silaturahmi Pers Nasional 2012.
 
Jakarta (ANTARA News) - Direktur Pemberitaan Metro TV, Suryopratomo, mengatakan bahwa pengaduan Partai Demokrat atas pemberitaan stasiun televisi tersebut adalah cerita lama kekuasaan melawan media massa.

"Dari dulu memang selalu seperti ini, kecenderungan kekuasaan itu tidak mau dikoreksi. Sehingga saat ada media massa mencoba  kritis pada rezim berkuasa, maka rezim tersebut cenderung merepresi," kata Suryopratomo dalam "Bedah Pers: Metro TV dan TVOne, Menjawab Pengaduan Partai Demokrat ke KPI" di Jakarta, Selasa.
Suryopratomo mengatakan, pola ini sudah berjalan lama sejak kekuasaan Orde Baru. Dia bercerita, insan pers sudah terbiasa dipanggil Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia karena berita tertentu, bahkan jika kekuasaan terganggu bisa jadi media tersebut dibredel.

Sebelumnya, pada 23 Februari lalu, Wakil Sekretaris Komisi Pemenangan Pemilu DPP  Partai Demokrat, Ferry Juliantoro, ke Komisi Penyiaran Indonesia terkait pemberitaan dua stasiun televisi, Metro TV dan TVOne, yang dinilai menjelek-jelekkan partai tersebut.

"Dalam kacamata kekuasaan, pemberitaan tentang Partai Demokrat di stasiun televisi kami akan cenderung dimaknai sebagai upaya penggiringan opini publik untuk menjatuhkan pemerintahan," kata Suryopratomo.

Partai Demokrat adalah pemenang pemilihan umum 2009 dan Presiden Susilo Yudhoyono juga merupakan pendiri partai ini.

Padahal menurut Suryopratomo, yang disiarkan stasiun televisi tersebut tentang Partai Demokrat adalah pengakuan dari saksi-saksi selama persidangan kasus korupsi Wisma Atlet yang melibatkan sejumlah petinggi partai tersebut diantaranya adalah Muhammad Nazaruddin dan Angelina Sondakh.

"Metro TV tidak pernah berniat untuk menjatuhkan Angelina Sondakh atau Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, kami juga tidak pernah menetapkan kebijakan editorial berdasarkan emosi semata," kata Suryopratomo yang beberapa jam sebelumnya menerima penghargaan Press Card Number One dari Dewan Pers.

Suryopratomo menjelaskan bahwa untuk berkembang, sebuah media massa harus mempunyai idealisme, profesionalisme, dan kredibilitas untuk bisa bertahan.

"Jika media massa hanya diterbitkan untuk kepentingan politik tertentu, maka saya jamin media tersebut tidak akan bertahan lama. Konsumen berita di Indonesia itu kritis, mereka bisa memilah mana informasi yang ditunggangi kepentingan dan mana yang tidak," kata Suryopratomo.
(G005)